Tampilkan postingan dengan label Sisi Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sisi Lain. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

Lalu, Apakah Kiamat Semirip Ini?



Satu jam sebelum dini hari, ketika aku sedang menyikat gigi. Dengan tidak sengaja busa dari pasta gigi yang kugunakan terpeleset jatuh ke gayung. Membentuk gundukan yang mengambang di batas antara air dan udara sesak kamar mandi. Lalu pikiranku melayang terbang, entah dari mana pikiran aneh tentang kiamat itu datang.

 Apakah kiamat itu seperti ini?

Selasa, 01 Juli 2014

Ai

"Mungkin kalau Ia punya satu saja kesempatan memilih kehidupan. Tentu tidak akan memilih kehidupan seperti yang Ia jalani kini."
BASED ON TRUE STORY

Senin, 30 Juni 2014

Sekilas

-BASED ON TRUE STORY-

“Eki, ayo tarawih, sudah azan...,” suara itu menggantung di ruangan lima kali lima tempat aku melihat seorang bocah lelaki kecil duduk manis di sofa hijau bermotif bersama rapido hitam dan buku bergaris kosong.

“Eki...,” panggil suara itu lagi.

Tanpa satu kata terlontar dari mulutnya yang mungil bocah kecil itu berdiri sambil mendengus kesal. Ia berlari ke arah perempuan dengan mukena putih yang jalannya agak pincang dan bungkuk. Aku tak dapat melihat siapa dia, dia membelakangiku, kemudian berlalu pergi bersama bocah itu.

Kamis, 19 Juni 2014

Aku Pulang

Ketika dua langkah kakiku melangkah maju ke ubin-ubin yang sudah tak bisa lagi kukatakan retak, jalan air pun sudah menggenang di sudut-sudut yang punya celah. Rasanya menengadah begitu berat, asbes satu dua sisi sudah terlepas dari pegangannya.
Sungguh manusia apa aku ini? Batinku retak.
Rumahku sudah lebih dari satu tahun tak pernah kusambangi, yang ada hanya memori-memori tentang 'masa jaya'-nya yang menggantung bersama dengan rangka kayu yang tak berkekuatan. Mungkin cukup baginya satu lalat hinggap, lalu hancur ke bawah hingga kepingannya selembut debu.
Selangkah lagi kakiku maju, tapi batinku menyuruhku tetap diam di tempatku semula, bahkan satu sisi diriku menyuruhku keluar dan meninggalkannya seperti yang rekaman dalam neuronku sejak terakhir kali aku mencium bau cat yang masih terasa baru.

Selasa, 19 Februari 2013

Batu di Depan Pot Mawarku

"Aku melihat berlian! Kamu? Pasti berbeda!"
Taken with Canon EOS 550D | 18-55mm | Aquamarine Picture Style
Beberapa hari ini rasanya langit selalu kelabu, sinar seperti malu menembus awan-awan itu. Tanganku berusaha mencapai kumpulan cumulunimbus di atas sana walau tak mampu meraihnya.
Sudah mulai senja, kulihat mengintip sedikit surya keoranyean dari ufuk-ufuk. Dan rasanya sudah lama sekali aku tertidur dan tak ingin terbangun. Ada banyak pertanyaan yang selalu muncul di benakku saat aku lelap tiba: Apa aku benar-benar tidur? Apa aku selalu bermimpi? Apakah hal yang selalu kuimpikan sama? Lalu... di manakah sesungguhnya dunia nyata itu? Di tempat biasa aku bermimpi atau di alam ini?
Ah sudah. Aku banyak bicara, membuang energi saja. Sebanyak apapun aku berbicara, takkan ada yang mau menjawab. Bahkan untuk mendengar saja pun tak ada.
“Hai, apakah kamu batu?”
“Ya aku batu. Lalu kenapa kamu menyapaku?”
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya kagum melihatmu terseok di depan pot mawarku.”
“Tunggu dulu, ‘terseok di depan pot mawarku’ benar? Lalu apa yang membuatmu mengagumiku? Aku hanya batu.”
“Mungkin hanya batu. Tapi dari dirimu aku belajar.”
“Ah, naif kau. Belajar dari seorang batu adalah pekerjaan orang yang tak pernah belajar.”
“...”
Percakapan terputus. Koneksinya berakhir. Aku sadar lagi.
Aku baru saja mengobrol. Kau tahu, dengan seonggok batu di depan pot mawarku. Tidakkah aku hebat? Atau gila? Haha, siapa peduli. Yang kembali muncul di otakku adalah aku sedang bercakap dengan batu atau dengan bagian lain dari diriku. Cukup, cukup sekali aku terlihat bodoh di depanmu yang tak pernah menjawab bahkan mendengar setiap ocehanku.

Sabtu, 04 Februari 2012

Ia berbicara?

Apakah ia berbicara? Tanyakan pada dirimu, apa lima huruf itu berbicara? Apa yang mereka bicarakan? Beri tahu saya, karena saya tak pernah bisa melihat ia berbicara...

Kamis, 26 Januari 2012

Sayap Malaikat atau Tanduk Setan

Aku berjalan ke KIRI atau KANAN?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Toycam editing

Selasa, 24 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 10 (Selesai)

Firefly, sang pembawa keajaiban
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

“Milyaran tanah jarak kita,
tak jua tumbuh sayapku,
Satu-satunya, cara yang ada,
gelombang tuk’ ku bicara.”
Dewi Lestari – Selamat Ulang Tahun

Sabtu, 21 Januari 2012

Tanah Tuhan

Tanah Tuhan; disana kami ada, berdampingan dalam dua petak Tanah Tuhan
Taken With SONY DSC W220 CyberShot | No Editing

Jumat, 20 Januari 2012

Diantara Fiksi

Milkmu?  Bungamu?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic creative editing

Selasa, 17 Januari 2012

Sandiwara: Muka Dua

Disitu, kita bersandiwara, beradu laga
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Senin, 16 Januari 2012

Pada Waktu yang Salah...

Mungkin seperti ini, ketika cinta hadir pada waktu yang salah...
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Minggu, 15 Januari 2012

Noktah Hitam Putih

UNTITLED
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Sabtu, 07 Januari 2012

Rasi dan Mimpi (Untuk Bertemu Kembali)

MENGGAPAI MIMPI
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

~ INI BUKAN FIKSI, HANYA SATU POTONGAN HIDUP HARI INI ~

Merah, biru, ungu, dan indigo. Kami sama-sama melihat langit, merah, biru, ungu dan indigo. Berbeda, tapi sama. Semua berbintang, kami sama-sama menujuknya, rasi gubuk penceng. Kami sama-sama memperhatikannya.

“Lihatlah, rasi itu, dari kanan ke kiri kemudian ke bawah.”

“Ya lihatlah, itu canopus, yang putih kekuningan.”

“Benar, yang itu di ujung rasi Carina.”

Lalu muncul harapan, yang selama ini kami pendam diam-diam. Mengembang, dalam tunjuk-menujuk. Aku menujuk Bellatrix, kawanku menujuk Gacrux. Lalu kami sama-sama berpandangan, dalam kotak empat belas inci.

“Hey, pilihan kita sama.”

“Ya, sama. Bellatrix dan Gacrux sama-sama berwarna merah, kawan.”

Pilihan kami sama, memerah dan jingga. Mungkin, hampir sama. Walau berbeda rasi, kami sama.

Sudah lewat tengah malam, aku dan Ia menelusuri bintang, mengambilnya, dan menyelipkan harapan disana. Banyak sekali, terlampau banyak melebihi jumlah bintang di Bima Shakti. Tapi kini, sudah terlampau pagi, kotak kami sudah memanas dari tadi.

“Kawan, ini sudah terlalu sepi.”

“Sepi? Ya, tapi mimpi-mimpi ini? Siapa yang memegangi?”

Aku menengadah lagi, “Lihatlah, sebuah rasi, ia tampak berbeda dari kecil sampai tertinggi. Ia masih memegangi dalam satu ikatan lagi.”

“Maksudmu?”

“Tak perlu satu tangan memegangi, karena mimpi ini akan selalu mempunyai rasi.”

Kami sama-sama mengerti, tentang arah pembicaraan ini. Mungkin hanya kami yang mengerti arti “terlampau pagi”, arti mimpi-mimpi, dan rasi-rasi.

“Untuk yang terakhir kawan. Pilihlah satu dari sejuta mimpi.”

“Baiklah, untuk yang terakhir, pilihlah dengan tanpa menutup mata.”

Ya kami membuatakan mati kami masing-masing, lalu menelisik dan menengadah kembali. Untuk yang terakhir, kami memilih satu mimpi. Satu diantara sejuta mimpi-mimpi. Dan kami memilih...

“Aku memilih Procyon. Kau?” Mata kami masih terpejam.

“Aku memilih, Gomesia.” Terlampau kecil.

“Hei, coba lihat, kita memilih bintang dalam satu rasi.”

“Aku lebih memaknai, dalam satu mimpi, kawan.”

“Ya perpisahan ini mempunyai mimpi. Untuk bertemu kembali.”

Kotak empat belas inci kami sama-sama menghitam, memunculkan bunyi perpisahan, dalam alat ketik yang memanas, saat senja saat pagi, tak pernah bertemu, tapi kami sama menggapai mimpi. Untuk bertemu kembali.

untuk semua kawan saya di blog 
yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu

Sabtu, 19 November 2011

The Last One

"The Last One" | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Dia menoleh, mencium segenggam kotak kecil berbungkus kover cokelat lalu menciumnya, menghirup aromanya dalam-dalam. Ia puas, "Untuk inilah aku bertahan."

"Hanya itu? Hanya itukah harapanmu setelah bertahun-tahun?­—“ kalimatku menggantung. Dan bukan untuk aku?

Aku menunduk melihatnya dengan rasa bangga akan sesuatu yang ia dapat, sekali lagi bukan aku. Untuk hal yang lain yang sama sekali luput dari dugaanku. Meleset dan sia-siakah? Hanya ia tumpuhanku selama aku berada disini, di atas penderitaanku sendiri. Menyayat (lagi) lukaku sendiri yang masih segar.

Ia kembali menatapku setelah puas menghirup aroma khas dari sesuatu yang ia dekap. Beku, tatapannya berubah beku ketika menatapku. Mata cokelat yang dulunya selalu bergolak kini hilang menjadi mata becokelat tanpa makna. Dingin dan implisit. Tak lugas dan jelas seperti dulu ketika aku masih berjuang bersama ia.

“Bahagiakah?” tanyaku perlahan dan kata-kataku gemetar.

Ia tak menjawab, hanya mengangguk yakin. Aku balik mengangguk kepadanya. Diam. Lalu aku mendekat ke tubuhnya dan berbisik, “Kaulah wanitaku, bahagiamu, bahagiaku, hanya itu yang perlu kau tahu dariku.”

Tetap diam bahkan setelah aku mengucapkan kata-kata yang biasanya membuatnya gemetar ketika aku mengucapkannya di telinganya. Sudahlah, ia bahagia. Aku berbalik dan menatap hamparan padi yang sudah mulai menguning. Memejamkan mata dan menghirup aroma dedaunan yang selalu menenangkan.

Dan kembali kubuka mataku, berharap ini bukan kenyataan. Dan berbalik menatapnya lagi. Mataku nanar melihat siluet hitam diantara surya senja. Ia pergi?  Tanyaku dalam hati. Ia pergi dengan harapan baru, bersama hal baru dan tanpaku? Tanpaku? Dan pertanyaan terakhirku tak pernah ia jawab.

Minggu, 13 November 2011

No Way to Find

The Little Bridge

Sesekali kulihat lagi, barisan memori indah itu; saat angin bermain dengan ujung-ujung rambut ikalmu. Saat mentari megiramakan detak jantungmu. Entah dimana kau sekarang, entah diujung gang atau di onak-onak cemara yang tak dapat lagi kuraih...

Sabtu, 12 November 2011

Bayangan

"Shadows" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape


"Berhenti," ujar bayangan pudar yang temaram di sudut senja.

Lelaki itu memandangi bayangannya heran dan menjawab, "Lalu, kemanakah?"

Bayangannya diam. Sepertinya hilang atau mungkin mati. Ia tetap diam, bisu sampai lelakinya geram. Memerah padam mukanya dan berkata lagi, "Baiklah, kita akan diam. Seperti ini sampai ada dialog lagi diantara hati kita yang tak sejalan."

Dia tetap diam.

Lelaki itu semakin marah, lalu ia meraih seperangkat alat jahit dari saku bajunya dan kemudian mulai menjahit, menjahit mulutnya sendiri sampai tidak bisa menganga lagi.

Bayangannya terbelalak, "Bodoh, lalu apa tujuanmu melakukannya."

Lelakinya membalas hanya dengan diam dan memang sudah tak bisa berkata lagi, lalu ia menujuk ke arah jantungnya, mengetuknya dua kali dan kemudian ia pergi dengan mulut penuh jahitan yang tak rapih. Rautnya meringis, mungkin menahan sakit. Mungkin...

Minggu, 06 November 2011

Kemenangan: Dua

dan ini hasil peluh kami selama ini
Dua, tetapi yang pertama. Untukmu, untuk kita, untuk tim ini. Hal-hal yang semula mimpi, hari ini menjadi membumi. Dua, untuk satu kemenangan.

Aku ingat, saat-saat kita harus merelakan fisika, waktu kita melalaikan kimia sejenak, untuk sekedar meleburkan ide bersama. Karena aku idealis, karena kau perfeksionis dan kamu oportunis, itu dan hanya itu yang membuat tim ini kalis.

Dan masih segar memoriku, tentang pagi itu, pagi saat kita sibuk menyiapkan batik yang tak jadi kita kenakan, saat kita saling berkomunikasi "sedang apa dan dimana?" "ayo" dan "cepatlah". Ketika kita mulai mengerjakannya, sebuah maskot mungil buah ide kita, sang idealis, perfeksionis dan oportunis.

Ini yang kami dapat persembahkan, angka dua dan sebuah titel juara. "Kami juara dua," mungkin seperti itu lugasnya dan kami tak ingin membusungkan dada terlalu, karena ini awal, bukan epilog dari cerita tim kami.

Untuk Indonesia, untuk Surabaya, untuk sekolah tercinta; SMA Negeri 7 Surabaya, untuk kelas terindah; Sebelas IPA Dua dan Sebelas IPA Satu. Kami maju, kami bersinar hanya untuk mengharumkan. Cerita SMA.

Walau hanya dua, kami patut bangga, karena kami tunas-unggul bangsa. Selamat, selamat dan selamat untuk kami semua. We are best team ever:

Andaka Rizki Pramadya
Raymond Andreas Soebijantoro -- peranakan Indonesia.
Ditulis ketika perasaan ini terlampau bahagia, ketika tangan ini gemetar menggenggam kemenangan, sebuah ajang desain maskot yang kami juarai, dua, juara dua. Ini sebuah apresiasi saya untuk kemenangan kami, untuk sekolah kami, untuk kelas kami dan untuk semua orang yang mendukung kami.
Secuil klise abadi untuk tim kami:

Sabtu, 05 November 2011

My Drama Queen

Taken with SONY DSC W-220 CyberShot | Editing by Photoshop | "The Drama Queen"
Altar itu milikmu, kuasamu. Melingkar-liuk dari kanan ke kiri, melompat-riang dari sana kemari, dengan prolog indah menggores hati sampai epilog ranum membuai lagi, tapi semuanya terasa—basi. Hilang, hal itu hilang. Senyum dari kilas wajah penuh dempul bedak itu. Mata itu; yang selalu berbicara. Gerakan itu yang (dulu) selalu menenangkan. Kini hilang..

Kau sirna dalam panggungmu, kau hilang diatas dramamu, drama monoton tanpa dialog yang kutonton ribuan kali. Dulu aku kehilangan dirimu, kini aku kehilangan memori, kenangan dan semua tentangmu. Ratuku.

Senin, 12 September 2011

Senandung Pertemanan

Dan ketika semua yang kulihat indah,
Mereka meracau.
Ketika aku merasa semuanya tidak perlu,
Mereka menggalau.
Sebuah awal dari kata "TEMAN" lalu jadi "KAWAN" dan "SAHABAT" dan akhirnya jadi "MUSUH BEBUYUTAN"

Memang hidup bagai tirai hitam.

Di tulis di bangku paling belakang
Dengan tanpa rupa dan wajah
Berlari mengejar asa yang telah lepas