Minggu, 11 Maret 2012

Setengah Malaikat

Sebuah cerpen "kompilasi bersambung" bersama Basith Kuncoro Adji di Arti Sebuah Tulisan.
PART 1: Mentari Saksi Misteri!



SETENGAH MALAIKAT



Tahukah kau tentang sebentuk hati yang patah, bukan menjadi dua atau tiga bagian yang masih utuh. Mungkin tak bisa dikatakan patah lagi, ini sudah remuk. Hancur lebur. Hatiku remuk, tepat sembilan tahun lalu ketika wanitaku berhenti mengasihiku, Tuhan lebih mencintainya. Tapi aku masih belum bisa menerimanya, sembilan tahun lalu, kenangan pahit itu masih disini. Bersama patahan-patahan kecil hatiku yang tak berbentuk.

Masih ingatkah kau disana, sayang? Tentang surat-surat yang sering kita tulis ketika sore tiba. Menerbangkannya dengan balon-balon yang membumbung tinggi. Hanya satu harapan kita—kau tahu—berharap mentari menjadi satu-satunya penerima surat itu. Tentang janji cinta kita. Yang disaksikan mentari. Lalu masih segarkah di memorimu, cinta? Tentang aku mencintaimu melebihi pelawak, penyair, pujangga, dan aktor. Ya aku lebih dari mereka, aku bukan pelawak yang memberikan cinta penuh tawa, aku hanya memberimu sebentuk hati datar atas nama cinta. Aku juga bukan penyair, yang menyelipkan kata-kata mesra di selip-selip cinta kita yang hampir sempurna, aku hanya seorang yang buta kata mesra, benar yang orang bilang. Bukan juga aku seorang pujangga dunia, memberikanmu segalanya dan apapun untuk kesempurnaan, hanya kesederhanaan. Terlebih, aku juga aktor yang jelek, aku tak pernah bisa bersandiwara dengan liuk-liuk indah, tapi aku hanya memberikanmu cinta tanpa sandiwara. Jujur dan tulus. Bukankah waktu itu kau mengatakan, itu sudah cukup? Saat ini aku menagih janji itu. Janji akan mencintaiku secara sempurna.

Tetapi, aku tak pernah sekali pun berjanji untuk mencintaimu secara sempurna. Aku hanya menjajikanmu cinta yang sederhana, tanpa harta, tanpa gelimang kata, juga dinamisasi yang beragam. Aku hanya mencintaimu karena aku mau dan tak tahu mengapa. Cintaku tak berdasar, sayang. Hanya sederhana. Sesederhana itu aku mencintaimu.

Bahkan, ketika kau menceritakan tentang leukimia tingkat lanjut yang bersembunyi di balik tubuhnya yang elok. Aku tak seterkejut itu. Mungkin karena aku telah siap mencintaimu sepenuhnya. Aku tahu, semua pasti ada akhir dan mungkin penyakitmu ini adalah pembatas dunia kita berikutnya. Tapi sudahlah, aku masih mencintaimu dengan sederhana, tenanglah sayang.

“Sayang, kau tahu apa yang sangat membuatku bahagia. Menikahimu, menikahi manusia yang unik sepertimu adalah suatu kebahagiaan bagiku. Dan ketika aku sudah tak bisa memegang janjiku sebagai istri yang baik untukmu. Maukah kau mencari penggantiku kelak?” pertanyaanmu padaku saat sehari setelah pernikahan kita yang digelar sederhana.

Kau pasti sudah tahu akan jawaban dariku sebelum aku benar-benar menjawabnya. Mataku sudah terlebih dahulu berbicara padamu. “Aku tidak mau.” Hanya itu, tidak akan berubah selamanya, sampai benar-benar ada peluru yang menembus kepalaku dan membuat keabadian ini berakhir. Kau tahu sayang mengapa aku mencintai manusia biasa sepertimu? Karena aku membenci keabadian, aku berharap kau bisa mengubah pandanganku itu.

“Bukan sayang, tenanglah, itu sebuah anugerah dari keturunanmu. Setengah malaikat,” katamu menenangkan.
Aku terus menggeleng, ingin menyanggah pernyataanmu itu. “Kau tak tahu apa-apa. Apa kau tahu bagaimana rasanya mempunyai beratur-ratus istri, beribu-ribu anak dan cucu sebelummu, tapi pada akhirnya mereka hilang. Mereka mati meninggalkanku sendirian. Di keabadiaanku yang terkutuk ini?” umpatku.

Pelukanmu saat itu membuat bibirku kelu. Membuatku tak dapat menyanggah apapun lagi. Hangat dan lekat yang kurasa. Kau adalah istriku yang ke-879 dan aku tahu kau adalah perubah takdirku, bukankah aku sudah menceritakan tentang kekuatanku: membaca takdir Tuhan? Aku tahu sesuatu akan berubah disaat umurku yang sudah mencapai empat puluh tiga ribu sembilan ratus lima puluh dua tahun ini. Dan kau adalah perubah takdirku. Penghenti kutukanku.

Tapi detik-detik terakhir itu membuatku takut, kau bukan orang itu. Bukan seseorang yang bisa merubah takdirku. Saat itu kau masih dapat berbicara padaku, “Aku mencintaimu, kelak ada seseorang yang tepat akan menggantikanku dan merubah takdirmu ini, Sayang.” Aku tak kuasa menahan derasnya tangis dari kelopak mataku. Aku tak kuat melihat bibirmu sudah memucat, putih.

Ada yang aneh kala itu, dari belakang kepalamu seperti tertembak. Aku bisa melihat tulang-tulang tengkorakmu retak dan beberapa bagian kecil terserpih di lantai. Aku tak mendengar suara apapun, terlebih suara tembakan yang bisa aku dengar sekecil apapun suara itu. Karena semua indera seorang manusia setengah malaikat sangat peka. Tapi nihil, tak ada apapun.

Dan kau tahu persis, tentang apa dan seperti apa manusia setengah malaikat itu. Tak bisa menangis, benar. Saat itu juga, saat kematian merenggutmu dari rumah mungil kita di sudut kota. Saat itu juga air mata tak bisa keluar dari dalam mataku yang beriris biru. Mungkin, sesuatu yang telah membunuhmu ini adalah kesalahanku. Banyak orang-orang disana yang sangat mengincar manusia sepertiku. Mereka menginginkan keabadian sepertiku dengan memakan seluruh bagian otakku yang berwarna biru muda. Dan kau juga tahu, hal apa yang bisa membunuhku, sebuah peluru perak dengan serbuk dari bawang putih yang bisa membuat jantungku berhenti berdetak. Aku memang bukan vampir dari negeri seberang, tapi kematianku sama seperti mereka, dibunuh oleh peluru-peluru persetan itu.

Satu hal yang para pengincarku tidak tahu, Sayang. Tentang keabadian, apakah mereka tahu tentang keabadian? Sok tahu, mereka hanya mementingkan kepentingan sesaat. Tidak pernah melihat sisi gelap dari sebuah keabadian. Tentang kematian dan kehilangan.

Tak seperti istri-istriku sebelumnya, setelah kepergiannya tak perlu waktu satu tahun untuk menemukan pengganti mereka. Hanya beberapa bulan memadu kasih dan kita akan menikah. Aku hidup berpindah-pindah mungkin itu yang menyebabkan aku mendapatkan banyak cinta sebegitu mudahnya, disamping wajahku yang rupawan. Tetapi, kali ini berbeda, sudah sembilan tahun dan aku tetap memutuskan tidak mencari penggantimu. Aku sendiri di balik rumah kita yang sudah sembilan tahun juga tak pernah dipugar, aku hanya ingin menikmati setiap detail kenangan kita, dulu. Tak ingin merasa kehilangan akan kenangan kita, walaupun kini, aku telah kehilangan dirimu.

Di tanganku, secangkir kopi hitam tak berasa. Hambar. Aku tak pernah bisa membuat secangkir kopi, untuk itulah mengapa aku membutuhkanmu disini sayang. Terlebih untuk saat ini, saat-saat aku sendirian. Tak ada keluarga, tak ada cinta.

Aku masih memercayai adanya kekuatanku: untuk membaca takdir di masa depan. Aku masih percaya kau adalah perubah takdirku. Tapi kapan? Dimana? Dan saat apa? Kekuatanku hanya dapat membacanya, tak bisa menentukan secara pasti kapan dan dimana takdir itu akan terjadi. Karena itulah aku membencinya, hidupku, kehidupan ini, keabadiaan, kekuatan, kehilangan juga kematian.

Untuk Sayangku, aku merindukanmu. Disini, aku masih sangat mencintaimu, bukan secara sempurna tetapi dengan sederhana. Dan karena itu juga, aku tak akan mau mencari penggantimu. Penggantimu yang tidak bisa kucintai sesederhana kumencintaimu saat ini, Sayang.

26 komentar:

  1. "kumencintaimu, lebih dari apapun..."

    pada dasarnya tidak ada yang abadi kecuali sang illahi. makanya ada istilah cintailah seseorang karna kecintaannya pada Tuhannya,karena cintanya itulah yang akan membuatnya abadi di hati #tsaaah

    dalem makna cerpennya, kalo aku berpikir segi percintaan dapet, adanya pertemuan dan perpisahan, kesedihan, ketuhanan juga dapet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ciie udtadz[ah] lagi ceramah :))

      fiuh~ akhirnya bisa juga membuat cerpen romantis XD

      Hapus
  2. Oh . Jadi karna Leukumia , meninggalnya . Tapi kok dicerpen bang basith sampe kelihatan otaknya ? Gw kira kecelakaan , muehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. di ceritanya bang basith, meninggal karena otaknya keluar bukan sih? disini aku lebih ngembangin, awal mula yang menyebabkan dia meninggal kenapa. lalu akhirnya mati bukan karena leukimia, tapi karena ditembak di bagian belakang kepalanya :D *cheers

      Hapus
  3. istrinya banyak banget ya? kasihan banget ditinggalkan istri, anak, cucu berkali kali

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah karena itulah bang, aku ingin menyampaikan bahwa sesuatu yang abadi itu akan selalu berdampak buruk... :D

      Hapus
  4. Indah!!

    Kau berhasil menciptakan suasana kehilangan dimaknai menjadi lebih manis..

    kalau yang baca berhasil mencerna didalam nya banyak banget pesan yang bisa di petik =)

    great!! lanjuti kompilasinya..

    BalasHapus
  5. gak tau ya harus komen apa. ini cerpennya kece banget dakaaa!!
    kalimat endingnya bikin gimanaaa gitu.

    ini kompilasi bersambung? masih ada lanjutannya dong? ayo cepat bikin sambungannya! haha

    BalasHapus
  6. mungkin itu yang dinamakan cinta sejati..cinta yang tak harus saling memiliki..tetapi selalu mekar dihati..

    BalasHapus
  7. gemeter bacanya , ceritanya kece banget deh

    BalasHapus
  8. " Bukan sayang, tenanglah, itu sebuah anugrah dari keturunanmu. Setengah malaikat " . udah , ngga bisa ngomong apa apa ...

    BalasHapus
  9. "kau adalah istriku ke-879.."
    banyak bener -___-

    tapi ceritanya top deh
    *butuh mikir rada keras buat ngerti maksudnya :D

    BalasHapus
  10. Wokeh bang, ceritanya berkembang dan kamu menjelaskan secara detail perasaan si cowok ini hihihi :D Aku siap melanjutkan :D

    BalasHapus
  11. Entah kenapa, pengen nangis bacanya:')
    Ini semacam orang yang susah move on gitu bukan sih bang?-.-
    Satkalimat yang mau aku bilang, kece banget cerpennya bang!:D

    BalasHapus
  12. lagi galau nih... ga bisa komen...
    bilang selamat malam aja deh... :)

    BalasHapus
  13. waduh. sampe mengencangkan otak baru bisa mencerna.. haha.. LOL..

    BalasHapus
  14. so sweet sob ..
    keren ..
    salam sukses selalu ..:)

    BalasHapus
  15. keren banget ini bener2 keren!
    tp aku masih pengen tau, wajah orangnya yg setengah malaikat itu... tua atau muda ya mas rizki? hehe :o

    BalasHapus
  16. sebuah idealisme cinta,akankah masih ada didunia ini?hehe

    BalasHapus
  17. nggak kuat mas bro!!!!!!!!! keren abis!!!!!!!!

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: