Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2011

Kemarin Hujan


and you know i'm standing here, alone without you and yours

Kemarin hujan, meluruhkan senyummu yang sudah setengah. Kemarin hujan, mendendangkan interlude lagu untukmu yang hampir usai. Kemarin hujan, menitik balikkan rasaku untuk berpaling dan mencari matahari lain dan kemarin hujan, saatnya meniti pagi baru tanpamu, tanpa sayu sudut matamu dan tanpa potret buram kenanganmu, sendiri...

Dari balik tetesan embun Senin pagi,
aku mulai pergi, jauh, mungkin teramat jauh
kembara rusa kesana kemari,
merombak haluan yang sudah basi,

Minggu, 02 Oktober 2011

Ilusi: Akhir Penantian

Taken with Digicam SONY DSC W-220 CyberShot w/ tele zooming | Editing by Photoscape
Ilusi...
dalam penantian di ujung waktu,
menikmati udara yang semakin hambar,
mengunyah waktu yang sudah jarang.

Aku, hidup dalam pinggiran zaman berdiri tegar diatas penantian, berdua atau sendirian?
Cerca, cercaan itu yang sudah kenyang kumakan.
Hulu pedang yang sering menancap di jari manisku membuatku terbiasa, akan semua hal yang pernah kita bersama lakukan.

Andai aku memilikinya, sayap bidadari menghitam. Dalam haribaan Tuhan, pelataran tak berwarna, ya hati kita. Hati seorang kawan yang sudah kau ludahi, kau robek sampai irisan paling kecil. Kudengar kaca itu dipecahkan. "Pyar" dan kau hanya diam menikmatinya hancur, kawan inilah pembalasan? Akan semua harapan yang telah kita lambungkan di altar agung Tuhan?

Terima kasih kawan, inilah ujung penantian. Dalam ilusi dan imajinasi seorang pujangga akhir zaman. Dikhianati dalam persahabatan yang ia pegang teguh sendiri? Berdua? Bertiga? Atau berempat? Entahlah aku sudah tak perduli kawan.

Ditulis dalam kecewa,
‘ditampar’ persahabatan
Lalu menunggu di dalam penantian
Dan tergantung pada akhirnya

Kamis, 29 September 2011

Bercabang Dua


"Ketika hujan kulihat menerkam, dalam gelap sepi mencumbu, yang angan kadang berlaku salah. Ketika cinta bercabang dua dan setelahnya: MATI."

Minggu, 07 Agustus 2011

Syair Pagi: "Rasa (Begitu Indah)"

Seperti riak air yang bergelombang, seperti daun yang tak pernah membenci angin, seperti itu pula rasaku padamu, tak luntur tak berubah tetap sama, sampai hilang senyummu dalam setiap kenangan.

This is spesial for you, RAT