Minggu, 30 Oktober 2011

Alibi

Ternyata sudah sangat lama, saya tidak menjamah rumah digital saya ini. Maaf teman, saya memang tidak bisa seaktif dulu, mungkin juga satu minggu hanya satu dua kali posting. Kesibukan di dunia nyata yang membuat blog ini tidak bisa terupdate selalu. Tetapi, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, saya harus posting.

Baiklah, untuk postingan pertama setelah vakum panjang ini saya ingin memposting salah satu puisi buatan saya yang akan jadi lirik lagu band kelas saya, ya tidak usah bertele-tele. Puisi ini bertajuk Alibi.



pernahkah kau membuka mata?
dari kita yang selalu dibutakan,
oleh tahta penguasa
menjadi sebuah manusia boneka
dikendalikan untuk diperbudakkan.


pernahkah kau menyingkap telinga?
dari jeritan-jeritan luka,
menitih benang merah diatas alibi pemerintah
untuk segelintir dirjen-dirjen nakal
mengorbankan kaum marginal yang sejatinya dipeliara negara


oh.. alibi, alibi, alibi.


pernahkah hidungmu menangkap bau?
bau busuk dari tikus-tikus itu.
tikus got yang dipelihara negara,
tikus-tikus yang hobi merapatkan undang-undang,
yang digaji tetap tiap bulan, lima juta bahkan lebih.
kurang? kurangkah gajimu? sehingga kau menilap seluruh hak kami?
uang negara, pajak, sampai anggaran belanja negara?
dan itu mengalir, ke kantung-kantung tikus itu, yang tak berdasar.
menjadikan ia sejahtera diatas derita rakyatnya.


oh, pembodohan...


kepada penguasa, tidak punyakah rasa? untuk sedikit memberi air mata iba. kepada kami, yang setiap hari mengemis.
untuk mahasiswa yang melulu berorasi di depan gedung-gedung persembunyianmu.
sesungguhnya mereka tahu, kau tuli, kau buta dan kau berdarah dingin.


kini haruskah kami pasif?
haruskah kami apatis?
mana bukti nyata pluralisme yang kau junjung tinggi, saat kampanye dulu, saat gembar-gembor janji manismu dari mulut pembohongmu?


hey, penguasa...
haruskah kita ulangi, pemberontakan yang sudah dicatat sejarah senja itu?


hey, kami terpelajar,
kami juga terbodohkan,
kami dibungkam, oleh suap-suap yang tak bisa kami tolak?
salah siapa? coba pikir, salah kami? salah kalian? atau malah salah Tuhan?


sekarang, sudah hilang payung-payung tempat kami berlindung.
hukum yang kau jadikan garis besar haluan negara?
hanyalah tabir semukah?
entahlah, kami ingin mati, daripada hidup diatas pisau bermata dua.


lebih baik kami begini,
berteriak sampai mati, menkritik seperti tak punya hati, toh akhirnya kami juga mati...


bagaimana menurut teman semua, kritik dan saran terbuka lebar di kolom komentar. Terima kasih.

8 komentar:

  1. lagunya berarti panjang banget dong daka?
    Mereka memang sudah kehilangan urat malunya,sudah ditulikan kekuasaan.

    BalasHapus
  2. eheemmm.. cieehh secara ga langsung udah jadi pencipta lagu donk kamu? sukses yaa dekk ;)

    BalasHapus
  3. jd pengen denger dah tuh kayak gimana musiknya tuh puisi kalo dibikin jd lagu??
    smoga suara jernih dari hati yg belum keruh bsa didengar oleh mreka ya bro..
    :)

    BalasHapus
  4. beeeeeeh kata katanyaaa,seep daah harus belajar banyak dr lu kayaknya,oke bgt pemilihan kata katanya,puitis abis ;)

    BalasHapus
  5. hahaha, keren lagunya, frontal, lain kali bikin lagu yang beginian, lumayan kan beberapa baitnya dijadiin status.

    BalasHapus
  6. Kereeen mas rizki, bisa juga dibuat musikalisasi puisi :)
    top markotop pokoknya! Wkw

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: