Sabtu, 10 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (11)

I can't stand to fly
I'm not that naive
I'm just out to find
The better part of me

I'm more than a bird, I'm more than a plane
I'm more than some pretty face beside a train
And it's not easy to be me

Superman - Five For Fighting


Setelah piring-piring yang pecah dibersihkan oleh Suster Daisy, Jewel dan Mady, ada beberapa potong makaroni skotel yang terisa di atas meja. “Terima kasih telah membantuku, Mady, Jewel. Makaroni itu masih tersisa beberapa potong, sia-sia jika dibuang begitu saja. Lebih baik kita berbincang-bincang dulu disana sambil menghabiskannya,” usul Suster Daisy.

Mady dan Jewel serempak mengangguk, lagipula perut Mady masih sangat lapar—pada hidangan pertama makanan yang masuk ke dalam lambungnya tak bisa ia nikmati, ia kebanyakan melewatkan kenikmatan makanannya dengan melamun. Mereka bertiga duduk di satu deret kursi kayu yang sejajar, mengambil potongan pertama untuk Mady, yang kedua untuk Suster Daisy, dan ketiga untuk Jewel.

Pada awal mereka menyendok hidangan masing-masing, suasana terasa sepi tak ada suara, hanya suara logam yang saling bertabrakan dan detik jam yang meramaikan kekosongan ruang makan. Tepat pada suap kelimanya, Suster Daisy membuka pembicaraan, “Apa kalian sepedapat denganku, tentang tempramen Suster Kepala tinggi akhir-akhir ini?”

Mady mengangguk sambil mengayun-ayunkan sendok yang masih menempel di mulutnya. Jewel se sedikit lambat menanggapi pertanyaan Suster Daisy, ia sibuk dengan kukunya yang rusak karena membereskan pecahan piring tadi. Mereka berdua setuju dengan pendapat Suster Daisy: Suster Kepala lebih uring-uringan belakangan ini.

“Apa karena Diary—“ suara Mady tertahan di pangkal tenggorokannya. Suster Daisy buru-buru menginjak kaki Mady dan berhasil menghentikannya mengatakan tentang hal itu lebih jauh.

“Diary?” Jewel bertanya dalam ketidaktahuannya dengan masih sibuk dengan cat kuku yang belepotan.

Suster Daisy buru-buru menimpali dengan jawaban yang tak setopik, “Diary? Bukan, kami membicarakan tentang pinggiran makaroni yang gosong ini, asin kejunya sangat terasa disini,” ujarnya sambil menyentuh pinggiran makaroni yang gosong dengan sendok.

Jewel mengernyit dan mengangguk sekali. “Oh,” jawabnya singkat. Jewel adalah wanita yang tidak perduli dengan urusan orang lain kecuali yang bersinggungan dengan cat kuku dan make-up miliknya. Ia juga tampak cuek dengan orang lain, terkesan tidak perduli.

Senyum yang agak dipaksa dari mulut Mady merekah, untuk sekedar menanggapi jawaban singkat Jewel. Ia keceplosan mengatakan hal itu di depan Jewel, untunglah hanya seorang Jewel yang cuek bukan James yang selalu ingin tahu. Peluh dingin yang sedari tadi mengucur membahasi pelipis Mady ia usap sebelum berhasil jatuh diatas makanannya yang tinggal seperempat bagian.

“Baiklah, terima kasih untuk makanan ekstra ini Suster. Aku harus kembali ke kamarku, kukuku sudah menangis karena pecahan-pecahan piring tadi,” sahutnya sambil pergi meninggalkan mereka berdua dengan tubuh yang melenggak-lenggok sempurna. Dan berbelok menghilang dari bilik ruang tengah.

“Maafkan aku Suster, aku tak sengaja mengatakannya di depan Jewel.”

“Tidak, apa-apa, Mady. Untunglah Jewel tidak terlalu perduli dengan urusan orang lain. Oh ya, kemana Lusy, aku tak melihatnya sepanjang pagi ini, ada beberapa potong makaroni, berikanlah padanya.”

“Entahlah Suster, aku tadi melihat ia melewati ruang makan, murung,” gumam Mady yang setengah mengunyah makaroninya di mulut.

“Baiklah, berikan dua potong ini padanya kalau bertemu. Aku tidak bisa berlama-lama, masih banyak anggur di taman belakang yang harus dipanen. Bergegaslah, karena Lusy punya riwayat penyakit lambung akut.”

Mady membisu hanya menangguk di suapan terakhirnya. Suster Daisy yang tengah bingung dengan tumpukan pakaian yang lupa dibawa Suster Kepala membereskannya dengan sempoyongan dan pergi dari ruang makan. Mady merogoh kantungnya, mencari-cari potongan kertas yang ditinggalkan Suster Kepala dan membeberkan lipatan-lipatannya diatas meja makan.

Sebuah Lukisan? Mungkin sudah sangat tua, tiga puluh tahun lebih mungkin usianya, tebak Mady dalam hati.

Lukisan itu tampak sangat jelas meskipun terlihat sangat tua, kertas perkamen yang menguning itu membuat setiap gores pensil yang menempel diatasnya tidak sedikit pun pudar. Lukisan dengaan tangan maestro, pikir Mady. Beberapa waktu ia gunakan untuk mengagumi setiap detail lukisan yang terpatri abadi disana.

Lukisan itu mengingatkan Mady pada sosok Lusy, perawakan Lusy dengan pakaian kebangsaan kerajaan yang mewah, dengan juntai-juntai swarovsky yang menawan sebagai ikat pinggang sehingga tampak elegan. Sayang lukisan itu menggambarkan wajah sendu yang bimbang. Menangis dengan air muka yang sayu yang membuat eye-liner yang menggantung jatuh di kantung matanya.

Mady bangkit karena sosok itu telah berhasil memaksanya untuk menemui Lusy, ia ingin memberikan dua potong besar makaroni skotel yang sudah dingin di meja makan. Mady tahu persis, dimana dapat menemukan  Lusy ketika semua orang tidak tahu lagi harus mencari gadis anti-sosialis itu dimana. Taman belakang, rawa belakang dengan semanggi yang tumbuh mengakar disana. Bau dedaunan yang pekat adalah satu alasan yang membuat Lusy damai berada disana, setidaknya itu yang ia tahu tentang diri Lusy.

Di tengah perjalanan buru-buru Mady, ia berpapasan dengan orang yang dicarinya: Lusy. “Hey, tunggu. Aku punya sesuatu yang harus kau lihat, Lusy.”

“Tidak sekarang, teman. Ada urusan yang lebih penting yang harus kulakukan sekarang.”

Mady terpaku dalam tonggak tubuhnya, mematung. Apa hal yang lebih penting itu? Pertanyaan itu berputar-putar dalam benaknya setelah Lusy hilang berbelok menuju tangga lantai dua. Pada dasarnya Mady adalah seorang yang sangat ingin tahu, tak segan ia menelusuri dari mana di mana ia pergi. Ia tahu, Lusy dari taman belakang, tapi untuk apa? Berbuat apa? Dan ada urusan apakah ia sepagi ini sudah berada disana?

Ia tak menemukan apa-apa setelah menerawang pandang ke arah hamparan rawa dan semanggi. Ia hanya melihat beberapa nyanyian katak yang masih terdengar sayup. Dan tetesan embun yang menuruni penyangga tangga kecil di depan pintu yang sedang ditempati Mady. Namun, matanya berhenti pada sebuah buku yang tertelungkup disana, buku hitam dengan cover polos dengan sedikit aksen bunga yang menghiasinya: Diary Clara Harrington. Mady tahu pasti akan hal itu.

Lututnya gemetar tak karuan melihat benda yang sangat ditakutinya itu berada di depannya dengan tidak sengaja. Rasa takut itu muncul ke permukaan lagi, untuk yang kesekian kali. Ia tak pernah paham dengan rasa takutnya, sampai saat ini, Ia berdiri tepat di depan hal yang paling ditakutinya.

Sejak pertama kali ia bertemu buku itu—lebih tepatnya, menemukan buku itu—Mady telah membukanya beberapa halaman pertama dan membaca bait-bait pembukanya. Tapi sejak saat itu juga, Ia tak pernah bisa tidur tenang, selalu merasa diikuti seseorang dan dihantui. Ia jadi paranoid beberapa hari setelah menemukan buku itu dan meletakkannya di dalam kamar. Entah, seperti kutukan atau buku itu yang terkutuk? Mady sampai detik ini tak pernah tahu dengan mekanisme kerja buku keramat itu. Tapi setelah para suster tahu mengenai buku itu ada di tangan Mady, mereka segera menjauhkan dan berusaha memusnahkannya. Tapi sayang, hal itu selalu berujung dengan hasil yang nihil, buku itu tetap kembali pada tempat yang berbeda di dalam Santa Mondega. Sampai saat ini, buku itu telah berpindah ke tangan Lusy, yang terpiliih—kata mereka.
Ditambah, Mady juga masih terngiang dengan bayangan di balik kamar Lusy tadi malam? Apakah itu ia, Clara? Mungkin iya, mungkin tidak, karena sosok itu hanya sebuah bayangan yang berhasil di tangkap kornea mata Mady selama lima detik saja. Mungkin juga itu hanya halusinasi. Mungkin....

Mady mencoba menepis semua ketakutannya, ia memberanikan diri mengambil diary itu dan membalikkannya sehingga matanya bisa mengintip apa isi buku itu—dalam konteks ini, apa yang sedang dibaca Lusy. Matanya dengan cepat menyapu baris demi baris kalimat yang ditulis Clara, agak memusingkan membaca bagian ini tanpa membaca bagian sebelumnya. Ia melewatkannya. Tapi bukan saatnya untuk bersantai-santai memikirkan hal itu. Di bagian ini saja Ia bisa menangkap apa yang ingin disampaikan Clara. Beberapa kali dahinya mengernyit membaca untaian kata yang ditulis Clara. Miris, itu yang cukup merefleksikan beberapa kali kernyitan dahinya.

Sebuah hari aku dituduh sebagai pembunuh adalah hari yang kelam bagiku, aku bukan pembunuh Suster Amy. Aku juga bukan gadis pembawa sial atau peranakan iblis. Aku hanya seseorang yang terpaksa tinggal disini. Menurut Jessica, mobil kami telah disabotase oleh seseorang, sehingga rem mobil tak bisa berfungsi hingga kecelakaan itu menimpa kami. Aku tak tahu harus percaya dengan para suster di Santa Mondega atau memercayai Jessica—yang kini jadi satu-satunya kawan baikku disini. Untuk siapa saja yang dapat menemukan tulisan terselip ini, terima kasih.

Tulisan ini memang terselip, ditulis dengan buatan tangan yang sangat kecil. Ada di belakang bab empat dan diantara kertas yang sudah sangat lengket. Ditulis dengan pensil yang terang, bahkan terlihat seperti transparan. Ia  tahu persis, Lusy sangat tidak sabaran dan bukan tidak mungkin ia tidak membaca tulisan terselip ini.

Diary yang tergeletak tadi segera ia tutup dan ia bawa dengannya pergi mencari Lusy. Mady punya firasat hal yang tidak baik akan terjadi padanya. Mady ingat, Lusy berbelok ke arah tangga lantai dua, tidak salah lagi, di lantai dua adalah ruang kerja para suster. Ke Suster Kepala ataukah ke Suster Mady atau malah suster lain?

Matanya menangkap setiap gerakan kecil di lantai dua ketika ia sampai di anak tangga ke delapan. Tidak ada siapapun disana, hanya beberapa kucing yang berkejaran keluar masuk ke lubang angin yang letaknya cukup rendah. Telinganya yang jeli menangkap satu titik gaduh yang halus di ruangan Suster Kepala. Suaranya sangat lirih, yang tadi terselimuti suara kucing yang mengeong manja. Kini telinga Mady bisa mendengar cukup jelas, ia mendengar “keparat”, “sialan” dan beberapa cacian keluar dari mulut seseorang di dalam ruangan itu.
Telinganya didekatkan pada daun pintu untuk menangkap suara lebih banyak. “Kau tahu, Lusy, Clara adalah pembunuh kakakku, Clara adalah Iblis!” Suara itu tidak asing di telinga Mady, suara Suster Kepala.

Mulut Mady tak bisa tertahan di tempat, menganga karena mendengar pemimpin panti asuhannya mengeluarkan cacian sebegitu parahnya. Iblis, pembunuh, keparat dan apalah sejenisnya. Ia masih tak percaya dengan pendengarannya, ia putuskan untuk mengintip sedikit apa yang terjadi di dalam lewat lubang kunci yang cukup luas bagi matanya. Apa? Apa benar itu benar-benar Suster Kepala?

Ia melihat Lusy hanya termenung dengan muka tidak percaya, ia tahu Mady ingin membantahnya, dia sendiri tahu bahwa bukan Clara pembunuhnya, ia hanya ada sebagai saksi sebuah kecelakaan, bukan penyebab terjadinya kecelakaan tersebut. Bukan saatnya menyalahkan Clara atau menyalahkan takdir, semua berjalan seperti yang telah digariskan, bukankah selama ini Suster Kepala selalu menanamkan nilai-nilai itu dalam benak mereka semua?

BRAK!

Mady berusaha menembus pintu ruangan itu beberapa kali, kemudian detik setelah klimaks dari gedor-gedor tangan Mady di tubuh pintu yang kokoh, hening mulai menyeruak diantara mereka bertiga. Batas pintu itu tak membuat takut hening menyelinap di setiap sudut.

Karena ia tahu usahanya tak akan berhasil, pintu itu sangat kokoh meskipun sudah puluhan tahun tak pernah dipugar. “Ya, Clara bukan pembunuh, salahkan saja iblis-iblis Santa Mondega dua puluh tahun lalu,” teriaknya, ini adalah usaha terakhirnya meluruskan semuanya.

Hening kembali, untuk yang kedua ini, Mady mundur beberapa langkah. Mengumpulkan energi disana, lalu menerjang dengan bahu kirinya.

BRAK!

Kali ini pintu itu berhasil terbuka dan membentur rak buku dibelakangnya, getarannya membuat beberapa tumpuk ensiklopedia berjatuhan. Bahu kirinya sekarang ngilu, mungkin memar disana. Tapi yang harus ia lakukan sekarang adalah menarik keluar Lusy dari sana. Dari air mukanya, ia kaget dan menurut Mady ekspresinya terlalu berlebihan.

“Hei, kawan, sadarlah, kenapa kau terlalu sensitif akhir-akhir ini?” katanya sambil menggoyang-goyangkan bahunya. Mady tak mengenal Lusy yang akhir-akhir ini, terlalu “manis” bukan Lusy yang dulu, yang jarang berekspresi. Ia berubah.

Mereka berhenti di depan pintu ruang baca untuk mengambil oksigen yang hampir habis di paru-paru. Membuka pintu dan berlari kembali ke arah rak pengetahuan umum yang sangat jarang dilewati penghuni Santa Mondega. Lusy menyuruhnya bersembunyi di sana, karean ia tahu, semua orang di sini tak pernah mau betah berlama-lama di koridor ini hanya untuk membaca, kecuali Lusy.

Oksigen yang mengarak-arak di udara mereka hirup sekuat-kuatnya, berlari dari lantai dua ke ruang baca butuh perjuangan terlebih di situasi yang sama sekali tidak bisa dikatakan normal. Mereka tak bisa lagi bersembunyi, sikap mereka sudah kurang ajar terhadap Suster Kepala terlebih setelah Mady mengatakan iblis Santa Mondega.

“Lusy, inilah kenapa hal ini tak ada yang lebih penting.”

“Apa? Aku kira memberitahukan ini kepada Suster Kepala adalah hal yang paling tepat.”

“Kau salah, aku tahu kau tak membaca ini,” tangan Mady menekan-nekan diary Clara dan membentuk lingkaran untuk memberitahukan dimana hal yang dilupakan Lusy. “Kau tak membaca ini, Lusy.”

Lusy menarik buku itu cepat-cepat dari pangkuan Mady, membacanya dari kanan ke kiri dengan cepat. Kemudian mendengus. “Bodoh, memang,” katanya. “Maafkan aku Mady, karena kebodohanku, kau jadi ikut tertarik ke dalam masalah ini.”

Mady tersenyum kecil. “A-a...” ucapnya sembari mengangkat telunjuk yang digonyangkan ke kanan dan ke kiri secara bergantian. “Mungkin memang takdir yang mengharuskan aku masuk membantumu menyelesaikan Diary itu, menyelesaikan akhir tulisan yang kini sudah mulai panas dan meruncing. Oh ya, ini, aku punya beberapa potong makanan tadi pagi, aku perutmu belum kau isi dari tadi malam bukan.” Mady memberikan dua potong makaroni skotel yang dari tadi ada di tangan kirinya, bungkusnya sudah tak karuan. Lusut dan bopeng di sana sini.

“Terima kasih,” jawab Lusy ketika potongan kedua dari makaroni yang di bawa Mady berpindah ke tangannya. “Aku memang sangat lapar, bolehkah aku memakannya sekarang?” tanyanya.

Mady tak menjawab, hanya mengangguk dua kali menandakan bahwa ia setuju. Ia sedang sibuk mengambil diary dari pangkuan Lusy kemudian membolak-balik isi buku itu—membacanya dari awal agar ia tahu detail tentang isi buku itu.

“Hey, Mady, setelah ini apa yang harus kita lakukan? Kita bisa mati jika keluar dari tempat persembunyian ini di situasi yang masih panas.”

“Ya, kau benar. Tetapi, haruskah kita bertahan selama-lamanya disini? Bisa-bisa, kita mati membusuk di sini jika tidak menghadapi masalah yang ada di depan kita, Lusy. Untuk saat ini, aku setuju, kita harus bertahan di sini selama beberapa jam, menunggu kondisi kondusif dahulu.”

Mereka berdua mengangguk dan tersenyum bersamaan, mengucapkan kata “deal” dan menjabat tangan masing-masing bersamaan pula. Buku yang sedari tadi jadi perhatiannya kini sudah ia tutup, diletakkan di paha Lusy yang bersila dan ia menyandarkan sedikit tulang-tulang punggungnya yang terasa kaku di tembok ruang baca. Dingin dan beku.

Kepala Mady terasa penuh sekali setelah bait demi bait dalam diary itu, walau hanya sekelumit. Bagaimana Lusy bisa tahan dengan cerita membosankan seperti di dalam diary itu? Dasar, pikirnya. Memang tidak bisa disalahkan, Mady adalah seorang yang tak pernah mau fokus pada satu hal dalam waktu yang lama, terlebih yang berhubungan dengan buku dan tulisan. Ia adalah gadis yang mencintai seni dan aktivitas luar ruangan, bukan duduk bersila diatas meja dan menikmati huruf-huruf yang terasa sama. Sekarang hal itu terjejal di otaknya, membuat kepalanya pening dan pandangannya menjadi mendua.

Di sisa-sisa kesadarannya, Mady sedikit merasa tenang dengan melihat ke arah luar koridor. Koridor pengetahuan umum adalah koridor tergelap di ruangan ini. Setidaknya, dengan melihat ke arah luar, oksigen bisa ia hirup sekuat-sekuatnya sehingga otaknya berputar normal kembali. Tapi, ketenangan itu mendadak berganti perasaan mencekam, matanya menangkap satu hal yang seharusnya tidak ada. Mady melihat seseorang berdiri mengintip di sela-sela tak ensiklopedia dan buku sejarah. Bayangan yang sama seperti di kamar Mady, tapi kali ini ia bisa melihat detail tubuh bayangan itu lebih baik.

Bayangan dengan boneka teddy dengan mata yang  telah diganti dengan kancing baju berwarna hitam yang ada ditangannya, melihat lurus ke arahnya. Ia mengenakan sepatu kain yang sangat putih tanpa tali yang menopangnya. Bayangan itu menggunakan gaun biru dan putih yang membaur jadi satu di bagian tengah tubuhnya, kumal, seperti sudah berminggu-minggu tak pernah menyentuh air. Hanya bagian leher dan kepalanya yang tak bisa Mady lihat, cahaya di ruangan itu tak sampai menyinari leher dan kepala sosok itu. Yang membuat Mady semakin takut adalah sosok itu tembus pandang, ia bisa melihat rak-rak buku anak-anak dari balik perutnya. Ia hantu, mungkinkah hantu? Lalu hantu siapa? Bukankah setiap hantu memiliki nama? Mengapa ia menganggu Mady?

Tubuhnya memucat ketika ingin mengatakan apa yang ia lihat pada Lusy. “A-a... pa kau melihat itu?” teriaknya dengan telunjuk tepat ke arah muka sosok itu.

Dahi Lusy seketika mengernyit dan berbalik mengikuti arah telunjuk Mady. “Apa?” Ekspresi Lusy sama kagetnya dengan Mady, kali ini ia benar-benar bisa melihat sosok itu. Jelas, sangat jelas. “Siapa dia, Mady?”

“Entahlah, akhirnya kau bisa melihatnya juga sekarang. Tak usah banyak berpikir, Lusy. Ikuti dia, jangan sampai ia menghilang lagi dan memunculkan begitu banyak spekulasi gila lain. Ayo,” teriaknya sambil menarik tangan kanan Lusy membantunya berdiri.

“Siapa kau?” teriak Lusy sembari berlari mengikuti bayangan yang juga berlari menjauh dari mereka berdua, tubuh bayangan itu tak terguncang sedikit pun saat berjalan, ia melayang.

Mereka berdua mengikuti bayangan itu kemana ia pergi sampai akhirnya berhenti di rak-rak buku yang tak pernah dispesifikkan untuk apa. Mungkin lebih etis disebut rak campuran. Sosok itu berhenti di depan tembok-tembok yang kokoh di sudut rak campuran dan membelakangi mereka berdua. Tak bergerak, hanya sekarang terdengar isakan kecil yang keluar dari mulutnya.

“Siapa kau?” tanya Lusy lagi, kali ini nada bicaranya ia turunkan, untuk menurunkan tensi di ruangan ini.

“Siapa aku? Tak penting siapa aku. Yang terpenting, mengapa masih ada anak-anak tak berdosa yang tinggal di kerajaan Iblis seperti Santa Mondega ini? Jawab!” jawab suara itu pertama kali, sedikit berteriak, tetapi teriakannya terdengar datar dan dingin.

Hening, beberapa detik berikutnya hanya hening, sampai Mady memulai dialog berikutnya, “Santa Mondega adalah panti asuhan, rumah kami. Tidak ada iblis disini, kecuali kau yang terlihat seperti iblis disini bagiku.”

Suara itu terkekeh, tetap dengan artikulasi yang beku tak bernada. “Apa kau bilang? Aku iblis, ya memang, aku iblis setelah mereka semua mengubahku menjadi Iblis seperti ini. Sekarang aku berikan kalian dua pilihan: pergi dari sini atau hancurkan toepng-topeng malaikat mereka dan menunjukkan kepada dunia ada apa dan siapa Santa Mondega sebenarnya.”

Ucapan datar yang terlontar dari mulut sosok-tanpa-nama ini selalu menyisakan kebekuan di akhir-akhir kalimatnya. Tak berbeda dengan saat ini, diam begitu panjang, hening begitu lekat. Tak ada yang berani memulai dialog berikutnya. Mereka semua masih senang bermain dengan pertanyaan yang mereka buat sendiri, abstrak.

11 komentar:

  1. Komen pertamax gan :D monggo mampir juga di blogku ya http://gores-penaku.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. ^ seneng banget pertamax, terlebih gak komentar konten postinganya pula #gedubrak hahaha XD

      Hapus
  2. udah ketinggalan beberapa part :|
    terakhir baca part brp ya #ngik nguk

    BalasHapus
  3. Konflik dalam ceritanya semakin berkembang, aku suka. :) Klimaks di bagian akhir terasa menggantung, bagus. Cuma yang di awal cerita "agak" terasa monoton bang, kamu terlalu lama membuat orang, istilahnya, langsung menyelami cerita #FYIaja :D

    BalasHapus
  4. di part ini gw baca alur nya datar ya bang.. ada sih bagian yg tetap menegangkan tapi ngga seperti part sebelum nya..

    entah kenapa ada bagian di tengah yg ngebuat gw senyum lega. seolah mulai ada sedikit titik terang disini..

    ceritanya rumit tapi asyik untuk di ikuti..

    BalasHapus
  5. walaupun nggak ngikutin dari awal, habis liat part ke sebelas ini, jadi pengen baca dari part satu nya, nice bang :D

    BalasHapus
  6. Waw, makin terkuak nih. Ada orang2 bertopeng di panti asuhan itu. Pnasaran gw sama cerita selanjutnya..:)

    BalasHapus
  7. kenapa gak dibuat novel aja. panjang lho ini cerita. kayaknya dibuat novel dah ckup tuh!

    BalasHapus
  8. Ceritanya mantappp. bener tuh kata bang Arif, kenapa ga di bikin novel aja. siapa tau meledak? hahaa

    BalasHapus
  9. aih... sial. makin penasaran. siapa yang iblis sih?

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: