Rabu, 18 April 2012

Gadis dalam Cermin (13)

Kemana kau pergi saat dirimu kesepian?
Kemana kau pergi saat hatimu membiru?
Kemana kau pergi saat dirimu kesepian?
Aku akan turut serta
Saat bintang-bintang membiru
--Ryan Adams, dalam novel Lisey's Story, Stephen King

Pintu di dalam ruang baca sudah mencapai titik terkuatnya, kini patah dan bagian atas sudah tidak pada engselnya. Mereka masih tak bergeming dari depan pintu, lalu seseorang melangkah kedepan samar karena bias cahaya yang menyeruak masuk.

“Suster Kepala!” teriak Lusy yang lebih dulu membuka matanya untuk memastikan.

Ia mengangguk. “Iya, Lusy ini aku, hari sudah petang tetapi kau dan Mady masih saja disini. Semua di ruang makan sudah menunggu kalian.” Suster Kepala meraih tangan Lusy dan menggandengnya keluar dari ruang baca.

Mengunci pintu. Klik.

Mady mendongak dan bertanya pada Suster Kepala, “Kau mau kemana Suster? Bukankah jalan menuju ruang makan lewat sini?” Ia menunjuk ke arah yang berlainan.

“Aku akan menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu, kemudian aku akan menyusul, Mady.”

“Baiklah,” jawab Mady datar, ia masih belum bisa menerima perlakuan Suster Kepala yang bertolak belakang pagi tadi kepada Lusy. Anehnya, Suster Kepala berperilaku seperti tidak terjadi apapun.

Ah sudahlah, percuma mencapuri urusannya saat ini, perutku lebih membutuhkan perhatian daripada Suster Kepala, fikirnya. Diary Clara masih ada di dalam buku-buku jemarinya, digenggam erat. “Apakah kau berfikir, ia aneh, Lusy?” tanya Mady dalam perjalanan menuju ruang makan.

Dahinya mengernyit, masih bingung dengan arah pertanyaan Mady, “Ia siapa? Aneh?” Lusy balik bertanya.
“Suster Kepala. Apa kau tidak merasa aneh dengan sikapnya?”

“Aneh? Dimana letak keanehannya, Mady?”

“Tidakkah mau melihat, ia tak seperti biasanya. Suster Kepala lebih tidak perduli dengan sekitar, ia lebih tak acuh dengan semuanya. Coba lihat, ia sama sekali tidak perhatian dengan kita yang hilang sepanjang hari. Biasanya, ia yang selalu paling khawatir ketika salah-satu dari kita—anak asuh Santa Mondega—menghilang beberapa jam? Ya, kan?”

Lusy mengangguk dua kali, jarinya diletakkan didepan bibir, diketuk-ketuk bibir kemerahan miliknya dan menjawab lirih, “Iya, aku baru sadar Mady, setelah kau memberitahuku ini.”

“Ah sudahlah, dasar kau yang tidak perhatian dengan sekitarmu saja, Lusy. Jangan bicarakan hal ini di ruang makan, aku tak mau semua orang ikut terlibat di jigsaw kita dan diary Clara, oke?”

“Laksanakan, Komandan,” ledeknya dengan satu tangan kirinya diangkat sejajar dengan kepala seperti berhormat.

Suara besi berhantaman semakin terdengar jelas ketika mereka berjalan mendekat ke arah ruang makan. Semua sudah mulai makan, mereka terlambat. Tapi para suster belum mulai makan, mereka masih berdoa. Dua kursi dari meja makan sudut kiri kosong, kursi itu untuk mereka.

“Suster, apakah ini tempat duduk kami?” tanya Lusy dengan sopan kepada salah satu suster.

“Benar, kami sudah menunggu kalian berdua sejak tadi, kami belum mau makan sebelum semuanya lengkap,” timpalnya.

Lusy menarik ke belakang kursi kayunya dan berdecit. Dari piringnya ada dua tumpuk daging asap yang di potong memanjang dengan mayonaise diatasnya berbentuk zigzag. Bubur kentang berwarna kuning keputihan dengan parsley yang dicincang kasar menjadi lauk utama makan malam kali ini.

Masih terasa hangat.

Di keadaan seperti ini, Santa Mondega terasa menghangatkan dan tentram. Santa Mondega yang dulu pernah menghiasi hari bahagia mereka.

Emosi dalam hati Lusy seperti tak bisa dibendung lagi, ia rindu, teramat rindu dengan kehangatan ini. Santa Mondega. Tangan kirinya yang tidak memegang sendok menggenggam diary Clara erat-erat. Ia tak bisa menangis, tangisannya ia tumpahkan pada erat genggamannya di diary itu.

“Sudahlah, aku tahu perasaanmu, Lusy.”

Lusy menengok ke sebelah kanannya, Mady mencoba menenangkan kawannya yang mulai terbawa suasana. “Ini tak akan ada lagi, jika kita menyerah dan berhenti pada misteri diary ini, semua ini akan hilang, selamanya,” intonasi bicara Mady datar tapi terdengar sangat mengancam.

Lusy tahu, itu bukan ancaman, itu motivasi untuk segera menyelesaikan misteri ini, misteri Clara Harrington dan Santa Mondega dua puluh tahun lalu.

Sampai pada suapan terakhir Lusy, semua orang sudah beranjak dari kursinya masing-masing dan melanjutkan kegiatan mereka. Tak berbeda dengan Mady yang sudah bersiap mencuci piringnya dan pergi ke kamarnya untuk tidur.

“Lusy, apa kau ingin tetap disini sepanjang malam?” tanyanya perlahan.

Lusy tak menjawab, hanya memberikan insyarat batin yang Mady harus tahu maksudnya, ia ingin sendirian malam ini. Entah disini atau dimana pun yang membuat yang membuat perasaannya terasa sedikit lega. Diary itu masih tidak berubah tempatnya saat pertama Mady meletakkan di meja makan. Tak ia buka, hanya ia genggam erat.

Apa yang salah dengan rumahku akhir-akhir ini, apakah semua berubah karena diary ini, apakah karena Clara? Bagaimana pun caranya aku sudah terlalu dalam berkecimpung dengan misteri ini, menghadapi masalah ini tanpa harus mundur, aku harus memperbaiki Santa Mondega, sekuat ku mampu. Aku pasti bisa, harus. Lusy memotivasi dirinya sendiri dengan baik, tapi perasaannya tidak lebih baik dari saat jamuan makan dimulai. Tetap pilu.

Sepiring bubur kentang dan dua potong daging asap di piringnya tinggal setengah, setengahnya sudah masuk untuk mengisi lambungnya yang mengeluarkan banyak asam karena tak ada suplai makanan yang masuk.

Ini sudah terlalu malam untuk Lusy terus termenung di meja makan, jika salah satu suster menemukannya masih di sini, ia akan kena masalah. Tak berpikir panjang, pikir, Lusy meninggalkan piring dengan bercak bubur kentang di sana sini di atas meja dan membawa pergi diary Clara keluar meja makan dan menuju kamarnya.

“Kau tidak bisa semena-mena memberikan diary itu kepada anak ingusan itu. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menyebarluaskan aib kita kepada anak-anak, tentang kejadian dua puluh tahun lalu?”

Suara itu keluar dari ruangan Suster Kepala tapi tak terdengar seperti suaranya. Itu lebih terdengar mirip suara Suster Daisy.

“Pelankan suaramu, kau tidak akan mau kan jika salah satu anak mendengar percakapan kita.”

Lusy berhenti tepat di depan pintu kayu jati dengan ukiran ala Inggris tahun tujuh puluhan dan menempelkan telinganya agar bisa mendengar percakapan mereka lebih detail.

Suara mereka terdengar lebih lembut sekarang, meskipun gemetaran seperti menyembunyikan sesuatu. “Tetapi, tidak akan bisa selamanya kita menutupi rahasia ini, tentang Santa Mondega, tentang bulan purnama dan prosesinya. Tentang Clara dan diary-nya yang akan membawa kematian atas kaum kita.”

Percakapan itu cukup jelas masuk ke dalam telinga kanan Lusy yang menempel di pintu. Ia tak seberapa mengerti, tapi yang ia tahu pasti, hal itu akan menjadi sebuah petunjuk besar dan akan dapat membantunya menyelesaikan misteri Clara ini.

Dua puluh menit sejak pertama Lusy menguping pembicaraan mereka berdua dan dua puluh menit juga ia seringkali tidak bisa mencerna arah pembicaraan mereka. Tentang persembahan, sukarelawan, dan bulan purnama di pertengahan April. Hal-hal yang masih terasa asing di kepala Lusy.

BUK!

Tangan kanannya menjatuhkan diary itu tidak sengaja. Bunyinya cukup keras dan mungkin satu koridor lantai dua ini akan dapat mendengarnya.

“Siapa itu?” teriak suara dari dalam ruangan, suara Suster Daisy.

Lusy berjongkok dan mengambil bukunya, mundur beberapa langkah dari tempatnya tadi menguping. Kecemasan tak bisa disembunyikan dari wajahnya yang mulai memucat.

Langkah kaki berdentum menggema di depan pintu. “Siapa itu? Jawab aku!” kali ini suara Suster Maidy intonasinya meninggi.

Lusy tahu apa yang harus ia lakukan hanya lari, lari dari sana dan berpura-pura tak pernah mendengar semuanya. Karena itu bukan sebuah petunjuk bagi dirinya, terutama bagi misteri ini. Hanya pecahan fragmen yang belum tahu harus ia susun mulai dari mana.

***

Sepanjang malam hujan gerimis menyelimuti lembah Ben Hill, beberapa kali auman serigala terdengar meramaikan malam dari luar Santa Mondega. Dingin yang menusuk tulang memaksa kedua mata dan otaknya terjaga di tengah malam lewat seperti ini. Di dada Lusy diary Clara tak pernah berpindah. Ia tak membacanya, hanya meletakkannya disana untuk sekedar menenangkan perasaan dan otaknya yang terbakar. Mungkin berasap sekarang.

Aku tak bisa selamanya berhenti di bagian ini, lalu bagaimana aku bisa menyelesaikannya lebih cepat kalau membacanya pun aku enggan? Lusy, bodoh! Idiot!

Lusy membenahi duduknya diatas ranjang, kemudian meletakkan diary itu diantara paha kiri dan kanannya. Dibukanya perlahan sampai tepat pada halaman ke sebelas dengan lipatan kecil diatasnya sebagai pembatas. Dan, ia mulai membaca.


LIMA: 


LALU, TENTANG PERSEMBAHAN DAN BULAN PURNAMA


Hujan tak pernah habis di pertengahan perempat tahun seperti ini, terlebih Ben Hill berbeda dengan rumah mendiang orang tuaku dulu. Ternyata lebih dingin dari kebanyakan daerah di sini. Ini tak seberapa larut, tapi kakiku tak pernah mau keluar dari kaus kaki dan sarung tangan yang menempel terus di tangan. Beberapa hari yang lalu, Jessica bercerita tentang kegiatan aneh di Santa Mondega. 

Apa itu? 

Jessica dan aku tak pernah bisa mengetahuinya, katanya, ia dulu mendengar dari desas-desus anak lain di Santa Mondega. Tentang Suster-suster disini, tentang apa yang mereka lakukan tiap malam bulan purnama. Kadang aku memaknainya hanya sebatas guyonan dan penanaman cerita horor batas balita. Manusia serigala yang muncul ketika malam bulan purnama tiba. Lucu. 

Tetapi, kemarin, aku benar-benar tak bisa menganggap ini semua remeh atau guyonan. Aku dan Jessica menemukan koridor rahasia di dalam ruang baca. Tepat di koridor nomor tiga belas, bilik dua puluh tiga. Tepat disana, di rak nomor dua dari bawah ada satu bata yang bisa ditekan untuk membuka jalan masuk ke dalam satu ruangan. Ruang dimana banyak peralatan yang tidak akan kau temukan di Santa Mondega. Ruang mengerikan. 

Apakah aku terlalu cepat bercerita? Mungkin tidak, ruangan itu penuh dengan kengerian, mulai dari langit-langit bersarang laba-laba dan satu set pisau dari yang kecil sampai yang sebesar gada tertata rapi di sudut ruangan. Ruangan dengan lebar lima kali lima meter ini memiliki satu meja, meja dengan bercak-bercak merah—mungkin darah—yang belum hilang bau anyirnya. Bercak itu sudah kering dan menghitam. Tetapi noda kekuatiran masih sangat terlihat disana. 

Sempat aku berfikir, tempat apakah ini? Ataukah ruangan rahasia yang aku dan Jessica adalah penemunya? Ataukah tempat lain yang sengaja disembunyikan oleh pihak-pihak internal Santa Mondega? Tapi siapa? Para Suster, hal biadab seperti ini dilakukan oleh suster-suster Santa Mondega? Itu hal yang tidak pernah mungkin terjadi, hanya setan yang tega melakukan hal ini. 

Aku dan Jessica berjanji, tak akan memberitahu siapapun, sampai ada salah satu dari kita yang berkhianat dan mengumumkan kepada semua orang bahwa kami menemukan satu ruang rahasia. Aku percaya pada Jessica, ia tak akan membuka mulut. Aku pun sama. 

Jika suatu saat ada seseorang yang membaca diary-ku sampai bagian ini, aku harap ia bisa menemukan takdir yang sama denganku. Tentang misteri Santa Mondega, bulan purnama serta ruang rahasia yang dimilikinya. 

Tapi tunggu, ini belum selesai ...

BRAK!

Suara itu menggema dari luar hingga dapat ditangkap telinga Lusy. Hampir ia melemparkan buku itu ke belakang karena kaget. Di dalam buku itu, tepat setelah kalimat “Tapi tunggu, ini belum selesai,” ada satu bagian yang tidak dapat dibaca Lusy. Bagian yang dihitamkan secara ugal-ugalan. Satu kalimat.. “Ini akan berlanjut,” selebihnya, matanya tak dapat mencerta coretan-coretan tidak jelas di dalam diary Clara.

Diary ini, persetan!

Berkali-kali Lusy mengumpat dalam pejam matanya. Potongan fragmen Clara yang sampai saat ini belum ia pecahkan masih mengambang di ruang imajinya. Sungguh, ini memusingkan.

12 komentar:

  1. aku berharap 2 tahun lagi , fiksi ini bisa terpublish di pasaran dengan label best seller (y)

    BalasHapus
  2. di cerita ini ngga terlalu menegangkan ya, tapi ceritanya makin mengalir.. ada sedikit titik terang ruang rahasia itu dengan kunci batubatanya, kayaknya lusy dan mady harus segera kesana biar ngga makin larut, gw kurang paham yang masalah ritual bulan purnama itu deh..

    BalasHapus
  3. ceritanya makin cair bahasanya, bagus banget daka :)

    BalasHapus
  4. "BRAK!...
    Suara itu menggema dari luar hingga mampu ditangkap telinga Lusy"

    waw, ceritanya bagus daka, emosinya dapet tapi nggak berlebihan, menegangkan. Two Thumbs deh buat daka!

    BalasHapus
  5. Suster-susternya jelmaan setan ya? Mencurigakan...

    BalasHapus
  6. daka, tau ga?

    cuman lu sama feby aja yang bikin gue tahan baca cerita di blog.. cerita lu sama akang feby emang bagus2.... gue selalu tunggu kelanjutannya.. hehehe. apalagi yang serie gadis dalam cermin... ^^

    BalasHapus
  7. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Kita di nilai dari apa yang kita selesaikan bukan dari apa yang kita mulai,.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    BalasHapus
  8. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Kita di nilai dari apa yang kita selesaikan bukan dari apa yang kita mulai,.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    BalasHapus
  9. aduuuh, aku makin deg degan bacanya.. masih diluar perkiraan sih jalan ceritanya... tapi aku udah ngerti dikit.. kereen bang daka :D

    BalasHapus
  10. luar biasa

    berharap kunjungan nanti menemukan lanjutannya ^_^

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: