Sabtu, 14 April 2012

The Apple

"Hands" | Taken with EOS CANON 550D | Photoshop Editing
Perkenalkan, aku apel. Aku apel mungil yang hidup dalam sebuah polibag kecil. Mereka membiarkanku begini agar aku tetap mungil, entah siapa mereka. Mereka adalah manusia, merawatku sedari bibit, menentukan jalan takdirku, sebuah apel kecil.

“Aku yang menanamnya, Ayah. Jadi biarkan aku merawat pohon kecil ini, selamanya,” aku selalu mendengar suara seorang gadis mengucapkan kalimat itu dengan intonasi yang sama.

“Tetapi kau tak bisa membiarkannya tumbuh dalam polibag saja, nak. Kau harus bisa membiarkan apelmu bebas,” seorang dengan suara lebih berat selalu menyambungnya dengan intonasi yang sama juga.

Aku tersiksa, aku terpenjara. Aku apel, tahukah kalian, kodratku bukan di dalam sebuah pot atau polibag. Aku pun iri melihat sekawanku di perkebunan seberang. Mereka berjejer, berderet dan tumbuh tegap menembus kerak bumi. Tetapi aku, hidup disini, tak bisa hidup sendiri. Menggantungkan diri pada seorang gadis kecil yang lambat laun akan melupakanku ketika ia dewasa. Dan aku, hanya akan mati dimakan usia karena terlupakan.

Sekali lagi, perkenalkan, aku apel. Aku ingin menjadi apel besar dan bisa disantap di malam perjamuan raja. Bukan tumbuh bak kurcaci dengan buah yang hijau-hijau. Aku apel, apakah seorang apel tak bisa diberikan kesempatan kedua untuk memulai hidup lagi, maksudku, bukan sebagai apel. Sebagai gadis itu mungkin?

Apakah apel tak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Aku ingin tahu, apakah sekumpulan pohon apel disana, di perkebunan depan, apakah mereka bahagia? Apakah malah mereka lebih tersiksa dariku? Terkutuk! Karena aku adalah apel. Aku hanya bisa tumbuh disini, di dalam sebuah polibag rapuh.

“Ayah, lihat ia berbuah,” pekikan itu terdengar di suatu pagi.

“Kau berhasil, anakku. Kau membuatnya berbuah  walau ia hanya hidup dalam polibag.”

Menyeringai tulus, itu yang aku bisa lihat dari air muka perawatku. Manusia-manusia di dalam rumah mungil seberang perkebunan. Kini aku berbuah, merah, tak sebegitu besar, tapi setidaknya dengan adanya buah ini aku bisa melihat senyum mereka, lagi.

“Dan akhirnya, senyumnya kembali, apel.” pada suatu malam, sang Ayah bercerita sendiri di depanku.

Aku berhasil, pohon apel kecil berbuah sedang berhasil membuat gadis itu kembali tersenyum. Mengembalikan semangatnya setelah hancur berkeping-keping setelah kejadian malam tanggal tiga belas. Perempuan pemilik kebun apel di seberang terbunuh karena kecelakaan kerja. Kini ia kembali, pada sosokku, seonggok pohon apel, pengganti almarhumah ibunya.

16 komentar:

  1. cikiciw, enak bahasanya tapi rada nggak ngeh diakhirnya nih. entar yak dipahamin lagi

    BalasHapus
  2. hmmm, dalam polibag ya? tapi endingnya rada susah dipahami

    BalasHapus
    Balasan
    1. sesungguhnya diperlukan membaca berkali-kali :P

      Hapus
  3. saya memahaminya seperti ini..

    terkadang kita memiliki luka masa lalu yang membekas, kita setengah mati mencari cara untuk sembuh dan selalu gagal. namun, tanpa kita sadari ada hal-hal yang sederhana yang mampu memberikan penawar luka itu..

    seperti apel yang mengobati gadis itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. intepretasi orang memang beda-beda dalam FF ini, tapi aku bisa nangkap maksudnya sama :)

      Hapus
  4. Seorang gadis yang kehilangan ibunya, yang dulu bekerja di perkebunan apel, kini menganggap buah pohon apel mungilnya sebagai senyum sang ibu. Kebahagiaan yang tersirat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju banget dengan penangkapan ide oleh Basithka.
      Keren banget, karena sesuatu yang mengesankan diletakkan di akhir cerita.

      Hapus
    2. @basith: nah! kau menggamblangkan tulisanku :P

      @ocha: saya coba buat cerita yang unpredictable :D

      Hapus
    3. Abisnya yang komen-komen diatas pada bilang gak ngerti dengan ending-nya :')

      Hapus
  5. mungkin kita semua pernah diposisi sang apple itu. ketika dihadapi masalah atau pilihan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya, aku lebih ingin pembaca tahu tentang jalan yang diberikan Tuhan itu tidak pernah salah bang. karena semua akan indah pada waktunya. :D

      Hapus
  6. Kasian si apel, sejak steve jobs meninggal dia galau.. #lho.
    Bagus bgt nih, maknanya dalem bgt. Mngkin orang awam ngira tuh apel bneran apel, tp sbenernya bkn itu. :)

    BalasHapus
  7. Aku apel, tapi bukan apel.
    Ahahaha, nice post!

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: