Senin, 05 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (10)

Blood? | Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam |
PHOTOSCAPE CREATIVE EDITING

Sejak tadi Mady membiarkan makaroni skotel-nya dingin. Uap-uap yang mengepul keluar dari potongan makaroni dan keju itu menyentuh ujung hidung Mady, membuatnya sedikit terusik dari lamunannya. Mady memutuskan tidak kembali ke ruang kesehatan, karena sudah terlalu pagi untuk tidur lagi. James yang bermain di luar pun terus menggajaknya bermain bola—di sisi lain ia sangat mengatuk dan takut.

Di meja makan sudah mulai ramai; Suster Daisy yang sibuk memotong makaraoni skotel yang berukuran jumbo menjadi sepuluh bagian; Jewel dengan cat kuku yang belum kering yang ia tiup dengan kaki kiri dinaikkan ke atas kursi. Mady duduk menunduk di depan makanannya, sendok di tangan kanannya hanya dipakai untuk memotongnya lebih kecil, lebih tepat jika dikatakan dilumat. Beberapa kali ia menyendok makanan itu tapi tak jadi ia makan, diletakkan kembali ke piring alumunuim foil. Mady masih terngiang akan bayangan hitam di balik jendela kamar Lusy, bayangan wanita dengan boneka yang melingkar di pergelangan tangannya. Matanya memerah saat melihat ke arah Mady. Marah, mungkin. Ia tahu persis bawha itu adalah hantu, bukan imajinasi seorang yang lelah. Bayangan itu benar-benar nyata, setiap detail komposisi tubuhnya, lekuk badan dan rambut lurus yang melayang itu sangat kompleks dalam pandangan Mady.

Di ruang tengah, jam dinding raksasa berdentang tujuh kali ketika ia melihat sepintas Lusy berjalan melewati ruang makan, murung. Dari ekor matanya, Mady melihat Lusy melintas dari ruang baca dan sebelumnya Suster Kepala juga datang dari arah yang sama. Mady melihat ada sesuatu yang janggal. Apa di dalam ruang baca terjadi sesuatu antara Lusy dan Suster Kepala? Apa itu? Mady memandangi gerak-gerik Suster Kepala yang terduduk di depan kursi utama memakan makaroninya. Ia melihat satu kertas kuning yang dilipat kecil di sebelah piring Suster Kepala. Kertas perkamen kuning yang berumur kurang lebih dua puluh satu tahun, Mady tak bisa mengintip apa isinya. Kertas itu dilipat sedemikian rupa sehingga tak bisa terpandang oleh mata-mata nakal di luarnya.

Dari mata kirinya, Mady tak melihat Lusy lagi di ruang ini, ruang makan yang bercabang ke semua penjuru Santa Mondega akan menambah kesulitan mencari Lusy, ditambah Lusy adalah seorang penyendiri yang nomaden. Tak selalu sama di waktu yang berbeda.

PRANG!

Tumpukan piring jatuh menjadi tak berbentuk saat tangan Suster Daisy goyah karena Jewel yang tiba-tiba mundur melihat cicak jatuh diatas makaroninya. Raut wajah Jewel sontak berubah pucat dengan mulut terbuka yang ia tutupi dengan kedua tangan berkutek miliknya. Ruang makan yang tadinya penuh dengan suara logam yang saling bersinggungan kini berubah hening beberapa detik, lalu disusul suara jeritan Jewel yang terlambat.

“Apa yang terjadi?” pekikan suara itu berasal dari Suster Kepala, berbalik menghadap kekacauan di belakangnya.

Semua terdiam lagi, tak ada yang berani menjawab bentakan Suster Kepala, mungkin membiarkannya menjawab pertanyaan, atau lebih tepat dikatakan pernyataan. “Cepat bersihkan. Apa kalian tidak melihat ada James disini? Lihat kaki kirinya, berdarah, karena kalian.”

“Ma— ...afkan aku Suster, aku ceroboh,” sahut Suster Daidsy dengan intonasi pelan tapi terbata.

Suster Kepala tak menggubris untuk alasan apa pun, apa yang dianggapnya salah memang benar. Keduanya salah dan tidak boleh saling menyalahkan, setidaknya itu yang bisa Mady cerna dari apa yang Suster Kepala tanamkan dalam dasar pemikirannya.

Ada satu hal penting yang dilupakan Suster Kepala. Kertas perkamen itu, setelah kerusuhan kecil tadi kertas perkamen itu seolah terbang dari sebelah kiri piring Suster Kepala ke dalam jangkauan tangan Mady. Tak perlu banyak berfikir, Mady mengambilnya selagi tak ada yang melihat dan ia selipkan di kantung kardigan biru mudanya.

Mady cepat-cepat menghabiskan dua suap makaroni skotelnya dan bangkit menuju Jewel dan Suster Daisy. “Perlu bantuan?” Mereka berdua terlihat lelah, tanpa jawaban lebih lanjut Mady membantu memunguti kepingan-kepingan piring keramik yang cukup besar. Menjatuhkan mereka tepat di atas tempat sampah.
“Terima kasih, Mady.”

*****

Lusy sama sekali tak habis pikir dengan semua orang di Santa Mondega. Mereka sama sekali tak mau menceritakan semuanya secara gamblang, terang-terangan. Mereka lebih suka memberikan mozaik puzzle yang harus Lusy susun sedemikian rupa sendiran. Tanpa bantuan.

Lusy merasa beban yang diembankan di pundaknya jadi semakin berat dan meninggi. Ditambah dengan mulut mereka semua yang terkunci, hanya melakukan phantomim sebagai petunjuk Lusy bergerak kemana. Sampai pada saat ini pun, Lusy belum bisa mengartikan semuanya.

Sejak kejadian di dalam ruang baca pagi tadi, satu jam berikutnya dihabiskan Lusy hanya untuk diam dan merenung. Murung. Perutnya belum terisi apapun sejak malam kemarin, ia sama sekali tak perduli. Ia ingin marah, tapi pada siapa ia meluapkannya? Semua orang di sini tak bisa membantu, Mady sekalipun.

Bau anyelir yang menusuk silia hidungnya dibiarkan begitu sampai bosan. Lusy terpaku di anak tangga ketiga di kebun belakang, ia selalu melakukan hal ini ketika ia lelah: melihat tumpukan eceng gondok yang menari diatas air di tengah rawa dan menikmati semanggi yang tumbuh mulai tinggi. Hijau baginya menenangkan.

Lusy bermain dengan decit-decit anak tangga yang ia duduki, menimbulkan sebuah simfoni keputusasaan yang menemani hembusan nafasnya berkali-kali. Diary Clara Harrington sedari tadi tak ia sentuh; dibiarkan menggantung di rongga long-dress-nya, menjuntai dimainkan massa. Kurang lebih tiga puluh menit lagi Ia harus menemui Suster Kepala yang ingin menceritakan “rahasia”-nya. Persetan dengan rahasia itu, lagipula apa pengaruhnya denganku? Beberapa kali umpatan itu terlontar dari sudut gelap nuraninya, tak dibiarkan hinggap lama-lama disana. Lusy mengusirnya pergi dan segera meminta ampun kepada Tuhan. Dengan kusyuk.

Bukankah lebih cepat lebih baik, Lusy? Ayo cepat selesaikan membaca Diary itu dan kembali ke hidup normalmu, ujarnya kepada hatinya. Diary itu dibacanya lagi, kali ini di mendung di minggu pagi yang menemaninya membaca. Di titik ini, Lusy menyadari satu hal; bahwa lukisan Clara dan tulisan tangannya memang indah, tinta hitam yang digunakannya untuk menulis gemerlapan dibiasan sinar matahari.

EMPAT:
MAAFKAN AKU SUSTER AMY 
Bulat seminggu aku tinggal disini, beberapa orang sudah aku kenal, seperti: Suster Kepala yang pendiam, Suster Amy yang hangat, Jessica yang sedikit aneh dan beberapa orang disini yang kadang kulupakan namanya. Satu memori yang kuingat saat semua orang di Santa Mondega melihat lukisanku; mereka jadi mengenalku. Aku jadi terkenal diantara mereka yang ketus dan sinis. 
Banyak orang di sini yang mulai mendekatiku, mungkin hanya sekedar menyapa namaku, menyapaku saat berpapasan di lorong atau lebih sering mereka membicarakanku di belakang. Jessica berkata padaku, jangan mudah percaya pada orang-orang di Santa Mondega, mereka mayat hidup. Banyak diantara mereka yang munafik dan hanya mementingkan keuntungan diri sendirinya, itu sedikit yang bisa aku petik dari beberapa pembicaraan terakhirku bersama Jessica. Ya ada kalanya satu dua dari kata-kata Jessica benar, banyak orang disini yang hanya memanfaatkanku, mencari keuntungan dariku yang bisa melukis dengan baik. Mereka mendekatiku ketika mereka ingin sketsa wajah mereka digambar di sebuah kertas, yang kata mereka seni. Ya, benar, seni memanfaatkan orang lain? Huh.. Sialan! 
Aku menjadi populer diantara para lelaki yang seumuran denganku, menjadikan diriku sebagai ratu dalam tanda kutip, mengutil kemana aku pergi dan selalu memberikan bunga dan rayuan gombal lain. Dan karena itu juga, aku menjadi bulan-bulan gadis-gadis senior yang merasa lelakinya direbut olehku. Hidup disini memang jauh berbeda dengan hidup di rumah orang tuaku. Tak ada konflik, tak ada saling tuduh, dan yang terpenting tidak ada yang saling menikam dari belakang. 
Tetapi, di luar itu semua, kami baru saja berkabung. Mendung beberapa hari ini turut rona gelap di panti ini semakin menggila. Dua hari yang lalu, Suster Amy meninggal. Kecelakaan. Ia meninggal dalam kecelakaan mobil bersamaku, tapi aku tidak benar-benar sadar waktu itu. Semua hal kala itu terasa masygul. Yang kurasakan hanya deru mobil yang sangat keraas dan terkadang guncangan kecil membuat asam lambungku naik, aku tak bisa melihat apapun detik itu, buta sementara mungkin atau aku sedang tertidur. Bedanya apa? 
Ada yang aneh saat aku tertidur dalam mobil dalam perjalanan pulang dari museum kala itu, mobil yang kutumpangi terasa aneh saat kami keluar dari pelataran museum. Perjalanan ke Santa Mondega saat pagi adalah sesuatu yang membuat setiap pasang mata yang melihatnya berdecak kagum, tapi saat malam, semua itu sirna, berganti dengan erangan serigala dan pucuk-pucuk neraka yang muncul dari permukaan tanah. Tak beda sesaat sebelum aku tertidur dalam jok, semua terlihat hitam, hanya ada bulan setengah lingkarang yang menerangi perjalanan kami. Serigala-serigala takut malam ini untuk mengaum lantang, beberapa kali terdengar lolongan anjing yang menjemput ajal yang dapat kucerna dalam gendang telingaku. 
Semuanya kemudian berangsur-angsur menggelap seperti terjadi gerhana, aku menjadi buta sementara ketika mobil banting setir dan terdengar suara rem yang dipaksa dari balik roda belakang. Aku bisa mendengar jeritan Suster Amy yang melengking dan suara bumper mobil menabrak sesuatu. Brak! Lalu aku merasakan tubuhku terguncang hebat, berguling-guling. Aku dapat merasakan jok yang kududuki tercabut dari tempatnya, suara kaca yang pecah terhantam sesuatu yang keras dan dieksekusi hening yang tiba-tiba membungkam mulut kami. Hening, hening beberapa detik sampai akhirnya aku bisa melihat lagi. 
Pusing dan rasa sakit di sekujur tubuhku membuatku hanya bisa mengangkat kepala, menerka sekeliling dan melihat tanganku yang sedikit nyeri. Lenganku sobek lebar sekitar lima belas senti meter melintang, aku bisa melihat darah keluar dari sana yang paling mengerikan aku bisa melihat tulangku yang putih terjerembab keluar dari tempat yang seharusnya. Nyerinya semakin hebat ketika kucoba menggerakkannya untuk berpindah dan mencari dimana Suster Amy. 
Satu setengah meter dari tempatku tertelungkup sekarang Suster Amy dengan posisi yang memilukan tergeletak, masih bergerak atau mungkin lebih bisa dikategorikan sebagai terkejang. Tubuhnya terlentang dengan tulang bahu kiri yang mencuat dari sendinya, aku melihat ada gerakan lemah yang konstan di bahunya itu. Di sekujur kakinya, aku tak bisa melihat adanya kulit lagi disana, mungkin efek terseret dan terlempar keluar dari mobil. Aku hanya melihat bergumpal-gumpal daging merah segar yang berdenyut-denyut; kedua tempurung lututnya juga terlihat dari luar, berwarna putih kemerahan, di luarnya mungkin masih tersisa selaput tipis daging yang menutupi tempurungnya. Tetapi, saat mataku mulai berarak ke atas bagian tubuhnya, aku tak sanggup melihatnya lebih dari sepuluh detik. Mengenaskan. Tengkorak kepalanya tak utuh dengan isi otak yang sudah terhambur ke tanah, mata kirinya tertutup dan mengeluarkan darah—aku tak bisa memastikan apa mata itu masih berada  di tempatnya atau sudah tercerabut keluar? Lalu sebuah dahan ukuran sedang dengan panjang kira-kira lima puluh senti menembus mata kanannya, aku juga tak melihat buah matanya walau matanya terbuka sangat lebar. Yang bisa kulihat saat itu hanya hitam dari balik matanya dan darah merah, deras memancar dari sana.  Detik-detik berikutnya aku juga masih bisa merasakan sakit dan pilu dari tubuhku, tak lama berselang semua hilang, terasa mengambang, melayang dan mataku kembali hanya bisa menangkap hitam. 
Maafkan aku Suster Amy, mungkin benar kata semua orang di Santa Mondega; bahwa aku adalah sumber semua kesialan, aku adalah peranakan iblis yang datang ke tanah bidadari—Santa Mondega. Aku yang menyebabkan semua kecelakaan ini dan membuatmu kembali pada Tuhan terlalu cepat, aku yang diam ketika polisi berusaha mewancaraiku. Aku terlalu takut untuk menceritakannya kepada siapa pun. Aku hanya bisa menulisnya disini dan semoga suatu saat orang yang tepat bisa membacanya dan berbuat sesuatu akan hal ini. Maafkan aku Suster Amy. Maaf.

--Dan apa orang yang tepat untuk membacanya adalah aku? Setelah dua puluh tahun lalu, apa itu aku, Clara? Dua kalimat itu terprogram diulang-ulang dalam neuronnya. Apa benar dia “yang terpilih”? Lalu kenapa Clara memilihnya ataukah takdir yang mendekatkannya pada kisah hidup Clara?

Dentang khas jam di ruang tengah delapan kali memaksa ia harus menarik bayangan tentang Clara jauh-jauh. Ia harus menemui Suster Kepala di ruangannya sekarang, Lusy bangkit dan bergegas menuju ruangan Suster itu di lantai dua. Di tengah perjalannya yang diburu waktu, ia terhambat oleh Mady.

“Hey, tunggu. Aku punya sesuatu yang harus kau lihat, Lusy.”

“Tidak sekarang, teman. Ada urusan yang lebih penting yang harus kulakukan sekarang.”

“...” Mady terpaku melihat punggung Lusy yang hilang berbelok di balik tangga.

Nafasnya Lusy hampir habis ketika duduk di sofa empuk dari nilon yang ada di ruangan Suster Kepala. Dan tiba-tiba, Suster Kepala keluar dengan penampilan yang sedikit uring-uringan. Menggebrak meja dan berkata dengan sangat keras, “Kau tahu, Lusy, Clara adalah pembunuh kakakku, Clara adalah Iblis!”

Lusy tercekat, nafasnya terhenti untuk beberapa detik dan kembali bernafas karena oksigen residu di paru-parunya sudah tipis. “Apa?”

Kau salah Suster, Clara bukan pembunuh. Clara gadis yang baik, bukan seperti yang diceritakan banyak orang. Diary-nya tak akan berbohong, aku mengerti dan tahu persis akan hal itu—

“Ya, dia psikopat keparat!”

Untuk ukuran pemimpin sebuah panti asuhan dan seorang dengan tingkat religiusitas tinggi, kata “keparat” adalah sebuah umpatan yang tak mungkin diucapkan. Tapi amarah membuat Suster Amme lupa akan statusnya, lupa akan batasannya.

“Bukan....” Teriak Lusy dengan intonasi yang sama-sama tinggi.

Suster Amme agaknya mendegus kesal mendengar sanggahan Lusy yang tidak bisa diterimanya. “Apa kau bilang? Persetan, tahu apa kau tentang Clara dan saudaraku Amy?”

Umpatan “persetan” yang keluar dari mulut Suster itu membuat hening kembali menyeruak masuk ke dalam hati masing-masing.

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu ruangan yang terkunci itu berusaha didobrak seseorang. “Ya, Clara bukan pembunuh, salahkan saja iblis-iblis Santa Mondega dua puluh tahun lalu.”

Hening lagi.

10 komentar:

  1. Entah kenapa aku suka sekali plotnya bang :D Itu pas kamu mendeskribsikan situasi suster amy yg mati dgn miris, aku mual bacanya hahaha Kalau aku lagi makan, mungkin bisa muntah XD Lalu, klimaksnya pas terakhir aku suka juga! Wahahaha~ Semakin banyak konflik yang terjadi, okelah, 50 bagian pasti aku baca semuanya kalo kayak gini terus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya yang bener itu MENDESKRIPSIKAN deh bang XD hahaha~

      Hapus
    2. P dan B kalau dibunyikan hampir mirip :p dari pada regerasi dan regenerasi beda jauh #plak Muahuahua :P

      Hapus
  2. malam2 gelap si Clara bisa lihat kondisi suster Amy secara detail ya? agak aneh aja gitu :)
    untung sekarang bacanya abis subuh, jadi gag takut lagi. hihi

    BalasHapus
  3. hmph itu gambar darah diatas bikin suasana nya semakin dapet terlebih gw emang takut darah.. itu diary tentang amy detail banget penjabaran nya..

    lanjutin lanjutin..

    BalasHapus
  4. darahnya encer banget gan, kaya cat air. kwkwkw.
    salam kenal gan :D visit back yoo :D

    BalasHapus
  5. daka, aku ga bisa bacanya, gambarnya serem. aku takut. beneran takut. *nangis*

    BalasHapus
  6. keren banget mas bro..

    lanjutin.. lanjutiinn...

    BalasHapus
  7. kunjungan sob ..
    salam sukses selalu ..

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: