Jumat, 30 September 2011

Lagi, Haruskah Lagi?


"Dan ketika kucoba untuk kedua kali, ia lebih rapuh, retak dan lebam, apakah jalan yang kuambil salah Tuhan?"


Lagi, kesempatan itu datang lagi. Menjadi bintang yang bersinar dalam asa yang hampir putus. Tapi kadang itu membuat terasa lebih sakit. Jika seorang pujangga memberikan satu bintang kepada hambanya tapi ia terpaksa, untuk apa? Untuk memberikan duri dalam luka yang masih segar tersayat? Perih, menjadikan ia lebih dan sangat perih.
Terlambat, terlambatkah? Mungkin iya, tapi semuanya akan kucoba lagi membangung biduk-biduk antara yang menghiasi bimashakti. Hatiku, untuk kamu? Perdulikah, dapatkah aku seorang pengemis ini menerima apapun yang kau berikan kepadaku, ikhlas...
Retak, pupus, buruk rupa. Berambigu dan beresonansi semua namanya dan namamu dalam hati yang rusak oleh kamu. Tapi aku lebih condong pada bloknya, blok yang seharusnya tidak kupilih, tapi pada kenyataannya ku pilih. Sangat bodoh, bolehkah kuulangi? S-A-N-G-A-T  B-O-D-O-H

Berkecimpung dengan Air Conditioner
dan dengan kerumunan wanita
dalam riuh resah hikayat hati

7 komentar:

  1. kalo yang ini gak usah ada hubungannya anatara sakelar dengan cinta..

    Keren Puisinya.. :D

    BalasHapus
  2. heheh jepretannya mantab. moga cintanya cepat nyala lagi seterang lampu...

    BalasHapus
  3. ajiib banget......
    kata2nya ituloh
    kedu disimak nih sastrawan maestro :)

    BalasHapus
  4. sumpahaaaaannn mas rizki keren bgt saya suka dgn fotonya. kerasaaa bngt. prosanya juga, diksinya bagus banget mas :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: