Tampilkan postingan dengan label Saya dan Dunia Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saya dan Dunia Saya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Ai

"Mungkin kalau Ia punya satu saja kesempatan memilih kehidupan. Tentu tidak akan memilih kehidupan seperti yang Ia jalani kini."
BASED ON TRUE STORY

Senin, 30 Juni 2014

Sekilas

-BASED ON TRUE STORY-

“Eki, ayo tarawih, sudah azan...,” suara itu menggantung di ruangan lima kali lima tempat aku melihat seorang bocah lelaki kecil duduk manis di sofa hijau bermotif bersama rapido hitam dan buku bergaris kosong.

“Eki...,” panggil suara itu lagi.

Tanpa satu kata terlontar dari mulutnya yang mungil bocah kecil itu berdiri sambil mendengus kesal. Ia berlari ke arah perempuan dengan mukena putih yang jalannya agak pincang dan bungkuk. Aku tak dapat melihat siapa dia, dia membelakangiku, kemudian berlalu pergi bersama bocah itu.

Kamis, 19 Juni 2014

Aku Pulang

Ketika dua langkah kakiku melangkah maju ke ubin-ubin yang sudah tak bisa lagi kukatakan retak, jalan air pun sudah menggenang di sudut-sudut yang punya celah. Rasanya menengadah begitu berat, asbes satu dua sisi sudah terlepas dari pegangannya.
Sungguh manusia apa aku ini? Batinku retak.
Rumahku sudah lebih dari satu tahun tak pernah kusambangi, yang ada hanya memori-memori tentang 'masa jaya'-nya yang menggantung bersama dengan rangka kayu yang tak berkekuatan. Mungkin cukup baginya satu lalat hinggap, lalu hancur ke bawah hingga kepingannya selembut debu.
Selangkah lagi kakiku maju, tapi batinku menyuruhku tetap diam di tempatku semula, bahkan satu sisi diriku menyuruhku keluar dan meninggalkannya seperti yang rekaman dalam neuronku sejak terakhir kali aku mencium bau cat yang masih terasa baru.

Sabtu, 04 Mei 2013

Lima Menit untuk Memaafkan

BERDASARKAN CERITA NYATA, TITIPAN SEORANG KAWAN.

Kau tahu di dunia ini ada hal paling indah yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Mereka dapat kau lihat, mungkin juga kau dapat rasakan. Bekas hujan di atas tanah yang menggenang, ditambah terpaan sinar matahari menjelang siang, jika kau beruntung kau dapat bercermin di atasnya.
Detik jam seperti tak berjalan di angka sembilan. Tidak ada yang dapat kulakukan hari ini, tidak sekolah karena ini adalah hari-hari pasca ujian dan menunggu kelulusan. Di ruang tamuku hanya ada beberapa tumpuk novel dan gadget yang sedari tadi klak dan klik.
Di ambang pintu aku melihat bayangan diriku sendiri di atas kaca yang memantulkan pelangi sehabis hujan. Samar kulihat di sana—di sampingku—ada sosok yang kukenal, ya dia. Dia... maafkan aku. Hujan turun lagi dan perlahan-lahan siluet samar yang sangat kukenal itu menghilang di balik gerimis.
Jujur, aku merindukanmu. Jujur, sesungguhnya aku tak pernah sekalipun menyalahkanmu atas semua ini. Kau sudah sangat baik, sampai detik ini tak ada niatan di dalam hatiku untuk sekalipun membencimu.

*

Kamis, 26 Januari 2012

Sayap Malaikat atau Tanduk Setan

Aku berjalan ke KIRI atau KANAN?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Toycam editing

Sabtu, 07 Januari 2012

Rasi dan Mimpi (Untuk Bertemu Kembali)

MENGGAPAI MIMPI
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

~ INI BUKAN FIKSI, HANYA SATU POTONGAN HIDUP HARI INI ~

Merah, biru, ungu, dan indigo. Kami sama-sama melihat langit, merah, biru, ungu dan indigo. Berbeda, tapi sama. Semua berbintang, kami sama-sama menujuknya, rasi gubuk penceng. Kami sama-sama memperhatikannya.

“Lihatlah, rasi itu, dari kanan ke kiri kemudian ke bawah.”

“Ya lihatlah, itu canopus, yang putih kekuningan.”

“Benar, yang itu di ujung rasi Carina.”

Lalu muncul harapan, yang selama ini kami pendam diam-diam. Mengembang, dalam tunjuk-menujuk. Aku menujuk Bellatrix, kawanku menujuk Gacrux. Lalu kami sama-sama berpandangan, dalam kotak empat belas inci.

“Hey, pilihan kita sama.”

“Ya, sama. Bellatrix dan Gacrux sama-sama berwarna merah, kawan.”

Pilihan kami sama, memerah dan jingga. Mungkin, hampir sama. Walau berbeda rasi, kami sama.

Sudah lewat tengah malam, aku dan Ia menelusuri bintang, mengambilnya, dan menyelipkan harapan disana. Banyak sekali, terlampau banyak melebihi jumlah bintang di Bima Shakti. Tapi kini, sudah terlampau pagi, kotak kami sudah memanas dari tadi.

“Kawan, ini sudah terlalu sepi.”

“Sepi? Ya, tapi mimpi-mimpi ini? Siapa yang memegangi?”

Aku menengadah lagi, “Lihatlah, sebuah rasi, ia tampak berbeda dari kecil sampai tertinggi. Ia masih memegangi dalam satu ikatan lagi.”

“Maksudmu?”

“Tak perlu satu tangan memegangi, karena mimpi ini akan selalu mempunyai rasi.”

Kami sama-sama mengerti, tentang arah pembicaraan ini. Mungkin hanya kami yang mengerti arti “terlampau pagi”, arti mimpi-mimpi, dan rasi-rasi.

“Untuk yang terakhir kawan. Pilihlah satu dari sejuta mimpi.”

“Baiklah, untuk yang terakhir, pilihlah dengan tanpa menutup mata.”

Ya kami membuatakan mati kami masing-masing, lalu menelisik dan menengadah kembali. Untuk yang terakhir, kami memilih satu mimpi. Satu diantara sejuta mimpi-mimpi. Dan kami memilih...

“Aku memilih Procyon. Kau?” Mata kami masih terpejam.

“Aku memilih, Gomesia.” Terlampau kecil.

“Hei, coba lihat, kita memilih bintang dalam satu rasi.”

“Aku lebih memaknai, dalam satu mimpi, kawan.”

“Ya perpisahan ini mempunyai mimpi. Untuk bertemu kembali.”

Kotak empat belas inci kami sama-sama menghitam, memunculkan bunyi perpisahan, dalam alat ketik yang memanas, saat senja saat pagi, tak pernah bertemu, tapi kami sama menggapai mimpi. Untuk bertemu kembali.

untuk semua kawan saya di blog 
yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu

Jumat, 06 Januari 2012

Dinding Maya

Aku dan kamu, fokus dan miss-fokus, itulah kita, terpisah...
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
-BASED ON TRUE STORY-

“Aku suka kunang-kunang, senja dan hujan,” kata gadisku lalu merentangkan kedua tangannya memeluk angin.

Aku hanya tersenyum, ingin memeluk angin bersamanya, tapi tak bisa. Aku ingin merasakan anginnya tapi tak bisa. Hanya deburnya yang sama.

“Aku suka perjumpaan kita,” jawabku sangat lirih.

Ia meringis, lalu tertawa. Dengar? Apa ia mendengarnya? Peduli apa. Kami masih disana, di pantai dengan jiwa sastra, menikmatinya sendiri, berdua dan selamanya. Ia merenggang kami sama-sama menarik ulur. Kadang mendekat, lekat. Kadang, jauh, menjauh, lalu rindu.

Ia mengendus, perjumpaan kita. “Perjumpaan kita? Sudahlah. Lalu, apa yang kau suka?” tanyanya di lirih di sudutnya.

Lama, aku membeku di tepi lautan. Ingin menjawab, perlukah? “Aku suka pagi, langit dan gerimis.” Acak.
Dan berganti ia dan hiatusnya, menjadi lebur kasih. Hilang dalam stigma-stigmanya yang tak tersentuh kemudian meluap dan meledak diantaranya. Itulah ia, meledak-ledak dan bodoh telah mencintaiku.

“Aku suka hubungan ini?” Apa? Kau menyukainya?

Ini menjadi intermezzo mungkin, kenapa ia suka, kenapa ia mencintai hubungan ini? Tahukah kau kasih, sungguh aku tak senyaman kau, menyukai hal-hal acak, mencintai keburaman. Seperti ini, cinta kita, tenggorokanku tercekal faringku seperti stroke, aku tak akan bisa mengatakannya.

Percakapan kami benar saja terhenti, kami masih terpisah, walau dalam pantai yang sama. Dalam intensitas laut yang sama, dalam satu dekap angin. Lalu aku berusaha menyentuhnya, tak bisa.

“Dinding ini,” kataku dan mengetuknya tiga kali.

Ia menyentuhnya, mengusapnya dari kiri ke kanan, mengbuang sembul-sembul uap yang memburamkannya. Ia menatapku dari sana dengan kalem. Kami sama-sama diatas angin, mengadu nasib, menunggu takdir. Di epilog, tunggulah siapa yang akan jatuh terlebih dulu, aku kamu atau dinding ini. Dunia Maya.

Minggu, 20 November 2011

My Broken Path

Broken Doll | Taken with SONY DSC-W220 CuberShot | Editing by ToyCam AnalogColor

Dan lagi, bocah itu membaca. Membaca secarik kertas yang ia pegang erat tanpa tulisan, hanya sedikit guratan karena tergencet sesuatu selebihnya hanya kuning pucat karena tersimpan cukup lama. Ia membacanya lekat, padahal ia tahu, tak ada apapun. Hanyalah kertas kuning kusam yang ia simpan erat-erat di saku celananya.

Sesekali ia melihat mentari dan berkata sendiri dalam hati. Mentari, mengapa kita hidup? Dan untuk apa kita hidup? Untuk matikah? Pemikir. Ia memang seorang pemikir yang tak pernah berbicara dalam kebenaran, ia hanya menghias senyum dalam tangis dan merangkai ketegaran dalam suram harinya.

Sementara itu hatinya berbicara, kepada Tuhan, kepada sekelilingnya, walaupun ia sendiri tahu, ia termarginalkan, bahkan Tuhan pun mengasingkannya. Ia bermandikan kelabu, yang semakin menghitam. Dan akan selalu di jauhi ketika berusaha bangkit dari keterpurukan. Angin yang selama ini bergerak bebas dan harmonis pun merasa jijik bersimfoni dengannya.

Bocah itu hanya bocah lelaki kecil yang tak tahu harus melangkah kemana, ia hanya membaca tanda dan menelusurinya tanpa guru. Tanpa satu fondasi yang menuntun. Ia abstrak, ia seringkali termanipulasi oleh jiwanya sendiri yang begitu kompleks dibungkus oleh seonggok tubuh kecil yang polos. Tumpang tindih dan berbanding terbalik memang.

Tapi, ia tahu, ia masih memilikinya. Harapan yang tak kunjung datang itu bukan untuk ditunggu. Hanya harus berlari mengejar dan bangkit. Ia tahu, ia masih memiliki secark kertas itu. Memiliki makna, adanya harapan. Harapan yang belum ia tulis, yang belum ia capai. Ia percaya suatu saat kertas buram itu tak lagi kosong. Berubah dengan penuh jejal sesak harapan dan cita yang telah ia rengkuh. Dan kertas itu adalah penentu dan titik balik hidupnya. Dari kelabu menjadi benderang, dari hitam menjadi terang. Dan itu juga yang menjadi bukti, bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatu yang telah salah. Salah karena keadaan yang tak pernah bisa disalahkan. Menikmatinya, sampai titik balik datang.

Dan pada epilog, bocah itu menatap mentari lagi dan berterima-kasih. Lalu senyum datang dari wajah kecilnya, senyum yang sudah bertahun-tahun tak pernah singgah di pipi dan lesung pipitnya dan berdiri berlari mengejar mentari bersama siluet ‘Ia’ yang ternyata adalah aku. Aku yang bercerita tentang diriku. Tentang hidupku yang tak pernah sejalan dan selaras...

Minggu, 06 November 2011

Kemenangan: Dua

dan ini hasil peluh kami selama ini
Dua, tetapi yang pertama. Untukmu, untuk kita, untuk tim ini. Hal-hal yang semula mimpi, hari ini menjadi membumi. Dua, untuk satu kemenangan.

Aku ingat, saat-saat kita harus merelakan fisika, waktu kita melalaikan kimia sejenak, untuk sekedar meleburkan ide bersama. Karena aku idealis, karena kau perfeksionis dan kamu oportunis, itu dan hanya itu yang membuat tim ini kalis.

Dan masih segar memoriku, tentang pagi itu, pagi saat kita sibuk menyiapkan batik yang tak jadi kita kenakan, saat kita saling berkomunikasi "sedang apa dan dimana?" "ayo" dan "cepatlah". Ketika kita mulai mengerjakannya, sebuah maskot mungil buah ide kita, sang idealis, perfeksionis dan oportunis.

Ini yang kami dapat persembahkan, angka dua dan sebuah titel juara. "Kami juara dua," mungkin seperti itu lugasnya dan kami tak ingin membusungkan dada terlalu, karena ini awal, bukan epilog dari cerita tim kami.

Untuk Indonesia, untuk Surabaya, untuk sekolah tercinta; SMA Negeri 7 Surabaya, untuk kelas terindah; Sebelas IPA Dua dan Sebelas IPA Satu. Kami maju, kami bersinar hanya untuk mengharumkan. Cerita SMA.

Walau hanya dua, kami patut bangga, karena kami tunas-unggul bangsa. Selamat, selamat dan selamat untuk kami semua. We are best team ever:

Andaka Rizki Pramadya
Raymond Andreas Soebijantoro -- peranakan Indonesia.
Ditulis ketika perasaan ini terlampau bahagia, ketika tangan ini gemetar menggenggam kemenangan, sebuah ajang desain maskot yang kami juarai, dua, juara dua. Ini sebuah apresiasi saya untuk kemenangan kami, untuk sekolah kami, untuk kelas kami dan untuk semua orang yang mendukung kami.
Secuil klise abadi untuk tim kami:

Minggu, 30 Oktober 2011

Alibi

Ternyata sudah sangat lama, saya tidak menjamah rumah digital saya ini. Maaf teman, saya memang tidak bisa seaktif dulu, mungkin juga satu minggu hanya satu dua kali posting. Kesibukan di dunia nyata yang membuat blog ini tidak bisa terupdate selalu. Tetapi, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, saya harus posting.

Baiklah, untuk postingan pertama setelah vakum panjang ini saya ingin memposting salah satu puisi buatan saya yang akan jadi lirik lagu band kelas saya, ya tidak usah bertele-tele. Puisi ini bertajuk Alibi.

Sabtu, 10 September 2011

Catatan Hati: Setelah Malam Ini...

Hari ini, sebuah perpisahan besar akan terjadi dalam hidup saya, selama enam belas tahun kami tinggal dalam satu ruang lingkup, kini ia harus siap meninggalkan kotak mainan yang sering kita mainkan dulu, menata jangka, buku, pensil, PR dan perasaan kekanakan kita di kotak pandora masa kecil kita. Kini engkau dewasa, pergi mengejar ilmu, pergi meninggalkan Indonesia, menuju negara seberang Malaysia. Untuk terakhir kali, ini sebuah karya tumpahan isi hati saya, terdedikasi hanya untukmu:

Setelah Malam Ini...

Malam ini adalah malam terakhir kita bisa bertatap muka. Esok, saat matahari mulai kembali ke haribaan dunia engkau harus siap meninggalkan Indonesia. Pergi lama, sangat lama.

Masih segar dalam ingatanku, ketika kelas X dan kamu masih kelas XII, aku kamu dan hari-hari kita dulu kita habiskan dengan canda yang menyeruak di setiap sudut renungan. Aku masih ingat, setiap pagi, kala itu pula rasa tidak ingin waktu berputar kembali tersemat dalam simpul syaraf kau datang membawa semangat, menggenggam harapan yang tak pernah putus.

Kagum, kagum dan kagum. Tahukah kau? Diam-diam aku menyelipkan rasa kagum itu, kagum akan kegigihanmu, kagum akan semangatmu, kagum akan cercah demi cercah harapan yang tak pernah putus. Tapi, enam belas tahun ini kita hidup dalam satu ruang lingkup, sudah terlantun begitu banyak not-not sendu, senang, riang di dalam paranada hidup kita. Siapkah engkau? Dari sudut matamu aku bisa melihat ketegaran. Tapi tahukah? Aku fobia terhadap segala perpisahan. Kenapa Tuhan harus menciptakan perpisahan, kalau itu hanya membumbungkan kesedihan?

Ingatkah engkau, tentang TOEFL itu? Yang waktu itu kita kerjakan bersama, memeras otak kita sama-sama, menyusuri setiap kata itu dengan penuh harapan: Agar engkau lolos tes itu. Dan lihat kini, jerih payah kita -- terlebih engkau -- menelurkan hasil yang gemilang. Kau berhasil, kau lolos, kau pergi...
Masih adakah? Tentang rumus-rumus matematika itu, yang seringkali membuat kita sama-sama menatap, lalu tertawa lepas ketika saling melihat garis keseriusan di wajah kita masing-masing? Tentang setiap cerita asmaramu, asmaraku, dia dan dia, yang seringkali membuatmu meneteskan air mata? Tentang langkah kita yang masih bersama, masih sejajar setiap berangkat dan pulang sekolah? Tentang setiap marahmu, setiap senyum yang terlepas dari bibirmu? Setelah malam ini, semuanya itu hilangkah? Atau akan kembali menyeruak dan terpatri dalam kotak di ingatan terdalam yang bernama "Best Moments of Us"? Entah.

Aku lelaki dan karena itu aku harus bisa, melepasmu sahabatku, kakakku.

Setelah hari-hari itu pergi, setelah malam ini berlalu dan setelah lima tahun esok, masihkah seperti ini? Aku sangat berharap Tuhan menjawab: IYA. Dengan penekanan di setiap huruf I, Y dan A-nya. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku tetap percaya, tidak akan ada yang berubah; dulu, sekarang dan selamanya.

Aku yakin lima tahun akan berlajan secepat angin menerbangkan daun-daun kering, dan secepat itu pula kau akan kembali, bersamaku, memeluk setiap kenangan kita dulu, sekarang dan selamanya.

For my best, for my sist, for us, for our spesial memories. It's dedicated to you: Ervin Susanti Permanasari.






Tuhan, berikanlah kami masa untuk bisa kembali bertemu
Tuhan, izinkanlah kami merajut kembali, semua kenangan itu
Tuhan, kami bersimpuh, menadah tangan
Bagi kami:  kenangan itu harus berlanjut, walaupun setelah lima tahun
Bye...

"Berbicara pada air lebih baik daripada berbicara pada angin. Air masih bisa memberi getaran pada kata yang kita ucap, sedangkan angin tak akan bisa, bahkan bau pun tak tercium olehnya."

Andaka Pramadya, Ervin Permana

Minggu, 28 Agustus 2011

Kata "Maaf" dan Implementasinya

Selamat petang pembaca, ngabuburit di detik-detik terakhir bulan puasa, gimana kabar semua? Sudah terlalu lama nggak pernah posting. Sudah lama gak bisa blogwalking di tempat kalian, sudah lama nggak pernah bales komen, sudah banyak kesalahan yang saya buat.

Ngomongin kesalahan, kesalahan itu mungkin wajar dilakukan setiap manusia, karena memang manusia tempatnya salah. Nah, sekarang yang paling penting bagaimana kita memperbaiki kesalahan itu dan bagaimana cara mengatasi perasaan bersalah yang seringkali kita alami ketika otak kita benar-benar “ngeh”, “ngeh” disini dalam artian sadar atau waras.

Yang paling pertama dan utama yang kita ucapkan adalah kata “Maaf”. Kata maaf memang pas dilakukan di saat-saat seperti ini, momentum idul fitri memang pas untuk kita saling bermaaf-maafan. Tapi perlu ditekankan, bermaaf-maafan tidak hanya dilakukan dalam momentum idul fitri seperti ini, harusnya setiap saat kita selayaknya meminta maaf. Tapi, jangan terlalu sering juga, karena jika terlalu sering kata maaf yang kita ucapkan serasa hanya angin lalu jika tidak dilakukan bersama perubahan-perubahan yang signifikan dari diri kita, perbaiki diri dari yang buruk jadi baik, dari yang baik jadi lebih baik lagi.

Terlalu banyak prolog, oke saya disini ingin mengucapkan beberapa permintaan maaf, karena saya sadar saya tidak pernah lepas dari kesalahan tutur kata, perbuatan yang saya sengaja maupun tidak. Wah formal sekali kelihatannya, ya begini saja yang pertama saya minta maaf kepada:

Rabu, 24 Agustus 2011

Fenomena "Eksis" dan Para A-list

Halo semua, saya kembali ke peraduan! Sebelum mulai berkata-kata saya mau ngucapin: SELAMAT LIBURAN, SELAMAT MUDIK.

Udah berapa hari ya nggak posting? Agak lama mungkin, tapi sudahlah yang terpenting saya sudah kembali, saya mengudara lagi dan postingan kali ini saya tidak ingin membahas sastra dan sejenisnya, sedikit intermezzo boleh kan. Penyegaran lah.

Nggak mau bertele-tele, langsung saja. Pertama-tama saya hanya ingin bertanya kepada semua blogger tentang masa SMA, "Anda termasuk seseorang yang eksis/populer dan termasuk daftar A-list atau tidak sewaktu SMA?". Pasti bervariasi, ada yang iya dan ada yang tidak. Tapi, kali ini saya kontra terhadap ke-eksis-an itu.

Nah, kemarin, kemarin Senin tepatnya. Saya bersama Isa—blogger juga—memberikan opini kami tentang ke-eksis-an di sekolah kami. Jujur, saya dan Isa berbeda pandangan dengan mereka-mereka yang terlampau eksis. Tidak salah memang menjadi anggota A-list, tidak ada yang salah, cuman saya dan Isa hanya ingin mengkritik mereka, bukankah kritik itu sejatinya membangun?

Sabtu, 13 Agustus 2011

Cuma Boneka!!!

"Punya kamu, saling merasa mempunyai. Tapi dalam diri saling menyakiti. Pantas, aku tak pernah melihat senyum dimatamu, tak melihat ia berbicara dan tertawa lepas. Hitam, dalam dan penuh misteri. Inikah yang kau sebut relasi, menghargai, menghormati. Bualan! Selama ini hanya aku yang selalu memberikanmu nyawa dalam hubungan ini, kau memang boneka akulah dalangnya, tapi aku bahagia. Tak perlu bertele-tele meminta nyawa kepada Tuhan. Memberikanmu sebuah cinta sudah beribu cukup.
Aku pernah memintamu menggandeng tanganku, menerima ajakanku, membalas senyumku, aku tahu aku GILA! Tanpa harus aku melakukan itu, aku tahu senyuman di wajahmu akan tetap begitu, datar, begitu datar sampai aku melihatnya dalam setiap musim yang kita lalui.
Aku ingin ini semua hidup, aku ingin menukarkan semua dan sisa hidupku padamu, agar nyawaku dan ragamu bersatu dalam suatu ikatan yang tak pernah lepas, dalam raga dan jiwa yang selalu bergandengan, aku bisa aku harus bisa menempuhnya bersamamu, “boneka”-ku, sahabatku, teman hidupku,”

Jumat, 12 Agustus 2011

The 16th Birthday and the "Wish List"

Selamat saur sahabat blogger semua, dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Kemarin kerjaan saya di rumah cuman jeprat-jepret sambil megang laptop buat cari-cari bahan dan ide buat nerusin nulis novel. Bongkar-bongkar arsip dan isi brankas mbah Google, eh nggak tahu kenapa, melihat kata “wish” jadi keinget sesuatu.

Kepala saya muter tujuh keliling, keinget sesuatu yang penting dari kata wish itu, mungkin sindrome bulan puasa, otak jadi malas mikir dan isinya lemes melulu. Buka-buka catatan-catatan di hape eh ternyata nemu tuh yang namanya “Wish List” saya. [entah grammar-nya bener atau salah]

Catatan “Wish List” saya ini tercatat saya tulis pada tanggal 8 Juni 2011, tepat di hari ulang tahun saya yang ke-enam belas. Saat itu momen paling indah bersama sahabat-sahabat saya, pagi-pagi sekitar jam enam, ini nyawa belum balik ke peraduan, kamar udah muncul 3 orang, yang membawa kue ulang tahun blackforest berwarna plain brown.

Kaget bukan kepalang sekaligus senang karena baru ulang tahun ke-enam belas ini teman—sahabat—saya datang ke rumah pagi-pagi cuman buat ngerayain dan saya benar-benar tidak mengetahui apa-apa. Keceriaan tersebut berlanjut dengan acara peniupan lilin kecil-kecilan sambil menyanyikan lagu “Happy Birthday”


Kemeriaan nggak berhenti disana saja, tiba-tiba dari belakang, saya dilempari sama setumpuk tepung, sudah dasar muka jelek belum mandi, kena tepung jadi tambah menawan ancurnya. Kira-kira seperti ini bentuknya.

Yah, Back to the Topic. Tentang Wish List, daftar itu kami buat berempat sesaat setelah acara lempar-lemparan tepung usai. Capek. Eh nggak tahu kenapa buat kado tambahan mereka ngusulin buat ngebikin Wish List. Kata mereka, “Ah nggak papa untuk kenang-kenangan masa kelas X! Kan mungkin aja nanti kita kepisah kelasnya di kelas XI.”
Yah, jangan panjang lebar ini daftar Wish List kami:

Rabu, 13 Juli 2011

Surabaya's Undercover: Sisi Gelap Seorang Remaja & Ke-'bobrok'-annya

Pagi pembaca, jam 12 malam lebih beberapa menit. Saya mulai menulis ini, saya menulis diatas keprihatinan hati saya, miris, meringis melihat kenyataan. Anak muda, begitu menanggung harapan besar dari generasi tua kini banyak yang sudah dirusak. Dirusak oleh keadaan, memaksa mereka untuk terjerumus kedalam lubang yang tak berdasar. Remaja yang seharusnya masih harus berkutat dengan buku-buku dan rumitnya rumus-rumus fisika, kini mereka sudah ‘paham’ tentang lawan jenis—wanita ‘paham’ tentang pria, pira ‘paham’ tentang wanita, sudah berani mencoba-coba barang-barang yang seharusnya ia tidak lirik, tidak ia sentuh. Tapi kenyataan berkata lain. Mereka sudah terjerumus. Tapi terlambatkah saya? Terlambatkah kita? Lebih baik terlambat daripada TIDAK SAMA SEKALI. Kita masih bisa bangkit teman, kamu masih bisa berdiri dan pergi dari lubang ‘maksiat’ itu. Kita ini penerus, jangan kau rusak amanat pendahulu kita yang telah memperjuangkan nasib kita ini dengan ‘jalan’ yang kau benarkan yang pada kenyataannya SALAH.

Senin, 11 Juli 2011

Antara "Burung" MOS dan XI IPA 2

Hai pembaca, selamat sore menjelang malam. Hari ini adalah hari pertama masuk tahun ajaran baru, pembagian kelas baru dan acara pembukaan Masa Orientasi Siswa (MOS). Mulai dari kesibukan di pagi hari ini, bolak-balik cari teman yang satu kelas dan cari teman baru tentunya. Ups, terlalu jauh kalo bicarain tentang teman baru dan kelas baru. Lebih baik kita membahas acara pembukaan MOS yang menurut saya pribadi cukup meriah walau ditetesi rintik-rintik air hujan.

Inilah cerita lengkapnya,

Semua siswa dari mulai calon siswa baru [kelas X], XI, XII dikumpulkan di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera rutin. Tetapi ada yang beda dengan upacara kali ini, suasana murid amburadul, kocak abis. Dari barisan lelaki, nggak ada yang satu kelas lagi. Semua berbaur. Suasana yang carut marut tidak menghilangkan ke-khitmad-an [maaf kalau tulisannya salah] upacara bendera pagi itu yang dirangkap dengan acara pembukaan MOS.

Minggu, 10 Juli 2011

Persahabatan di Masa SMA

Halo pembaca, datang lagi dengan muka beringas dengan senyum memuncak. Saya membawa sedikit pembaruan di dalam blog saya, jika jeli bisa menemukannya. Yap mulai menebak-nebak nih. Iya, bener header design baru, saya design sendiri. Bagaimana pendapat pembaca daripada header sebelumnya? Kalau tidak bisa mengingat bagaimana header sebelumnya, ini dia:
Header sebelumnya
Inti postingan kali ini bukan membahas tentang header baru, tetapi sedikit membahas tentang persahabatan, tau kan pembaca? Ya, siapa di dunia ini yang tidak mempunyai sahabat. Mungkin jawabannya tidak, tidak ada di dunia ini yang hidup sendiri, menyendiri. Semua butuh orang lain bukan. Disini saya ingin bertanya, “Apa sih arti sahabat untuk pembaca sekalian?”

Sebelum pembaca menjawab, saya ingin menjelaskan arti dan makna sahabat bagi saya. Sahabat bagi saya adalah seorang yang spesial yang menjadi teman di kala sama-sama dan menjadi musuh di saat berkompetisi, bukannya sebaliknya. Seorang sahabat sejati tidak akan menjerumuskan sahabatnya sendiri bukan?
Kalau boleh bercerita sedikit tentang sahabat-sahabat saya, inilah mereka yang selama setahun terakhir mewarnai setiap jengkal hidup saya dengan warna-warna pastel yang cerah, menemani langkah saya yang selama ini selalu sendiri, merubah mendung yang selama ini memayungi hidup saya menjadi pelangi warna-warni. Wah kata-kata saya kok jadi alay?

Sabtu, 09 Juli 2011

Nightmare: Pembagian Kelas!!!!

Halo pembaca, semoga hari kalian menyenangkan. Seperti blogger yang masih SMA dikit banget ya? Yang ada mas-mas mbak-mbak blogger yang udah pada kuliah, sama om om tante tante yang udah berpenghasilan, jadi nggak bisa berbagi sedikit kebahagiaan. Ya sekedar sapa saja untuk blogger yang masih SMA, gimana nih liburannya? Campur aduk sepertinya. Yah untuk siswa SMA seperti saya ini memang butuh sekali yang namanya “liburan”. Sekolah full-day dari jam enam pagi sampai jam tiga sore duduk diam diatas bangku sambil melototin guru yang sedang berdiri dan “bernyanyi” di depan kelas. Apakah nanti siswa-siswa seperti saya ini kena ambeyen akut ya? Habis 9 jam duduk dan hanya di potong waktu istirahat 1 jam jadi = 8 jam duduk. Wow!

Nah, sekarang liburan tinggal 2 hari lagi, wah waktunya pembagian kelas. Bisa dikatakan “nightmare”
mungkin, teman-teman baru, suasana baru, saya benci itu. Mungkin sekilas, “ye teman baru, kelas baru” tapi wah butuh adaptasi lagi dan inilah titik lemah saya, ber-ADAPTASI. Mungkin dalam seleksi alam saya adalah yang paling pertama mati karena kurang dapat beradaptasi. Memang saya adalah orang yang pendiam dan tertutup bagi orang yang baru mengenal saya, itulah mungkin kendalanya. Ya entahlah. Menyerah sebelum berperang itu bukan jalan terbaik bukan. Go fight! Semangat!

Rabu, 06 Juli 2011

Uang = Waktu, Bahagia

Uang, segalanya butuh, sangat butuh. Mana ada orang yang hidupnya tidak memerlukan sedikit pun uang. Kalo ada yang bilang, “aku hidup dengan cinta”. Ungkapan basi menurut saya. Saya realistis, hidup saya memang butuh uang, banyak. Mungkin saya tidak menyadari berapa miliar uang yang sudah keluar dari dompet orang tua saya untuk sekolah, biaya hidup dan sebagainya. Apa yang saya lakukan tak ada! Memang, orang tua tak menuntut balas atas semua uang yang mereka keluarkan untuk saya, mereka hanya ingin SAYA SUKSES. Sukses secara jasmani dan rohani, sukses secara jasmani adalah sukses di dunia sebagai manusia yang memiliki hidup layak dan bisa mencukupi hidup dan keluarganya, sedangkan sukses secara rohani adalah sukses menjadi imam dalam keluarga dan dapat mengarahkan keluarga ke jalan yang benar. Tentang uang dan motivasi mungkin yang bisa saya jadikan garis besar untuk postingan kali ini.