Minggu, 04 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (09)

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Doris Day - Que Sera Sera


Mungkin keseribu kalinya pintu kamar Lusy ditutup dan berdecit bising. Mady sudah keluar, meninggalkan begitu banyak spekulasi menggantung, terutama tentang sikap anehnya setelah kilat terakhir menyambar. Untuk alasan apapun, Mady memang bukan yang handal dalam menyembunyikan perasaan, hal ini saja: berbohong, ia amat buruk. Lusy bisa menebak kebohongan itu dari awal ia menatap jendela. Menatap sesuatu tapi apa? Lusy tak bisa melihatnya. Ia hanya melihat gorden yang menari bersama hujan, itu saja, tidak lebih.

Di atas selimutnya yang hangat, otaknya masih teramat panas, bau mesiu mungkin saja bisa keluar dari otaknya yang mulai terbakar. Tentang Mady; yang lukanya sembuh begitu cepat, tentangnya yang takut akan buku diary Clara, tentang dia yang ketakutan melihat sesuatu di jendela kamar. Semua membuat otak Lusy tak bisa berfikir secara dingin, membuatnya semakin naik pitam. Tak paham, sama sekali ia tak mengerti apa yang membuatnya sampai dini hari—mungkin sebut saja pagi—masih terjaga dari kantuk.

Hujan sudah reda sedari tadi, lima belas menit yang lalu. Deru angin yang menerobos bebas lewat jendela kini berganti dengan sepoi-sepoi beku dari angin pagi. Menggemeretakkan sendi-sendi Lusy yang sudah bersembunyi dibawah selimut. Buku Clara masih ada di tempatnya—di bawah lantai tergeletak—sementara Lusy sibuk dengan banyak kemungkinan tentang Mady. Lampu yang remang sudah dimatikan oleh Mady saat ia beranjak pergi tadi, kini hanya surya yang mulai muncul menerangi kamarnya. Pemandangan yang menenangkan, pikir Lusy.

Sudah cukup seberondong pertanyaan tentang Mady, otakku sudah terlalu penuh dengan banyak hal-hal aneh akhir-akhir ini, ditambah Mady, Tuhan.

Lusy menegakkan tubuhnya dari ranjang, mengusap kedua matanya yang sembab karena udara pagi. Mungkin, lebih baik aku teruskan membaca Diary Clara, lebih cepat lebih baik bukan, katanya berbicara dalam hati dengan dirinya sendiri.

TIGA:

TENTANG MEREKA—JESSICA JUGA SUSTER AMY—DAN GADIS DALAM CERMIN 
Sudah berhari-hari aku berhenti menulis disini, sampai aku siap menulisnya lagi saat ini, aku masih belum bisa menunjukkan kepada dunia—khususnya Santa Mondega—tentang buah tanganku. Ya, Gadis dalam Cerminku. Aku bukannya tak mau, aku hanya tak ingin berdiri dan berhenti memikirkan Papa. Karena untuk banyak alasan yang tak bisa kujelaskan satu persatu, lukisan itu akan selalu menjejalkan ingatan tentang Papa di dalamnya. Percayalah. 

Lalu sampai pada suatu ketika, tepatnya sehari yang lalu. Aku memberanikan diri menunjukkannya pada Jessica. Jessica, seorang gadis berkuncir kuda yang tak bisa lepas dari baju-baju ketat dan hotpants, ia seorang sanguin yang tak suka banyak bicara. Jessica adalah teman  sekelasku, di sekolah baruku. Ia juga orang pertama di Santa Mondega yang ku beritahu tentang Gadis dalam Cermin. Tapi, aku merasa bersalah telah memperlihatkan lukisanku padanya. Belum sampai satu menit Jessica memandangi tekstur, lekuk dan warna dari lukisanku, ia menjerit histeris. Aku tak mengerti, ada yang salahkah dengan lukisanku? Apa? Satu orang yang dapat menjelaskannya yaitu Ayah. Ia yang pertama kali mengomentari lukisan ini, beliau juga yang memberikan saran; jangan pernah membawa lukisan ini keluar atau menunjukkan kepada siapa pun kecuali Ayah dan Ibu. Salahkah kutunjukkan pada Jessica saat ini? Ya, aku kini tahu, apa jawaban dari pernyataan Ayah itu. Menunjukkan lukisan itu kepada Jessica itu hal yang keliru. 

Sampai detik aku menulis ini, tak pernah terbesit sedikit olehku, apa yang salah dari lukisanku. Ini tentang lukisan dengan gadis berambut pirang dan bermata biru yang terperangkap di dalam sebuah cermin besar. Aku menggambarkannya seperti cermin medusa di dalam mitologi Yunani. Cermin dengan aksen ular di samping kiri dan kanan, dan satu ruby merah yang menancap di mulut dan taring ular cobar di bagian atas. Aku melukiskan sebuah rona wajah keputusasaan di dalamnya, dengan sendu ia menangis menatap ke bagian luar cermin. Gadis itu menyerah, ia bahagia hidup dalam cermin, tapi seolah ada sesuatu yang belum ia selesaikan di dunia di luar cermin. Aku sebagai pembuatnya sendiri belum memikirkan apa urusan yang begitu penting itu, sehingga gadis ini ingin sekali keluar dari cerminnya. Aku tak ingin memberikan nama pada gadis di dalam cermin dalam lukisanku. Dari kecil Papa dan Mama mengajarkanku untuk mengerti arti dari setiap nama, oleh karena itu aku sangat berhati-hati dalam memilih nama untuk setiap lukisanku. Dan, untuk kali ini aku membiarkannya tanpa nama; hanya untuk membuatnya bisa menentukan takdirnya sendiri. Karena aku percaya, sebuah nama memberikan takdir masing-masing penyandangnya. 

Setelah Jessica, aku ragu untuk menunjukkannya ke orang lain tak terkecuali Suster Amy yang sangat antusias sebelumnya. Demi alasan apapun, ia sangat bersemangat mendengar aku bisa melukis dan ingin melihat lukisanku. Aku sudah menolaknya dengan cara yang halus, tapi ia tak menggubris, ia tetap ingin melihat lukisan itu. Di dalam benakku terbesit satu ketakutan; satu kesalahan yang sama. Aku takut, sesuatu yang buruk terjadi lagi setelah Jessica. 

Semua perkiraanku salah, suster Amy tak setakut itu. Dari air mukanya aku bisa melihat kekaguman mendalam. Aku melihat sisi magis dari lukisanmu, mereka bergerak dalam tanpa kutip, terutama gadis itu, yang terlihat risau akan pilihannya dan aku tak tahu apa, kata Suster Amy panjang lebar. Telingaku hanya terprogram untuk mendengarkan komentar-komentarnya kali ini, tak ingin aku merusak satu titik kekagumannya dengan menyanggah ataupun mengomentari ocehannya lebih jauh. Biarkan ia sendiri dengan lukisanku saling bercakap, saling memandang dalam diam yang berbeda dimensi. 

Kau tahu, Clara. Aku sosok gadis ini sebagai diriku yang lain. Diriku yang hilang maksudku, ungkapnya padaku setelah lima belas menit menyatukan diri dengan lukisanku. Aku hanya tersenyum mendengarnya, masih tak mau berkomentar. Suster Amy mendengus, aku harap ada beberapa frasa yang tak sengaja hinggap di otakmu hanya untuk memberikan apresiasi atas komentarku, Clara, ketusnya dengan nada bercanda. Jawabku hanya bisu dan tersenyum tulus padanya. Suster Amy seolah mengerti akan hal itu, ia tak butuh jawaban lagi atas komentarnya. Ia hanya mengalunkan tangannya lembut, menyisirkan jari-jarinya pada rambutku yang cokelat dan bergelombang. Suster Amy; sosok yang kukagumi; biarawati yang selalu memancarkan sinar teduh dari wajah putihnya. Sesuatu yang bisa membuatku mencintai Santa Mondega hanya satu: Suster Amy.

Sudah dua halaman lembar diary itu Lusy baca tanpa ada gangguan, membuatnya benar-benar menjadi “aku” dalam diary itu. Di sudut kanan bawah akhir halaman delapan terselip satu catatan berbunyi, “Suatu saat, pasti ada orang lain selain aku dan Suster Amy yang bisa melihatnya. Sesuatu di balik halaman ini.” Tanpa komando, tangan Lusy membuka lembar berikutnya, tepat terpampang besar di halaman sembilan yang kuning, dengan kertas perkamen tebal yang menempel di atasnya. Sebuah sketsa dari pensil, ditambah gores dan arsir yang meliuk sempurna. Karya dari tangan-tangan bidadari, pikir Lusy seketika. Di bagian kiri dari lukisan itu tertera tanda tangan rumit dengan nama terang yang ditulis berantakan di bawahnya: Clara Harrington. Gadis dalam Cermin, tercetak tebal bertinta hitam di atas sketsa lukisan itu, mungkin itu judul.

Lusy tak bisa memalingkan pandangannya beberapa menit untuk memandangi setiap detail sketsa itu saja. Ia jatuh hati, penggambaran dengan tulisan di dalam diarynya dan sebuah sketsa kecil diatas kertas perkamen itu semakin menambah jelas refleksi lukisan Clara dalam otak Lusy.

Tapi, lukisan itu seperti tidak asing di mata Lusy. Seperti pernah ia lihat sebelumnya. Tetapi dimana? Kapan? Lusy berusaha mengingatnya, butuh waktu selama tiga menit untuk membuka memori-memori yang terjejal tak rapih di dalam otaknya. Sampai pada titik itu—saat ia mengingat sesuatu tentang lukisan itu—Lusy ingat bahwa ia pernah melihat lukisan yang sama persis dengan lukisan Clara dimana. Di perpustakaan Santa Mondega; di ruang baca.

Ia bangkit dari ranjang, tidak sabar untuk segera menuju ruang baca saat itu juga. Dentuman keras kedua telapaknya di lantai kayu membuat gema sepersekian detik yang menganggu orkestra pagi. Lusy tak perduli, ia tetap berlari dari depan ranjang ke pintu utama kamarnya. Hanya tiga langkah melayang yang perlu ia lakukan untuk sampai disana, pada saat yang sama ia berhenti karena teringat sesuatu yang ia tak boleh lakukan. Tepat di saat seperti ini, beberapa hari yang lalu, Lusy kepergok begadang semalaman hanya untuk membaca arsip-arsip Santa Mondega dari awal dibangun hingga sekarang oleh Suster Kepala. Ia dengan kasar merebut tumpukan arsip dan album foto kenangan di sebelah kiri tangan Lusy yang terkantuk di atas meja. Tanpa suara, dan dengan air muka yang merah padam, Suster Kepala keluar dari ruang baca dengan pintu yang tak tertutup pelan. Dengan kata lain, terbanting sangat keras.

Dari aksi perebutan arsip tadi, tanpa disengaja ada satu bagian arsip yang tersobek dari tempatnya. Potongan itu lepas dari pandangan Suster Kepala yang sama sekali tak menyadari hal itu. Satu petunjuk, pikir Lusy kala itu. Sobekan kertas itu berisi sebuah gambar; yang baru saja ia sadari bahwa itu adalah lukisan Clara Harrington: Gadis dalam Cermin.

Kilas balik ingatan itu membuat Lusy mematung beberapa masa di depan pintu. Hening yang tadi bersemanyam dengan ruangan ini kini sudah berganti dengan hingar-bingar pagi. Senyap suara pakaian yang dikibaskan basah-basah, suara James yang berteriak-teriak mengatakan sesuatu dengan bahasa Spanyol dan senda gurau burung dengan bunga anyelir yang tumbuh subur di tanah Santa Mondega menjadi melodi paginya kali ini.

Lusy menantang nasibnya sekali lagi, ia tidak lagi ragu untuk menuju ke ruang baca karena hari sudah pagi dan waktunya semua bangun. Dan ini hari minggu, tepat dimana semua orang melakukan hal-hal yang tidak bisa ia lakukan di hari kerja.

Lusy melompat keluar, belok ke kiri melewati kamar Mady disebelahnya. Berlari kasar menuju tangga memutar untuk langsung menuju ke ruang makan di lantai di bawahnya. Menerobos keramaian semua orang yang sedang mempersiapkan menu pagi hari ini hingga sampai di depan pintu ruang baca, nafasnya tinggal setengah. Terengah-engah.

Detik-detik berikutnya ia mengatur nafasnya perlahan sembari meraih daun pintu berwarna emas yang sudah berkarat di ujung-ujungnya. Klik! Bagus, ruang baca tidak dikunci pagi ini, katanya dalam hati. Lusy masuk ke dalam dan tidak melihat siapa pun disana. Sempurna, itu yang ia harapkan di kondisi seperti ini. Ia berbegas menuju rak dongeng, buku Barbie and the Black Swan yang ia cari. Kemarin, ia menyelipkan potongan gambar Clara di sana, di halaman dua puluh satu. Lukisan itu dilipat menjadi dua untuk menyempurnakan tempat persembunyiannya.

FUALLA!

Sketsa lukisan itu masih ada di tempatnya. Tak berubah sedikit pun. Lusy tahu tak ada yang menyentuhnya setelahnya. Tiba-tiba sepekik suara alto mengagetkannya.

“Jadi... kau sudah melihatnya, Lusy?” Suara yang mudah ditebak dan sangat tidak asing: Suster Kepala.
Lusy tampak tak kaget sejangka pun, ia berbalik yakin. “Ya, Suster Kepala Amy Wood.” Setiap kata dari mulut Lusy pada perkataannya itu ditekan dalam.

Rona muka Suster Kepala menjadi tegang tiba-tiba, lalu ia mengucapkan kata-katanya sedikit terbata. “Amy Wood? Sudah sangat lama tidak ada yang menyebut nama itu di Santa Mondega. Mungkin dua puluh tahun lalu ketika saudara kembarku meninggal karena kecelakaan mobil saat akan menuju Santa Mondega untuk mengantar Clara pulang.”

“Apa, jadi Amy bukan Suster?”

Ia menggeleng sedih. “Bukan, Lusy. Memang banyak orang salah menyebut namaku menjadi Amy. Namaku adalah Amme bukan Amy. Ingat itu.”

“Lalu, Clara menyebutnya—“

“Stt... biar aku memberi tahumu sesuatu. Tentang suatu rahasia sebelum Amy meninggal di dalam kecelakaan itu, lebih tepatnya sebuah pesan terakhir.”

“Apa?”

“Gadis yang sungguh tak punya kesabaran. Bukan disini, sayangku. Temui aku di ruanganku jam delapan dan kita bicarakan rahasia ini di sana. Ingat, jangan beri tahu siapa pun. Siapa pun.”

Suster Kepala pergi begitu ia berhasil mencabut sobekan kertas perkamen yang dibawa Lusy halus. Mulut Lusy mengangga dan tidak mempunyai daya untuk menahan kertas itu tercerabut dari genggamannya.

Lusy mematung di sudut ruang baca yang gelap. Menambah panjang daftar pertanyaan yang ditodongkan ke arahnya. Otaknya memanas lagi.

SIAL! Umpatnya dalam hati.

10 komentar:

  1. Pada bagian ini alurnya benar2 kena di aku bang, aku gak ada kritik lagi, aku suka semuanya dibagian ini. Perfecto~ :D

    BalasHapus
  2. pas di sesi diary itu gw kebawa suasana seolah - olah lusy itu emang clara.. clara di masa lalu yg di gantiin lusy di masa sekarang kaya cerita di film dream house..

    dan gw suka penggambaran tentang potongan sobek kertas itu bikin gregetan pingin tau juga apa.. ah bang makin banyak misteri yg belum terungkap

    disini belum di jelasin ya siluet yg di liat mady di episode kemarin?? *ga sabaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi sayangnya lusy bukan clara dan clara bukan lusy mereka dua orang yang sama sekali berbeda.

      Hapus
  3. kece banget, pada jago nulis semua
    jadi berhasrat nulis sesuatu,
    :D

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: