 |
| Taken with Digicam SONY DSC W-220 CyberShot w/ tele zooming | Editing by Photoscape |
Ilusi...
dalam penantian di ujung waktu,
menikmati udara yang semakin hambar,
mengunyah waktu yang sudah jarang.
Aku, hidup
dalam pinggiran zaman berdiri tegar diatas penantian, berdua atau sendirian?
Cerca,
cercaan itu yang sudah kenyang kumakan.
Hulu pedang
yang sering menancap di jari manisku membuatku terbiasa, akan semua hal yang
pernah kita bersama lakukan.
Andai aku memilikinya, sayap bidadari menghitam. Dalam
haribaan Tuhan, pelataran tak berwarna, ya hati kita. Hati seorang kawan yang
sudah kau ludahi, kau robek sampai irisan paling kecil. Kudengar kaca itu
dipecahkan. "Pyar" dan kau hanya diam menikmatinya hancur, kawan
inilah pembalasan? Akan semua harapan yang telah kita lambungkan di altar agung
Tuhan?
Terima kasih kawan, inilah ujung penantian. Dalam ilusi dan
imajinasi seorang pujangga akhir zaman. Dikhianati dalam persahabatan yang ia
pegang teguh sendiri? Berdua? Bertiga? Atau berempat? Entahlah aku sudah tak
perduli kawan.
Ditulis dalam kecewa,
‘ditampar’ persahabatan
Lalu menunggu di dalam
penantian
Dan tergantung pada akhirnya