Minggu, 05 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (03)

Angel of Death
Monarch to the kingdom of the dead
Sadistic, surgeon of demise
Sadist of the noblest blood
Angel of Death - Slayer


Beberapa waktu ini Lusy masih menghiraukan bisikan-bisikan yang memanggil namanya. Ia mencoba menggunakan nalarnya: bahwa itu sebuah halunisasi. Siang itu, bus tur sudah berada di depan pintu masuk Santa Mondega. Berhamuran keluar beberapa dari mereka, termasuk Mady dengan satu kantong bening berisi biji pohon pinus di tangannya.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat momen pulang tur, Lusy selalu ada di barisan pertama. Berlari memeluk Mady yang beberapa hari tak bisa ia temui. Di kilas wajah Mady terlihat kebingungan, mencari-cari Lusy. Tak seperti biasanya, Mady pulang tanpa ada sahabat yang menyambutnya. Ia berjalan pelan menyusuri tiap barisan dari anak-anak panti. Dari depan hanya ada para orang tua, lalu James, Jewel dan beberapa gadis lain dengan raut penasaran. Di barisan paling belakang hanya ada para suster membawa lipatan sweeter warna-warni hadiah untuk musim dingin.

Lusy tak mau keluar dari ruang baca, ia terus membaca—tapi pikirannya saat ini tak ada di dalam buku yang ia baca. Bisikan itu masih memanggil. Ia terganggu, tak bisa berkonsentrasi. Buku dongeng debutan disney yang tebal ia lemparkan ke pintu ruang baca. Braak. Suaranya menggema, karena di dalam Santa Mondega sangat sepi, semua berada di luar untuk pesta penyambutan.

“Kau siapa?” tanya Lusy.

Suara itu bergeming dan masih dengan nada yang sama berkata, “Lusy, Lusy, Lusy.”

Lusy berteriak kencang, tangannya mengepal dan menggebrak meja baca yang sudah rapuh. “Siapa kau? Jawab aku.”

“Lusy, Lusy, Lusy,” jawab suara itu, tetap sama.

“Persetan dengan kau. Persetan dengan bisikanmu.”

Langkah Lusy agak terhentak-hentak ke lantai kayu saat ia keluar dari ruang baca. Marah. Suara itu hilang, ketika ia keluar dari ruang baca. Di persimpangan Lusy bertabrakan dengan seseorang, buku-buku Disney yang ia genggam di tangan terlempar ke udara, dan jatuh diatas lantai berdebu.

“Lusy.”

“Mady.”

Mereka berpelukan.

“Kenapa kau tak ada di barisan pertama.”

“Maaf,” kata Lusy lirih, seperti berbisik.

Mady mengerti, Lusy memang sulit dipahami. Ia tersenyum dan menepuk-nepuk punggung kawannya perlahan. “Tak apa, aku tahu perasaanmu. Kalau kau tak keberatan. Ceritalah.”

Lusy mengangguk, tetap tanpa suara. Menunduk, pucat, lalu berlalu begitu saja tanpa penjelasan. Mady hanya bisa menghela nafas dan memandang punggung Lusy saat ia hilang di balik pintu taman belakang. Mady ingin sekali membuntutinya, tapi ia tahu sifat Lusy: paling tak suka ada yang menganggu kesendiriannya.

Lusy membanting pintu belakang cukup keras, tapi tak banyak menimbulkan suara karena pintu itu berbantalan karet. Lusy duduk di tangga nomor dua tepat seperti dua hari yang lalu bersama Suster Daisy.

Mengapa semua orang seperti menyembunyikan sesautu padaku?

Pintu di belakangnya, berdecit keras sekali memaksanya menoleh.

“Ups, ketahuan,” kata Mady, tertawa lepas.

Lusy hanya tertawa kecut, lalu kembali menatap kemangi yang tumbuh subur di mulut rawa.

Mady menggulung kardigan pinknya dan mengelus-elus lengannya yang terasa dingin. “Hm, kalau boleh tahu kau kenapa, Lusy?”

Lusy menggeleng, tanpa satu kata pun diucapkannya. Mady masih bisa mengerti di titik ini, tentang sikap tertutupnya, bahkan pada dirinya. Mady sudah berkali-kali merasakan hal ini, tak dianggap. Tapi ia tak perduli. Yang terpenting, ia harus bisa jadi penghibur disaat semua orang tak bisa menghibur Lusy.

“Aku tak tahu harus bercerita kepada siapa lagi,” sahut Lusy tiba-tiba.

Mady yang sejak awal melamun dan membuang pandangan langit yang hitam sontak menoleh. “Apa?”

“Beberapa waktu ini, banyak hal yang hinggap di otakku dan tak pernah mau pergi.”

“Contohnya?”

“Bisikan, puzzle Monalisa dan yang terpenting, Diary Clara Harrington?”

Mady seperti tersambar petir ribuan volt, lidahnya seketika kelu, kulitnya albino tak berubah sedikitpun ketika pucat. “Apa?”

“Ya, diary C-L-A-R-A  H-A-R-R-I-N-G-T-O-N, kau tahu siapa dia?” Lusy melakukan penekanan di tiap hurufnya.

Mady masih syok, telinganya ia tutup dengan tangan bersarung tipisnya. “Aku tak mau mendengar itu. Tidak.”
Mady berlari ke dalam panti, terdengar suara yang langkah yang menghentak-hentak dan di akhir beberapa barang pecah belah jatuh. Suaranya miris. Lusy hanya termenung menatap tempat duduk Mady tadi, tak berkedip untuk beberapa saat. Merasa bersalah, tapi ia tak mengetahui letak kesalahannya apa.

Kabut sudah mulai turun lagi, senja tergelincir ke dalam perut bumi kembali. Mady masih di dalam kamarnya, diam lalu berteriak, di dalam ada Suster Kepala menemaninya. Di depan pintu kamar Mady, Lusy tampak sama pucatnya, Mimi ia genggam erat, ia takut terjadi hal yang buruk pada Mady. Ia takut semakin dikucilkan dan dipersalahkan lagi.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Suster Daisy yang baru saja keluar dari kamar Daisy.

Lusy menggeleng, tak mau bicara, ia terlihat syok sama seperti Mady. Ketakutan.

“Lusy, katakan dengan jujur, apa yang sedang terjadi.”

Mendengar ucapan Suster Daisy yang menenangkan, Lusy jadi luluh. Ia mulai bercerita sambil meminum segelas kopi hangat yang diterimanya dari James. “Aku, menanyakan tentang Diary itu. Diary Clara Harrington.”

Para suster yang berkumpul disana kaget. Wajah mereka memucat satu persatu. Satu nampan berisi sup tomat kesukaan Mady yang dibawa Suster Daisy jatuh. Mereka semua seperti beku dalam satu momen terlarang. Hanya Lusy dan James yang tak mematung disana, semua suster yang mendengarnya saling memandang, takut.

Tamparan keras melayang mengenai pipi kanan Lusy. Tanpa pejelasan. Cukup keras sampai menimbulkan bekas merah disana. Di rona muka Suster Daisy tersirat titik kemarahan, Lusy tak tahu apa dan dimana letak kesalahannya. Itu membuatnya tak bisa menahan bendungan air mata yang sedari tadi hinggap.

Ia berlari ke kamarnya, menutup pintunya keras-keras. Di luar angin sudah mulai memakan kabut, tapi disana masih meninggalkan bekas-bekas putih terkesan angker. Dari kamar sebelah, masih terdengar beberapa kali teriakan Mady.

“Aku tak ingin mendengar nama itu lagi. Tidak,” suaranya yang melengking terdengar sama dari kamar Lusy.
Tangis Lusy semakin menjadi, terisak dalam selimut nilonnya. Di luar kamarnya masih sayup terdengar banyak langkah kaki, pintu kamar Mady yang dibuka ditutup berkali-kali. Seakan itu sebagai serenada ketakutan yang jadi momok dalam benaknya. Merasa bersalah sekaligus bingung dengan keadaannya saat ini. Siapa Clara Harrington? Lalu mengapa Mady dan suster-suster lainnya begitu takut dengannya?

12 komentar:

  1. saya koment pertama
    saya baca dulu ya kk takut tar salah koment hehe :D

    BalasHapus
  2. aku bener bener pengen mendalami karakter seorang lusy :3

    BalasHapus
  3. siapa sebenrnya clara dan apa hubungannya dengan mady, lalu kenapa lusy bisa mendengarnya.
    Wah dak kau telah menyeretku ke lembah penasaran wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau ingin tahu ikutin terus ceritanya bang =)

      Hapus
  4. Gak sabar nih nunggu kelanjutannya.. ^^

    BalasHapus
  5. aku belum baca yang kepertama dan kedua malah yang ketiga dulu. hahaha
    *menuju archives*

    BalasHapus
  6. karna gak baca dari awal jadi kurang ngerti jalan ceritanya.. Kayaknya Genre Horor gitu yo?

    BalasHapus
  7. Penasaran sama si Clara. Itu jangan2 ibu2 yang jualan pecel yang meninggal karena tersedak pecel.. atau jangan2 dia tukang kredit panci.. semua masih jadi misteri, hihihi..

    BalasHapus
  8. selalu penasaran sama setiap postingan ceritanmuu

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: