Tampilkan postingan dengan label Perjalanan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan Hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Ai

"Mungkin kalau Ia punya satu saja kesempatan memilih kehidupan. Tentu tidak akan memilih kehidupan seperti yang Ia jalani kini."
BASED ON TRUE STORY

Senin, 30 Juni 2014

Sekilas

-BASED ON TRUE STORY-

“Eki, ayo tarawih, sudah azan...,” suara itu menggantung di ruangan lima kali lima tempat aku melihat seorang bocah lelaki kecil duduk manis di sofa hijau bermotif bersama rapido hitam dan buku bergaris kosong.

“Eki...,” panggil suara itu lagi.

Tanpa satu kata terlontar dari mulutnya yang mungil bocah kecil itu berdiri sambil mendengus kesal. Ia berlari ke arah perempuan dengan mukena putih yang jalannya agak pincang dan bungkuk. Aku tak dapat melihat siapa dia, dia membelakangiku, kemudian berlalu pergi bersama bocah itu.

Sabtu, 04 Mei 2013

Lima Menit untuk Memaafkan

BERDASARKAN CERITA NYATA, TITIPAN SEORANG KAWAN.

Kau tahu di dunia ini ada hal paling indah yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Mereka dapat kau lihat, mungkin juga kau dapat rasakan. Bekas hujan di atas tanah yang menggenang, ditambah terpaan sinar matahari menjelang siang, jika kau beruntung kau dapat bercermin di atasnya.
Detik jam seperti tak berjalan di angka sembilan. Tidak ada yang dapat kulakukan hari ini, tidak sekolah karena ini adalah hari-hari pasca ujian dan menunggu kelulusan. Di ruang tamuku hanya ada beberapa tumpuk novel dan gadget yang sedari tadi klak dan klik.
Di ambang pintu aku melihat bayangan diriku sendiri di atas kaca yang memantulkan pelangi sehabis hujan. Samar kulihat di sana—di sampingku—ada sosok yang kukenal, ya dia. Dia... maafkan aku. Hujan turun lagi dan perlahan-lahan siluet samar yang sangat kukenal itu menghilang di balik gerimis.
Jujur, aku merindukanmu. Jujur, sesungguhnya aku tak pernah sekalipun menyalahkanmu atas semua ini. Kau sudah sangat baik, sampai detik ini tak ada niatan di dalam hatiku untuk sekalipun membencimu.

*

Selasa, 19 Februari 2013

Batu di Depan Pot Mawarku

"Aku melihat berlian! Kamu? Pasti berbeda!"
Taken with Canon EOS 550D | 18-55mm | Aquamarine Picture Style
Beberapa hari ini rasanya langit selalu kelabu, sinar seperti malu menembus awan-awan itu. Tanganku berusaha mencapai kumpulan cumulunimbus di atas sana walau tak mampu meraihnya.
Sudah mulai senja, kulihat mengintip sedikit surya keoranyean dari ufuk-ufuk. Dan rasanya sudah lama sekali aku tertidur dan tak ingin terbangun. Ada banyak pertanyaan yang selalu muncul di benakku saat aku lelap tiba: Apa aku benar-benar tidur? Apa aku selalu bermimpi? Apakah hal yang selalu kuimpikan sama? Lalu... di manakah sesungguhnya dunia nyata itu? Di tempat biasa aku bermimpi atau di alam ini?
Ah sudah. Aku banyak bicara, membuang energi saja. Sebanyak apapun aku berbicara, takkan ada yang mau menjawab. Bahkan untuk mendengar saja pun tak ada.
“Hai, apakah kamu batu?”
“Ya aku batu. Lalu kenapa kamu menyapaku?”
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya kagum melihatmu terseok di depan pot mawarku.”
“Tunggu dulu, ‘terseok di depan pot mawarku’ benar? Lalu apa yang membuatmu mengagumiku? Aku hanya batu.”
“Mungkin hanya batu. Tapi dari dirimu aku belajar.”
“Ah, naif kau. Belajar dari seorang batu adalah pekerjaan orang yang tak pernah belajar.”
“...”
Percakapan terputus. Koneksinya berakhir. Aku sadar lagi.
Aku baru saja mengobrol. Kau tahu, dengan seonggok batu di depan pot mawarku. Tidakkah aku hebat? Atau gila? Haha, siapa peduli. Yang kembali muncul di otakku adalah aku sedang bercakap dengan batu atau dengan bagian lain dari diriku. Cukup, cukup sekali aku terlihat bodoh di depanmu yang tak pernah menjawab bahkan mendengar setiap ocehanku.

Jumat, 08 Juni 2012

Happy Early Birthday!

Sepucuk surat dan sebuah kado yang saya terima satu hari sebelum hari ulang tahun saya. Kumpulan kata yang ditulis tangan oleh ia, sahabatku, si calon arsitek, Nisha Istifani.

06:23, Kamis, 7 Juni 2012 
Happy Early-Birthday! 
Aku tahu ketika kau membaca surat ini, bahkan ujung jarimu pun belum menginjak 17. Memang, aku ingin kau membaca buku ini sambil menghabiskan malam terakhirmu berusia 16 tahun. 
Andaka yang luar-biasa, 
Sebelumnya, maafkanlah kawanmu ini yang tak mampu membikin surat sebagus dirimu, tapi aku berusaha, sungguh. 
Ada banyak alasan mengapa aku memberikan buku ini sebagai hadiah. Buku ini berisikan tentang petualangan, penaklukan, serta keberanian bermimpi. Aku tahu perasaanmu belakangan ini, ketakutanmu akan usia 17 tahun serta kegamangan perkara cita-cita seringkali menghantuimu. 
Andaka,
Kita ini manusia-manusia masa depan. Harapan-harapan negeri, penentu generasi. Maka usahlah kiranya kita saling hilang semangat. Karena satu semesta esok ada di bahu kita. Luar biasa, eh?
Tenang, kawanku, tenang. 
Ketika kita bermimpi, Tuhan mencatat baik-baik mimpi itu, disimpan-Nya rapat-rapat di langit, lalu bila saatnya tiba, mimpi-mimpi itu dijatuhkan. Bertubi-tubi, meluap-luap hingga kau kewalahan. Ya, seperti itulah...  
Mimpi-mimpi selalu milikmu, penulis!
 Nisha Oneng Istifani, Arsitek




HAPPY BIRTHDAY TO ME! 

Kamis, 26 Januari 2012

Sayap Malaikat atau Tanduk Setan

Aku berjalan ke KIRI atau KANAN?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Toycam editing

Minggu, 22 Januari 2012

Kita

Gembok | Disanalah, kita menyimpan rapat cerita kita
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Pixlr-o-matic editing 
- BASED ON TRUE STORY -
"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya." Refrain, Winna Efendi.

Selasa, 17 Januari 2012

Sandiwara: Muka Dua

Disitu, kita bersandiwara, beradu laga
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Senin, 16 Januari 2012

Pada Waktu yang Salah...

Mungkin seperti ini, ketika cinta hadir pada waktu yang salah...
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Minggu, 15 Januari 2012

Monolog Jati Diri

"DGC"
Taken with CANON EOS 550D | Editing by Photoscape
SMAN 7 Surabaya, Diklat Jurnalistik Dasar ke-1, 26 Nov 2011
Ditulis karena keluh seorang kawan, yang kehilangan jati diri dan sudah tak disini:

Jumat, 06 Januari 2012

Dinding Maya

Aku dan kamu, fokus dan miss-fokus, itulah kita, terpisah...
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
-BASED ON TRUE STORY-

“Aku suka kunang-kunang, senja dan hujan,” kata gadisku lalu merentangkan kedua tangannya memeluk angin.

Aku hanya tersenyum, ingin memeluk angin bersamanya, tapi tak bisa. Aku ingin merasakan anginnya tapi tak bisa. Hanya deburnya yang sama.

“Aku suka perjumpaan kita,” jawabku sangat lirih.

Ia meringis, lalu tertawa. Dengar? Apa ia mendengarnya? Peduli apa. Kami masih disana, di pantai dengan jiwa sastra, menikmatinya sendiri, berdua dan selamanya. Ia merenggang kami sama-sama menarik ulur. Kadang mendekat, lekat. Kadang, jauh, menjauh, lalu rindu.

Ia mengendus, perjumpaan kita. “Perjumpaan kita? Sudahlah. Lalu, apa yang kau suka?” tanyanya di lirih di sudutnya.

Lama, aku membeku di tepi lautan. Ingin menjawab, perlukah? “Aku suka pagi, langit dan gerimis.” Acak.
Dan berganti ia dan hiatusnya, menjadi lebur kasih. Hilang dalam stigma-stigmanya yang tak tersentuh kemudian meluap dan meledak diantaranya. Itulah ia, meledak-ledak dan bodoh telah mencintaiku.

“Aku suka hubungan ini?” Apa? Kau menyukainya?

Ini menjadi intermezzo mungkin, kenapa ia suka, kenapa ia mencintai hubungan ini? Tahukah kau kasih, sungguh aku tak senyaman kau, menyukai hal-hal acak, mencintai keburaman. Seperti ini, cinta kita, tenggorokanku tercekal faringku seperti stroke, aku tak akan bisa mengatakannya.

Percakapan kami benar saja terhenti, kami masih terpisah, walau dalam pantai yang sama. Dalam intensitas laut yang sama, dalam satu dekap angin. Lalu aku berusaha menyentuhnya, tak bisa.

“Dinding ini,” kataku dan mengetuknya tiga kali.

Ia menyentuhnya, mengusapnya dari kiri ke kanan, mengbuang sembul-sembul uap yang memburamkannya. Ia menatapku dari sana dengan kalem. Kami sama-sama diatas angin, mengadu nasib, menunggu takdir. Di epilog, tunggulah siapa yang akan jatuh terlebih dulu, aku kamu atau dinding ini. Dunia Maya.

Rabu, 04 Januari 2012

25, 12, 2011: The Death Came (R.I.P Ben Breedlove)

Benjamin Daniel Breadlove atau biasa dikenal dengan Ben Breedlove, seorang video blogger di youtube yang lahir pada 8 Agustus 1993 yang beberapa waktu lalu eksis dengan videonya yang bertajuk "This is My Story". Ada dua bagian di dalam video ini, Part 1 dan Part 2, bagian kedua videonya dirilis 18 Desember 2011 tepat 7 hari sebelum kematiannya saat natal.

Di video itu diceritakan lewat note card yang ditulisnya, ia adalah seorang penderita Hipertrofik Kardiomiopati, sebuah penyakit kelainan otot jantung yang membuat jantung sulit memompa darah dan akan menyebabkan gangguan pada jantung. Diaknosa awal dokter terhadap Breedlove adalah Ia tak akan bertahan melewati masa-masa remajanya. Miris Bukan, dan yang lebih ironisnya lagi diagnosa dokter itu benar.

Breedlove menjelaskan dalam videonya, "Aku tiga kali bertemu dengan kematian". Ya Breedlove memang tiga kali 'menantang' kematian karena kondisinya. Ia menceritakan dalam videonya tanpa berbicara hanya menunjukkan deretan notes yang ia tulis tangan lalu ia tunjukkan pada layar.

Part 1 menurut saya adalah Part yang paling 'menakutkan' ya saat Breedlove menunjukkan bekas jahitan lebar di bagian dada kirinya, terlihat masih memerah dengan kulit bulenya yang putih. Ia menceritakan setiap kali ia 'menantang' kematian ia melihat cahaya putih di suatu ruangan tanpa dinding hanya cahaya. Menurut saya ini adalah sebuah pertanda.

Breedlove sepertinya sangat menghindari kata 'menantang maut' ia lebih suka menyebutnya "I Cheated the Death", Aku menipu kematian. Dan Ia menurut saya orang yang cukup beruntung dapat selamat dari maut sampai tiga kali. Beberapa diantara orang-orang seperti ini bahkan tak memiliki kesempatan lebih.

Mungkin, Tuhan ingin menyampaikan pesan lewat Breedlove bahwa hidup itu tak perlu didramalisasi, hidup ini adalah sebuah perjalanan yang akhirnya akan kembali kepada kematian. Mungkin Tuhan ingin memberikan semangat kepada 'mereka' yang sama seperti Breedlove yang masih berjuang atas hidupnya, tak perlu patah semangat, Tuhan masih memberikannya waktu untuk tersenyum untuk menipu kematian seperti Breedlove.


"Do you believe in Angels or God? | I do"
Ben Breedlove, This is My Story Part 2

*****

Satu fiksi mini dari saya untuknya, Ben Breedlove:

"Apakah kau percaya dengan Tuhan?"

"Tidak, kalau ada kenapa ada orang sepertiku?" katanya sambil menunjuk ke arah dada yang baru selesai di operasi kemarin.

"Inilah jalan Tuhan, Kawan."

"Apa? Membuatku bertemu kematian berkali-kali?"

"Ya, dengan itu kau akan bertemu dengan-Nya dan kau akan percaya bahwa Ia ada."

Keduanya terdiam dalam kebekuan tentang Tuhan. Di tengah senja mendekap mereka dalam satu harapan, kembali bertemu Tuhan.

*****

Dan ini videonya,
THIS IS MY STORY (PART 1)



THIS IS MY STORY (PART 2)



Desember 25, 2011: Rest In Peace Ben Breedlove
"Aku percaya, saat ini kau sudah bertemu dengan malaikat-malaikat dan Tuhan."

Minggu, 01 Januari 2012

Tahun Baru: Kenanglah Kematian Kami!












ALL OF THESE PICTURE ARE TAKEN WITH SONY DSC-W220 CYBERSHOT DIGICAM MODE FIREWORK SHOTS AND EDITING BY PHOTOSCAPE

Jumat, 09 Desember 2011

Ayo Ngeblog: Karena Saya Berbeda


“Blog adalah tempat dimana saya hidup, tumbuh, besar dan bersinar.”

Tinggal beberapa minggu lagi, saya menunggu hari spesial untuk saya. 31 Desember 2011, blog ini akan genap berusia 1 tahun. Blog yang berdiri karena unsur ketidak-sengajaan ini sudah berjuang bersama saya. Jatuh, bangkit bersama, seperti satu jiwa. Blog ini memang tak sepopuler blog seleb blogger yang sudah mulai menjamur dan memang bukan satu formalitas kepopuleran yang saya cari dari kanal ini.

Blog menurut definisi saya pribadi adalah sebuah lembar digital dimana kita bisa berekspresi, berkarya dan tunjukkan kepada dunia. Pertama kali saya mengenal blog adalah saat kelas 9 SMP, tepatnya saat Tugas Akhir mata pelajaran TIK saya adalah membuat dan menggunakan blog.

Saat itu guru saya bertanya, “Apa kalian tahu manfaat dari blog ini?”

Sontak kami diam dan memang tidak tahu apa yang harus kami jawab. Semua menunduk, semua berfikir keras. Saya sendiri hanya memandang keatas lampu-lampu neon yang berjajar tiga sambil menerawang dan berfikir sejenak. Pentingkah blog? Untuk apa? Pikirku dalam hati.

Cukup lama saya melamun sampai akhirnya pekikan suara bariton guru saya memaksa saya bangun.

“Blog adalah diary—“ suaranya dibiarkan mengambang.

Sekelas menatapnya heran. Diary? Pikirku lagi. Kata itu telah mengingatkan saya pada satu momen dimana saya masih menulis deretan prosa berima setiap malam. Bisa dikatakan sebagai diary bisa juga dikatakan puisi. Entah orang menyebutnya apa yang terpenting bagi saya buku saya itu adalah teman terbaik saya waktu itu. Saya memang seorang introvert dengan pembawaan plegmatis yang kental. Pantas dan tidak heran saya memang kurang bisa bergaul dan beradaptasi secara baik dan sempurna. Saya lebih suka mengurung diri untuk sekedar membaca buku atau menulis apapun.

Buku itu, diary saya. Dialah yang akan selalu ada ketika tidak ada seorang pun yang dekat dengan saya sampai akhirnya saya mengingkirkan ‘sahabat’ saya itu karena kesal dengan hidup saya yang monoton dan hitam putih.
Setelah beberapa hari buku itu hilang atau sengaja dihilangkan saya merasa kehilangan. Tapi, rasa kehilangan itu saya tekan kuat. Saya mulai berani keluar untuk beradaptasi, untuk sekedar saling bertukar ide dan pemikiran, untuk hanya bertegur sapa. Cukup sulit memang tapi lama-kelamaan saya nyaman dengan kondisi baru saya ini.

Setelah menginjak bangku SMP, saya merasa ada gejolak lain dalam diri saya. Gejolak akan rasa ingin tahu yang sangat besar. Pilihan hati saya jatuh kepada satu puisi dan cerpen. Waktu itu, puisi pertama yang saya buat mendapat apresiasi yang baik dari teman-teman dan guru saya. Setelah momen itu, ambisi saya untuk terus menulis puisi dan cerpen mulai terangkat. Saya mulai rutin menulis puisi dan cerpen dalam komputer keluarga saya. Saat itu, saya bertekad, saya akan tetap menulis dan tidak akan berhenti menulis.

Ingatan saya terlalu banyak mengilas balik. Kembali ke laboratorium komputer tempat dimana saya pertama kali mengenal blog. Sejak saat itu saya menemukan sosok milenium dari diary saya, diary digital yang bernama Blog.

Sejak saat itu, semangat saya untuk tetap menulis semakin besar. Sampai pada suatu saat, saya merasa putus-asa karena blog saya ini tidak pernah tersentuh oleh siapapun kecuali saya. Saya frustasi dan klimaksnya akhirnya saya memilih untuk berhenti menulis dan mulai berganti ke dunia tarik suara, tepatnya paduan suara.

Menginjak SMA, tepatnya bulan Juni 2011 lalu entah motivasi ini muncul dari mana sehingga saya ingin melanjutkan dan meneruskan menulis di dalam blog. Mungkin karena di SMA saya banyak menemukan hal-hal menarik yang kadang orang tak pernah memperhatikannya. Hal-hal sepele, hal-hal yang dimarginalkan, semua itu menarik untuk saya korek lebih dalam.

Kebiasaan itu semakin tak terbendung akhirnya saya meluapkan hasrat menulis saya ini kembali ke blog usang saya. Saya punya tekad baru, untuk apa karya saya dilihat, saya bukan ingin show off, saya hanya ingin menulis, sesederhana itu. M-E-N-U-L-I-S.

Tiga bulan berjalan, tak pernah saya sangka blog saya ini mulai jalan traffic-nya. Mulai ada beberapa blogger lain yang singgah dan berkomentar di setiap posting saya. Pertama-tama saya aktif kembali saya memiliki konsep blog “Mengkritik sesuatu yang salah yang dianggap benar!” Itu moto blog saya ketika itu. Sukses, dengan konsep ini traffic blog saya naik drastis sampai titik kebosanan itu muncul lagi. Saya bosan hanya dengan begini, saya tidak ingin hanya menjadi air yang beriak tenang, saya ingin menjadi sebuah air terjun yang dinamis.

Sampai pada satu malam, saya merenung di dalam kamar disudut paling gelap dalam kamar saya.
Saya berfikir:

“Sudah waktunya saya berkenalan dengan dunia dan dunia berkenalan dengan saya.”
“Saya ingin dikenal, saya ingin membuat sesuatu untuk dunia dan nggak cuman numpang nafas aja disini. Saya capek cuman ketawa-tawa menghabiskan umur tanpa tujuan. Saya ingin dikenang nanti kalau saya mati. Dikenang terus.”

Malam itu begitu panjang sampai akhirnya saya terlelap dalam rencana-rencana besar akan tujuan hidup saya kedepan. Bukan cuman luntang-lantung jadi pegawai, bukan juga jadi karyawan yang harus menurut kata-kata bos. Saya ingin menjadi pembeda, saya ingin berbeda. Saya tidak mau hanya bisa melihat punggung seseorang dan mengikutinya, saya ingin menjadi seseorang yang dilihat punggungnya dan menatap mentari, merangkai harapan. Kerja keras dan usaha, kunci yang selalu akan saya pegang teguh sampai kesuksesan benar-benar ada dalam genggaman saya.

Setelah itu, saya merombak blog saya total, mulai dari konsep sampai tema. Dari dulu yang terlalu banyak widget-widget tidak penting yang memberatkan blog saya, dari dulu yang berkonsep mengkritik jadi membagikan karya. Semua ini saya lakukan karena satu. Saya ingin beda. Saya ingin dikenang. Saya ingin menjadi Alexander Graham Bell selanjutnya. Bukan menciptakan telepon, saya ingin menciptakan sesuatu yang berguna untuk duniam bukan hanya untuk diri saya sendiri tapi untuk seluruh umat manusia.

Sampai detik ini sudah ada 200 followers blog saya, saya masih belum merasa berbeda dan dikenang. Saya tidak ingin menjadi seleb blogger, saya tidak ingin mencari kepopuleran instan. Saya mencari satu jati diri yang beda, saya ingin berguna. Dikenal dan dikenang karena berguna bukan karena sensasi.

Pesan terakhir dalam posting panjang saya kali ini adalah untuk kalian yang saat ini masih merasa jadi pengikut, bangkitlah jadilah pemimpin. Buatlah orang lain mengikutimu bukan malah sebaliknya. Kalian itu unik dan beda hanya kalian belum mengeksplor diri kalian lebih jauh sehingga belum tahu keunikan yang bisa menjadi senjata kalian untuk menjadi beda dan berguna. Bukan menjadikan diri kalian tersingkirkan atau termarginalkan, buat diri kalian menjadi seseorang yang baru, yang belum ada duanya. Dan hiduplah dalam dunia yang kau anggap nyaman jangan meniru orang lain sedangkan dirimu sendiri tersiksa.

Selamat menjadi beda kawan, saya menunggu kalian untuk menjadi beda. Saya menunggu kalian untuk bersama bergandengan tangan dalam perbedaan dan menjadi satu kekuatan yang utuh. Kita lain karena kita berbeda. Karena saya sendiri mencoba untuk tetap beda.

Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Ayo Ngeblog: Saya Ngeblog, Kamu…??!! pada blog duniamuam

Bukan Bernyanyi (Melangkah Pergi)

Coming Home | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Editing by Photoshop + ToyCam

Desember...
Desember tahun lalu, masih kurasakan jahitan luka waktu itu, masih kudekap lembut pahitnya tahun itu, tahun-tahun kelamku, tahun dimana aku masih bernyanyi. Waktu dimana aku menikmati hari dengan musik, yang kini ku benci.

Desemberku kini, penuh pelangi, bersama menggali potensi.
Desemberku kini, menari merangkai mimpi, diatas haribaan bumi. Kini aku kembali, untuk menulis bukan bernyanyi.
Desemberku kini, hari-hari yang kuimpi, dalam hampa dalam sepi.

Untuk mimpiku kini, di genggam jari ini. Jurnalis, Sastra dan Desain Grafis. Kurangkai dalam satu guratan mentari. Kudekap dalam hangatnya lembayung hati.

Kini aku melangkah, meninggalkan nyanyian, kuganti tulisan.
Hanyalah tulisan, bukan deretan paranada acak, bukan lagi bass, bariton dan tenor.
Hari ini, wawancara, pemimpin pelaksana dan rapat redaksi. Hanya itu, bukan bernyayi.

Sekali lagi, bukan bernyanyi.
tidak lagi bernyanyi, selamanya begini.

ditulis dengan hati
dengan emosi...

Sabtu, 19 November 2011

The Last One

"The Last One" | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Dia menoleh, mencium segenggam kotak kecil berbungkus kover cokelat lalu menciumnya, menghirup aromanya dalam-dalam. Ia puas, "Untuk inilah aku bertahan."

"Hanya itu? Hanya itukah harapanmu setelah bertahun-tahun?­—“ kalimatku menggantung. Dan bukan untuk aku?

Aku menunduk melihatnya dengan rasa bangga akan sesuatu yang ia dapat, sekali lagi bukan aku. Untuk hal yang lain yang sama sekali luput dari dugaanku. Meleset dan sia-siakah? Hanya ia tumpuhanku selama aku berada disini, di atas penderitaanku sendiri. Menyayat (lagi) lukaku sendiri yang masih segar.

Ia kembali menatapku setelah puas menghirup aroma khas dari sesuatu yang ia dekap. Beku, tatapannya berubah beku ketika menatapku. Mata cokelat yang dulunya selalu bergolak kini hilang menjadi mata becokelat tanpa makna. Dingin dan implisit. Tak lugas dan jelas seperti dulu ketika aku masih berjuang bersama ia.

“Bahagiakah?” tanyaku perlahan dan kata-kataku gemetar.

Ia tak menjawab, hanya mengangguk yakin. Aku balik mengangguk kepadanya. Diam. Lalu aku mendekat ke tubuhnya dan berbisik, “Kaulah wanitaku, bahagiamu, bahagiaku, hanya itu yang perlu kau tahu dariku.”

Tetap diam bahkan setelah aku mengucapkan kata-kata yang biasanya membuatnya gemetar ketika aku mengucapkannya di telinganya. Sudahlah, ia bahagia. Aku berbalik dan menatap hamparan padi yang sudah mulai menguning. Memejamkan mata dan menghirup aroma dedaunan yang selalu menenangkan.

Dan kembali kubuka mataku, berharap ini bukan kenyataan. Dan berbalik menatapnya lagi. Mataku nanar melihat siluet hitam diantara surya senja. Ia pergi?  Tanyaku dalam hati. Ia pergi dengan harapan baru, bersama hal baru dan tanpaku? Tanpaku? Dan pertanyaan terakhirku tak pernah ia jawab.

Kamis, 17 November 2011

Yang Terselamatkan

Tersibak. Untuk ia -- untuk lantunan ayatnya. Menikmati hembus nafasnya, dingin, gemetar dan rapuh. Kini, hampir hilang, tapi terselamatkan. Ia, hidupnya, untuknya; hidupku kupersembahkan.

Untuk nenek, di Rumah Sakit
untuk yang kedua kalinya.
Beliau drop, dan kini lagi.
Longlife dan Get Well Soon Gramm

Minggu, 13 November 2011

No Way to Find

The Little Bridge

Sesekali kulihat lagi, barisan memori indah itu; saat angin bermain dengan ujung-ujung rambut ikalmu. Saat mentari megiramakan detak jantungmu. Entah dimana kau sekarang, entah diujung gang atau di onak-onak cemara yang tak dapat lagi kuraih...

Jumat, 11 November 2011

11:11, 11-11-2011

Sebelas | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Hari ini, saat detik dan menit berdampingan, sebelas dan sebelas. Ketika hari, bulan, dan tahun pun melenggak bersamaan. Juga sebelas, sebelas dan sebelas. Saat itu, aku sendiri menikmatinya, stigma indah, paradigma harap. Untuk lorong waktu yang tak berujung. Aku berdoa, untukmu kawan...

ditulis bersama kawan, bersama merayakan
sebelas, sebelas dan sebelas
ketika banyak cinta berlabuh diantaranya

Senin, 07 November 2011

Melankolis (Gadis Ungu)

"Frida" | Taken with CamDig SONY W220 CyberShot | Editing by Photoshop
Melankolis. Masih hidupkah? Menyemikah? Entah, lenyap mungkin. Sebuah paralagu dalam serenada hidup, kuselipkan ia dan kelopaknya. Tapi kini, bobrok. Entah, apa yang kutulis, ketidak-jelasan. Tak terarah abstak namun absurd. Kuputar waktu, kutemukan kembali, dalam potret wajah ia, gadis ungu. Melankolis.