Minggu, 01 April 2012

Tentang Filosofi

Sebuah cerpen "kompilasi bersambung" bersama Basith Kuncoro Adji. Baca juga bagian sebelumnya:

BAGIAN 1: Mentari Saksi Misteri!
BAGIAN 2: Setengah Malaikat
BAGIAN 3: Kenangan Ajaib?


TENTANG FILOSOFI

Kebahagiaan menurutku adalah sesuatu yang klise. Ironi memang jika suatu kebahagiaan itu dimaknai sebagai dua orang yang saling membina rumah tangga dan niscaya hidup bahagia selamanya. Sungguh, aku tidak percaya akan hal itu. Semua itu hanya ada pada cerita Cinderella dan Snow White. Apakah kau tahu tentang kisah ulat, bunga dan lebah? Mereka semua dari sudut pandang kebahagiaan terlihat sama-sama bahagia, bukan? Tidakkah kau melihat tentang ulat yang selalu merasa terasing? Tentang lebah yang akan tetap merasa paling berada? Tentang bunga yang selalu bungkam karena ia “ditakdirkan” sebagai produsen dan pemberi makanan bagi konsumen-konsumen tingkat berikutnya? Aku tak sedangkal itu memaknai hal-hal sepele seperti itu, aku menyukai hal-hal yang terasingkan dari paradigma banyak orang. Aku memperhatikan.

Tentang ulat yang sejahtera hidup bersama bunga? Tidak, sama sekali tidak, ulat adalah binatang yang selalu terpinggirkan karena bentuk tubuhnya yang tidak disukai, mereka hidup hanya sebagai parasit, memakan daun-daun tempat bunga menghasilkan makanan. Ia terus bernafas karena menggerogoti ujung-ujung kehidupan mahkluk lain, bukankah pantas kalau ia hidup selalu dibawah, sebagai yang terasing, sebagai benalu. Aku tidak sependapat, karena aku percaya, Tuhan baik, Tuhan adalah hakim yang paling adil. Tuhan juga berlaku seadil-adilnya pada kehidupan sang ulat. Ia tak selalu memberikan kehidupan “taraf bawah” pada si ulat. Metamorfosa, ya metamorfosis hidup ulat menjadi kupu-kupu dengan warna kerlap-kerlip, yang terpenting mereka bersayap. Bersayap dan terbang. Kupu-kupu dengan bukan sebagai parasit dan dapat disejajarkan dengan lebah, ia menghisap nektar, seperti lebah. Menyamai lebah. Tetapi, karena hal itu kupu-kupu jadi memiliki sikap sombong, sombong karena bisa lebih memiliki pesona dan tidak dianggap “penganggu” layaknya lebah. Ya, Tuhan adalah hakim yang paling adil, memang, mungkin karena itu mengapa kupu-kupu hanya hidup selama sebelas sampai dua belas hari. Adil.

Lalu lebah, yang dari awal sudah berada diatas. Merasa berada diatas, membutuhkan nektar dari bunga-bunga yang ia dekati. Hidup berkoloni dan menghidupkan esensi kebersamaan dalam hidupnya. Tapi mengapa Tuhan menciptakan lebah? Tetapi mengapa Tuhan menginginkan lebah hanya hidup sampai sengatnya mengenai kulit manusia dan setelah itu mati? Aku sampai saat ini tak pernah tahu mengapa Tuhan menciptakan kehidupan?

Dan terakhir, tentang bunga dengan pesona liuk-warna indahnya, menarik segala bentuk mahkluk penghisap mendekatinya. Kumbang, kupu-kupu tak terkecuali seorang lebah. Tetapi, mengapa bunga terlihat tidak bahagia ketika binatang-binantang lainnya datang mendekat? Ingin memakan daun, nektar dan kelopaknya? Mungkin di titik inilah aku belajar akan pengorbanan. Bunga melakukan itu semua karena ia ingin terus melanjutkan spesiesnya. Bukankah kita semua pernah belajar tentang hal ini, biologi. Penyerbukan? Dan karena hal inilah mengapa muncul adanya simbiosis, dari mutualisme sampai parasitisme. Tuhan, aku belajar dari mahklukmu, dari ulat, lebah dan bunga. Tentang usaha, kesombongan, perjuangan, pengorbanan dan saling membutuhkan. Tapi aku masih tak mengerti akan kehidupan, kematian, kesendirian dan keabadian? Mengapa hal-hal itu ada dan melekat dalam diriku?

***

Bayangan malaikat kecilku sudah berdiri sejajar dan hampir tak terlihat karena tertutup tubuhnya. Sudah tengah hari, tetapi masih bisa kulihat air mukanya masih tetap melekat semangat. Dia memang gadis kecilku, anakku yang memarisi sifatku. Tentang semangat dalam hidup, memerangi keabadian, sekali lagi keabadian.

Aku menggulung koran kemarin yang belum sempat terbaca semua dan berdiri dari kursi goyang yang lengan kananya sudah hilang dan terbengkalai. “Kate, semangat sekali bermain, mari kemari, di dapur sudah tercium bau wafel dengan lelehan madu hangat, kesukaanmu, bukan?”

 Spontan ia menghentikan kegiatan menumpuk-numpuk besi dan obeng yang ia lakukan sejak tadi. “Baiklah, Ayah.”

Ia sudah enam belas tahun, berarti genap dua puluh sembilan tahun semenjak istriku sebelumnya pergi. Wajah Kate tak pernah menua, hanya perubahan sikap dan perilakunya bahwa ia akan beranjak menjadi wanita dewasa. Bagiku, ia tetap gadis kecil yang rindu akan pangkuanku dan Ibunya.

Sembari berjalan ke arah dapur dengan Kate, di dalam batinku bergejolak. Besok adalah ulang tahun Kate yang kenam belas dan akan menjadi tahun ke enam belas aku menutupi keberadaanku yang sebenarnya, sebagai manusia setengah malaikat dari Kate. Walaupun aku dan Miriam—Ibunya sekaligus istriku saat ini—sudah tahu bahwa aku bukanlah manusia biasa, tetapi kami memiliki perjanjian bahwa tidak akan memberitahukan hal ini kepada Kate sebelum ia benar-benar siap. Mungkin saat ini, adalah dimana anakku sudah dapat dikatakan siap mendengar kenyataan pahit ayahnya.

Kate dengan lincah meloncat ke arah oven yang mengeluarkan bau harum dan gurih wafel. Mengeluarkannya dan meletakkan pada sebuah piring kecil khusus bertuliskan “Daddy” dan “Kate”. Kate membuatnya sendiri dengan cat saat umurnya menginjak lima belas.

“Ayah, duduklah, kau sudah tidak pantas lagi menyiapkan hal-hal seperti ini. Kau sudah terlalu tua,” ejeknya sambil menyiramkan dua sendok madu kuning bening diatas wafelku dan miliknya.

“Jangan mengejek, ayahmu ini masih kuat, bukankah terbukti bahwa ayah bisa membesarkanmu sampai umurmu akan menjadi enam belas esok hari, Kate?” tukasku sebagai pembelaan.

Tangannya mengepal diletakkan di depan kepalanya, untuk penyangga dagunya dan menjawab, “Kau salah ayah,” sanggahnya lagi dengan tangan yang digoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri. “Kau tidak sendirian Ayah, ingatkan Ibu adalah satu-satunya orang yang kau cintai dan penguat dalam hidupmu saat ini?”

Deg!

Jantungkua berhenti berdetak beberapa detik. Ucapannya meruntuhkan keyakinanku untuk berkata jujur tentang identitasku kepadanya. Tentang seseorang yang sangat kucintai? Bukan Miriam sayangnya. Hanya Claire, akan hanya Claire yang menjadi seseorang itu, takkan bisa terganti. Tapi mereka—Miriam dan Kate—tak tahu satu hal pun mengenai Claire, istriku sebelumnya. Aku tak bisa mengatakannya, terlebih mengatakan bahwa aku tidak bisa menggantikan posisi Claire di dalam hatiku kepada Miriam. Sungguh, bukannya tidak bisa, hanya belum bisa.

“Ayah? Mengapa kau melamun seperti itu?” tanyanya dengan satu tangannya mengguncang-guncang meja yang membuat tubuhku ikut terguncang juga.

“Ah—uh, tidak.”

Mulutnya mengerucut, lalu menggungam seadanya. Aku tak bisa mendengar perkataannya—lebih tepatnya gumamannya. Raut muka anakku agak kesal, mungkin karena aku tak memperhatikannya ketika berbicara, aku tahu Kate membenci hal itu.

“Kate, kau tadi bicara apa, Ayah tidak sedang berminat di dalam dialog ini.”

Wajahnya makin cemberut. “Ba-ga-i-ma-na de-ngan a-ca-ra u-lang ta-hun-ku be-sok A-yah?” jawabnya dengan mengeja di setiap suku katanya.

“Soal itu, baiklah. Kau mau bagaiamana? Pesta kebun, Side-pool party, barbeque party, atau acara prasmanan dengan kau yang mendekor tata ruangnya sendiri, itu bukan hal yang sulit bagi ayah, terlebih untukmu, malaikat kecilku,” kataku sambil menyentil  hidungnya yang bulat kecil.

“Kau sama sekali tidak bisa menebak pikiranku  Ayah. Aku tak menginginkan pesta yang terlalu menghamburkan uang seperti itu. Tahukah Ayah, aku menginginkan kebersamaan dari kita bertiga. Hal yang sangat jarang ada di rumah sebesar ini. Apakah kau sadar akan hal itu?”

Aku diam, tak berani menjawabnya. Hanya berani menerkanya dalam hati, tapi memang benar, hal itu hampir tidak bisa kita jumpai setiap waktu. Sebulan, setahun sekali mungkin. Miriam adalah enterprenuer sejati, ia tak mau membebaniku. Ia sibuk dengan busana-busana dan event-event modelingnya. Kemarin, saat kutelepon, ia sedang di Paris dengan busana yang mau ia pamerkan perdana ke muka publik disana. Apakah ia lupa tentang Kate? Tentang hari ulang tahunnya?

“Ayah?” tanyanya menyakinkan.

“Uh-ya?” jawabku kelabakan karena terlalu berkutat dengan gejolak pikiranku sendiri.

“Apakah kau sadar hal itu sangat sangat jarang terjadi?”

Aku menunduk, entah malu atau perasaan apa yang kurasakan saat ini. “Kau benar, anakku.  Meskipun aku dan Ibumu bekerja dalam satu bidang yang sama: seni. Tapi kami berbeda, untuk ukuran pelukis impresionis seperti ayah, ayah hanya butuh satu ruangan ukuran tiga perempat diatas balkon untuk melukis. Tidak seperti Ibumu dengan busana-busana rancangannya, ia harus berkeliling kota bahkan negara untuk membuatnya melejit. Ini hanya permasalahan jarak, anakku tidak lebih. Lalu pesta seperti apa yang benar-benar kau inginkan untuk besok?”

Matanya berputar beberapa kali sebelum Kate benar-benar menjawab pertanyaanku. “Pesta dengan hanya ada aku, Ayah dan Ibu. Lalu kita bernyanyi lagu ulang tahun bersama, memakan kue ulang tahun mungil yang kubuat sendiri dan menonton DVD acara-acara lawas yang sangat Ibu sukai. Dan yang terpenting, kita semua bahagia, Ayah.”

Mulia, kau sungguh mulia, anakku. Permintaanmu akan selalu kuwujudkan, ingatlah itu. Walaupun permintaanmu kali ini hampir tidak mungkin, sebisa mungkin aku akan menjadikannya nyata. Kau tetap anakku, walaupun aku tak pernah mencintai Miriam, walaupun aku masih menyembunyikan identitasku sebagai manusia setengah malaikat, dan walaupun aku tidak bisa menggantikan Claire di hatiku. Kau tetap akan jadi anakku saat ini, seperti itulah pikiranku berbicara tetapi tidak seperti bibirku yang beku di depan Kate.

“Baiklah, Kate. Ayah akan berusaha mewujudkan permintaan di hari ulang tahunmu itu.” Hanya itu yang bisa kukatakan, selebihnya muntahan kata-kata dari otakku tercecer entah kemana.

Kate mengangguk gembira, garpu di tangannya memotong-motong wafel yang masih belum kusentuh sedikitpun. Hal itu membuat air mataku tak bisa menetap di kelopaknya. Di mata kiriku yang jatuh lebih awal. Walaupun tak terisak, tapi Kate bisa merasakan guncangan itu, guncangan batinku.

“Ayah? Mengapa kau menangis?” tanyanya, seketika itu juga raut muka bahagianya terganti oleh desir-desir kekhawatiran yang hinggap disana.

Air mataku berhenti sejenak untuk mengatakan sesuatu pada Kate, “Kemarilah, anakku.”

Kate mendekat, kekhawatiran di wajahnya masih belum sepenuhnya hilang. “Ada apa Ayah?” tanyanya, suaranya terdengar bergetar dan terbata.

Sampai pada jarak yang tanganku bisa menjangkau, aku memeluknya erat. Sangat erat. Aku bisa merasakan hangat tubuh anakku. Di saat inilah aku benar ingin menghentikan waktu, tidak bergerak maju atau mundur, mengatakan kejujuran atau tetap bergumul dengan kobohongan. Kate mencengkeram kemeja abu-abu polos yang kupakai cukup keras. Aku bisa merasakan emosinya saat ini.

“Kate ... apa kau tahu tentang kematian? Kau tahu kalau semua mahkluk di dunia ini akan mati?” tanyaku lembut sembari tanganku membelai rambutnya yang keriting menggantung.

Kepalanya yang tenggelam di pundakku kini terangkat dan ia menangis sejak tadi. “I—ya  Ayah ... aku tahu akan hal itu. Tetapi kemana arah pembicaraan ini?”

“Dengarkan aku, Ibumu, kau dan semua manusia di dunia ini akan mati karena usia, benar bukan. Tetapi aku berbeda dengan kalian, aku tidak akan seperti kalian, mati karena usia.”

“Apa maksud Ayah?”

“Maksudku, aku hidup dalam keabadiaan, Kate. Aku bukan manusia biasa seperti kau dan Miriam. Aku adalah manusia setengah malaikat. Kami semua terkutuk karena keabadian kami. Aku tak bisa mati sebelum benar-benar ada peluru perak yang menembus otakku ini. Aku tidak akan pernah bisa mati.”

“Apa?” teriaknya. Disana kulihat ketidakpercayaan bercampur dengan tangis yang memuncak.

Kate terus menggelengkan kepala sambil menutupi mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan. Sepertinya ia tak memercayaiku. Kate beberapa kali mundur dari area yang ia pijak tadi. Lalu berlari, membanting pintu dapur dengan sangat keras. Langkah kakinya yang berdegum di lantai kayu rumah ini semakin jauh semakin samar, hingga hilang.

Maafkan aku Miriam, aku telah jujur kepada Kate.

Tuhan, tahukah kau? Aku sudah memilih, hidup dalam kejujuran walau aku tahu akhirnya akan seperti ini, tetapi setidaknya aku tidak berdosa lagi. Terlebih setelah Kau mengajarkan mengenai filosofi ulat, lebah dan bunga kepadaku. Maafkan aku, Kate. Dan, terima kasih Tuhan.

9 komentar:

  1. kebahagiaan adalah sebuah perjalanan hidup yang dapat memberi arti bagi seseorang

    BalasHapus
  2. Wah belum baca yg sbelumnya nih, dari sudut pandang ayahnya, menarik.. :)

    BalasHapus
  3. membaca postingan Basith dan membaca ini..komentarku sama..bagaimana kalian berdua memiliki otak dan hati utk bisa merangkai kata sebegitu indahnya?

    BalasHapus
  4. Kebahagiaan juga yang membuat orang untuk semangat menjalani hari-hari yang suram :D

    BalasHapus
  5. gw suka banget uraian filosofi diatas cerdaaaas =)

    BalasHapus
  6. Siap melanjutkan abang, waktu itu lupa komeng XD

    BalasHapus
  7. kunjungan sob ..
    bagi" kalimat motivasi sob ..
    hanya terdapat tiga warna,sepuluh bilangan, dan tujuh not;hal yang terpenting adalah bagaimana kita memanfaatkannya.
    di tunggu kunjungan balik nya sob .. :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: