Tampilkan postingan dengan label Momments. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Momments. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Ai

"Mungkin kalau Ia punya satu saja kesempatan memilih kehidupan. Tentu tidak akan memilih kehidupan seperti yang Ia jalani kini."
BASED ON TRUE STORY

Senin, 30 Juni 2014

Sekilas

-BASED ON TRUE STORY-

“Eki, ayo tarawih, sudah azan...,” suara itu menggantung di ruangan lima kali lima tempat aku melihat seorang bocah lelaki kecil duduk manis di sofa hijau bermotif bersama rapido hitam dan buku bergaris kosong.

“Eki...,” panggil suara itu lagi.

Tanpa satu kata terlontar dari mulutnya yang mungil bocah kecil itu berdiri sambil mendengus kesal. Ia berlari ke arah perempuan dengan mukena putih yang jalannya agak pincang dan bungkuk. Aku tak dapat melihat siapa dia, dia membelakangiku, kemudian berlalu pergi bersama bocah itu.

Minggu, 22 Januari 2012

Kita

Gembok | Disanalah, kita menyimpan rapat cerita kita
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Pixlr-o-matic editing 
- BASED ON TRUE STORY -
"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya." Refrain, Winna Efendi.

Rabu, 04 Januari 2012

25, 12, 2011: The Death Came (R.I.P Ben Breedlove)

Benjamin Daniel Breadlove atau biasa dikenal dengan Ben Breedlove, seorang video blogger di youtube yang lahir pada 8 Agustus 1993 yang beberapa waktu lalu eksis dengan videonya yang bertajuk "This is My Story". Ada dua bagian di dalam video ini, Part 1 dan Part 2, bagian kedua videonya dirilis 18 Desember 2011 tepat 7 hari sebelum kematiannya saat natal.

Di video itu diceritakan lewat note card yang ditulisnya, ia adalah seorang penderita Hipertrofik Kardiomiopati, sebuah penyakit kelainan otot jantung yang membuat jantung sulit memompa darah dan akan menyebabkan gangguan pada jantung. Diaknosa awal dokter terhadap Breedlove adalah Ia tak akan bertahan melewati masa-masa remajanya. Miris Bukan, dan yang lebih ironisnya lagi diagnosa dokter itu benar.

Breedlove menjelaskan dalam videonya, "Aku tiga kali bertemu dengan kematian". Ya Breedlove memang tiga kali 'menantang' kematian karena kondisinya. Ia menceritakan dalam videonya tanpa berbicara hanya menunjukkan deretan notes yang ia tulis tangan lalu ia tunjukkan pada layar.

Part 1 menurut saya adalah Part yang paling 'menakutkan' ya saat Breedlove menunjukkan bekas jahitan lebar di bagian dada kirinya, terlihat masih memerah dengan kulit bulenya yang putih. Ia menceritakan setiap kali ia 'menantang' kematian ia melihat cahaya putih di suatu ruangan tanpa dinding hanya cahaya. Menurut saya ini adalah sebuah pertanda.

Breedlove sepertinya sangat menghindari kata 'menantang maut' ia lebih suka menyebutnya "I Cheated the Death", Aku menipu kematian. Dan Ia menurut saya orang yang cukup beruntung dapat selamat dari maut sampai tiga kali. Beberapa diantara orang-orang seperti ini bahkan tak memiliki kesempatan lebih.

Mungkin, Tuhan ingin menyampaikan pesan lewat Breedlove bahwa hidup itu tak perlu didramalisasi, hidup ini adalah sebuah perjalanan yang akhirnya akan kembali kepada kematian. Mungkin Tuhan ingin memberikan semangat kepada 'mereka' yang sama seperti Breedlove yang masih berjuang atas hidupnya, tak perlu patah semangat, Tuhan masih memberikannya waktu untuk tersenyum untuk menipu kematian seperti Breedlove.


"Do you believe in Angels or God? | I do"
Ben Breedlove, This is My Story Part 2

*****

Satu fiksi mini dari saya untuknya, Ben Breedlove:

"Apakah kau percaya dengan Tuhan?"

"Tidak, kalau ada kenapa ada orang sepertiku?" katanya sambil menunjuk ke arah dada yang baru selesai di operasi kemarin.

"Inilah jalan Tuhan, Kawan."

"Apa? Membuatku bertemu kematian berkali-kali?"

"Ya, dengan itu kau akan bertemu dengan-Nya dan kau akan percaya bahwa Ia ada."

Keduanya terdiam dalam kebekuan tentang Tuhan. Di tengah senja mendekap mereka dalam satu harapan, kembali bertemu Tuhan.

*****

Dan ini videonya,
THIS IS MY STORY (PART 1)



THIS IS MY STORY (PART 2)



Desember 25, 2011: Rest In Peace Ben Breedlove
"Aku percaya, saat ini kau sudah bertemu dengan malaikat-malaikat dan Tuhan."

Rabu, 07 Desember 2011

Tinggal Setengah

Shoes | Taken with Digicam SONY DSC-W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Dio menyentuh tangannya lembut, mengecupnya, mendekapnya dalam satu pasang mata yang menatapnya lekat. Dio tak ingin ia pergi, ia ingin tetap tinggal, bersamanya.

“Sudah hampir setengah,” katanya hampir menyerah.

Perempuannya tersenyum sambil mempererat genggamannya, “Masih ada—“ kalimatnya dibiarkan menggantung.

Dio menyimpulkan senyumnya, entah tersenyum atau meringis? Ia merasakan tangan gadisnya tetap menggenggam tangannya erat, jalan fikirannya berubah. Ia ingin pergi, bukan ingin tetap menahannya disini, ia ingin sendiri menikmati hidupnya yang hampir habis.

“Sudalah, aku ini akan menjadi sampah, sayang.”

“Bukan, bukan sampah. Kau permata.”

“Jangan menghibur. Bersikaplah realistis, pergilah,” katanya terbata-bata.

Kekasihnya tadi semakin pucat, ia menatap Dio dekat, merasakan sakit yang dipendam dalam raganya. Ia ingin mengambil setengah sakitnya bukan malah merenggut setengah jiwanya karena kepergiannya.

Dio merenggangkan genggamannya, ia seperti sudah menyerah. Hampir menyerah. Jalan fikiran mereka sudah bersimpangan, walau mereka berdua tahu mereka ingin yang terbaik untuk pasangannya masing-masing. Tapi salahkah? Salahkah bila Tuhan membuat jalan mereka begini, berpisah dalam satu scene yang meluap-luapkan air mata. Tidak Adil.

“Sayang, sudah lebih dari setengah,”

“Mentari belum mengoranye sayang, kita masih punya banyak waktu.”

“Bukan, aku yang membuat senja, aku yang mendatangkan gelap.”

“Tidak, aku percaya setelah gelap akan ada kembali mentari yang terang.”

Dio tersenyum. Pandangannya mulai nanar, ia mengernyitkan dahinya. Sakit. Ia mencoba menyembunyikannya dengan tersenyum. Lampu-lampu rumah sakit membuat matanya silau dan akhirnya cahayanya meredup, semakin redup dan gelap. Tinggal gelap.

Mereka berdua saling berpandangan sejenak, lalu saling membuangnya. Mereka rapuh. Mereka sudah hampir berada di satu sisi persimpangan yang jauh berbeda. Yang tak bisa diraih lagi, tak dapat saling melihat lagi.

Kekasihnya terpejam juga, menikmati desir-desir lembut tangan kekasihnya yang lemas. Ketika ia membuka mata, ia melihat Dio diam, entah hilang atau masih terjaga. Tapi yang masih bisa ia lihat sampai nanti adalah senyumnya. Senyumnya yang tinggal setengah.

Ditulis saat bayangmu tinggal setengah
saat hadirku hanya setengah
dan mati di akhirnya

Kamis, 17 November 2011

Yang Terselamatkan

Tersibak. Untuk ia -- untuk lantunan ayatnya. Menikmati hembus nafasnya, dingin, gemetar dan rapuh. Kini, hampir hilang, tapi terselamatkan. Ia, hidupnya, untuknya; hidupku kupersembahkan.

Untuk nenek, di Rumah Sakit
untuk yang kedua kalinya.
Beliau drop, dan kini lagi.
Longlife dan Get Well Soon Gramm

Jumat, 11 November 2011

11:11, 11-11-2011

Sebelas | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Hari ini, saat detik dan menit berdampingan, sebelas dan sebelas. Ketika hari, bulan, dan tahun pun melenggak bersamaan. Juga sebelas, sebelas dan sebelas. Saat itu, aku sendiri menikmatinya, stigma indah, paradigma harap. Untuk lorong waktu yang tak berujung. Aku berdoa, untukmu kawan...

ditulis bersama kawan, bersama merayakan
sebelas, sebelas dan sebelas
ketika banyak cinta berlabuh diantaranya

Kamis, 10 November 2011

Untitled

"Benang Merah"  | Taken with DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Aku, kamu dan mereka. Dalam satu benang merah. Kami, dirimu dan semua. Kita membela, kita bersumpah dan kami merdeka. Darah dan senjata, hanya itu yang kini tersisa. Untuk dia, untuk darahnya, untuk jasanya. Kami, hari ini mememorikan semua. Dalam satu ikrar, ikrar Indonesia...

Selasa, 08 November 2011

Anekdot

"Yellow" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoshop
Deretan klise waktu; lucu, miris, menegangkan. Menderu-biru diatas warna hitam dan mengharu-sendu dibawah haribaan warna putih.  Melintas halus menerobos ruang asa, menemukan pralambang sarkasme. Diatas derita. Dalam anekdot menggelitik; kuning, hitam dan putih.

Senin, 07 November 2011

Melankolis (Gadis Ungu)

"Frida" | Taken with CamDig SONY W220 CyberShot | Editing by Photoshop
Melankolis. Masih hidupkah? Menyemikah? Entah, lenyap mungkin. Sebuah paralagu dalam serenada hidup, kuselipkan ia dan kelopaknya. Tapi kini, bobrok. Entah, apa yang kutulis, ketidak-jelasan. Tak terarah abstak namun absurd. Kuputar waktu, kutemukan kembali, dalam potret wajah ia, gadis ungu. Melankolis.

Minggu, 06 November 2011

Kemenangan: Dua

dan ini hasil peluh kami selama ini
Dua, tetapi yang pertama. Untukmu, untuk kita, untuk tim ini. Hal-hal yang semula mimpi, hari ini menjadi membumi. Dua, untuk satu kemenangan.

Aku ingat, saat-saat kita harus merelakan fisika, waktu kita melalaikan kimia sejenak, untuk sekedar meleburkan ide bersama. Karena aku idealis, karena kau perfeksionis dan kamu oportunis, itu dan hanya itu yang membuat tim ini kalis.

Dan masih segar memoriku, tentang pagi itu, pagi saat kita sibuk menyiapkan batik yang tak jadi kita kenakan, saat kita saling berkomunikasi "sedang apa dan dimana?" "ayo" dan "cepatlah". Ketika kita mulai mengerjakannya, sebuah maskot mungil buah ide kita, sang idealis, perfeksionis dan oportunis.

Ini yang kami dapat persembahkan, angka dua dan sebuah titel juara. "Kami juara dua," mungkin seperti itu lugasnya dan kami tak ingin membusungkan dada terlalu, karena ini awal, bukan epilog dari cerita tim kami.

Untuk Indonesia, untuk Surabaya, untuk sekolah tercinta; SMA Negeri 7 Surabaya, untuk kelas terindah; Sebelas IPA Dua dan Sebelas IPA Satu. Kami maju, kami bersinar hanya untuk mengharumkan. Cerita SMA.

Walau hanya dua, kami patut bangga, karena kami tunas-unggul bangsa. Selamat, selamat dan selamat untuk kami semua. We are best team ever:

Andaka Rizki Pramadya
Raymond Andreas Soebijantoro -- peranakan Indonesia.
Ditulis ketika perasaan ini terlampau bahagia, ketika tangan ini gemetar menggenggam kemenangan, sebuah ajang desain maskot yang kami juarai, dua, juara dua. Ini sebuah apresiasi saya untuk kemenangan kami, untuk sekolah kami, untuk kelas kami dan untuk semua orang yang mendukung kami.
Secuil klise abadi untuk tim kami:

Senin, 10 Oktober 2011

For Inggit: Lavender

Ia menatap kedepan menerawang pandang ke hamparan lavender keunguan yang sedang merekah. Ia tersenyum dengan kacamata-nya yang ikut tersenyum, angin yang memainkan helai demi helai rambut ikalnya membuat ia semakin terbawa ke angkasa. Ia merentangkan tangan sembari kedua tangannya menyentuh pucuk-pucuk lavender yang sedang bercumbu bersama deru angin. Lalu ia merenung, muram dan kosong, ini hariku, hari bahagiaku, tapi aku tetap sendiri, tanpa seorang pun menemani, inikah takdirku, Tuhan?

Lalu angin seakan berontak dengan isi hatinya, ia semakin berhembus kencang, semakin kencang lalu mereda bersamaan dengan benda halus yang menteyentuh ujung hidungnya. Ia tersentak lalu membuka matanya perlahan. Pandangannnya nanar beberapa detik dan kemudian jelas. Ia melihat seorang pemuda tersenyum padanya sambil memberikan ia sepucuk lavender yang baru mekar, ia suka lavender itu, sebuah lavender mungil spesial berwarna biru yang berbeda dengan lavender-lavender lain di padang itu.

"Untukmu," kata pemuda itu lalu tersenyum kecil.
Gadis itu membalas senyumnya dan meraih lavender spesial itu dari tangan lelakinya, "Dan kau tak perlu bersusah payah memetik ini diatas puncak kerinduan, aku hanya butuh seikat ucapan dan segumpal memori yang masih kau simpan—” kata-katanya menggantung.
“Tapi dengan tanganku yang rapuh, aku hanya bisa merengkuh sekuntum lavender cacat yang juga rapuh seperti ini,” timpalnya kepada gadis itu sambil menatapnya dalam.
Mata mereka saling bersinkronasi, ada sebuah rindu diantara mata hitam dan cokelat mereka yang saling mengadu. Mereka menyatu.
“Tapi, bukankah ini sebuah kuntum sempurna diambisi terakhirku.”
Lelakinya terdiam.
“Aku tahu, tak perlu sebuah lavender cantik nan sempurna untuk mengapresiasikannya, yang aku butuh hanya sebuah kilasan ingatan yang masih selalu kau ingat di hari ini, hari istimewa bagiku, jugakah bagimu?”
“Tentu, sendiri aku hanyalah sebuah kelopak lavender tanpa mahkota dan kau hanyalah sebuah mahkota biru mungil yang tak kunjung merekah—“ mulut lelaki itu ditutup jari telunjuk gadisnya.
“Biarkan aku yang melanjutkan.”
Lelakinya mengangguk.
“Dan bila kita bersama, kita adalah lavender indah yang sempurna dengan kelopak biru yang berbeda.”
“Seperti kasih kita, membiru diatas kerinduan di awal mula perjalanan dan berakhir di ujung penantian semu,”
“Dan kita adalah, sebuah biru lavender yang akan merekah diujung musim semi.”
Lalu mereka berdua menutup mata dan kembali ke dunia masing-masing; kenyataan yang tak semudah dalam fiksi mini yang tersutradara.

THIS IS DEDICATED TO: Inggit Puspita Riani a.k.a Inggit Inggit Semut,
Happy Birthday, semoga hadiah ini bisa menjadi hadiah terindah di hari jadimu yang ke-17

Terima kasih, sudah bisa menjadi kakak, sahabat dan teman yang baik untukku,
dan maaf aku hanya bisa memberikan ini, sebuah fiksi mini yang terlampau jauh bila dikatakan sempurna.
Sekali lagi, Sweet Seventeen, Nggit. 

Minggu, 02 Oktober 2011

Ilusi: Akhir Penantian

Taken with Digicam SONY DSC W-220 CyberShot w/ tele zooming | Editing by Photoscape
Ilusi...
dalam penantian di ujung waktu,
menikmati udara yang semakin hambar,
mengunyah waktu yang sudah jarang.

Aku, hidup dalam pinggiran zaman berdiri tegar diatas penantian, berdua atau sendirian?
Cerca, cercaan itu yang sudah kenyang kumakan.
Hulu pedang yang sering menancap di jari manisku membuatku terbiasa, akan semua hal yang pernah kita bersama lakukan.

Andai aku memilikinya, sayap bidadari menghitam. Dalam haribaan Tuhan, pelataran tak berwarna, ya hati kita. Hati seorang kawan yang sudah kau ludahi, kau robek sampai irisan paling kecil. Kudengar kaca itu dipecahkan. "Pyar" dan kau hanya diam menikmatinya hancur, kawan inilah pembalasan? Akan semua harapan yang telah kita lambungkan di altar agung Tuhan?

Terima kasih kawan, inilah ujung penantian. Dalam ilusi dan imajinasi seorang pujangga akhir zaman. Dikhianati dalam persahabatan yang ia pegang teguh sendiri? Berdua? Bertiga? Atau berempat? Entahlah aku sudah tak perduli kawan.

Ditulis dalam kecewa,
‘ditampar’ persahabatan
Lalu menunggu di dalam penantian
Dan tergantung pada akhirnya

Sabtu, 01 Oktober 2011

Bebintang dalam Kenangan

Taken with SONY DSC W-220 CyberShot w/ flash | Editing by Photoscape
Dikutip dari perjalanan hidup saya, Ratih dan kekasihnya.


Angin menggeser posisi bebintang di langit yang terang penuh warna kerlap-kerlip. Bebintang hanya tenang dan mengalir bersamanya. Cahaya bintang yang redup itu semakin kalah binar oleh bebintang baru yang lahir semakin banyak. Ia seorang bintang tua yang sudah semakin melagu sendu.

"Kemana aku kau bawa, duhai angin?" tanya bebintang lembut.
"Ke tempatmu berasal," jawab angin bangga.

Angin berhembus semakin dalam, menyentuh sanubari bintang-bintang yang kian redup karena berada di tempat yang salah. Bintang itu hanya menuruti tanpa ia bisa menolak karena memang angin memegang kendali akan ia, akan kartu matinya. Ia melihat ke depan, ke galaksi yang ia belum tahu namanya. Ia melihat galaksi itu begitu gelap. Hitam dan dingin. Dimana? Dimana matahari dan para bintangnya? Pikir bintang itu.

Sabtu, 10 September 2011

Catatan Hati: Setelah Malam Ini...

Hari ini, sebuah perpisahan besar akan terjadi dalam hidup saya, selama enam belas tahun kami tinggal dalam satu ruang lingkup, kini ia harus siap meninggalkan kotak mainan yang sering kita mainkan dulu, menata jangka, buku, pensil, PR dan perasaan kekanakan kita di kotak pandora masa kecil kita. Kini engkau dewasa, pergi mengejar ilmu, pergi meninggalkan Indonesia, menuju negara seberang Malaysia. Untuk terakhir kali, ini sebuah karya tumpahan isi hati saya, terdedikasi hanya untukmu:

Setelah Malam Ini...

Malam ini adalah malam terakhir kita bisa bertatap muka. Esok, saat matahari mulai kembali ke haribaan dunia engkau harus siap meninggalkan Indonesia. Pergi lama, sangat lama.

Masih segar dalam ingatanku, ketika kelas X dan kamu masih kelas XII, aku kamu dan hari-hari kita dulu kita habiskan dengan canda yang menyeruak di setiap sudut renungan. Aku masih ingat, setiap pagi, kala itu pula rasa tidak ingin waktu berputar kembali tersemat dalam simpul syaraf kau datang membawa semangat, menggenggam harapan yang tak pernah putus.

Kagum, kagum dan kagum. Tahukah kau? Diam-diam aku menyelipkan rasa kagum itu, kagum akan kegigihanmu, kagum akan semangatmu, kagum akan cercah demi cercah harapan yang tak pernah putus. Tapi, enam belas tahun ini kita hidup dalam satu ruang lingkup, sudah terlantun begitu banyak not-not sendu, senang, riang di dalam paranada hidup kita. Siapkah engkau? Dari sudut matamu aku bisa melihat ketegaran. Tapi tahukah? Aku fobia terhadap segala perpisahan. Kenapa Tuhan harus menciptakan perpisahan, kalau itu hanya membumbungkan kesedihan?

Ingatkah engkau, tentang TOEFL itu? Yang waktu itu kita kerjakan bersama, memeras otak kita sama-sama, menyusuri setiap kata itu dengan penuh harapan: Agar engkau lolos tes itu. Dan lihat kini, jerih payah kita -- terlebih engkau -- menelurkan hasil yang gemilang. Kau berhasil, kau lolos, kau pergi...
Masih adakah? Tentang rumus-rumus matematika itu, yang seringkali membuat kita sama-sama menatap, lalu tertawa lepas ketika saling melihat garis keseriusan di wajah kita masing-masing? Tentang setiap cerita asmaramu, asmaraku, dia dan dia, yang seringkali membuatmu meneteskan air mata? Tentang langkah kita yang masih bersama, masih sejajar setiap berangkat dan pulang sekolah? Tentang setiap marahmu, setiap senyum yang terlepas dari bibirmu? Setelah malam ini, semuanya itu hilangkah? Atau akan kembali menyeruak dan terpatri dalam kotak di ingatan terdalam yang bernama "Best Moments of Us"? Entah.

Aku lelaki dan karena itu aku harus bisa, melepasmu sahabatku, kakakku.

Setelah hari-hari itu pergi, setelah malam ini berlalu dan setelah lima tahun esok, masihkah seperti ini? Aku sangat berharap Tuhan menjawab: IYA. Dengan penekanan di setiap huruf I, Y dan A-nya. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku tetap percaya, tidak akan ada yang berubah; dulu, sekarang dan selamanya.

Aku yakin lima tahun akan berlajan secepat angin menerbangkan daun-daun kering, dan secepat itu pula kau akan kembali, bersamaku, memeluk setiap kenangan kita dulu, sekarang dan selamanya.

For my best, for my sist, for us, for our spesial memories. It's dedicated to you: Ervin Susanti Permanasari.






Tuhan, berikanlah kami masa untuk bisa kembali bertemu
Tuhan, izinkanlah kami merajut kembali, semua kenangan itu
Tuhan, kami bersimpuh, menadah tangan
Bagi kami:  kenangan itu harus berlanjut, walaupun setelah lima tahun
Bye...

"Berbicara pada air lebih baik daripada berbicara pada angin. Air masih bisa memberi getaran pada kata yang kita ucap, sedangkan angin tak akan bisa, bahkan bau pun tak tercium olehnya."

Andaka Pramadya, Ervin Permana

Minggu, 28 Agustus 2011

Kata "Maaf" dan Implementasinya

Selamat petang pembaca, ngabuburit di detik-detik terakhir bulan puasa, gimana kabar semua? Sudah terlalu lama nggak pernah posting. Sudah lama gak bisa blogwalking di tempat kalian, sudah lama nggak pernah bales komen, sudah banyak kesalahan yang saya buat.

Ngomongin kesalahan, kesalahan itu mungkin wajar dilakukan setiap manusia, karena memang manusia tempatnya salah. Nah, sekarang yang paling penting bagaimana kita memperbaiki kesalahan itu dan bagaimana cara mengatasi perasaan bersalah yang seringkali kita alami ketika otak kita benar-benar “ngeh”, “ngeh” disini dalam artian sadar atau waras.

Yang paling pertama dan utama yang kita ucapkan adalah kata “Maaf”. Kata maaf memang pas dilakukan di saat-saat seperti ini, momentum idul fitri memang pas untuk kita saling bermaaf-maafan. Tapi perlu ditekankan, bermaaf-maafan tidak hanya dilakukan dalam momentum idul fitri seperti ini, harusnya setiap saat kita selayaknya meminta maaf. Tapi, jangan terlalu sering juga, karena jika terlalu sering kata maaf yang kita ucapkan serasa hanya angin lalu jika tidak dilakukan bersama perubahan-perubahan yang signifikan dari diri kita, perbaiki diri dari yang buruk jadi baik, dari yang baik jadi lebih baik lagi.

Terlalu banyak prolog, oke saya disini ingin mengucapkan beberapa permintaan maaf, karena saya sadar saya tidak pernah lepas dari kesalahan tutur kata, perbuatan yang saya sengaja maupun tidak. Wah formal sekali kelihatannya, ya begini saja yang pertama saya minta maaf kepada:

Selasa, 16 Agustus 2011

Indonesia, Tanah Air Beta..

Indonesia, tanah air beta..
Indonesia, tanah tercinta..
Indonesia, harta pusaka..
Indonesia, merdeka..

Indonesia, banggakah engkau padaku?
Pada aku yang tak pernah khidmat saat upacara
Pada aku yang hanya bisa diam ketika kau diinjak-injak
Pada aku yang belum bisa membawa namamu keatas tangga dunia

Indonesia, hanya aku, mungkin hanya aku.
Seorang anak kawakan jawa, yang kental dengan kalimat-kalimat medok yang khas.
Seorang pria perangkai kata yang terselip dalam lipatan takdir.
Seorang yang hidup dalam kamuflase-kamuflase menggelitik.
Seorang yang terburu mengejar takdir yang lari.

Indonesia,
disini, di dada ini, nyawamu dan nyawaku.
Di setiap fragmen hidupku, tersirat semburat jiwa garudamu.
Dalam gores demi gores kata yang lama kuukir, terjejal semangat merah putihmu.
Diatas debu dalam takdirku, terpatri manis, lembut, bahasa kalbumu.

Indonesia,
dulu, sekarang atau selamanya,
aku, kami dan kita semua,
adalah anak-cucumu dan tak akan lepas,
dari semua napak tilasmu.

Indonesia,
diatas lekuk indah gunung Rinjani,
di alur-alur sungai Musi,
dalam setiap kelopak Raflesia Arnoldi,
di meja-meja jati politisi,
di semua celoteh anak pinggir kali,
kau HIDUP, kau ADA, kau ABADI.

Indonesia,
cuma Indonesia,
tempat dimana aku membuka mata,
dan akan menjadi tempat dimana aku menutupnya pula.

Indonesia, simbolisasi ini
kupersembahkan 'tuk setiap originalitas
'tuk semua kreatifitas
'tuk satu nama, INDONESIA

Surabaya, 16 Agustus 2011

Saat lantunan doa mengambang di udara
Saat pekikan kata MERDEKA menggetarkan lidah
66 tahun lalu, seribu satu insan bersatu
membela, merebutmu dari para kumpeni
Saat ini, kami memperjuangkanmu
dalam persaingan dunia yang semakin menjerat

dari anakmu,
Andaka Rizki Pramadya

Jumat, 12 Agustus 2011

The 16th Birthday and the "Wish List"

Selamat saur sahabat blogger semua, dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Kemarin kerjaan saya di rumah cuman jeprat-jepret sambil megang laptop buat cari-cari bahan dan ide buat nerusin nulis novel. Bongkar-bongkar arsip dan isi brankas mbah Google, eh nggak tahu kenapa, melihat kata “wish” jadi keinget sesuatu.

Kepala saya muter tujuh keliling, keinget sesuatu yang penting dari kata wish itu, mungkin sindrome bulan puasa, otak jadi malas mikir dan isinya lemes melulu. Buka-buka catatan-catatan di hape eh ternyata nemu tuh yang namanya “Wish List” saya. [entah grammar-nya bener atau salah]

Catatan “Wish List” saya ini tercatat saya tulis pada tanggal 8 Juni 2011, tepat di hari ulang tahun saya yang ke-enam belas. Saat itu momen paling indah bersama sahabat-sahabat saya, pagi-pagi sekitar jam enam, ini nyawa belum balik ke peraduan, kamar udah muncul 3 orang, yang membawa kue ulang tahun blackforest berwarna plain brown.

Kaget bukan kepalang sekaligus senang karena baru ulang tahun ke-enam belas ini teman—sahabat—saya datang ke rumah pagi-pagi cuman buat ngerayain dan saya benar-benar tidak mengetahui apa-apa. Keceriaan tersebut berlanjut dengan acara peniupan lilin kecil-kecilan sambil menyanyikan lagu “Happy Birthday”


Kemeriaan nggak berhenti disana saja, tiba-tiba dari belakang, saya dilempari sama setumpuk tepung, sudah dasar muka jelek belum mandi, kena tepung jadi tambah menawan ancurnya. Kira-kira seperti ini bentuknya.

Yah, Back to the Topic. Tentang Wish List, daftar itu kami buat berempat sesaat setelah acara lempar-lemparan tepung usai. Capek. Eh nggak tahu kenapa buat kado tambahan mereka ngusulin buat ngebikin Wish List. Kata mereka, “Ah nggak papa untuk kenang-kenangan masa kelas X! Kan mungkin aja nanti kita kepisah kelasnya di kelas XI.”
Yah, jangan panjang lebar ini daftar Wish List kami:

Jumat, 05 Agustus 2011

Saya Kembali Lagi dengan "Abadi"

Halo sahabat-sahabat blogger, sudah lebih dari tiga minggu saya tidak posting dan tidak update blog. Kangen rasanya, tapi keadaan dan waktu nggak mengizinkan saya untuk kembali ke dunia per-blogger-an ini. Hanya hari ini dan mungkin tidak akan seproduktif dulu. Mungkin hanya dua atau tiga kali seminggu saya akan posting. Ya segala sesuatu yang dijalani bebarengan harus ada yang mengalah dan harus ada yang di prioritaskan bukan?

Kelas XI IPA, ternyata gak sesimpel dan gak semudah tulisannya yang hanya terdiri dari tiga huruf—I, P dan A. Banyak hal yang harus saya kuasai dan handle sendiri dan terpaksa saya harus ngorbanin blog saya ini. Tapi karena menulis adalah satu dari kepingan jiwa saya, tidak mungkin saya bisa menghilangkan kata MENULIS dalam kamus hidup saya.

Untuk pembukaan, saya akan memposting puisi terbaru saya. Wah agak narsis, siapa juga yang mau lihat coba? hehe.
Puisi ini lahir baru saja, baru saja saya ketik seusai jum'atan ketika saya sedang sendiri di teras atas rumah. Sendiri, sepi tapi fikiran ini tidak dan puasa tidak menghalangi saya untuk tidak memproduksi karya sastra.
Puisi ini terinspirasi dari seorang gadis, gadis berinisial RAT. Gadis yang pernah ada dan saat ini masih akan dan akan terus ada di hidup saya. Walaupun kedekatan kami tidak seintens dulu. Ini puisi "simple" bertajuk "Abadi" yang mungkin setiap orang yang membaca mengerti apa maksudnya:


Aku pernah mencintaimu, aku pernah mendambakanmu..
Aku pernah impikanmu jadi milikku..
Tapi aku tepis semua itu, karena itu adalah AMBISI

Aku pernah cemburu jika kau dekat lagi dengannya,
Aku pernah melarangmu kembali dengannya,
Tapi maaf jika caraku salah, aku sadar itu NAFSU

Aku pernah jatuh karena kamu, karena sikapmu
Aku pernah terbang ke angkasa, itupun juga karena kamu
Dalam hati ini, aku kembali terjaga itu KELIRU

Kini, lagi-lagi aku menatap cermin dan kembali memotivasi diri
Kau bukanlah milikku, dan tak akan menjadi milikku!
Aku tahu aku hanyalah SAHABAT yang selalu ada untukmu.
Pundakku pernah jadi tumpuhan kepalamu
Tanganku saksi bisu di setiap lelehan air matamu

Kini, kembali dan kembali..
Aku tersadar, betapa kau sangat berarti.
Aku tak ingin kau tahu, rasaku padamu.
Aku hanya ingin kau tahu, kita bersahabat dan tak punya cinta diantaranya.

Aku tak ingin menorehkan sedikit pun luka di hatimu.
Karena rasaku padamu tak pernah beradu, hanya berlabuh.
Sebuah ketulusan, dalam hati. Walau sakit..

Biarkan semua seperti air,
Mengalir dari hulu ke hilir,
Walau kadang tak jernih, aku ingin selalu jadi bayanganmu.
Yang ada di sampingmu, di setiap langkah mungilmu.
Walau kau tak pernah anggap aku, sebagai BAYANGANMU.

Karena cinta ini tulus,
Karena sayang ini murni,
Karena semua rasaku padamu, abadi..

Semoga sahabat-sahabat sekalian menikmati puisi saya ini dan saya ucapkan pada diri saya sendiri, "SELAMAT DATANG KEMBALI KE DUNIA BLOGGER" salam sejahtera. :D

Senin, 18 Juli 2011

Kotak Pandora Masa Kecil

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.