Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2012

Diantara Fiksi

Milkmu?  Bungamu?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic creative editing

Jumat, 09 Desember 2011

Bukan Bernyanyi (Melangkah Pergi)

Coming Home | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Editing by Photoshop + ToyCam

Desember...
Desember tahun lalu, masih kurasakan jahitan luka waktu itu, masih kudekap lembut pahitnya tahun itu, tahun-tahun kelamku, tahun dimana aku masih bernyanyi. Waktu dimana aku menikmati hari dengan musik, yang kini ku benci.

Desemberku kini, penuh pelangi, bersama menggali potensi.
Desemberku kini, menari merangkai mimpi, diatas haribaan bumi. Kini aku kembali, untuk menulis bukan bernyanyi.
Desemberku kini, hari-hari yang kuimpi, dalam hampa dalam sepi.

Untuk mimpiku kini, di genggam jari ini. Jurnalis, Sastra dan Desain Grafis. Kurangkai dalam satu guratan mentari. Kudekap dalam hangatnya lembayung hati.

Kini aku melangkah, meninggalkan nyanyian, kuganti tulisan.
Hanyalah tulisan, bukan deretan paranada acak, bukan lagi bass, bariton dan tenor.
Hari ini, wawancara, pemimpin pelaksana dan rapat redaksi. Hanya itu, bukan bernyayi.

Sekali lagi, bukan bernyanyi.
tidak lagi bernyanyi, selamanya begini.

ditulis dengan hati
dengan emosi...

Selasa, 06 Desember 2011

Sudah...

Autumn Leaf | Taken with Digicam SONY DSC W220 CyberShot | Photoshop
Sudah kering. Sudah habis. Sudah Mati. Tinggal satu dan kini sudah layu. Terlambat, sudah terlambat kawan! Berhenti dan jangan lewati jalan ini lagi. Sudah hilang, runtuh. Pergilah kawan. Sudah banyak yang menanti kehadiranmu di sisi lain dari dunia gelap ini. Terang dan sudah abadi...

Minggu, 13 November 2011

No Way to Find

The Little Bridge

Sesekali kulihat lagi, barisan memori indah itu; saat angin bermain dengan ujung-ujung rambut ikalmu. Saat mentari megiramakan detak jantungmu. Entah dimana kau sekarang, entah diujung gang atau di onak-onak cemara yang tak dapat lagi kuraih...

Minggu, 30 Oktober 2011

Alibi

Ternyata sudah sangat lama, saya tidak menjamah rumah digital saya ini. Maaf teman, saya memang tidak bisa seaktif dulu, mungkin juga satu minggu hanya satu dua kali posting. Kesibukan di dunia nyata yang membuat blog ini tidak bisa terupdate selalu. Tetapi, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, saya harus posting.

Baiklah, untuk postingan pertama setelah vakum panjang ini saya ingin memposting salah satu puisi buatan saya yang akan jadi lirik lagu band kelas saya, ya tidak usah bertele-tele. Puisi ini bertajuk Alibi.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Infinity


Seashore, Pamekasan, Madura 17:25
Aku punya mimpi,
Ya sebuah mimpi tentangku dan mereka.
Yang pernah aku lukiskan diatas birunya langit dan diantara rona senja.
Bergradasi dengan angan yang melambung tinggi.

Aku punya mimpi,
sebuah alur cerita renyah dan menarik
yang dulu hanya angan di kepulan asap lalu-lalang,
tentangku dan kehidupan hitam putihku.

Aku punya mimpi,
dalam tanya, dalam duka.
Sebuah barikade waktu yang tertutup 'kenyataan'

Aku punya mimpi,
yang tinggal selangkah,
yang hanya sekeping,
yang kurang sejengkal.

Aku punya mimpi,
mimpi parau yang nanar oleh logika,
dan kini terwujud dalam lingkar oktaf nada
dan di setiap tulisan yang kugoreskan
lalu tak terbatas,

Duniaku kini, bukan dulu, tapi selamanya...


dari seorang pemimpi,
dalam cerca dan hinaan,
ia menapaki hari,
hingga kini, ia mati dalam raih mimpinya
selama ini..

Minggu, 02 Oktober 2011

Ilusi: Akhir Penantian

Taken with Digicam SONY DSC W-220 CyberShot w/ tele zooming | Editing by Photoscape
Ilusi...
dalam penantian di ujung waktu,
menikmati udara yang semakin hambar,
mengunyah waktu yang sudah jarang.

Aku, hidup dalam pinggiran zaman berdiri tegar diatas penantian, berdua atau sendirian?
Cerca, cercaan itu yang sudah kenyang kumakan.
Hulu pedang yang sering menancap di jari manisku membuatku terbiasa, akan semua hal yang pernah kita bersama lakukan.

Andai aku memilikinya, sayap bidadari menghitam. Dalam haribaan Tuhan, pelataran tak berwarna, ya hati kita. Hati seorang kawan yang sudah kau ludahi, kau robek sampai irisan paling kecil. Kudengar kaca itu dipecahkan. "Pyar" dan kau hanya diam menikmatinya hancur, kawan inilah pembalasan? Akan semua harapan yang telah kita lambungkan di altar agung Tuhan?

Terima kasih kawan, inilah ujung penantian. Dalam ilusi dan imajinasi seorang pujangga akhir zaman. Dikhianati dalam persahabatan yang ia pegang teguh sendiri? Berdua? Bertiga? Atau berempat? Entahlah aku sudah tak perduli kawan.

Ditulis dalam kecewa,
‘ditampar’ persahabatan
Lalu menunggu di dalam penantian
Dan tergantung pada akhirnya

Selasa, 13 September 2011

R.A.T


RAT a.k.a Ratih Arnia Tsani
RAT, RAT, RAT
Sebuah inisial, sebuah haluan hidup.
Dari sebuah nama indah dengan perilakunya pula.
RAT hidup dalam suatu ruang
dan sebuah tanda untuk menerka.

RAT, karena kita bertemu
semuanya jadi salah.
Salah karena aku terlalu mencintaimu.
Terlalu mendamba dan menginginkanmu.

RAT, aku sekarang mengerti,
bahwa kau bukan untuk dimiliki,
bukan 'tuk dipertontonkan dalam hadapan semuanya sebagai "kekasih"
Aku tahu, tak perlu status untuk mengungkapkan.
Hanya satu, mengingatmu dalam pahitnya hati ini.

Kini, kau sudah dimilikinya.
Tapi, mengapa aku bisa jadi sangat bodoh,
membencimu, bukan salahmu tak memilihku.
Hanya keadaan dan aku yang membuat skenario ini.

Sebuah inisial RAT yang terselip dalam kata SEMPURNA
itulah kamu...

Ratih Arnia Tsani 

Senin, 12 September 2011

Senandung Pertemanan

Dan ketika semua yang kulihat indah,
Mereka meracau.
Ketika aku merasa semuanya tidak perlu,
Mereka menggalau.
Sebuah awal dari kata "TEMAN" lalu jadi "KAWAN" dan "SAHABAT" dan akhirnya jadi "MUSUH BEBUYUTAN"

Memang hidup bagai tirai hitam.

Di tulis di bangku paling belakang
Dengan tanpa rupa dan wajah
Berlari mengejar asa yang telah lepas 

Selasa, 16 Agustus 2011

Indonesia, Tanah Air Beta..

Indonesia, tanah air beta..
Indonesia, tanah tercinta..
Indonesia, harta pusaka..
Indonesia, merdeka..

Indonesia, banggakah engkau padaku?
Pada aku yang tak pernah khidmat saat upacara
Pada aku yang hanya bisa diam ketika kau diinjak-injak
Pada aku yang belum bisa membawa namamu keatas tangga dunia

Indonesia, hanya aku, mungkin hanya aku.
Seorang anak kawakan jawa, yang kental dengan kalimat-kalimat medok yang khas.
Seorang pria perangkai kata yang terselip dalam lipatan takdir.
Seorang yang hidup dalam kamuflase-kamuflase menggelitik.
Seorang yang terburu mengejar takdir yang lari.

Indonesia,
disini, di dada ini, nyawamu dan nyawaku.
Di setiap fragmen hidupku, tersirat semburat jiwa garudamu.
Dalam gores demi gores kata yang lama kuukir, terjejal semangat merah putihmu.
Diatas debu dalam takdirku, terpatri manis, lembut, bahasa kalbumu.

Indonesia,
dulu, sekarang atau selamanya,
aku, kami dan kita semua,
adalah anak-cucumu dan tak akan lepas,
dari semua napak tilasmu.

Indonesia,
diatas lekuk indah gunung Rinjani,
di alur-alur sungai Musi,
dalam setiap kelopak Raflesia Arnoldi,
di meja-meja jati politisi,
di semua celoteh anak pinggir kali,
kau HIDUP, kau ADA, kau ABADI.

Indonesia,
cuma Indonesia,
tempat dimana aku membuka mata,
dan akan menjadi tempat dimana aku menutupnya pula.

Indonesia, simbolisasi ini
kupersembahkan 'tuk setiap originalitas
'tuk semua kreatifitas
'tuk satu nama, INDONESIA

Surabaya, 16 Agustus 2011

Saat lantunan doa mengambang di udara
Saat pekikan kata MERDEKA menggetarkan lidah
66 tahun lalu, seribu satu insan bersatu
membela, merebutmu dari para kumpeni
Saat ini, kami memperjuangkanmu
dalam persaingan dunia yang semakin menjerat

dari anakmu,
Andaka Rizki Pramadya

Jumat, 12 Agustus 2011

Syair Malam: "Serenada Kesedihan"


Mendung, angin yang terasa menusuk: sepi. Ketika di sudut matamu kutemukan setitik bening, air mata. Mengisyaratkan ringkihan dahan di sela auman malam, mencekam tajam. Ingin ku kembalikan senyummu yang kini hilang, entah, aku tanpa daya. Menyentuhmu saja mustahil: kamu semu. Bayangmu terus menapaki setiap sudut pandangku. Dalam syair ini, kusandarkan lamunan diatas rumput dan pelukan rembulan.

Untukmu, pengisi relung hatiku.
walau semu, RATsemua harapan.

"Mungkin hanya lewat foto ini, tersirat semuanya.."

Jumat, 05 Agustus 2011

Saya Kembali Lagi dengan "Abadi"

Halo sahabat-sahabat blogger, sudah lebih dari tiga minggu saya tidak posting dan tidak update blog. Kangen rasanya, tapi keadaan dan waktu nggak mengizinkan saya untuk kembali ke dunia per-blogger-an ini. Hanya hari ini dan mungkin tidak akan seproduktif dulu. Mungkin hanya dua atau tiga kali seminggu saya akan posting. Ya segala sesuatu yang dijalani bebarengan harus ada yang mengalah dan harus ada yang di prioritaskan bukan?

Kelas XI IPA, ternyata gak sesimpel dan gak semudah tulisannya yang hanya terdiri dari tiga huruf—I, P dan A. Banyak hal yang harus saya kuasai dan handle sendiri dan terpaksa saya harus ngorbanin blog saya ini. Tapi karena menulis adalah satu dari kepingan jiwa saya, tidak mungkin saya bisa menghilangkan kata MENULIS dalam kamus hidup saya.

Untuk pembukaan, saya akan memposting puisi terbaru saya. Wah agak narsis, siapa juga yang mau lihat coba? hehe.
Puisi ini lahir baru saja, baru saja saya ketik seusai jum'atan ketika saya sedang sendiri di teras atas rumah. Sendiri, sepi tapi fikiran ini tidak dan puasa tidak menghalangi saya untuk tidak memproduksi karya sastra.
Puisi ini terinspirasi dari seorang gadis, gadis berinisial RAT. Gadis yang pernah ada dan saat ini masih akan dan akan terus ada di hidup saya. Walaupun kedekatan kami tidak seintens dulu. Ini puisi "simple" bertajuk "Abadi" yang mungkin setiap orang yang membaca mengerti apa maksudnya:


Aku pernah mencintaimu, aku pernah mendambakanmu..
Aku pernah impikanmu jadi milikku..
Tapi aku tepis semua itu, karena itu adalah AMBISI

Aku pernah cemburu jika kau dekat lagi dengannya,
Aku pernah melarangmu kembali dengannya,
Tapi maaf jika caraku salah, aku sadar itu NAFSU

Aku pernah jatuh karena kamu, karena sikapmu
Aku pernah terbang ke angkasa, itupun juga karena kamu
Dalam hati ini, aku kembali terjaga itu KELIRU

Kini, lagi-lagi aku menatap cermin dan kembali memotivasi diri
Kau bukanlah milikku, dan tak akan menjadi milikku!
Aku tahu aku hanyalah SAHABAT yang selalu ada untukmu.
Pundakku pernah jadi tumpuhan kepalamu
Tanganku saksi bisu di setiap lelehan air matamu

Kini, kembali dan kembali..
Aku tersadar, betapa kau sangat berarti.
Aku tak ingin kau tahu, rasaku padamu.
Aku hanya ingin kau tahu, kita bersahabat dan tak punya cinta diantaranya.

Aku tak ingin menorehkan sedikit pun luka di hatimu.
Karena rasaku padamu tak pernah beradu, hanya berlabuh.
Sebuah ketulusan, dalam hati. Walau sakit..

Biarkan semua seperti air,
Mengalir dari hulu ke hilir,
Walau kadang tak jernih, aku ingin selalu jadi bayanganmu.
Yang ada di sampingmu, di setiap langkah mungilmu.
Walau kau tak pernah anggap aku, sebagai BAYANGANMU.

Karena cinta ini tulus,
Karena sayang ini murni,
Karena semua rasaku padamu, abadi..

Semoga sahabat-sahabat sekalian menikmati puisi saya ini dan saya ucapkan pada diri saya sendiri, "SELAMAT DATANG KEMBALI KE DUNIA BLOGGER" salam sejahtera. :D

Selasa, 12 Juli 2011

Mimik, Mimpi, Malam: Inspirasi untuk Sang Malam

Halo pembaca, kembali lagi, kalian pasti sangat tahu tentang inspirasi, ya bentuk nyata suatu intelektual otak manusia yang dituangkan ke dalam sebuah karya, entah apa. Inspirasi begitu banyak dan abstrak, inspirasi itu sebenarnya selalu ada, tergantung kapan kita bisa mengolah inspirasi tersebut. Saya pernah membaca buku, “How to Write and Market a Novel”. Buku yang dibeli Mama saya tahun 2008 inil begitu memacu saya untuk mencoba membuat suatu karya baru setelah puisi dan cerpen. Sebuah novel. Proyek besar, bisa dikatakan seperti itu mungkin. Tetapi, bukankah suatu niat jika dibarengi usaha keras akan membuahkan hasil yang maksimal? Ya dalam buku itu dijelaskan bahwa seorang penulis adalah seorang yang selalu menuangkan lintasan-lintasan ide yang muncul di dalam otaknya, dimana saja, kertas, handphone, notes kecil, tissue. Seorang penulis juga dituntut untuk selalu menulis dan tidak boleh sekalipun tidak menulis. Menulis menurut saya adalah sebuah kebutuhan seperti makan. Jika tidak makan kita akan mati, seperti itulah, jika tidak menulis saya akan mati dalam tanda kutip. Nah disini saya baru saja menuangkan inspirasi yang saya dapat dari satu bintang dan malam, dingin menusuk tulang. Sebuah puisi sederhana bertajuk “Mimik, Mimpi, Malam”

Jumat, 08 Juli 2011

Surat Sendu dari Ujung Surabaya (Rasa): Serenada Patah Hati

Halo pembaca, Jum’at siang yang panas, hari ini saya ingin sekali mem-posting puisi-puisi saya, wah sepertinya ada yang penasaran, ini memang bukan puisi terbaik saya, tapi semoga puisi ini bisa memberikan makna tersendiri di benak pembaca, puisi ini saya buat ketika patah hati. Memang ababil menurut mbak mbak mas mas blogger yang lebih dewasa, hehe. Tapi inilah ekspresi hati saya, dengan menulis, daripada saya mengekspresikannya dengan hal-hal yang negatif malah lebih berat urusannya. Tidak usah banyak bicara lagi ini puisi saya, berjudul “Surat Sendu dari Ujung Surabaya (Rasa)

Minggu, 03 Juli 2011

Hanya Seorang Lelaki

Pembaca, mungkin postingan kali ini agak lucu, saya mencoba membuat puisi di kala perasaan ini berkecamuk, puisi ini tercipta di kala saya patah hati, seorang lelaki yang patah hati aneh memang, tapi bukankah itu manusiawi? Puisi ini tercipta sekitar enam bulan yang lalu, ketika itu saya menaruh "rasa" pada seorang gadis teman dekat saya, perasaan bersalah yang kala itu menemani saya menuliskan puisi ini pada selembar kertas. Disini saya memang bersalah, dia adalah sahabat saya dan tidak akan mungkin menjadi kekasih saya. Kok jadi curhat, ah itu masa lalu, biarkan puisi ini menjadi lembaran kenangan indah, memang puisi ini tidak begitu sarat unsur sastra didalamnya, tapi mungkin bisa sedikit membuat pembaca terhibur dengan puisi saya ini, berikut puisi yang dari tadi saya ceritakan: