Kamis, 19 April 2012

Bunga Kertas



Bunga kertas, satu hal yang tak bisa sirna ketika teras rumahmu muncul diantara sesak tulisanku. Dulu, tujuh belas tahun yang lalu, pemandangan itu tak akan bisa hilang dari sana, dari teras rumahmu. Ingatkah kamu, dua kursi rotan yang tertata berhadap-hadapan? Satu tempat dimana kita ada dengan novel-novel yang selalu kita perdebatkan. Lalu rumahmu, dengan gaya tudornya, memang cukup aneh untuk ukuran rumah orang Indonesia. Gaya yang terlalu kebaratan.


Sore di akhir Januari, aku bersepeda waktu itu, melihat kau duduk membelakangi semak-semak tempatku sering mengintip. Apa yang sedang kau lakukan? Pikirku.

“Vidia,” teriakku, cukup untuk mengusik dua kepik yang sedang bercinta di gulungan daun bunga kertas.
“Aku ingin berhenti di sini, berhenti di kamu, di kenangan ini,” katamu.

“Untuk apa? Hidup tidak akan selamanya ada di satu fase yang sama, bukan?” sanggahku.

“Ya aku tahu, tetapi setidaknya berikanlah aku waktu untuk tetap berada di masa ini, sebentar saja. Mungkin untuk beberapa menit, sebelum semuanya berubah, Rio.”

Aku tak mau menjawab, hanya sekedar ingin membuatmu berfikir lebih dewasa. Atau mungkin, untuk membiarkanmu berada di titik ini, sebentar saja, seperti katamu. Vidia. Dua menit berikutnya, kau masih sibuk dengan rangkaian bunga kertas di tangan kirimu.

But, life must go on, right?Ya, kau benar, sangat benar, Vidia.

Aku diam, tak pernah berani mengungkapkannya, hanya membiarkan itu semua terpendam dalam-dalam. Sampai pada suatu ketika.

Meningitis, radang selaput pelindung syaraf pusat. Beberapa mikroorganisme seperti virus atau bakteri adalah penyebab sakitmu dua tahun terakhir, bukan? Aku tahu, tapi ini sudah terlalu terlambat. Ini sudah lima belas tahun, tepatnya tujuh belas tahun setelah kematianmu.

Aku tahu aku seperti orang bodoh duduk termangu di beranda rumahmu. Tepat hari ini, Bu Sastro, ibumu pergi dan merundungkan pilu lagi di langit-langit rumahmu. Belum genap enam bulan lalu, Pak Sastro lebih dulu pergi. Aku tahu, ini sebuah takdir, benar?

But, life must go on, right ...

Tujuh belas tahun, kata-kata itu masih terselip di beberapa proyek-proyek novel yang berusaha kubangun. Itu mengganggu, tapi aku mencintai kalimat itu.

Dan mungkin, semua kesalahanku. Aku terlalu banyak memberikanmu menit untuk berandai, berhenti pada satu fase. Aku terlambat untuk mengetahui kode itu, sebuah tanda darimu bahwa semuanya akan segera berakhir. Seperti saat ini, berada di teras ini. Membiarkan sebuah lembaran kenangan berwarna sepia terputar berkali-kali di otak. Sebuah intermezzo, Vidia.

Maafkan aku. Untuk rangkaian bunga kertas yang tak pernah bisa kupakai dan beberapa novel yang kupinjam belum sempat kukembalikan. Tuhan lebih menyayangimu daripada aku, mungkin.

But, life must go on, right? Life must go on, Vidia.

17 komentar:

  1. Sebuah kenangan masa lalu yang terselip penyesalan...

    BalasHapus
  2. aku suka ceritanya, sederhana.Dan bisa membawaku berimajinasi menjadi si "AKU", merasakan menjadi "AKU"

    life must go on, right? No doubt!
    :)

    BalasHapus
  3. yah hidup harus tetap berjalan.
    dan lagi hidup memang keras yah kan sobat daka :D

    BalasHapus
  4. meningitis? keren mas ceritanya, tapi penyakitnya bikin merinding hihi :D

    BalasHapus
  5. bagus banget cara bermain katanya di tambah dengan cerita yg menyentuh.. salut deh :)

    BalasHapus
  6. huweeee... ko sedih yaa.. suka prosa juga ya? mohon kritik nd sarannya ya buat prosaku... follow nd komen yaaa.. sankyuuu...

    BalasHapus
  7. Wah kren, meningitis telah merubah semuanya.. :)

    BalasHapus
  8. Tentang hidup dan mati. Lalu siapa yang peduli? Aku! Ya, aku yang merasakan derita itu. :P

    BalasHapus
  9. dek kamu pake KBBI ? keren diksi nya kaya banget ---> saya IRI :)

    BalasHapus
  10. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    hilangkan rasa gengsi mu untuk maju lebih baik.,.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: