Jumat, 02 September 2011

Requiem: Saat Emosi dan Amarah Menjadi Doa


Selamat merayakan hari Jum'at, hari yang pendek menurut saya. Halo pembaca, gimana harinya? Baik? Biasa? Ayo-ayo pada kemari, saya mau men-share catatan blak-blak'an terbaru saya, saya juga bingung ini disebut cablak atau cerpen atau apa? Kalau ada yang tahu bisa komen di bawah.

Ya, karya ini tercipta saat semua emosi sudah tidak bisa dibendung di otak, saat semua harapan yang selama tercercah indah menguap tanpa ada yang bisa terwujud, saat amarah merajalela di ambang-ambang perpisahan. Semuanya tertampung dan menelurkan sebuah tulisan, karya berjudul "Requiem". Tertarik, silahkan membacanya.

Semoga menikmati dan beri kritik pedasnya di kolom komentar:


Pagi itu, tepat pukul enam, aku kamu dan semuanya seperti keluarga, seperti keluarga yang harmonis, bahkan teramat harmonis. Aku merasa tenang, aku merasa damai, semuanya menglaun apa adanya. Aku berkata, “Akankah ini semua abadi?” kalian menjawab, “Ya!!”

Kalian serentak menjawab, Ya. Semangat. Semangat pertemanan yang begitu kental terasa di setiap denyut jantung kalian. Kalian seorang yang ada dan akan selalu ada di dalam diri dan jiwaku, pikirku saat itu. Aku tahu, kalian adalah satu-satunya dan tak akan pernah ada yang bisa menggantikan kalian. Itu benar, memang kalian sudah mengisi setiap lubang yang menganga, yang terasa perih di dasar hatiku, lubang yang dinamakan “Kehilangan”, kalian teramat tahu bagaimana aku, tetapi aku tak bisa membalasnya, aku tak sebegitu tahu tentang kalian, apa aku yang selama ini salah? Salah, kurang bisa mengerti, terlalu sering memuji, mengais di setiap jengkal tanah yang pernah kita tapaki bersama. Entah. Inikah? Inikah persahabatan? Aku merasa menjadi kuncup bunga yang sayu diantara mawar warna-warni yang mekar memberikan rona. Aku adalah parasit, tapi kalian menerimanya. Aku adalah air, yang selalu mengikuti dimana kalian akan tinggal. Lingkaran? Ya, aku menjadi lingkaran!

Tetapi, detik tak akan selamanya berpihak diantara persahabatan kita, ia pun akan lari meninggalkan kita, meninggalkan onak-onak cemara yang gugur di musim dingin. Aku tahu menit pun juga tak akan setia, ia akan hilang diterpa angin yang menusuk setiap pori dan tulang kita. Aku juga tahu, jam tak selamanya menari di lingkaran hidup kita, dia akan perlahan-lahan merangkak menjauh dan menjadi lain, tak menjadi sosok matahari yang menyinari petak-petak ladang kebahagiaan yang kita buat. Ia pun menjadi siluet asing, dengan begitu banyak noktah hitam, sampai akhirnya tertutup warna hitam. Detik, menit dan jam adalah sosok pisau bermata dua, bak maut yang selalu mengintai diantara kanan dan kiri kita. Waspada? Perlukah? Aku masih meyisihkan seonggok harapan, yang berpendar lirih. Tetapi akan kujaga pendarnya sampai raga tak mengandung hayat.

Masih terpatri jelas dalam memori, ketika kalian berkata, “Ayo ini waktu kita, kita satu teman, kita sahabat dan akan selamanya seperti itu.” Seketika itu pula senyumku mengembang, mengisi lubang-lubang pada awan, menari bersama dentum-dentum kecil gerimis yang turun licin diatas jendela. Memori itu tak akan pernah lekang, walau umur semakin menggerogoti syaraf otak yang menua. Yang masih jelas berputar-putar di pikiran, ketika aku membentak kalian, “Sudahlah, tinggalkan aku, untuk apa aku, bergunakah aku? Yang ada aku adalah benalu bagi kalian, merusak apa yang sudah ada, membuatnya semakin buruk!” dan suasana berubah hening, semakin hening. Tetapi senyum kalian memecah keheningan, kulihat ada ketulusan dari sana, “Bukankah kami juga benalu, kami memang benalu, tapi kami ingin berteman dengan sesama benalu. Bukankah kita adalah embun dan kamu pun sama, kita sama-sama ada diambang subuh, kita selalu meloncat-loncat ria di ujung pagi diatas daun-daun yang memamah kehijauan. Ingat kita sama, kita sehati, kita serumpun, kita seirama.” Seperti irama hati yang mengalun sendu, melagukan simfoni indah tetapi layu. Kalian merubahnya jadi notasi-notasi semangat yang berirama tiga perempat dengan not mi, fa, sol, mi yang berulang tanpa jeda. Membuatnya terasa semakin mendobrak hati dan setiap kuping yang menyimaknya.

Sesaat setelah itu aku tersadar, dari lamunan tak berujung. Semenjak ada kalian aku semakin mengerti, arti sebuah ketulusan. Bukan sekedar barisan huruf K, E, T, U, L, U, S, A dan N, lebih dari sekedar rentetan huruf yang bermakna ganda. Ketulusan yang kalian beri memberikan sketsa indah di setiap hari-hari yang dulu terasa hampa tanpa nada. Desah dan amarah. Entah apa yang membuatku merasa mati tanpa kalian. Mungkin, karena kalian sudah membuang kunci hati ini, yang berisi tentang kalian, penuh sesak tentang mimpi-mimpi yang kita umbulkan ke udara, tentang menjadi model terkenal, menjadi artis ternama, menjadi penulis terkemuka, ahli matematika, pemain sepak bola, pakar farmakologi, pemimpin dunia, dan apa pun embel-embel yang kita kaitkan satu-satu di setiap jejal mimpi kita. Apakah ini keegoisan? Entah, tetapi aku tak pernah perduli. Inilah kita, satu dalam merdeka bukan lagi bangsa baheula yang membudak diantara yahudi kejam. Bukan juga seekor kelinci percobaan yang akan mati disetiap eksperimen yang gagal. Kita adalah merah dan putih yang berkibar diufuk pulau sumatera sampai ujung pulau papua, semakin hari kian meninggi, menunjukkan semangat perjuangan, menunjukkan keegoisan masa kita, masa remaja yang merasa tak akan pernah habis walau kiamat menerkam diujung jengkal kepala.

Ingatkah kalian, saat kita menjadi sutradara handal yang dengan baik dan tangkas menskenario hidup kita yang dulu monoton bak drama-drama klasikal. Hitam putih, tanpa dialog, hanya prolog dan epilog. Ingatkah kalian, tentang gelora masa muda yang selalu kita dahulukan? Ya, cinta. Kita merangkainya menjadi pita warna merah jambu yang bersimpul sempurna. Mendefiniskannya abstrak. Bahagia ketika aku berikrar dengan dada membusung, “Hei, sobat aku jadian!” rasa itu melambung, membuat semuanya terasa merah jambu, tidak ada yang hitam ataupun putih. Seketika itu aku sedikit lupa, karena cinta. Lupa akan semuanya yang pernah ada. Ya, benar, kalian. Tetapi, ketika sayap-sayap cinta mulai rapuh dan jatuh dan ketika aku berkata dengan wajah murung, “Teman, aku putus!” Dan, kembali kulihat, senyum tulus itu, kembali ke peraduan. Genggam hangat tangan kalian, memekarkan sayap yang dulu sempat membusuk diantara cinta yang semu. Membuat kita kembali terbang ke langit tertinggi dan kembali merangkai aneka warna. Tanpa warna merah jambu.

Tahukah kalian, aku masih takut menatap masa depan, aku tak mau menulis dan menamatkan kisah hari ini. Apakah kalian sama? Mungkin tidak, mungkin iya? Aku tak pernah tahu. Yang jelas, aku masih sangat, sangat takut menyongsong hari esok. Aku hanya lelaki buta yang tak tahu arah, merangkak dan merajut hari esok yang selalu bertirai abu-abu. Aku takut, warna yang kita torehkan di langit biru itu hilang memudar. Aku takut, semakin menua. Aku takut dengan kata “Lupa”. Tapi, kembali, senyum dari simpul bibir kalian yang rata sempurna, meluruhkan semua ketakutanku tentang masa depan, kalian memberi topangan, memompa semangat untuk terus merangkai mimpi, dengan atau tanpa kalian. Tapi, jujur aku tak bisa tanpa kalian.

Memang, masa jaya kita sudah berlalu, kini kembali, sebuah kekosongan di ambang pintu perpisahan. Tetapi, kita masih saling menguatkan. Cukupkah? Tak cukup. Inilah yang kutakutkan, berjalan kedepan tanpa hadir sosok kalian  di samping kanan dan kiri tubuhku. Perpisahan, sebuah kata yang selalu ingin kucoret dan kuhapus sebersih mungkin dari kamus hidupku. Tapi apa daya, aku hanya manusia lemah, yang tak mempunyai alasan kuat untuk menghapusnya. Perpisahan akan tetap selalu ada, di buaian semu pertemuan. Mereka seperti rantai, berujung dan berpangkal. Entah pendek atau panjang, diujungnya tetap ada perpisahan. Sakit, teramat sakit. Aku tahu, kalian bisa hidup tanpa aku, tapi pernahkah kalian lihat? Dibalik senyumku yang tak pernah padam, aku menyimpan lara dan air mata yang berlinang tanpa terlihat. Aku tak akan pernah bisa hidup tanpa kalian, sahabatku.

Serenada kehidupan, begitu keji, merusak setiap kelamin, menerkam setiap senyum dan kemudian menghilang. Hanya itu. Implementasinya, hanya sebuah pembalasan dendam, dengan hitam dan merah membara sebagai tandanya. Itukah yang kau inginkan Tuhan? Hanya saling membalaskan dengan tanpa ada arti suci dari semuanya? Aku tahu, aku bukan seorang pencipta sepertimu, aku hanya boneka, hanya karakter dalam film konyol, membaca dan mengikuti skrip yang kau buat. Tanpa improvisasi. Tidakkah aku bisa merubahnya, walau hanya berubah beberapa inci? Ah, Tuhan, engkau selalu diam.

Tepat pukul enam, di tahun berikutnya, kita seperti orang asing yang tak pernah kenal, bertemu tanpa saling tegur, berjalan keluyuran tanpa satu sapa. Mana keluarga kita yang dulu? Yang penuh dengan janji-janji manis? Inikah, bertahan hanya setahun? Persetan. Mana keabadian yang dulu kita agung-agungkan, mana? Persetan. Persetan dan Persetan.

Sekarang, kita seperti dua orang musuh dalam selimut yang saling menikam dari belakang, kita seperti seorang narapidana dengan suara parau karena minuman dan dengan mata merah berkantung yang satu sama lain saling memandang tajam. Penuh kebencian. Tetapi, bisakah kalian melihat, aku tetaplah aku yang dulu, yang buta, yang lemah, yang sakit. Bedanya, kini aku mengenakan topeng. Melakat kuat dan tanpa daya bisa kulepaskan.

Masih jelaskah di ingatan kalian, ataukah sudah memburam dan hilang, semangat empat lima yang selalu kita ikrarkan dulu? Tentang mimpi-mimpi besar kita yang belum dapat teraih. Ingat? Aku tahu, kalian sudah membuangnya di dasar hati yang terbingkai kasar. Tahukah kalian, kalian adalah pencetus setiap teori-teori hidupku, kalian seorang maestro yang melukis jalan ceritaku. Kini, kalian merubahku, menjadi seorang pembunuh berdarah dingin dengan darah yang mengering di lipatan-lipatan kukuku. Kalian merubahku menjadi iblis, setan yang jahanam, tanpa memberikanku panjatan untuk bisa kembali normal, seperti dulu. Inikah arti tersembunyi dari kata S-A-H-A-B-A-T? Tentu, kini aku semakin tahu.

Saat ini, kalian bukan apa-apa, kalian bukanlah pencatat setiap ritme hidupku, kalian hanya onggokan daun kering yang retak disapu angin. Kalian memang pantas jadi seperti anjing, yang terikat di atas mata rantai dan melolong setiap malam minta makan. Aku tertawa, semakin terbahak melihat wajah memelas kalian dan senyum palsu yang dulu kuanggap tulus. Bodohnya aku terbuai rayuan itu, hanya rayuan tengik dari cecunguk kerdil. Aku semakin bernafsu melihat kalian hidup diantara sepatu-sepatu kotorku. Apa kalian tahu yang sangat aku damba saat ini? Ya, tentu saja tidak. Memang kalian tidak pernah mau tahu sejak awal. Asal kalian tahu, aku ingin menodongkan laras panjang dengan mesiu-mesiu tajam di depan pelipis kalian dan menarik pelatuknya secepat yang aku bisa. Aku ingin melihat kalian mati. Mati karena tanganku sendiri, bukan karena takdir yang harus kalian lalui. Itu saja, itu saja impian terakhirku.

Tapi dari semua keberingasanku, aku masih menyimpan sekuntum rindu yang layu dan mengering. Sedikit, hanya seujung kuku. Ah, peduli apa? Kalian toh hanya sebongkah kaca yang rapuh dan pecah hanya dengan sentilan jari. Kini keadaan berbalik, aku yang menjadi majikan kalian. Kalian hanya anjing-anjingku, budak-budak yang sering kulucuti karena ketidakberdayaan kalian.

Akhirnya, di epilog kisah ini, aku tahu, tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya, mereka semua hidup untuk diri mereka sendiri, sedikit pun tidak memikirkan orang lain, ya aku inilah akhir zaman, semua egois. Aku tahu, ini semua hanya cerita, cerita dari seorang anak mude pengejar matahari, seorang anak muda yang merasa dikhianati oleh persahabatan. Transformasi bahasa dan parafrasa, untukmu sahabatku. Kusematkan doa, kepadamu yang telah sirna. Mati dalam kedamaian jiwa.

14 komentar:

  1. hmm ini asli tentang mereka?hmm ini asli tentang mereka?

    BalasHapus
  2. Alangkah lebih baiknya kalau setiap paragraf ada jarak satu spasi...

    BalasHapus
  3. ~ini asli ya? sahabat mungkin akan hilang tp pasti akan kembali suatu saat nanti. Semangat aja deh menjalani waktu tanpa sahabat yg biasanya selalu ada.
    ~rada capek bacanya karena antar paragraf ga ada jaraknya

    BalasHapus
  4. buat om om tante diatas, sudah diperbaiki nih postingannya, semoga semakin nyaman bacanya :D

    makasih masukannya

    BalasHapus
  5. tante ketawa baca komen dari oom2 dan tante2 di atas... hehe

    BalasHapus
  6. mbak annesya: widiw, memproklamirkan diri sebagai tante niih wkwkwk

    BalasHapus
  7. wuah bahasanya sastra bangeeeet.. anak sastra yah?

    BalasHapus
  8. ahihi akhirnya saya dateng! (lho?)
    wkwk
    mmm... baca postingannya mas rizki kali ini bikin saya teringet sahabat2 saya dulu, soalnya hampir sama gitu mas pengalamannya.
    oya, saya setuju banget dengan epilognya. "kusematkan doa, kepadamu yang telah sirna". di situlah kita belajar untuk ikhlas akan segala sesuatu yg sudah terjadi. mendoakan yang terbaik bagi sahabat kita, walaupun mereka pernah melukai kita.
    yaah, tersenyum ikhlas walaupun pahit :')

    BalasHapus
  9. Niat banget lu nulis 'andika kangen band' :p hahaha'
    tapi postingan lu kali ini membuat gue galau, karena menyerempet masalah sahabat,
    apa gue yang bego berteman sama sahabat gue, atau sahabat2 gue yang nggak punya cara berteman sama gue ..

    BalasHapus
  10. @bang nuel: wew, saya bukan anak sastra bang, saya cuman anak SMA IPA. tp berharap tuh masuk jurusan sasindo entar aminamin #bestwishes

    @bang ipang--katanya: wew, andika, *kabooor bukan saya bukan saya. bener tuh bang, tumben lo waras bang. hmmm.... kalo ngomong sahabat emang complicated bang banget malah wkwk

    BalasHapus
  11. di setiap komennya mbak rakyan selalu ada aja yang bisa membuat saya tertegun dan berfikir

    BalasHapus
  12. saya punya sahabat, malahan ada banyak.
    salah satu sahabat saya, yaitu dian wardana yang berkomentar di atas.

    saya tidak tau kenapa saya bisa bersahabat dengan dia, mungkin karna kita berdua sama2 ganteng. makanya dia jadi sahabat saya. Tapi dia itu orang nya baik lohh :)

    BalasHapus
  13. ahh gue juga lagi ngalamin, sama persis dan baru kemarin bahkan lebih dramatis... :(

    tabahkan hatimu, tetap semngat, selalu ada rahasia dibalik cerita :D

    BalasHapus
  14. @bang ugha: weee, sahabatnya bang ipang toh wkwk, wew kok naarsis --> "karna kita berdua sama2 ganteng" hmm masih kaalaah tuh sama gantengnya mbak enno. up up.

    @mbak enno: oke mbak, semua bakal indah pada waktunya kok :D *nangis darah*

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: