Sabtu, 18 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (05)

Fear | Taken with SONY DSC W220 Digital Camera


Hari ini Sabtu; satu hari dimana di Santa Mondega terasa sangat sepi dan membosankan. Lusy dan Mady hanya tertidur beberapa menit ketika mereka tersadar, hari ini adalah jadwal mereka menyiapkan makanan. Kantuk masih tersirat jelas di mata mereka berdua, suaranya parau. Percakapan singkat tentang buku Clara Harrington sudah menyita waktu tidur mereka, mereka tak bisa melanjutkan tidur mereka. Di Santa Mondega, peraturan tetaplah peraturan, dan suster-suster disini adalah suster yang mendidik anak asuhnya tentang kedisplinan. Ketat dan teratur, banyak hal baik yang dapat mereka pelajari dari Santa Mondega, meskipun hanya sebuah panti asuhan tersudutkan di Ben Hill yang selalu mengeluh kekurangan dana.

“Apa menu pagi ini, Lusy?” tanya Mady lirih sambil membuka-buka buku resep yang baru dibeli olehnya saat tur kemarin.

Lusy bergeming, ia masih melangkah jinjit diatas lantai dapur yang berdecit. Ia masih membuka lemari pendingin lalu menutupnya kembali, tak menemukan sesuatu untuk disulap menjadi menu pagi hari.

“Bagaimana kalau bubur kentang dengan kacang polong untuk topping-nya?” usul Lusy dengan mengeluarkan satu kaleng kacang polong besar yang masih tersegel.

Mady hampir saja menjatuhkan tumpukan mangkuk yang dibawanya karena kaget. Seketika kantuk yang masih lekat hinggap di matanya hilang. Matanya terbuka lebar, mendengar apa yang baru saja dikatakan Lusy. “Apa? Kau baru saja mengatakan apa?”

“Bubur kentang kacang polong, memangnya mengapa dengan menu itu?”

Tubuh Mady semakin gemetar mendengarnya kembali, “Apa?” Ia meletakkan mangkuk-mangkuk diatas meja dan berjalan gopoh kearah Lusy. “Apa kau tak salah dengan menu itu?”

“Tidak, tidak sama sekali. Itu menu favoritku ketika dulu masih tinggal dengan Ayah.”

Mady semakin takut, ia menelan ludah beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri. “Lupakanlah.”

Lusy mengangkat bahunya, tak perduli. Sementara Mady ia biarkan berdiri gemetaran di sudut meja sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. Tatapannya kosong. “Apa disana ada lada hitam? Bubur ini akan lebih nikmat jika dibumbui lada hitam.”

Mady hanya menggeleng, ia masih syok dengan perkataan Lusy barusan, tentang bubur kentang. Ini hanya kebetulan, ia terus mensugestikan kalimat itu diotaknya. Jam dinding di ruang tengah berdentang enam kali, sudah saatnya semua makan dan makanan yang masih hangat sudah tersedia. Suster Kepala yang pertama kali masuk di dalam ruang makan, masih mengantuk, ia membawa beberapa pakaian kering yang dijemur semalaman.

“Selamat pagi, Suster,” sapa mereka bersamaan.

“Selamat pagi, sepertinya sedap, apa menu pagi ini?”

Lusy maju selangkah dan mengatakannya dengan bangga, “Bubur kentang dengan kacang polong buatan Lusy, Suster.”

Ekspresi Suster Kepala sama kagetnya seperti Mady tadi, ia menjatuhkan beberapa tumpukan pakaian putih yang ia bawa. “Apa?” suaranya agak menjerit mengucapkannya.

“Iya, ini adalah resep buatan Lusy,” tambahnya menegaskan.

Suster Kepala menarik ke belakang satu kursi dan mendudukinya perlahan. Tubuhnya gemetaran. Mady sama gemetarnya, ia mengambil beberapa pakaian yang tergeletak di lantai. Suster Kepala memijat pelipisnya. “Apa kau menambahkan lada hitam sebagai bumbunya, Lusy?”

Lusy yang sedari tadi sibuk dengan tata ruang meja makan, langsung berbalik dan mengangguk yakin. “Iya, Suster, mau mencobanya?” katanya sembari menyodorkan satu mangkuk ukuran sedang dengan kacang polong yang dibentuk menjadi hati diatasnya.

Suster Kepala menggeleng dan masih memijat pelipis kirinya. Ia mendorong mundur mangkuk itu dan bangkit, mencari-cari kalender. “Hari ini, tanggal berapa?”

“23 Februari, Suster, mengapa?” gumam Lusy dengan lahap demi lahap bubur kentang di mulutnya.

Ekspresinya semakin meng-klimaks. Semakin takut, kaget yang bercampur padu. Dari lorong belakang terdengar langkah kaki yang menghentak setengah berlari, keluarlah James dengan Smurf biru di pelukannya.
“Suster, seseorang mengetuk pintu kamarku, ketika ku buka ia berlari sambil terkekeh ke arah ruang baca, suaranya mirip Lusy.”

Adrenalinnya semakin memuncak, “Kau hanya mengigau James, dari pagi tadi Lusy berada di sini menyiapkan sarapan bersama Mady.” Suaranya semakin terbata-bata. Ia takut akan sesautu, tapi ia tak ingin mengungkapkannya di sini dan saat ini.

“Sudahlah James kau hanya bermimpi buruk, kemarilah, aku membuatkanmu bubur kentang yang sangat lezat,” ujarnya lembut, Lusy melangkah mendekati James.

Di rona muka james masih tampak kaget dan takut terlebih untuk melihat muka Lusy yang membuatnya semakin paranoid. “Tidak, aku benci kau,” bentak James seketika ketika Lusy ingin menuntunnya kearah meja makan.

“Daisy, kemarilah bawa James ke kamarnya lagi, cepat,” perintah Suster Kepala dengan sangat panik.

Lusy sudah mulai tampak bingung dengan suasana pagi ini, terlalu aneh, semuanya terlalu diskenario. Ditambah dengan ketakutan yang tampak di wajah mereka semua—kecuali Lusy yang tampak tenang. “Ada apa dengan kalian?” teriaknya tak kuasa menahan emosi yang dari tadi dipendam.

Semua orang melihat kearah Lusy yang pipinya memerah, marah. Bubur kentangnya yang tinggal setengah ia lempar begitu saja ke atas meja dan terbelah menjadi dua. Ia tak perduli.

“Tenanglah, Lusy,” sahut Mady datar lalu maju beberapa langkah untuk menangkap tubuh Lusy yang goyah dan uring-uringan.

Lusy yang marah menepis tangan Mady kasar dan membuatnya terpelanting berputar hingga akhirnya berhasil berpengangan di sudut meja. Dengan kuat Lusy menggebrak meja kayu di depannya sehingga tangannya terjerembab masuk ke dalamnya. Meja terbelah menjadi dua.

Pisau dapur yang berada tepat di sebelah tangannya terlempar beberapa kaki ke udara lalu jatuh tepat pada tangan Mady yang berusaha bangkit. Mady menjerit sangat keras, membuat semuanya juga miris melihat kondisi ini, lalu jeritan-jeritan anak-anak lain menyusul.

Suster yang pada waktu itu berada di meja makan panik melihat tangan Mady yang sudah belumur darah. Menetes hingga ke lantai. Mady masih menjerit sambil menangis disana, pisau dapur itu telah menembus punggung tangan sampai telapak tangannya. Tangan kiri Mady serasa mati rasa, tak dapat merasakan apapun disana kecuali rasa nyeri dan ngilu yang teramat.

Suster Kepala sudah menangis terlebih dulu disana, tak bisa berucap sekata pun. Ia hanya menutup mulutnya yang menganga melihat kejadian mengerikan di meja makan itu. Perkataan yang terbata tak bisa didengar jelas oleh suster lain. “Lena, cepat bawa ke rumah sakit,” kali ini ucapannya terdengar jelas dan dua suster langsung bertindak.

Mereka berdua mencabut pisau yang menembus tangan Mady. Cukup sulit, pisau itu menancap terlalu dalam, Suster Lena dengan berani mengongkel-ongkel pisau itu keluar dari meja dan tangan Mady. Matanya terpejam tak mau melihat adegan mengerikan ini. Jeritan Mady sudah mencapai puncak, ia tak sadarkan diri saat  semua membopoh tubuhnya ke mobil dan pergi ke rumah sakit.

Semua orang berlari kebingungan keluar dan di meja makan hanya ada Suster Kepala dan Lusy yang sama-sama mematung. Lusy dengan tangannya yang masuk ke dalam meja dan Suster Kepala dengan tangisannya yang belum juga berhenti.

Sejarah telah berulang, hanya itu kalimat yang berputar di neuron otaknya. Tak ada apapun selain kengerian yang ada di pikirannya. Ia hanya memandang Lusy dengan ketakutan mendalam, akan sosok Lusy yang pernah tergambar jelas di masa lalunya, tepat di hari yang sama, di Santa Mondega, dua puluh tahun lalu.

“Aku kejam, Suster, sangat kejam,” intonasinya meninggi di ujung pernyataannya. Ia juga menangis, mukanya pucat pasi, tubuhnya terkulai di atas meja makan. Tangan Lusy juga berdarah karena kayu-kayu kecil serpihan meja yang terbelah itu menancap di pergelangan tangannya. Tapi ia tak perduli dengan sakitnya. Ia menganggap dirinya iblis.

Ia memberanikan diri untuk mendekati Lusy yang mematung di meja. Ia takut menyentuh Lusy, takut beberapa kajadian berikutnya akan terulang, sama. “Lusy, dengarlah.”

Mukanya tertunduk, tak berani menatap suster kepala, ia juga tak menjawab. Membisu.

“Lusy, dengar, ini sudah terlanjur dimulai. Kau harus menyelesaikannya. Dengan selamat,” ia mengatakannya tak cukup jelas, meninggalkan beberapa pertanyaan yang menggantung. Suster Kepala menyusul yang lain ke halaman depan, pergi.

Apa maksud semua ini? Apa yang sudah terlanjur dimulai? Lalu dua puluh tahun lalu, ada apa? Mengapa semua menjadi aneh di panti asuhan ini? Dan beberapa pertanyaan lain masih memberondong jalan pikiran Lusy yang terasa penuh. Ia tak mengerti, sama sekali tidak. Semua ini terlalu tinggi untuk dijangkau nalarnya, setidaknya untuk saat ini.

10 komentar:

  1. Kesan menyeramkannya nampak banget disini bang, masalah gadis dalam cermin mungkin... ntar deh kita chat aja hohoho xD

    BalasHapus
  2. aaakk dakaaa!! makin seru! tapi agak ngeri baca bagian tengahnya :p

    bodo ah, part 6 ditunggu! xD

    BalasHapus
  3. Ah makin penasaran aja nih.. Kejadian apa sih yg terlanjur dimulai ini..

    BalasHapus
  4. Mady atau maudy? kirai maudy?

    btw, knp gak dibukukan aja. menarik lho...

    BalasHapus
  5. suer buat tegang....saya tunggu part2 selanjutnya...

    BalasHapus
  6. afikaaaaa | iyaaa | ada yang baru nih | apaaa? | bubur topping kacang polong | hueeek
    hahhhaa
    serem deh, apalagi bayangin kau daka #eh

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: