Indonesia, tanah air beta..
Indonesia, tanah tercinta..
Indonesia, harta pusaka..
Indonesia, merdeka..
Indonesia, banggakah engkau padaku?
Pada aku yang tak pernah khidmat saat upacara
Pada aku yang hanya bisa diam ketika kau diinjak-injak
Pada aku yang belum bisa membawa namamu keatas tangga dunia
Indonesia, hanya aku, mungkin hanya aku.
Seorang anak kawakan jawa, yang kental dengan kalimat-kalimat medok yang khas.
Seorang pria perangkai kata yang terselip dalam lipatan takdir.
Seorang yang hidup dalam kamuflase-kamuflase menggelitik.
Seorang yang terburu mengejar takdir yang lari.
Indonesia,
disini, di dada ini, nyawamu dan nyawaku.
Di setiap fragmen hidupku, tersirat semburat jiwa garudamu.
Dalam gores demi gores kata yang lama kuukir, terjejal semangat merah putihmu.
Diatas debu dalam takdirku, terpatri manis, lembut, bahasa kalbumu.
Indonesia,
dulu, sekarang atau selamanya,
aku, kami dan kita semua,
adalah anak-cucumu dan tak akan lepas,
dari semua napak tilasmu.
Indonesia,
diatas lekuk indah gunung Rinjani,
di alur-alur sungai Musi,
dalam setiap kelopak Raflesia Arnoldi,
di meja-meja jati politisi,
di semua celoteh anak pinggir kali,
kau HIDUP, kau ADA, kau ABADI.
Indonesia,
cuma Indonesia,
tempat dimana aku membuka mata,
dan akan menjadi tempat dimana aku menutupnya pula.
Indonesia, simbolisasi ini
kupersembahkan 'tuk setiap originalitas
'tuk semua kreatifitas
'tuk satu nama, INDONESIA
Surabaya, 16 Agustus 2011
Saat lantunan doa mengambang di udara
Saat pekikan kata MERDEKA menggetarkan lidah
66 tahun lalu, seribu satu insan bersatu
membela, merebutmu dari para kumpeni
Saat ini, kami memperjuangkanmu
dalam persaingan dunia yang semakin menjerat
dari anakmu,
Andaka Rizki Pramadya