Minggu, 09 Oktober 2011

Menunggu Mendung

Starfruit Tree, Ngaglik, Surabaya | Gloomy Sunday

                "Hei lihat sekarang mendung," teriak lelaki dengan kucuran peluh yang membasahi dahinya.
               Temannya mendongak ke arah langit lalu kembali membanting pandangan kearah tanah yang sudah lama kering.
Ia menyepak-nyepak tanah lalu berkata, "Inilah saatnya untuk kita beristirahat, kawan."
                "Benar kami sudah lelah Tuhan, sangat lelah," sahut kawannya sambil tetap mendongak ke angkasa.
                Dan inilah saatnya aku bisa menangis, ketika sedikit demi sedikit hujan membasahi tanah kami ini, inilah saatnya kami bisa menangis, diantara hujan dan dengan begitu mereka tak bisa melihat betapa rapuhnya kami, pikir lelaki yang satu dengan tetap memandang ke debu diatas tanah yang ia pijak.
                Dan mereka tetap menunggu, selalu menunggu,
                Lalu mati dalam keputus-asaan menunggu mendung..

saat suhu kamar semakin menurun
saat emosi memuncak
di depan jendela, merangkul lutut,
menunggu mendung

7 komentar:

  1. Di sini juga mendung. Tapi hujan sudah turun di perawalan Oktober yang lalu. :D

    BalasHapus
  2. hebat :) kak , puisinya di bukukan aja :D

    BalasHapus
  3. prosanya bagus dan menyentuhh, jadi inget sama teater entah kenapa :(

    BalasHapus
  4. disini juga mendung kawan... hehee

    dalem banget kata-katanya.. ^_^

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: