| - DE~VIL - Model: Wahyu Durrotur | Photoshop Creative | Capture with SONY DigiCam CLICK TO ENLARGE |
“Kau percaya takdir?”
“Tidak, bahkan aku tak percaya Tuhan!”
“Kenapa?”
“Jika ada, kenapa ia membedakan kita dengan mereka?”
Tangannya menunjuk mereka yang berdasi dan bermobil hitam. Di sungai seberang.
Rumah-rumah berlantai tiga, tertata rapih dari blok A sampai Z, berwarna-warni. Sedangkan kami, hanya berderet tiga, dengan ornamen sampah dan hitam putih. Hidup dalam susun demi susun kardus basah, lembek dan tak terarah. Kumuh, menjijikkan. Itu sangat kontras, bagiku, Tuhan. Dan kini haruskah aku percaya, um, kau ada?
“Kau salah kawanku.”
“Salah?”
“Tuhan itu ada—”
“Buktinya?”
“Ya.”
“Tuhan itu ada, bagi mereka dan semu untuk kita!”
“Lalu, masihkah deras air mata Ibu kita berguna, untuk meminta kepada Tuhan?”
“Entahlah, teriaklah, Tuhan mendengarmu dari atas kepala-kepala mereka.”
Kemudian mereka terhenyak dalam tawa miris. Senja sore dimana dua orang insan sudah tak percaya Tuhan. Dalam kenyataan, dalam harapan yang tak pernah diwujudka. Mereka ingin membeli keajaiban, tapi, Tuhan mematok harga terlampau tinggi. Dan akhirnya mati tanpa Tuhannya.


