Senin, 26 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (12)

“Believe me, if I started murdering people… there'd be none of you left."

Charles Manson, Murderer from America


Beberapa menit setelah itu, masih tidak ada yang memulai percakapan berikutnya. Seperti bermain catur, semua berpikir untuk menstrategikan langkah selanjutnya. Tidak ada yang berani berspekulasi. Mereka berdua membisu di koridor ini bersama sosok-tanpa-nama yang mengatakan rumah mereka adalah sarang iblis.

“Percuma jika aku menunggu kalian berbicara, tenanglah, aku bukan penganggu. Aku hanya ingin menunjukkan jalan yang benar pada kalian. Bukan menjerumuskan kalian seperti mereka dua puluh tahun lalu,” kata sosok itu yang akhirnya memulai percakapan baru.

Neuron-neuron otak Lusy sangat paham akan hal yang diucapkan sosok itu. Tentang dua puluh tahun lalu, Ia tahu, mengerti pasti, itu adalah Clara. Hantu Clara?

“Apa kau hantu?” tanya Lusy spontan.

Mady semakin pucat ketika Lusy mulai berani bercakap-cakap dengan bayangan misterius itu. Mady memang terlihat pemberani, terutama menghadapi hal-hal normal dan ia tidak seberani itu jika dihadapkan pada hal-hal yang bersifat klenik dan supranatural. “I-ya... apa benar kau han-tu...?” katanya tersekat-sekat dan menggantung di ujung pertanyaan.

“Bukan, tentu saja bukan. Aku adalah kalian, aku adalah sisi lain dari jiwa kalian. Buku itu yang membuatku keluar dan menampakkan diri seperti ini. Aku juga bukan Clara, tapi aku tahu persis di mana Clara dan kronologis kejadian dua puluh tahun lalu,” jawabnya panjang lebar.

“Lalu, kenapa kau menghantuiku tadi malam di kamar Lusy?” tanya Mady yang masih menyisakan ketakutan di akhir pertanyaan sekarang.

“Kau yang membuatku muncul saat itu. Bukankah kau takut dengan buku itu, karena itulah aku muncul di depanmu. Kau dan Lusy harus bekerja sama menyelesaikan teka-teki ini. Kalian adalah kunci utama pembuka gerbang labirin tinggi kronologi kejadian dua puluh tahun lalu. Tidak ada yang lain, karena kalian istimewa. Kalian adalah karakter kunci. Ingatlah itu, kalian pemegang takdir Santa Mondega berikutnya.”

Kali ini Lusy yang angkat bicara, “Mengapa harus kami? Mengapa kami? Bukankah kejadian dua puluh tahun lalu itu hanya masa lalu dan tidak berhubungan langsung dengan kami berdua?” Ia maju selangkah untuk mendekat kepada bayangan itu. “Santa Mondega adalah rumah kami, mengapa kami harus berusaha mengorek sesuatu yang bukan kuasa kami? Huh?” tanyanya lagi.

“Aku tak bisa menjawab semua pertanyaanmu, karena aku adalah bagian dari dirimu Lusy. Semua pertanyaanmu hanya kau sendiri yang bisa menjawabnya, bersama Mady. Semua jawaban ada di buku itu. Diary milik Clara,” tukas bayangan itu, intonasi suaranya tetap datar tapi kini agak naik.

DOR! DOR!

Dari tempat mereka berdua berdiri sekarang letaknya cukup jauh dengan pintu utama ruang baca. Suara tangan yang menggebuk-gebuk pintu masih terdengar jelas di telinga mereka. Sontak mereka berbalik memeriksa keadaan apa benar-benar ada yang memasuki ruangan ini atau tidak. Aman, pikir Lusy.

“Apa? Hilang?” tanya Mady yang sudah berbalik ke arah bayangan tadi lebih dulu dari Lusy.

Lusy sama terkejutnya dengan Mady, bayangan itu hilang, meninggalkan sedikit jawaban dan menambah lebih banyak pertanyaan yang berputar-putar di otak mereka. “Hey, kau, dimana kau, aku masih tidak paham dengan perkataanmu,” teriak Mady cukup keras.

Tangan kanan Lusy dengan cepat menutup mulut Mady yang lepas kontrol. Suaranya bisa menarik perhatian para suster marah di luar, mereka bisa-bisa ketahuan bersembunyi disini. “Stt... pelankan suaramu, Mady. Kau tak mau tertangkap basah berada di sini, terlebih setelah kita mengetahui sedikit tentang rahasia Santa Mondega dua puluh tahun lalu.”

Mulut Mady yang masih terbungkam tangan kanan Lusy bergerak-gerak. Ia tak bisa bernafas. “Maafkan aku, lepas kontrol.”

“Baiklah, ayo cepat kita selesaikan misteri ini, dimana Diary itu kau letakkan?” tanya Lusy sambil memutar pandangan ke kiri ke kanan mencari diary hitam polos itu.

Mady lupa, ia meletakkannya begitu saja di koridor pengetahuan umum ketika ia berlari mengejar sosok-tanpa-nama itu sampai kesini. “Ya Tuhan. Aku meninggalkannya disana.” Tangannya menunjuk ke arah koridor pengetahuan umum empat blok dari tempat mereka berdiri. “Ayo cepat, kita harus mengambilnya, Lusy.”

Lusy tak bisa menyembunyikan kepanikan yang berada di matanya. Ia tak menjawab hanya mengangguk dengan gemetar, lalu mereka berlari kecil-kecil ke arah koridor empat blok dari tempat mereka mulai berlari. Tetapi, tiba-tiba...

BRAK!

Pintu ruang baca dibuka secara paksa, keras-keras. Getarannya terasa sampai tempat mereka berdua berlari dan kini berhenti. “Cepat merunduk,” bisik Lusy. Dua detik mereka perlukan untuk mencari tempat persembunyian, tepat di meja di depan mereka. Meja baca dengan tinggi setengah badan dan memiliki kolong yang cukup besar untuk mereka masuki.

Semuanya menjadi hening setelah pintu itu terdobrak secara paksa, sepertinya telah lepas dari kusen yang menyangganya. Dari dalam kolong hanya terdengar tiupan angin yang menyeramkan masuk lewat lubang-lubang udara di atas langit-langit. Burung walet sedang tidak membuat sarang disana, sehingga angin begitu mudah masuk dan meniupkan aroma menyeramkan ke seisi ruang baca.

Suara angin kini mereda berganti sayup-sayup suara kaki yang setengah diseret, memakai high-heels cukup tinggi sehingga menimbulkan bunyi ketukan dengan interval yang sama. Samar-sama suara itu semakin jelas terdengar, semakin mendekat ke arah persembunyian mereka. Semakin dekat, dekat hingga bau anyir darah dan busuk sampah menganggu pernafasan mereka. Sangat tajam.

Mady bisa melihat kaki itu berjalan melewati meja persembunyiannya, kaki dengan ulat bambu yang keluar dari mata kakinya. Kaki itu berwarna biru dengan otot-otot kaki yang menyembul sangat kentara. Sebelah kakinya tak seimbang, kaki kirinya lebih kecil yang sedikit diangkat saat berjalan. Ia pincang. Kuku-kuku jari kakinya terlihat tak pernah dirawat, ujungnya tebal dan tumpul dengan kotoran berwarna kuning yang menumpuk di sela-sela daging kukunya. Baunya juga busuk. Di belakangnya tampak kampak yang ujungnya terdapat bercak merah, mungkin darah. Ujung kampak itu membuat suara seperti sepatu yang mengenai lantai, yang mereka kira sepatu berhak tinggi tadinya.

Suasana mencekam terekam jelas di baris-baris memori Mady yang melihat kaki misterius itu secara langsung ditambah kampak yang meneteskan darah yang dibawanya. Lebih aneh lagi, tubuh misterius itu mengenakan pakaian suster persis seperti suster di panti ini. Siapa? Suster yang mana? Mereka masih mempertanyakan hal itu dalam otak masing-masing meski dalam bungkam mulut mereka.

Mady dapat melihat tubuh itu menjauh dari tempat mereka berdua bersembunyi, berjalan terseok ke arah koridor tempat mereka bersembunyi. Oh Tuhan, jangan sampai Ia mengambil diary Clara, kekhawatirannya dalam hati memuncak.

BUK! BUK!

Dua kali suara aneh itu masuk ke gendang telinga Mady, terdengar seperti suara kampak yang mengenai sesuatu yang lembek, mungkin kayu. Mungkin buku itu?

Kaki mengerikan itu kembali melewati meja persembunyian mereka dengan tenang, tetap dingin dan datar, hanya kakinya yang terseret memunculkan suara yang lain, seperti suara lahan pekuburan yang sedang dikeruk sesuatu dengan paksa. Perlahan-lahan kaki itu menjauh dari tempat Mady dan Lusy bersembunyi dan jauh, semakin samar dan...

BRAK!

Pintu ruang baca seperti ditutup dengan teramat keras. Perlahan-lahan mereka berdua memberanikan diri keluar dari bawah meja, saling berpandangan, saling memberikan tanda bahwa suasana sudah cukup aman. Mady memunculkan kepalanya terlebih dahulu, menoleh ke kanan dan ke kiri melihat tidak ada yang berbeda dari ruangan itu, kecuali, koridor pengetahuan umum.

“Oh tidak, pasti, mahkluk itu sudah menghancurkan buku itu Lusy.” Air mukanya berangsur-angsur memucat.

“Aduh,” kepala Lusy membentur sudut meja saat akan berdiri. “Apa kau bilang, cepat ayo kesana!” teriaknya sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja terbentur meja.

Dari tempat mereka berdiri, koridor itu tampak sangat tak teratur, buku-buku sudah tidak tertata rapih di tempatnya. Ada beberapa diantaranya yang tercerabut dari halaman-halamannya, tercacah menjadi beberapa bagian kecil. Ada buku tentang sejarah yang seperti meleleh dan tidak bisa dibuka lembar-lembarnya, ada buku yang terbelah menjadi dua dan isinya sudah tidak bisa dibaca.

Mereka ke sana mencari diary Clara—sangat berharap buku itu tak bernasib sama seperti buku-buku lain di tempat itu, hampir semua buku disana sudah tidak bisa dibaca lagi. “Ketemu,” teriak Lusy sambil mengangkat satu buku hitam tanpa aksen di tangan kirinya.

“Untunglah, buku ini tak dirusak oleh mahkluk itu.” Nafasnya yang tadi setengah-setengah kini terasa lebih lega. Semuanya lega.

Mereka sudah tak bisa menempati koridor ini, mungkin juga tak bisa karena ada kemungkinan mahkluk itu kembali mengincar buku ini lagi. Suasana di Santa Mondega sudah berubah menjadi rumah menakutkan akhir-akhir ini dengan kemunculan mahkluk-mahkluk aneh yang tidak bisa dirasio. Gagak di luar sudah menyerukan suara sore dan dengung angin juga membawa angin dingin musim gugur di Ben Hill. Jalan-jalan satunya bagi mereka adalah menetap di ruang baca, ruangan yang paling aman bagi mereka untuk saat ini.

“Ini sudah cukup bertele-tele, ayo cepat selesaikan buku sial itu!” umpat Mady dengan intonasi yang biasa.

Lusy agaknya tidak menerima umpatan itu begitu saja, “Ucapan kotor, bukankah Suster Kepala pernah bilang—“ ucapannya dipotong Mady dengan segera. “Persetan dengan petuah-petuah Suster Kepala, apa kau masih memercayai jabatannya sebagai ‘suster’ setelah banyak ucapan kotor yang ia lontarkan padamu, pada Clara? Masihkah?”

 Lusy menggeleng. “Masih, bagaimana pun juga Suster Kepala adalah—“ perkataannya dipotong lagi. “Bodoh, jangan terlalu naif jadi orang Lusy. Jangan percaya pakem yang sudah ditanamkan ke benak-benak kita ini oleh Suster Kepala, keadaan sudah berubah. Ia berubah, Santa Mondega berubah, benar kata bayangan itu.”

“Tapi?” Lusy masih sedikit menyangkalnya, ia tidak mudah mengganti semua pelajaran hidup yang sudah ia dapatkan di tempat ini begitu mudah seperti Mady. Ia yang kaku, ia yang tidak secepat elang yang tiba-tiba bermanuver menukik ke bawah.

“Sudahlah, tak berguna memperdebatkan hal ini. Yang penting adalah, selesaikan buku ini segera,” ujar Mady dengan telunjuknya yang ia ketukkan beberapa kali diatas buku itu, menimbulkan bunyi “bum” yang menggema kecil.

Dari halaman tengah yang sudah ditandai oleh Lusy mata mereka mulai menyorot satu persatu kata yang ditulis rapih oleh Clara dengan tinta hitam pekat yang tidak pudar.

LIMA

PERSETAN DENGAN SEMUA ORANG!

Aku tak tahu sejak kapan sikapku mulai berubah, atitutku sudah tidak seperti dulu; pendiam dan tidak banyak bergaul. Aku yang sekarang lebih suka marah-marah bila bertemu banyak orang, lebih-lebih warga Santa Mondega yang tidak berhenti menyalahkanku atas kecelakaan Suster Amy. 

Banyak dari mereka yang menyebutku “Anak iblis”, “Titisan setan”, “Manusia pembawa sial” dan banyak hujatan-hujatan yang membuat hatiku teriris ketika itu sampai di telingaku. Aku tak pernah bisa membalasnya, karena memang aku ada disana, sebagai saksi dari kecelakaan itu, bukan sebagai pembunuh atau penyebab dari kecelakaan itu. Apa mereka tak pernah mengerti tentang takdir? Apa semua orang di panti asuhan ini tak pernah punya agama dan diajarkan tentang artinya jalan Tuhan? Pertanyaan itu masih belum bisa terjawab dari sudut hatiku. Tak berani terlontarkan keluar untuk saat ini. 

Beberapa polisi sering berdatangan ke panti ini akhir-akhir ini untuk menanyakan kronologis kejadian kecelakaan itu, tapi aku tidak bisa membantu banyak, kata mereka. Memang, aku tak tahu persis bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, saat itu aku tertidur dan bukan salahku jika aku tertidur saat itu. Sudah malam dan aku hanya merasa kelelahan dan jatuh tidur. 

Tapi banyak dari mereka menyalahkanku atas “ketiduran”-ku di dalam kecelakaan itu, ada satu dari mereka mengatakan, aku adalah manusia tidak berguna karena kecelakaan itu tidak bisa aku deskripsikan kepada polisi secara gamblang dan detail. Ada juga yang memaki di depan mataku bahwa aku idiot dan sebagainya. Aku diam, aku selalu diam, kamu tahu. Karena apa, aku benar-benar tidak tahu. Dan kini aku sudah muak dengan mereka, sangat muak! 

Dan sekarang, ada seseorang bernama Suster Amme datang ke panti ini, dengan penampilan yang sama persis dengan mendiang Suster Amy, tapi ia berbeda. Aku tak bisa melihat keceriaan dari wajah orang ini, seperitnya ia penuh dendam dan kebencian. Sejak ia datang aku tahu persis ia bukan Suster Amy saat pertama kali menatap matanya. Ia tidak tulus, menurut kacamatku. Menurut kabar burung yang tersiar dari kamar-kamar teman-teman disini, ia adalah kembaran dari Suster Amy, kembar identik. Tetapi, tetap saja, ia bukan Suster Amy, perbedaan diantara keduanya begitu mencolok. Jessica juga sependapat denganku, tapi Jessica lebih menitikberatkan dari sikap-sikap yang ia tampakkan, bukan dari sudut pandangku, dari sesuatu yang “hilang” dari Suster Amy. 

Beberapa waktu setelah ia menetap disini, kesedihan dan rasa berkabung itu mulai sirna, kabut gelap dari kamar Suster Amy yang nampak lengang kini sudah berganti dengan degup musik klasik yang sering tersenandung dari kamar itu. Pukul dua sampai pukul empat sore di hati Jumat selalu Fur Elise yang terekam jelas dari kamar itu, diulang-ulang, bahkan seperti sudah terdoktrin. Sangat berbeda dengan Suster Amy yang pendiam dan suka dengan musik anak-anak seperti Que Sera-Sera dan You Are My Sunshine yang berkali-kali dengan suara lirih keluar dari kamarnya. 

Walau sikapku belakangan ini banyak berubah tetapi aku tidak merubah sikapku itu kepada Jessica,, satu-satunya “keluarga”-ku disini. Ia tak pernah lupa mengingatkanku untuk tidak menggubris pernyataan orang-orang—bahwa aku adalah pembunuh dan sebagainya. Ia yang selalu menyakinkanku bahwa semua itu murni kecelakaan, bukan salahku. Jessica sama terpukulnya denganku tetapi ia lebih bisa menyembunyikan perasaannya daripada aku, ia tahu perubahan sikapku selama ini adalah karena aku masih belum bisa menerima kepergian Suster Amy. Memang benar, ia tahu, ia mengerti isi hatiku saat ini. Tidak seperti mereka! 

Selain Jessica ada hal yang bisa membuatku merasa lebih baik yaitu lukisanku. Gadis dalam Cermin-ku. Aku sering sembunyi-sembunyi saat tengah malam berjalan ke koridor dan duduk menatap lukisanku berjam-jam, kadang menangis, tersenyum kecil. Aku merasakan ia hidup, hidup dalam hatiku. Air muka menangisnya seperti benar-benar nyata, ia menangis, menangis bersamaku, bersama dalam keadaan yang sama. Aku dan lukisanku, aku dan gadis dalam lukisanku, Gadis dalam Cermin. 

Keduanya mengernyitkan dahi masing-masing, mereka tahu bahwa catatan harian bab ini sangat menggantung, tidak membuahkan apa-apa, hanya sedikit menyinggung soal lukisan itu.

“Apa-apaan, kenapa hanya seperti ini, cepat baca bab selanjutnya Lusy!” sebut Mady gusar.

Lusy mengeram tak sabar. “Iya, bersabarlah, kau mau monster itu datang lagi dan benar-benar datang kesini dan mengambil diary ini, lalu, misteri ini membuat mati jiwa kita yang penasaran? Mau?”

Muka Mady memerah di pipi dan terguncang-guncang menawan tawa tersembunyi di dalam tenggorokannya, “Drama, jangan hiperbola! Tidak akan seperti itu, Lusy.” Ia mencoba menghentikan tawanya hingga beberapa detik selanjutnya tawanya benar-benar reda. “Mungkin hanya kita dihantui perasaan bersalah karena tidak mengungkap misteri ini, karena kita sudah terlalu dalam masuk bersama Clara dan diarynya. Ini sudah terlalu jauh untuk kembali ke awal, untuk tidak benar-benar buku sialan itu, Lusy.”

Lusy mengerti maksud dari Mady yang berusaha menganalisa kejadian ini dari awal. “Aku tahu tapi semua juga butuh kesabaran, keadaan saat ini tidak memungkinkan. Dengar gagak di luar? Mereka sudah bernyanyi, hari sudah sore dan juga keadaan sudah cukup kondusif. Mari minta maaf kepada Suster Kepala lebih dahulu.”

Tanpa banyak bicara Mady mengiyakan sarannya dan dengan cepat menggandeng Lusy keluar dari koridor berantakan itu. “Ayo, kalau begitu jangan terlalu banyak berpidato disini, bukankah kau mengatakan lebih cepat lebih baik. Aku sudah tidak cukup sabar untuk tidak melanjutkan cerita menggantung itu disini, Lusy.”

Pintu utama berada beberapa blok dari tempat mereka sekarang berdiri. Angin di lubang-lubang udara juga sudah kembali membunyikan suara seram yang melewati sarang-sarang kenari diatas. Tidak ada jam di dalam ruang baca, hanya suara alam yang menandakan waktu di sana. Semua tahu itu, terlebih penghuni tetap ruang baca; Lusy. Ia tahu persis kapan pagi, siang dan malam di dalam sini, walaupun tanpa penunjuk waktu.

Beberapa langkah di depan pintu, tiba-tiba daun pintu melingkar itu terguncang-guncang. Ada seseorang di balik pintu. Pintu itu tak semudah itu terbuka memang butuh sedikit tenaga ekstra untuk membukanya. Beberapa kali daun pintunya naik turun, tapi tak terbuka. Mata mereka kini saling melakukan kontak, berbicara, apa yang harus mereka lakukan sekarang?

BRAK! BRAK! BRAK!

 Terdobrak beberapa kali, tapi pintu itu masih kokoh dan tegap pada tempatnya. Keadaan secepat itu berubah dari nyaman menjadi mencekam lagi. Hawa dingin mengikat kaki-kaki mereka untuk tetap berada di tempatnya. Terpaku. Mematung.

“Kalau-kalau semua berhenti di sini, maafkan aku,” Mady menggenggam makin kuat tangan Lusy setelah mengatakannya. “Dan, aku akan mengatakan kepada Clara, aku gagal.”

“Mungkin ekspektasi kita berdua terlalu tinggi. Tetapi, apa yang kau katakan? Bodoh, kukira kau berani dan tidak semenyerah ini. Ku kira kau tangguh, Mady.”

Mata mereka terpejam hampir bersamaan tanpa komando. Jantung mereka juga memompa sama kuatnya, disini hanya ada dua pilihan, berperang atau mati. Sampai saat ini mereka hanya bisa berada  di tengah-tengah dua pilihan itu. Memegang pisau bermata dua.

BRAK!

Pintu itu tak kuat menahan tendangan dari luar hingga terbuka. Mata mereka masih terpejam. 

7 komentar:

  1. gila panjang juga ni episode gadis dalam cermin,udah nyampe 12 aja ='= lagi2 ceritanya misteri yg gue suka yoyo lanjut kan

    BalasHapus
  2. Konfliknya "njelimet" bang, di-part ini mungkin terlalu panjang menurutku. Gak salah sih, cuma saranku, mendingan diperpendek, tapi ya sudahlah yg ini biarin aja :D

    BalasHapus
  3. haha gw kok jadi ngakak pas pertanyaan "apa kamu hantu??" LOL

    pas diary clara itu pas kerasa banget gantungnya..

    disini udah mulai ada titik terang yah buat mady dan lusy..
    cuma bayangan itu sedikit janggal kalau ngaku bagian dari mereka berdua.. harusnya salah satu lebih dominan.. itu menurut ku..

    yang nyeret kampak itu yg tergambar dibayangan gw sosok laki laki yah ngga mencerminkan salah satu suster..

    ditunggu klanjutan nya.. semakin menarik..

    BalasHapus
  4. kereeen.. lanjut dong bang daka... makin menegangkan.. ><

    BalasHapus
  5. Baru mampir, tapi udah baca dari awal. Tulisanmu indah dan-apa ya?

    Ahhhh... Love it, lanjutannya kapan nih?

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: