Jumat, 17 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (04)

Old friend, why are you so shy?
Ain't like you to hold back or hide from the light.

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.



Someone Like You - Adele



Di dalam kamar Lusy, jendela ia biarkan terbuka. Anginnya tak sekencang tadi sore, semilir, cukup membuat linang air mata Lusy membeku di pipi. Sudah dua jam ia hanya memeluk kedua lututnya di depan jendela. Menangis. Ia menyalahkan dirinya  atas semua yang terjadi pada Mady. Tapi, saat ini ia tak tahu, dimana letak kesalahannya.

Di kamar sebelah sudah agak lengang dari dua jam yang lalu. Hanya beberapa langkah kaki mondar-mandir yang menggertakkan lantai kayu masih lirih terdengar. Mungkin Mady atau juga suster yang masih berusaha menenangkannya.

Aku tak bisa jika hanya berdiam disini, aku harus menyanyakan letak kesalahanku dimana. Kalaupun tak ada yang memberi tahu, aku akan mencarinya sendiri. Harus.

Dalam lamunannya, Lusy mengumpulkan tekad dan keberanian untuk keluar kamar dan menengok Mady. Masih ragu. Ia sudah bangkit dari tempatnya duduk tapi enggan untuk melangkah keluar kamar. Takut.

Pintu kamar Lusy dari luar di ketuk. Lusy menoleh, di luar sudah gelap berarti sudah tidak ada lagi yang terjaga di malam selarut ini, kecuali, Mady. Insomnianya kambuh lagi.

“Siapa?” tanya Lusy lirih.

Suara itu menggumam, tak jelas.

“Siapa?” tanyanya ‘tuk kedua kali.

“Mady, bolehkah aku masuk, Lusy?”

Lusy terperanjat dari kuda-kudanya. Kaget. Mady tak marah, pikirnya. “Tunggu sebentar, Mady.”

Pintu kamarnya dibuka dan segera mempersilahkan Mady masuk. Muka mereka masih bengkak dan sembab, berkantung dan memerah di ujungnya. Mereka saling menertawakan diri masing-masing.

“Jadi kau menangis?” kalimat itu keluar dari mulut mereka bersamaan, lalu tertawa lagi.

“Maaf, aku sudah membaut kau menangis.”

“Tak apa Lusy itu bukan salahmu. Maksud kedatanganku kesini juga ingin membahas tentang ‘jangan-sebut-siapa’.”

“Maksud kamu, Cla—“ Lusy menutup mulutnya dengan tangan cepat-cepat, tak ingin kejadian itu terulang lagi.

Mady menggeleng, merapatkan sweeter hijau pemberian suster Daisy yang baru selesai dirajut. “Bisakah kita menutup jendela itu? Ini terlampau dingin buatku.”

Ia lakukan itu, mereka masih dalam dua tatap mata hangat, mencoba saling mengerti satu sama lain. Walau mereka sama-sama menyimpan rahasia yang sama. Apapun itu, mereka tak pernah mengerti.

Lusy merapatkan sweeter tebalnya, musim gugur sudah memasuki pertengahan, sebentar lagi liburan musim dingin dan mereka sama-sama tahu, ini adalah tahun-tahun terdingin di Ben Hill sementara banyak mereka yang memutuskan hengkang untuk keluar dari  Ben Hill mencari udara hangat.

“Lalu, soal buku itu, maafkan aku,” celetuk Mady tiba-tiba.

Lusy beberapa kali shock mendengar tentang buku itu, takut sahabatnya takut lagi dan seperti itu lagi. Ia hanya tak mau terjadi apa-apa lagi karena dia. Ia tak mau dipersalahkan lagi. Terlebih tentang buku, bisikan dan hal-hal lain yang terasa membingungkan.

“Aku tak mau membahas itu lagi,” jawabnya sambil memalingkan muka ke rak buku di sudut kamarnya.
“Bukan, kau harus tahu sesuatu tentang buku itu.”

Lusy mulai penasaran dengan pernyataan Mady baru saja, tentang buku itu. Apa yang tersimpan di balik buku itu, pikirnya.

“Tentang apa? Bukankah buku itu bukan milikku?”

“Ya tetapi, buku itu telah memilihmu, Lusy.”

“Memilihku?”

“Iya, memilihmu. Dan sekarang kamu sudah siap untuk mengetahui semuanya.”

“Semuanya? Jangan membuatku penasaran, cepat katakanlah.”

Mady mengangguk, tak yakin, tetapi ia harus segera melakukannya karena buku itu tak bisa lama menunggu, ini juga sudah terlalu lama. “Buku ‘jangan-sebut-siapa-dia’ adalah buku keramat, buku itu sudah berusaha di bakar, di sembunyikan bahkan di jual ke beberapa pengoleksi barang antik. Tapi seberapapun suster-suster disini mencoba buku itu terus kembali ke tempat yang sama.”

Mata Lusy terbelalak, takut. Lidahnya sudah kelu sedari tadi dan di ujung-ujung bibirnya juga memutih beku. Lusy tak ingin banyak bicara di saat-saat ini, semua sudah terlalu membingungkan di otaknya yang lelah.
“Lalu, apa maksud semua ini? Mengapa ‘jangan-sebut-siapa-dia’ memilih aku?” tanyanya tergesa-gesa.
“Entahlah, kita semua tak pernah tahu jalan pikiran ‘jangan-sebut-siapa-dia’.”

“Lalu, apa hubungannya denganmu? Mengapa kau begitu takut dengan nama itu juga  suster-suster di Santa Mondega ini?”

Mady tersentak, suaranya menggantung di ujung tenggorokannya. Seperti tersedak sesuatu sehingga ia tak bisa membicarakannya sekarang. “Sudahlah, kau akan tahu pada waktunya, Lusy.”

Dahi Lusy mengernyit, Lusy memang seorang saguin yang tak pernah mau menunda pekerjaan, selalu yakin tetapi terkadang ia merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya, ia merasa semua yang dilakukannya ‘salah’. Sulit ditebak.

Mady menarik tangan Lusy dalam genggamannya, menguatkan ia bahwa semua ini tak sesulit yang dipikirkan Lusy. Meski Mady tak pernah tahu apa yang dipikirkan Lusy akhir-akhir ini, tentang bisikan di makan malam, tentang buku itu dan tentang semua yang aneh di Santa Mondega. Lusy hanya memendamnya sendirian.

Lusy tampak pening, mukanya memucat pasi. Semua penjelasan ini tak membuatnya semakin mengerti, malah sebaliknya. Percakapan ini sudah terlalu pagi untuknya dan Mady dan dirinya. Di luar jendela kabut sudah mulai turun dan cahaya pagi sudah mula tampak membiru di ujung lembah sana. Lusy masih bersandar di pinggang ranjangnya dan Mady sudah dihinggapi kantuk dari beberapa menit yang lalu. Untuk beberapa detik mereka saling diam, tak ingin memikirkan tentang buku itu atau tentang hal lain yang memusingkan. Sejenak bukan selamanya kabur dari semua ini. Karena mereka telah terpilih.

25 komentar:

  1. Misterius bang, seperti biasa ceritamu selalu menggantung dan bikin penasaran, kalau minggu depan keluar lanjutannya, lebih panjang dari yg ini bang! hohoho jempol! ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, udah gak setiap jumat, ah, berarti bukan minggu depan, tapi secepatnya bang muahuahua =))

      Hapus
  2. membaca cerbungmu ini seperti membaca goosebump atau fear street. Menegangkan. Hebatnya lagi kamu bisa menulis ending yang bikin penasaran disetiap akhir partnya. Keren dah. Kalau bisa kalau udah selesai semua, kirimin pdfnya ya hahahaha :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau masalah pdf its okay lah bang, tapi sayangnya saya nggak tahu gimana cara ngebuat pdf hahaha

      Hapus
  3. aduhai daka, daku merindukan postingmu :">
    padahal daku jarang komen ya? :p

    postingnya makin lama makin bikin geregetan. seruuuuuu xD
    saya seperti sedang membaca novel horor fantasi #eh -_-
    buruan bikin lanjutannya ya qaqa xP

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha dika plis update yaaa :D #eh
      haha jadi sudah berhenti jadi silent reader nih dika?

      alhamdulillah, besok insyaallah bagian kelima nya :D

      Hapus
    2. ecieee #plak
      iyadeh ntar Insya Allah update.
      kmrn dpt tugas cerpen sastra dr sekolah. ntar hasilnya aku postlah :p
      ngahaha iya. udah pensiun jd silent reader. baru sadar setelah dirimu memutuskan untuk hiatus kmrn :p #eh wk

      Hapus
  4. yahh saia ketinggalan cerita :(
    kayanya seru nih..

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. aaaah saya juga takut melihat yang atas takut -_-"

      Hapus
  6. Ini udah tamat ya? ah jadi penasaran dengan jangan sebut siapa dia ini..

    BalasHapus
  7. halo salam kenal.kebetulan saya hobby baca.maka iinkan saya memborkmark halaman ini(*mau baca mata dah layu_heee)

    BalasHapus
  8. pas baca cerita ini rasanya gw pengen ngambil novelnya trus langsung dipantengin ampe abis... biar ngga penasaran...
    *buru bikin novel bang..

    misterius buku itu sumpah bikin penasaran..

    BalasHapus
  9. bang, kok bikin penasaran mulu sih?--"
    lanjutiiiinnnnn

    BalasHapus
  10. baru baca ini cerita !
    bikin penasaran tapi sukaa :D

    BalasHapus
  11. bagus bang Daka, ditunggu lajutannya :D

    BalasHapus
  12. yang ke LIMA MANA :O
    aku nunggu yang ke LIMAAA ! AYO BURUAAN :3

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: