Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

Sayap Malaikat atau Tanduk Setan

Aku berjalan ke KIRI atau KANAN?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Toycam editing

Senin, 16 Januari 2012

Pada Waktu yang Salah...

Mungkin seperti ini, ketika cinta hadir pada waktu yang salah...
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Minggu, 15 Januari 2012

Monolog Jati Diri

"DGC"
Taken with CANON EOS 550D | Editing by Photoscape
SMAN 7 Surabaya, Diklat Jurnalistik Dasar ke-1, 26 Nov 2011
Ditulis karena keluh seorang kawan, yang kehilangan jati diri dan sudah tak disini:

Noktah Hitam Putih

UNTITLED
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Sabtu, 14 Januari 2012

Bercumbu

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Kamis, 12 Januari 2012

Elegi

Simpai Rumput
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Aku bisa melihatmu, masih bisa. Kau yang menggerai rambut diantara tetalian rumput. Menari, menuai rindu di kelopak mentari. Dan aku masih mengenangmu, dalam elegi. Tentang asa, tentang cinta, tentang harapan. Kami, aku dan kamu melebur menjadi-jadi. Dan, aku masih bisa melihatmu, kini pergi meninggalkan pelangi kemudian hilang dan tak kembali.

Jumat, 09 Desember 2011

Bukan Bernyanyi (Melangkah Pergi)

Coming Home | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Editing by Photoshop + ToyCam

Desember...
Desember tahun lalu, masih kurasakan jahitan luka waktu itu, masih kudekap lembut pahitnya tahun itu, tahun-tahun kelamku, tahun dimana aku masih bernyanyi. Waktu dimana aku menikmati hari dengan musik, yang kini ku benci.

Desemberku kini, penuh pelangi, bersama menggali potensi.
Desemberku kini, menari merangkai mimpi, diatas haribaan bumi. Kini aku kembali, untuk menulis bukan bernyanyi.
Desemberku kini, hari-hari yang kuimpi, dalam hampa dalam sepi.

Untuk mimpiku kini, di genggam jari ini. Jurnalis, Sastra dan Desain Grafis. Kurangkai dalam satu guratan mentari. Kudekap dalam hangatnya lembayung hati.

Kini aku melangkah, meninggalkan nyanyian, kuganti tulisan.
Hanyalah tulisan, bukan deretan paranada acak, bukan lagi bass, bariton dan tenor.
Hari ini, wawancara, pemimpin pelaksana dan rapat redaksi. Hanya itu, bukan bernyayi.

Sekali lagi, bukan bernyanyi.
tidak lagi bernyanyi, selamanya begini.

ditulis dengan hati
dengan emosi...

Jumat, 11 November 2011

11:11, 11-11-2011

Sebelas | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Hari ini, saat detik dan menit berdampingan, sebelas dan sebelas. Ketika hari, bulan, dan tahun pun melenggak bersamaan. Juga sebelas, sebelas dan sebelas. Saat itu, aku sendiri menikmatinya, stigma indah, paradigma harap. Untuk lorong waktu yang tak berujung. Aku berdoa, untukmu kawan...

ditulis bersama kawan, bersama merayakan
sebelas, sebelas dan sebelas
ketika banyak cinta berlabuh diantaranya

Kamis, 10 November 2011

Untitled

"Benang Merah"  | Taken with DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Aku, kamu dan mereka. Dalam satu benang merah. Kami, dirimu dan semua. Kita membela, kita bersumpah dan kami merdeka. Darah dan senjata, hanya itu yang kini tersisa. Untuk dia, untuk darahnya, untuk jasanya. Kami, hari ini mememorikan semua. Dalam satu ikrar, ikrar Indonesia...

Selasa, 08 November 2011

Anekdot

"Yellow" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoshop
Deretan klise waktu; lucu, miris, menegangkan. Menderu-biru diatas warna hitam dan mengharu-sendu dibawah haribaan warna putih.  Melintas halus menerobos ruang asa, menemukan pralambang sarkasme. Diatas derita. Dalam anekdot menggelitik; kuning, hitam dan putih.

Senin, 07 November 2011

Melankolis (Gadis Ungu)

"Frida" | Taken with CamDig SONY W220 CyberShot | Editing by Photoshop
Melankolis. Masih hidupkah? Menyemikah? Entah, lenyap mungkin. Sebuah paralagu dalam serenada hidup, kuselipkan ia dan kelopaknya. Tapi kini, bobrok. Entah, apa yang kutulis, ketidak-jelasan. Tak terarah abstak namun absurd. Kuputar waktu, kutemukan kembali, dalam potret wajah ia, gadis ungu. Melankolis.

Sabtu, 05 November 2011

My Drama Queen

Taken with SONY DSC W-220 CyberShot | Editing by Photoshop | "The Drama Queen"
Altar itu milikmu, kuasamu. Melingkar-liuk dari kanan ke kiri, melompat-riang dari sana kemari, dengan prolog indah menggores hati sampai epilog ranum membuai lagi, tapi semuanya terasa—basi. Hilang, hal itu hilang. Senyum dari kilas wajah penuh dempul bedak itu. Mata itu; yang selalu berbicara. Gerakan itu yang (dulu) selalu menenangkan. Kini hilang..

Kau sirna dalam panggungmu, kau hilang diatas dramamu, drama monoton tanpa dialog yang kutonton ribuan kali. Dulu aku kehilangan dirimu, kini aku kehilangan memori, kenangan dan semua tentangmu. Ratuku.

Minggu, 09 Oktober 2011

Menunggu Mendung

Starfruit Tree, Ngaglik, Surabaya | Gloomy Sunday

                "Hei lihat sekarang mendung," teriak lelaki dengan kucuran peluh yang membasahi dahinya.
               Temannya mendongak ke arah langit lalu kembali membanting pandangan kearah tanah yang sudah lama kering.
Ia menyepak-nyepak tanah lalu berkata, "Inilah saatnya untuk kita beristirahat, kawan."
                "Benar kami sudah lelah Tuhan, sangat lelah," sahut kawannya sambil tetap mendongak ke angkasa.
                Dan inilah saatnya aku bisa menangis, ketika sedikit demi sedikit hujan membasahi tanah kami ini, inilah saatnya kami bisa menangis, diantara hujan dan dengan begitu mereka tak bisa melihat betapa rapuhnya kami, pikir lelaki yang satu dengan tetap memandang ke debu diatas tanah yang ia pijak.
                Dan mereka tetap menunggu, selalu menunggu,
                Lalu mati dalam keputus-asaan menunggu mendung..

saat suhu kamar semakin menurun
saat emosi memuncak
di depan jendela, merangkul lutut,
menunggu mendung

Minggu, 02 Oktober 2011

Ilusi: Akhir Penantian

Taken with Digicam SONY DSC W-220 CyberShot w/ tele zooming | Editing by Photoscape
Ilusi...
dalam penantian di ujung waktu,
menikmati udara yang semakin hambar,
mengunyah waktu yang sudah jarang.

Aku, hidup dalam pinggiran zaman berdiri tegar diatas penantian, berdua atau sendirian?
Cerca, cercaan itu yang sudah kenyang kumakan.
Hulu pedang yang sering menancap di jari manisku membuatku terbiasa, akan semua hal yang pernah kita bersama lakukan.

Andai aku memilikinya, sayap bidadari menghitam. Dalam haribaan Tuhan, pelataran tak berwarna, ya hati kita. Hati seorang kawan yang sudah kau ludahi, kau robek sampai irisan paling kecil. Kudengar kaca itu dipecahkan. "Pyar" dan kau hanya diam menikmatinya hancur, kawan inilah pembalasan? Akan semua harapan yang telah kita lambungkan di altar agung Tuhan?

Terima kasih kawan, inilah ujung penantian. Dalam ilusi dan imajinasi seorang pujangga akhir zaman. Dikhianati dalam persahabatan yang ia pegang teguh sendiri? Berdua? Bertiga? Atau berempat? Entahlah aku sudah tak perduli kawan.

Ditulis dalam kecewa,
‘ditampar’ persahabatan
Lalu menunggu di dalam penantian
Dan tergantung pada akhirnya

Jumat, 30 September 2011

Lagi, Haruskah Lagi?


"Dan ketika kucoba untuk kedua kali, ia lebih rapuh, retak dan lebam, apakah jalan yang kuambil salah Tuhan?"


Lagi, kesempatan itu datang lagi. Menjadi bintang yang bersinar dalam asa yang hampir putus. Tapi kadang itu membuat terasa lebih sakit. Jika seorang pujangga memberikan satu bintang kepada hambanya tapi ia terpaksa, untuk apa? Untuk memberikan duri dalam luka yang masih segar tersayat? Perih, menjadikan ia lebih dan sangat perih.
Terlambat, terlambatkah? Mungkin iya, tapi semuanya akan kucoba lagi membangung biduk-biduk antara yang menghiasi bimashakti. Hatiku, untuk kamu? Perdulikah, dapatkah aku seorang pengemis ini menerima apapun yang kau berikan kepadaku, ikhlas...
Retak, pupus, buruk rupa. Berambigu dan beresonansi semua namanya dan namamu dalam hati yang rusak oleh kamu. Tapi aku lebih condong pada bloknya, blok yang seharusnya tidak kupilih, tapi pada kenyataannya ku pilih. Sangat bodoh, bolehkah kuulangi? S-A-N-G-A-T  B-O-D-O-H

Berkecimpung dengan Air Conditioner
dan dengan kerumunan wanita
dalam riuh resah hikayat hati

Kamis, 29 September 2011

Bercabang Dua


"Ketika hujan kulihat menerkam, dalam gelap sepi mencumbu, yang angan kadang berlaku salah. Ketika cinta bercabang dua dan setelahnya: MATI."

Sabtu, 13 Agustus 2011

Cuma Boneka!!!

"Punya kamu, saling merasa mempunyai. Tapi dalam diri saling menyakiti. Pantas, aku tak pernah melihat senyum dimatamu, tak melihat ia berbicara dan tertawa lepas. Hitam, dalam dan penuh misteri. Inikah yang kau sebut relasi, menghargai, menghormati. Bualan! Selama ini hanya aku yang selalu memberikanmu nyawa dalam hubungan ini, kau memang boneka akulah dalangnya, tapi aku bahagia. Tak perlu bertele-tele meminta nyawa kepada Tuhan. Memberikanmu sebuah cinta sudah beribu cukup.
Aku pernah memintamu menggandeng tanganku, menerima ajakanku, membalas senyumku, aku tahu aku GILA! Tanpa harus aku melakukan itu, aku tahu senyuman di wajahmu akan tetap begitu, datar, begitu datar sampai aku melihatnya dalam setiap musim yang kita lalui.
Aku ingin ini semua hidup, aku ingin menukarkan semua dan sisa hidupku padamu, agar nyawaku dan ragamu bersatu dalam suatu ikatan yang tak pernah lepas, dalam raga dan jiwa yang selalu bergandengan, aku bisa aku harus bisa menempuhnya bersamamu, “boneka”-ku, sahabatku, teman hidupku,”