Minggu, 15 April 2012

Ruang

Ini adalah satu ruang ... lalu apa yang membuatnya begitu berbeda?

Pernah ada satu masa dimana aku benar-benar mencintai kopi. Mengangungkan uap-uap yang menyembul bersamaan dengan tuangan yang menimbulkan bunyi khas, seperti peluit kereta kuda. Sampai detik ini pun, aku tak pernah membencinya, setelah kejadian itu, bahkan.

Senja, Jogjakarta, malam ketiga belas dari bulan April. Di luar masih begitu dingin dengan sisa-sisa gerimis. Beberapa pengunjung masih duduk santai di sudut-sudut kedai. Bunyi mesin kopi juga terdengar sayup dari belakang meja kasir. Sudah tiga tahun, sejak pertama kali aku mengenal kopi dan pertama kali aku mencintainya secara dalam. Dari waktu itu, ada gadis sepertimu.

Waktu itu juga senja, di suasana yang tak jauh beda. Kirana, begitu saat kau mengucapkan kata pertamanya padaku. Gadis kelahiran tanah Jogja tanpa sedikit pun raut muka khasnya. Campuran Belanda Jogjakarta, begitu juga kau menyebut dirimu. Kopi dan kamu, dua hal yang selalu menyatu. Aku tahu, sejak hari-hariku terselip kamu, aku begitu mencintai dua hal itu. Kamu dan kopiku.

Sampai pada satu ketika, kau hilang dari meja nomor dua puluh tiga dari kedai itu. Biasanya setiap Kamis petang, kau dan kopi arabicamu selalu menyedapkan penat malamku. Dino, sang bartender, aku sungguh tak menyukainya, tapi sepertinya aku harus berbicara lagi padanya. Hanya untuk kamu, dimana kamu, Kirana?

Masih dengan raut merengutnya, Dino menggeleng. Aku tak mengenal Kirana dan tak mau mengenalnya, katanya. Itu membuatku geram, bukankah kau selalu duduk di meja nomor tiga belas setiap senja tiba? Bukankah kau tak pernah berpindah menu dari kopi arabica? Hal absurd apa yang membaut bartender bodoh itu tak mengenalimu? Setan!

“Aku mengunjungi keluargaku, mereka meninggal dua tahun lalu, tepat di rumah susun di ujung gang, aku tak bisa benar-benar meninggalkan mereka,” sahutmu ketika aku menanyakan penyebab kau absen di senja kamis tempo lalu.

Pemakaman? Pikirku. Lidahku tercekat, aku tak ingin membuatmu sedih jika aku meneruskan interogasi konyol ini. Pukul sembilan malam, di depanmu, aku tak bisa menatap matamu terlalu lama. Entah getar apa?
“Aku suka padamu, aku mencintaimu dan kopi serta tetek bengeknya.”

Kami sama-sama tercengang. Pernyataanku adalah skak match bagi dialog basa-basi ini. Terlebih kau yang hampir menumpahkan arabica di kardigan cokelat muda polos yang kau kenakan. Aku tahu, aku bisa merasakan degup yang sama dari jantungmu. Tetapi apa yang membuat kita begitu berbeda, Kirana? Bukankah sah, aku lelaki dan kau wanita. Lalu penyekatnya?

“Aku tidak bisa.”

Singkat dan kau menghilang.

Aku tersadar, sekarang aku tak benar-benar berada di kedai kopi langganan kita. Entah tempat apa ini, satu bilik kamar dengan satu ranjang keras yang berdecit. Tak ada lukisan dan penyedap dinding. Polos dan terlihat menyeramkan. Tetapi mengapa aku tak bisa berada di satu tempat dalam waktu yang sama? Terkadang, aku berada di kedai itu, pemakaman, dan bekas rumah yang terbakar di ujung gang. Lalu sekarang, apakah ini nyata, berada di tempat tanpa aksen ini?

Pagi, sehari setelah aku melompat dengan kenangan. Di taman yang tak ku ketahui namanya. “Dasar orang gila!” seorang wanita tua berteriak dari tempatku termenung sambil tongkatnya yang teracung ke atas.

Apakah aku gila? Maksudku, benar-benar gila seperti yang wanita tua itu bilang? Apa karena aku mencintai kopi, mencintai kau dan kopi lebih tepatnya, Kirana? Apa yang membuat orang berspekulasi bahwa aku orang gila, orang yang punya dunia sendiri?

Apa ada yang salah dari kata cinta? Tentang pertemuan singkat kita di kedai kopi? Apakah yang harus dipersalahkan dari cinta seorang pemuda impresionis sepertiku. Jatuh cinta kepada seorang gadis peranakan Belanda yang berbeda. Apakah cinta hanya sebatas manusia dan manusia? Bukankah orang awam mengatakan cinta itu buta. Salahkah, bila aku mencintai gadis berbeda, berbeda dunia seperti Kirana, yang mati di delapan belas tujuh tiga?

30 komentar:

  1. aku menikmati walau tak paham mksdnya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. nikmati saja, tanpa harus dimengerti pun tidak apa-apa :P

      Hapus
  2. gue ngertiii,astagaaaaaaa kewreeeeeeeennn!!!

    BalasHapus
  3. Nikmat sekali kopi itu, apalagi ada kau di situ, membuat hatiku haru, menangis tersedu-sedu.

    Ini nikmat atau sedih ya? haha

    BalasHapus
  4. pecandu kenikmatan dunia ini adalah drugs, kopi, rokok dan wanita...

    BalasHapus
  5. Apa aku gila? Ah, entahlah, tergantung dari sisi mana kita melihatnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena cinta tidak hanya terbatas manusia dan manusia, bukan.

      Hapus
  6. kalau aku boleh menangkap ide pokok cerita, Kirana itu noni belanda yang lahir di tahun 1873? benarkah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hampir tepat. Kirana adalah gadis yang meninggal di tahun 1873

      Hapus
    2. oalaah, ternyata aku kelewatan membaca kata 'mati' hehe
      kalo boleh ngasih saran, emangnya ada noni belanda yang hidup di abad 18 dengan nama kirana? nama kirana itu bukan nama tempo dulu. malah terkesan nama kirana itu nama ngetrend untuk abad 20

      Hapus
    3. apakah sudah melakuakan riset tentang nama kirana yang tidak pernah digunakan di abad 18? mungkin jarang, tapi bukan berarti tidak ada yang menggunakan nama itu, bukan.

      Hapus
    4. perlukah riset jika bisa dipikir secara logis?
      ini hanya kritik sob, maaf jika kritikanku agak pedas . . .

      Hapus
    5. berpikir logis saja tidak bisa dikatakan sebagai fakta yang fix kan, itu hanya opini.

      Kritik saya tahu, tapi ini belum pedas sih sebenernya.

      Hapus
    6. mau kritikan yang pedas? oke, lain kali aku akan mengkritikmu dengan pedas. gimana? hehe

      Hapus
  7. Waw, keren nih cerita, lo cocok bgt emang bikin cerita2 dark gini.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, terima kasih bang. kalo kata anang, "menyanyilah pada satu genre."

      Hapus
  8. tutur bahasa sudah rapi banget, ajarin dong.... mau gak yah ngajarin kita?

    BalasHapus
  9. Entahlah bang, di FF ini aku merasa ada sesuatu yg ganjil, but it's good!

    BalasHapus
    Balasan
    1. "bukankah cinta tidak hanya sebatas manusia dan manusia?" | tidak ada yang ganjil dari FF ini bang. hanya seorang lelaki dua puluh enam tahun yang mencintai gadis yang mati di delapan belas tujuh tiga.

      Hapus
  10. permulaan dengan senja dan Jogja itu kolerasi yang tepat untuk kemudiannya menghayati makna FF ini kak .

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: