 |
MENGGAPAI MIMPI
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing |
~ INI BUKAN FIKSI, HANYA SATU POTONGAN HIDUP HARI INI ~
Merah, biru, ungu, dan indigo. Kami sama-sama melihat langit, merah, biru, ungu dan indigo. Berbeda, tapi sama. Semua berbintang, kami sama-sama menujuknya, rasi gubuk penceng. Kami sama-sama memperhatikannya.
“Lihatlah, rasi itu, dari kanan ke kiri kemudian ke bawah.”
“Ya lihatlah, itu canopus, yang putih kekuningan.”
“Benar, yang itu di ujung rasi Carina.”
Lalu muncul harapan, yang selama ini kami pendam diam-diam. Mengembang, dalam tunjuk-menujuk. Aku menujuk Bellatrix, kawanku menujuk Gacrux. Lalu kami sama-sama berpandangan, dalam kotak empat belas inci.
“Hey, pilihan kita sama.”
“Ya, sama. Bellatrix dan Gacrux sama-sama berwarna merah, kawan.”
Pilihan kami sama, memerah dan jingga. Mungkin, hampir sama. Walau berbeda rasi, kami sama.
Sudah lewat tengah malam, aku dan Ia menelusuri bintang, mengambilnya, dan menyelipkan harapan disana. Banyak sekali, terlampau banyak melebihi jumlah bintang di Bima Shakti. Tapi kini, sudah terlampau pagi, kotak kami sudah memanas dari tadi.
“Kawan, ini sudah terlalu sepi.”
“Sepi? Ya, tapi mimpi-mimpi ini? Siapa yang memegangi?”
Aku menengadah lagi, “Lihatlah, sebuah rasi, ia tampak berbeda dari kecil sampai tertinggi. Ia masih memegangi dalam satu ikatan lagi.”
“Maksudmu?”
“Tak perlu satu tangan memegangi, karena mimpi ini akan selalu mempunyai rasi.”
Kami sama-sama mengerti, tentang arah pembicaraan ini. Mungkin hanya kami yang mengerti arti “terlampau pagi”, arti mimpi-mimpi, dan rasi-rasi.
“Untuk yang terakhir kawan. Pilihlah satu dari sejuta mimpi.”
“Baiklah, untuk yang terakhir, pilihlah dengan tanpa menutup mata.”
Ya kami membuatakan mati kami masing-masing, lalu menelisik dan menengadah kembali. Untuk yang terakhir, kami memilih satu mimpi. Satu diantara sejuta mimpi-mimpi. Dan kami memilih...
“Aku memilih Procyon. Kau?” Mata kami masih terpejam.
“Aku memilih, Gomesia.” Terlampau kecil.
“Hei, coba lihat, kita memilih bintang dalam satu rasi.”
“Aku lebih memaknai, dalam satu mimpi, kawan.”
“Ya perpisahan ini mempunyai mimpi. Untuk bertemu kembali.”
Kotak empat belas inci kami sama-sama menghitam, memunculkan bunyi perpisahan, dalam alat ketik yang memanas, saat senja saat pagi, tak pernah bertemu, tapi kami sama menggapai mimpi. Untuk bertemu kembali.
untuk semua kawan saya di blog
yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu