Kamis, 02 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (01)

Dearest, the shadows I live with are numberless
Little white flowers will never awaken you
Not where that dark coach of sorrow has taken you
Angels have no thought of ever returning you.
Gloomy Sunday - Billie Holiday


Hujan di awal Februari adalah satu momok bagi setiap anak di Panti Asuhan Santa Mondega. Kilatan petir hampir selalu terjadi saat hujan di tengah malam. Jam dinding di ruang tengah masih bisa menembus rapatnya lorong-lorong dan kamar tiga kali empat yang terletak di sudut. Kamar Lusy Walter, gadis enam belas tahun penghuni kamar nomor 134 yang cukup besar dari kamar lainnya. Lusy bukannya tak memiliki orang tua, tapi Ayahnya yang hanya pencari kayu bakar di kampung halamannya yang membuatnya terkirim kesini.

Mata Lusy masih belum bisa terpejam ketika jam di ruang tengah sayup-sayup terdengar dua belas kali berdenting. Hujan di dua belas Februari ini sangat lebat, kilat masih menjilat-jilat terlihat terang di sudut jendela luar kamar Lusy.

Dari luar hanya terdengar beberapa kali jendela terbuka menabrak dinding akibat angin. Seseorang menutupnya hingga berdecit mengilukan telinga. Mungkin suster Daisy atau Mady, sahabatnya dari kamar sebelah yang berkali-kali insomnia karena hujan di Februari.

Lusy jenuh hanya membolak-balik badan diatas kasur, Ia duduk diatas meja belajarnya dan meraih beberapa buku yang terserak dalam gelap. Satu buku tebal dengan halamannya yang sudah menguning mungkin karena basah. Lusy menemukan buku itu tadi siang, di taman belakang—yang penuh dengan kemangi yang menyemak diatas rawanya. Ia mengambilnya dari belukar kemangi, tempat ia dan kesendiriannya beradu. Lusy bukan seorang yang suka dengan keramaian, ia adalah seorang penyendiri. Lebih suka bermain bersama ‘teman khayalan’-nya dan buku-buku di rak-rak ruang baca. Panti Asuhan Santa Mondega memang tak strategis, berada di sudut pedesaan dengan ladang gandum yang mengerubunginya. Hanya berpetak diatas tanah seluas 25 hektar.

Siang tadi, ia memungutnya dari gundukan kecil disudut taman yang terbuka, buku itu sudah ada disana ketika Lusy datang. Sebenarnya ia tak berniat mengambilnya, tapi dua rak penuh buku fiksi dan non-fiksi di ruang baca sudah pernah ia baca. Tak salah juga, pikirnya.

Lampu belajar 10 watt diatas mejanya ia nyalakan. Dengung dari mesin lampu itu tak terdengar ditutup oleh rinai hujan yang masih intens mengguyur. Lusy meniup debu tebal yang menyelimuti cover buku itu, buku dengan cover hitam sederhana dan hanya ada aksen floral vektor kecil di kanan bawah. “Tertanda, Clara Harrington,” tertulis rapih dengan tulisan tangan disana. Cantik.

Buku itu agak berat dan sulit dibuka, halamaa-halaman tebalnya sudah lengket untuk dibuka lagi. Saat Lusy akan membuka lembar pertamanya dari luar tiba-tiba Suster Daisy mengomel.

“Mady, tidurlah, sudah lewat jam satu malam dan kau masih bermain scrabble pemberian kakak tirimu. Lanjutnya besok pagi,” intonasinya jelas, terdengar agak berteriak.

Lusy gelagapan bukan kepalang. Jarak meja belajar dan ranjangnya cukup jauh beberapa meter, belum lagi lampu belajarnya yang cahayanya menyembul keluar lewat kolong pintu. Ia akan kepergok.

Gadis itu bergerak cepat menekan tombol off pada lampu belajarnya dan berlari jinjit ke ranjang. Langkahnya berdecit memberikan tekanan pada lantai kayu yang sudah cukup tua. Lima detik kemudian, Lusy sudah berada dalam selimut tebalnya dan membalikkan tubuh menghadap tembok. Untunglah.

Suster Daisy membuka pintu kamar Lusy perlahan, walau masih terdengar decitan yang keras. Ia menyelaraskan pandangan ke detil kamar Lusy, wajahnya tampak curiga. Ia melihat Lusy dengan nafas yang tersengal tidur diatas ranjang. Bukan tidur hanya berbaring.

Suster Daisy tersenyum, ia tak melihat lagi Lusy dengan mimpi-mimpi buruknya, dengan ‘teman khayalan’-nya yang menganggu tiap malam. Ia melihat Lusy dengan guling yang ia dekap, hangat. Berdecit lagi ketika Suster Kepala itu menutup pintu kamar, sebelumnya ia berbisik kecil sebelum pintunya benar-benar tertutup. Samar.
Menjelang subuh Lusy masih belum bisa tidur, hanya beberapa kali lupa dan tertidur lima belas menit lalu terjaga lagi. Di dalam neuron otaknya hanya buku hitam milik Clara Harrington—dan bukan salah satu anak asuh di panti asuhan ini.

Clara Harrington, nama itu terus berdengung di telinganya sampai cicitan pipit mulai menyeruak masuk ke dalam kamar. Lusy mengantuk, tapi hari ini hari Selasa dan sekolah masih menuntut untuk siswanya tetap belajar disana.

Ia bangkit dari ranjang sembari sedikit merenggangkan tubuhnya yang kaku akibat insomnia tadi malam. Mungkin ia tertular penyakit Mady, insomnia akut. Lusy membuka jendela kamarnya tak sabar dan membiarkan aroma pagi—sisa bau hujan, bau cemara dan bau bunga sedap malam—masuk menyapa setiap siia di hidung mungilnya.

“Selamat pagi, Key,” katanya.

Lagi-lagi ia menyapa teman khayalannya di pagi hari. Lusy sudah beberapa minggu selalu menyapanya disaat pagi, lalu mengajaknya bermain di taman belakang kala siang. Itulah yang membuat Lusy dijauhi oleh teman-temannya di panti, ia aneh. Suka tertawa sendiri ketika melihat pipit berkicau dan kadang menangis saat melihat senja.

Lusy mungkin keterbelakangan mental, usianya sudah meningjak enam belas, usia dimana remaja lain sudah berkutat dengan kutek dan teman kencan tapi Lusy hanya berkutat dengan boneka yang ia beri nama Mimi. Ia hampir tak punya teman di sekolah, walaupun begitu ia adalah bintan kelas dari kelas satu SMA. Itu alasannya kenapa suster-suster di Santa Mondega tak pernah memeriksakan keadaan Lusy, ia cerdas.

“Suster, dimana bukuku?” tanyanya.

Suster Daisy terlihat sibuk dengan puzzle yang berserakan di lantai. “Iya?” jawabnya dan ia menoleh.

“Buku tebal, berat yang ada di meja belajarku. Semalam masih ada disana. Sekarang hilang.”

“Oh buku itu, sudah Suster letakkan di tempat yang seharusnya,” katanya sambil tersenyum, terlihat dipaksa.

“Dimana?”

Suster Daisy menghela nafas, tak menjawab pertanyaan Lusy beberapa saat, ia masih sibuk dengan tumpukan puzzle yang kesulitan ia bawa. Lusy dengan sigap membantu membawakan puzzle-puzzle sebelum tubuh Suster Daisy kehilangan keseimbangan.

“Terima kasih, kau sudah makan Lusy?”

Ia tampak bingung, pertanyaannya belum dijawab. Lusy memang pembaca perasaan yang baik. Ia tahu saat Suster Daisy sedang mengalihkan pembicaraan. Tapi ia memilih untuk diam.

“Sudah Suster, beberapa Lasagna yang masih hangat di meja makan. Aku memakannya satu.”

“Bagus.”

Suster itu mengelus beberapa kali rambut cokelat Lusy lalu berlalu dan hilang saat berbelok ke ruang baca. Lucy masih dengan kernyitan dahinya, pertanyaannya masih digantungkan oleh Suster Daisy.

“Ya, Key? Apa? Kau tahu dimana buku itu?” tanyanya, berbicara sendiri lagi.

bersambung...

28 komentar:

  1. harrington, kayak nama font di kompiku. jadi pengen makan beef lasagna haahahhaa lanjuuut daka *.*

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau buat cerbung yang westernisasi :D bwahaha, di pizza hut sono #lah emang ada? bwahaha

      Hapus
    2. aku buat sendiri dong, lengkap dengan fettucini yummmyyyyy :9

      Hapus
  2. keren dak... semoga bukan mingguan lanjutannya

    BalasHapus
  3. baca2 dulu ya sob,panjang bgt nih,oh ya saran saya spasinya ditambah dikit biar kebaca and gak sakit mata bacanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu udah kasih spasi satu di blog bang, rada susah ngasih spasi yang agak lebaran soalnya kalo pake dua spasi kelebaran -_-

      Hapus
  4. sastranya lezat, emosinya ditambah dong, biar greget. hihhihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan ini cerbung, lagipula ini masih awal kan mbak =)

      Hapus
  5. Seperti biasa kata2nya itu loh, numero uno.. Apa yang disembunyikan suster itu? hmm.. kayaknya perlu detektif Ujang nih, haha..

    BalasHapus
  6. Kamu mau buat cerbung yg berkesan barat, disini udah mulai terasa kesan itu bang, bagus. ^_^ Anyway, masih bersikukuh utk weekly concept? :p Jangan dong! hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya weekly conceptnyaa... Hmm.... *mati*

      Hapus
    2. Muahahahaha :)) Lebih baik lupakan weekly concept itu bang :p

      Hapus
  7. ninggalin jejak dulu mau ngebaca lebih jelas lagi, sepertinya ini yang kurang ane pahami dari yang dulu"

    BalasHapus
  8. good, gaya bahasanya udah kayak nopel terjemahan. dari semua cerbungmu, aku paling suka yang ini.

    BalasHapus
  9. hmmm... penggambaran karakter seorang gadis yang kesepian dapet banget.. gue bisa ngerasain.... mantaaap!!!

    you're such a talented!! :)

    BalasHapus
  10. lucy...jadi inget film narnia
    =D
    hayo, lanjutanny mn?

    BalasHapus
  11. serasa baca novel terjemahan :D kewreeen bang daka!

    di tunggu lanjutannyaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe :D selamat membaca.

      kelanjutannya nggak lama kok :D

      Hapus
  12. coba ini novel .. aku bakalan nunggu tiap chapternya :3 ayo kak , cepetan di lanjutinnn ><

    BalasHapus
  13. hahaa.
    imajenasimu tingginya gak ketulungan!
    bener kata emel, serasa baca nove terjemahan! :D

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: