Jumat, 03 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (02)

Since your mother cast her spell
Every kiss has left a bruise
You've been reading too much meaning from existence
Now your head is used and sore
And the forecast is for more
Memories falling, like falling rain
Falling rain

Every view they hold on you's
A piano, out of tune
You're an angel
You're a demon
You're just human
Now your world has turned to trash
Broken windows on the past
Take that child and teach him senseless
Damage the dream, damage the dream
I feel nothing, I feel nothing at all
I feel nothing at all

In this gloomy, haunted place
All the feelings are of shame
All the windows have been broken by the children
So the wind screams up the stairs
Slams doors and rattles chairs
I wish we weren't conceived in violence
Damage the dream, damage the dream
The magic is broken
The house is in ruins
Your memory's one-sided
The side that you're choosing feels nothing
Feels nothing at all
We feel nothing at all
James - Lullaby


Pertengahan Februari, tepat dua minggu setelah hilangnya buku milik Clara Harrington yang dipungut Lusy. Suasana di Santa Mondega agak lengang saat Februari. Banyak sekolah yang sudah libur musim gugur. Di Santa Mondega terasa libur juga, banyak yang sedang mengikuti tur liburan tahunan, ada yang pulang ke rumah orang tua, dan ada juga yang hanya berdiam di kamar, seperti Lusy.

Sudah dua hari belakangan, Key—teman khayalan Lusy—tak pernah muncul. Lusy lebih banyak menghabiskan waktu di tempat baca daripada harus berkeliling sendiri. Terlebih saat Mady pergi setiap tahun mengikuti tur, sebenarnya Lusy ingin sekali ikut tetapi Ayahnya tak pernah mengizinkan.

“Halo, Lusy,” sapa Suster Kepala.

Ia datang dengan bahan rajutan yang hanya seperempat jadi. Duduk di kursi santainya yang bergoyang-goyang. Lusy yang sedang makan tersedak sedikit melihat suster sudah berada di belakangnya.

“Maaf, suster,” jawabnya karena reaksinya agak berlebihan.

Suster Kepala tersenyum padanya, ia yang harusnya meminta maaf karena datang terlalu tiba-tiba. Pandangan matanya melirik ke arah Lusy yang asik dengan puzzle. Bingung. Lusy tak pernah suka bermain puzzle sebelumnya, ia lebih suka membaca dan melukis abstrak.

“Kau sedang apa Lusy?”

Lusy menoleh, tersenyum, agak dipaksakan. “Lihat, Suster, aku sedang menyusun puzzle. Ini terlalu sulitkah, atau aku tak pernah jago bermain puzzle?”

Mereka tertawa, hangat. Suster itu menuntun tangan Lusy untuk mengubah satu sususan puzzle yang keliru. Satu bagian yang condong ia geser ke kiri sedikit dan meletakkan satu lingkaran tak sempurna ke sisi yang lubang.
“Nah, lihat, mudah bukan?” ujarnya, lalu mengenggam tangan Lusy erat.

Lusy bingung dengan reaksi Suster Kepala, terlalu berlebihan. Ia hanya tersenyum melihat gelagat aneh susternya. Lusy diam dan mencoba membaca situasi. Tentang puzzle itu, puzzle lukisan Monalisa dengan tangan yang tersusun terbalik. Mata Lusy cukup jeli untuk melihatnya. Aneh. Lain.

“Suster satu bagian ini kemana?” tanya Lusy dengan menunjuk satu bagian kosong yang berbentuk segi-enam di muka Monalisa.

Muka Suster Kepala seketika pucat. Lipatan-lipatan di pipinya terlihat lebih pucat dari bagian disebelahnya. “I—ni, entah mungkin James yang menyembunyikan di bawah bantalnya. Bocah lelaki satu itu memang susah untuk diatur, terlebih setelah Ibunya meninggal di ulang tahunnya yang keempat kemarin,” penjelasannya yang terbata semakin membuat Lusy mennyimpulkan kalau ia sedang berbohong.

Lusy mengangguk, dalam batinnya yang berkecamuk.

“Oh,” jawabannya yang singkat menandakan bahwa ia tak ingin meneruskan pembicaraan ini.

Suster Kepala sempat kebingungan, takut kalau-kalau Lusy bertanya lebih jauh. Ia cepat-cepat pergi dari ruang santai meninggalkan setengah rajutan sweeter hijau milik James yang belum ia selesaikan.

Lusy menghiraukan Suster Kepala dengan kebingungannya, ia hanya memandangi Monalisa aneh yang ada di genggamannya. Sebenarnya, puzzle ini tak ada yang aneh. Hanya mengapa ia tak bisa menyelesaikannya dengan mudah seperti James dan teman-teman seumuran James. Ia mendesah berat, masih berfikir tentang Monalisa ini.
Puzzle tujuh kali lima inci itu segera ia bereskan dari ruang santai dan  ia bawa ke kamarnya. Ia tak ingin suster Daisy menemukannya lagi dan mengembalikan ke ‘tempat yang seharusnya’ lagi. Sampai detik ini ia tak mengerti apa maksudnya dan dimana buku Clara Harrington itu.

Senja di Santa Mondega adalah saat-saat yang tak pernah Lusy lewatkan, senja dengan gerimis yang jatuh diatas daun-daun kering musim gugur. Esensinya selalu ia dapat, prosesi dari senja menuju gelap. Saat-saat yang tak pernah ia lewatkan bersama Mady.

“Sendirian?” tanya Suster Daisy, menyentuh punggung Lusy lembut.

Lusy hanya mengangguk, matanya masih terfokus pada gerimis yang gemerencak diselimuti nyanyian bintang malam.

Suster mengambil duduk di sebelahnya, tepat di anak tangga nomor dua. “Apa yang membuatmu termenung disini? Key?” Lalu ia menghembuskan nafasnya perlahan-lahan, rileks.

Lusy menoleh, seperti tak tertarik dengan dialog ini. “Bukan.”

“Lalu?”

Tangannya direntangkan menyentuh tiang tangga kecil di pintu belakang yang sudah banyak terkelupas cat hijaunya. Suster Daisy balik menoleh kearahnya.

“Tentang buku itu.”

“Buku apa? Buku diary—“ Suster Daisy tak melanjutkan ucapannya, ia kelepasan akan sesuatu.

Lusy semakin penasaran, “Diary? Jadi buku itu, diary?”

“Bukan, maksud Suster itu bukan diary, hanya buku kosong yang tak ada isinya. Lagipula disana juga tertulis bukan atas namamu. Jadi suster sudah simpan.”

“Dimana? Aku yang menemukannya, Suster.”

Suster Daisy mengguap—mengalihkan perhatian lagi, ia berpura-pura mengantuk, “Sudahlah, ini sudah terlalu malam untuk berada di luar. Udara di Ben Hill sedang tak ramah akhir-akhir ini. Terlalu dingin, ini bisa membuatmu flu.”

Sebenernya Lusy sudah tahu itu sebuah kebohongan, Lusy memang penebak yang apik. Ia mengangguk tanpa jawaban. Pintu belakang Santa Mondega ia tutup perlahan dan seperti biasa masih berdecit.

Pukul tujuh malam, kabut sudah mulai turun, hanya beberapa kaki dari permukaan tanah. Dari kamar, Lusy tak dapat melihat apapun selain pohon-pohon tinggi yang tak berdaun. DI pikirannya kali ini masih dengan topik yang sama. Buku Clara Harrington ditambah dengan puzzle Monalisa yang ia letakkan di brankas kayu pemberian Ayahnya.

Makan malam di Santa Mondega sepi sekali. Turnya kembali besok siang, hanya beberapa anak yang tidak pulang dan James yang tak akan pulang lagi—ia menjadi yatim piatu sekarang. Dua mangkuk besar sup tomat sudah tersaji hangat diatas meja. James yang berada di pangkuan Suster Kepala merengek sedari tadi, tak mau makan sendiri.

Di sudut meja kiri, Jewel sedang asik dengan cat kuku barunya yang berwarna Topaz. Biru berkilauan. Lalu Denish dengan komik manganya yang ia beli dari hasil berjualan kue buatan para suster. Dan Lusy masih dengan fikirannya sendiri, tentang semua hal yang sudah cukup aneh.

Suster Kepala menuangkan sup ke satu persatu piring lalu menaburkan sedikit daun mint yang sudah dipotong kasar. Daun mint yang diambil dari kebun di samping Santa Mondega. Milik keluarga Park.

James memimpin doa malam ini, dengan dialeg cadel yang amat melekat pada pangkal lidahnya. Lucu. Mereka semua makan disana, dengan tawa dan cerita-cerita menarik dari sekolah tadi siang. Tapi Lucy, hanya beberapa kali menyendok penuh sup tomat ke dalam kerongkongannya tanpa mendengar satu patah-kata keluar dari mulut mereka. Ia diam.

Lalu sesuatu mendesis di telinga kirinya, Lusy kaget, tapi tak sampai membuyarkan keceriaan di meja makan. Bisikan di telinganya makin keras dan jelas. Sampai ia bisa mendengar satu kata yang disebut lirih suara itu. Lusy, namanya. Suara itu tak berhenti sampai makan malam selesai, dengan ketukan yang sama dan datar suara itu terus memanggi: Lusy, Lusy, Lusy.

27 komentar:

  1. susternya misterius sekali, lusy juga sama misteriusnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. si lusy aneh dak, masa udah gede masih punya temen khayalan, jangan -jangan...

      Hapus
    2. tanyakan kepada lusy saya nggak tahu apa2 <-- gila bwahaha

      Hapus
  2. 'dengan dialeg cadel...' oh no, jangan-jangan james itu... *isi sendiri* hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. si puni kan cadel, funy seakan-akan menjadi james ;)

      Hapus
    2. etdjiiee suka banget ya disama2in ama karakter cowok teh fun itu :D

      Hapus
  3. interesting banget! lanjutin dong! kayakna bakal nih ceritanya.. coz klimaksnya gue belum lihat.. lanjutkan! jadi novel kayakna nih.

    BalasHapus
  4. wah menarik ceritanya... penuh misteri dan bikin penasaran! lanjutin lagi ya :) salam kenal

    BalasHapus
  5. contohin dong dialeq cadelnya?baru denger saya tuh wkwkw

    BalasHapus
  6. Pasti itu lanjutannya gini: "Lusy, lusy, lusy, gue juga mau makan." terus lusy nanya, "makan apa?", suara misterius itu jawab lagi: "Makan darah kamu Lusy!" hiiiiiiii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan bang, tapi gini: "Lusy.." | "apa?" | "ada yang baru nih.." | :D bwahahaa

      Hapus
  7. Oke, aku udah tahu warna dari tulisan bang daka, diawal bagian memang selalu menggantung dan membuat pembaca heran dengan tingkah pelaku yg direfleksikan oleh tulisan, bagian 4-5 baru keliatan rahasia dari ceritanya :D Kita lihat aja nanti bang, tokohnya masih samar utk ditebak :)

    BalasHapus
  8. arh itu lusi apa saya???

    ternyata bukan hanya saya yg aneh.. akhirnya... hehehe :P
    kelarin buruan... penasaran penasaraaaan -___-

    BalasHapus
  9. Every view they hold on you's
    A piano, out of tune
    You're an angel
    You're a demon
    You're just human
    Now your world has turned to trash
    Broken windows on the past
    Take that child and teach him senseless
    Damage the dream, damage the dream
    I feel nothing, I feel nothing at all
    I feel nothing at all ..

    nyambung !

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: