Senin, 16 April 2012

Dunia Bayangan


Di dunia bayangan, segalanya akan terlihat seperti ini
Taken with EOS CANON 550D | No editing | B/W

Aku berbahagia hidup seperti ini, tunggu, apakah ini kehidupan? Sebuah kehidupan akan ditentukan sampai kita benar-benar telah menembus kematian, berhenti bernafas, berhenti melihat. Apakah ini sesungguhnya kehidupan?


Aku pernah menjadi seorang anak-anak dengan setumpuk mainan dan kasih sayang. Lalu itu tak lama, usia memakan semuanya. Aku tak menjadi anak-anak lagi. Menjadi seseorang yang lebih kaku dan tak berimajinasi. Seperti dulu, merindukan masa kekanakan.

Semua berjalan seperti yang Tuhan inginkan, aku kini seorang remaja. Remaja biasa dengan segudang impian. Kadang menjadi seorang pebisnis, arsitek, bahkan aku pernah menginginkan diriku menjadi seorang pengendali dunia. Entah apa. Konyol.

“Kau harus menjadi seseorang yang bisa hidup dengan uang, dengan apa yang mencukupi kehidupanmu, bukan bergantung kepada kita lagi, nak.”

Mungkin sebuah doktrinasi sebagian besar orang tua, hal-hal klasik seperti itu sudah puas dijejalkan di gendang telingaku.  Lalu akan menjadi apa aku kelak, Tuhan? Bukankah aku tak pernah keluar dari jalur takdirmu, yang sudah kau tentukan?

Dan kini, selamat datang di dunia hitam putih dan abu-abu. Aku adalah orang dewasa, menjadi seseorang yang penuh dengan kontrak kerja dan neraca keuangan. Aku pernah mendengar beberapa mainan menggunjing, kau yang sekarang membosankan kawan, mengapa kau menjadi seperti yang sekarang, menjadi lebih monoton dan tak atraktif. Ya mohon maaf, inilah kehidupan, dimana aku menjadi dewasa—satu fase yang menurutku paling dan paling membosankan.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

“Selamanya...”

Ikrar suci, dentang lonceng, lantunan doa.

dan pernikahan...

Hampir tak percaya diriku sudah ada di fase ini, begitu cepat. Rasanya, baru kemarin aku adalah seorang bocah kecil dengan ingus dan baju yang penuh noda cokelat. Dan kini, aku ber-tuxedo dengan bunga yang tersetrika rapih di sakunya. Sekali lagi, apa ini kehidupan, kawan?

Sandiwara, aku bersandiwara. Ini panggung sandiwara.

Maafkan aku Tuhan, Ayah dan Ibu. Aku tak pernah bisa menjadi seorang lelaki yang baik budinya, maafkan aku bila aku akan terus menjadi bocah enam belas tahun saja. Seragamku masih lusuh dengan asap knalpot di jalan tadi sore. Maafkan aku bila percakapan ini hanya searah.

Aku hanya berhenti di fase ini, tak akan bisa mundur atau maju sejengkal pun. Aku menikmati kehidupan, sungguh. Tetapi, aku lebih menikmati hidup di dunia bayangan, seperti ini. Seperti saat ada bisa kota yang menyenggol motorku tadi sore. Mereka mengantarku ke dunia ini, dunia penuh fragmen-fragmen misteri tak terpecahkan. Aku dan kematian. Inilah kehidupan, dunia bayangan, kawan.

25 komentar:

  1. kalau boleh tau, apa yang dimaksud dengan dunia hitam putih dan abu-abu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa harus dilontarkan kepada saya, kalau cerita itu sudah cukup menceritakan tentang apa sebenernya dunia itu.

      Hapus
    2. looh, ini aku nanya . . . bukan ngaja berantem, kan kamu yang nulis...

      Hapus
    3. sorry to say, gak ada yang ngajak berantem kok disini. Kan udah aku bilang, kenapa harus ditanyakan ke saya kalau dari cerita itu pun udah ngejawab. Gak perlu tanya dua kali, kan?

      Hapus
    4. mungkin saya yang kurang nangkep, yasudahlah

      Hapus
  2. hidup memang punya tujuan dan segala keunikan yang beragam :D
    salam kenal mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena kehidupan tidak hanya ada satu di dunia ini, akan banyak sekali variasinya, kalau kita benar-benar tahu esensinya. salam kenal juga :D

      Hapus
  3. Setelah dewasa lalu beranjak tua, lalu sakit-sakitan kemudian mati. Cuma sebentar ya? Beruntung juga yang sempat merasakan dewasa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan bila dewasa pun belum sempat, kemudian mati. Itukan sama saja melompati fase? Hahaha

      Hapus
  4. rasanya kurang lengkap kalau hanya sampai disitu, ada fase yang sebenarnya jadi tujuan hidup ini.. KEMATIAN..
    sering terlupa tapi dia dekat dan nyata..

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah, bang. Kenapa kematian dan kita itu sangat dekat.

      Hapus
  5. Entah kenapa aku berpikir kalau ini adalah kegalauanmu, dimana kamunya gak mau beranjak dewasa bang. Well, mungkin ini pengaruh baca tweet-mu beberapa waktu lalu ttg masa depan, dsb itu XD

    BalasHapus
  6. Waw, dari awal agak2 gak ngudedeng, tapi masuk2 trakhir jadi agak2 ngerti. Alur yg lo buat emang gak bisa di tebak kalo baca awalnya aja.. :)

    BalasHapus
  7. daka..tua bukan berarti menjadi dewasa, ya kan?

    BalasHapus
  8. syukuri ap yg ada...
    hdup adlh anugrah...
    tetap jlni hidup ini...
    mlkukn yg trbaik...
    ()nah loh koq nyanyi????()
    #tepok jidat,,,

    BalasHapus
  9. sama kayak akang feby

    ciri khas ceerita lu emang gitu yah? harus dibaca sampai akhir dulu buat ngehnya. hehehe

    BalasHapus
  10. dewasa memang sulit tapi semuanya harus berjalan :) kalau terus dipikirkan memang jadinya menyebalkan tapi kalau tidak dipikirkan juga menyebalkan hahaha :3 repot ya :3

    BalasHapus
  11. aku ingin kembali ke masa kecil... dimana semuanya terlihat begitu ceria..

    sedangkan sekarang, entahlah....

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: