Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Ai

"Mungkin kalau Ia punya satu saja kesempatan memilih kehidupan. Tentu tidak akan memilih kehidupan seperti yang Ia jalani kini."
BASED ON TRUE STORY

Senin, 30 Juni 2014

Sekilas

-BASED ON TRUE STORY-

“Eki, ayo tarawih, sudah azan...,” suara itu menggantung di ruangan lima kali lima tempat aku melihat seorang bocah lelaki kecil duduk manis di sofa hijau bermotif bersama rapido hitam dan buku bergaris kosong.

“Eki...,” panggil suara itu lagi.

Tanpa satu kata terlontar dari mulutnya yang mungil bocah kecil itu berdiri sambil mendengus kesal. Ia berlari ke arah perempuan dengan mukena putih yang jalannya agak pincang dan bungkuk. Aku tak dapat melihat siapa dia, dia membelakangiku, kemudian berlalu pergi bersama bocah itu.

Selasa, 19 Februari 2013

Batu di Depan Pot Mawarku

"Aku melihat berlian! Kamu? Pasti berbeda!"
Taken with Canon EOS 550D | 18-55mm | Aquamarine Picture Style
Beberapa hari ini rasanya langit selalu kelabu, sinar seperti malu menembus awan-awan itu. Tanganku berusaha mencapai kumpulan cumulunimbus di atas sana walau tak mampu meraihnya.
Sudah mulai senja, kulihat mengintip sedikit surya keoranyean dari ufuk-ufuk. Dan rasanya sudah lama sekali aku tertidur dan tak ingin terbangun. Ada banyak pertanyaan yang selalu muncul di benakku saat aku lelap tiba: Apa aku benar-benar tidur? Apa aku selalu bermimpi? Apakah hal yang selalu kuimpikan sama? Lalu... di manakah sesungguhnya dunia nyata itu? Di tempat biasa aku bermimpi atau di alam ini?
Ah sudah. Aku banyak bicara, membuang energi saja. Sebanyak apapun aku berbicara, takkan ada yang mau menjawab. Bahkan untuk mendengar saja pun tak ada.
“Hai, apakah kamu batu?”
“Ya aku batu. Lalu kenapa kamu menyapaku?”
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya kagum melihatmu terseok di depan pot mawarku.”
“Tunggu dulu, ‘terseok di depan pot mawarku’ benar? Lalu apa yang membuatmu mengagumiku? Aku hanya batu.”
“Mungkin hanya batu. Tapi dari dirimu aku belajar.”
“Ah, naif kau. Belajar dari seorang batu adalah pekerjaan orang yang tak pernah belajar.”
“...”
Percakapan terputus. Koneksinya berakhir. Aku sadar lagi.
Aku baru saja mengobrol. Kau tahu, dengan seonggok batu di depan pot mawarku. Tidakkah aku hebat? Atau gila? Haha, siapa peduli. Yang kembali muncul di otakku adalah aku sedang bercakap dengan batu atau dengan bagian lain dari diriku. Cukup, cukup sekali aku terlihat bodoh di depanmu yang tak pernah menjawab bahkan mendengar setiap ocehanku.

Minggu, 01 April 2012

Tentang Filosofi

Sebuah cerpen "kompilasi bersambung" bersama Basith Kuncoro Adji. Baca juga bagian sebelumnya:

BAGIAN 1: Mentari Saksi Misteri!
BAGIAN 2: Setengah Malaikat
BAGIAN 3: Kenangan Ajaib?

Minggu, 29 Januari 2012

Kesempurnaan?

Inikah kesempurnaan?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoscape creative editing

Minggu, 22 Januari 2012

Kita

Gembok | Disanalah, kita menyimpan rapat cerita kita
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Pixlr-o-matic editing 
- BASED ON TRUE STORY -
"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya." Refrain, Winna Efendi.

Kamis, 05 Januari 2012

The Death Love

Barang mistis di rumah saya <-- Bell yang setiap malam bunyi tiga kali
Taken with SONY DSC W-220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
Beberapa polisi berseragam lengkap berlari sejajar. Masuk selonongan ke dalam satu rumah minimalis di ujung blok. Suram, gelap hanya ada ilalang kering yang tumbuh di luar pagar-pagarnya. Beberapa polisi dengan kupluk mengangkat telunjuk dan jari tengahnya ke atas dan menjatuhkannya ke arah pintu masuk rumah. Tiga diantara mereka maju dulu dan diikuti dua orang mengendap-endap bersembunyi di kanan-kiri pintu. Braak.

Satu pintu berhasil mereka dobrak lalu meloncat ke pintu lain. Kosong. Kamar dua, mereka dobrak lagi. Ruangan hampir kosong, hanya ada satu kursi dan satu orang tertunduk disana. Tangannya diikat di kursinya. Dua polisi masuk—masih mengendap-endap—lalu mengangkat dagu wanita itu.

Tepat di dua pelipisnya lubang, darahnya mengucur. Satu polisi memegang pelipisnya, gemetaran. Darahnya masih deras mengucur, mungkin baru lima belas menit yang lalu ia mati tertembak. Matanya masih terbelalak, kedua polisi itu mengatupkan matanya kebawah dan melepaskan ikatan di kursinya.

Tiga polisi yang lain masuk ke dalam sebuah kamar. Aromanya anyir, amis bau darah menyeruak ke hidung mereka. Berkali-kali mereka mendobrak pintu besi yang menutupi kamar tanpa jendela itu. Satu hentaman lengan polisi terakhir akhirnya menjebolkan pintu itu.

“Move,” teriak kepala polisi yang memimpin penggerebekan itu.

Mereka menemukannya, seorang berjenggot panjang dan berkumis tebal, dengan jeans lusuh dan robek di tempurungnya. Pria ini membawa AK47 dalam posisi siap tembak, mengacung-acungkan senjatanya ke muka para polisi itu.

“Turunkan senjatamu?”perintah salah satu polisi yang berada paling jauh dari pintu.

Pria itu menoleh dan menjawab dengan suara parau, “Bersabarlah,” ia tetap dengan tangan siap menekan pelatuk.

“Kami ulangi, turun-kan sen-ja-ta-mu!” ulang polisi tadi dengan penekanan lebih di setiap suku katanya.

“Tutup mulutmu atau isi perut senjataku ini akan menutup mulutmu dan juga nyawamu!” jawabnya melawan.

Ia tertawa terbahak-bahak lalu batuk karena tersedak tawanya. Ia menepuk dadanya keras-keras dengan kanan kirinya yang jarinya tinggal empat. “Aku, Baron! Terima kasih kalian sudah datang ke pestaku, kawan-kawan.”

Mereka saling berpandangan, mereka mengganggap sepenjahat ini gila. Kepala polisi maju untuk memberikan pilihan dan penawaran kepada Baron. “Kau pilih; maju menyerahkan diri dan turunkan senjatamu atau akhiri hembusan nafasmu disini?”

“Uh, takut,” katanya sambil mengacungkan kedua tangannya ke langit-langit, nadanya sangat mengejek.

Semua polisi disana sudah sangat geram dengan Baron. Ia menyiapkan pistol tangan mereka yang sudah siap tembak. Semua terarah pada Baron. Baron tak tampak takut sedikitpun dengan  acungan pistol-pistol itu. Ia malah menyulut rokok yang ia pungut dari lantai, asapnya mengepul di udara, menambah sesak ruangan tanpa ventilasi disana.

Baron membuang asap terakhir dari rokoknya ke sekeliling—tepat di muka polisi-polisi tersebut—lalu melanjutkan, “Apakah kalian sudah membawa hadiah untuk datang ke pestaku ini?”

Ia tertawa lagi, semakin keras dan suaranya yang berat semakin parau di telinga-telinga mereka.

“Ya, tentu, kami membawa gadis yang kau bunuh, Baron,” kata salah satu polisi dengan begitu banyak tanda kehormatan tertempel di bajunya.

Ia menyeret tubuh wanita yang sudah pucat itu ke tengah-tengah lokasi, lalu menjatuhkannya sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras. Kulit Baron yang albino kontras berubah jadi merah padam, ia geram, gadis itu adalah istrinya, Beth.

“Cepat kembalikan bidadariku.”

“Tentu, kami akan mengembalikan setelah kau menurunkan senjatamu!” tantang polisi tadi.

“Itu mau kamu? Baiklah.”

Baron membuang senjatanya ke tengah-tengah ruangan, cukup keras sampai membuat senjata rakitan itu terbelah menjadi dua di bagian sambungannya.

“Anak yang cerdas,” Polisi itu mengejek lagi.

Sontak semua polisi mejatuhkan mata senjata mereka ke tanah, mereka bergerak mendekat ke arah Baron perlahan. Baron tetap menunduk, tidak ada satu polisi pun yang dapat melihat ekspresi mukanya. Hanya Beth yang matanya masih belum mengatup yang bisa melihatnya, sayang Beth sudah mati di tangan suaminya sendiri.

Kepala polisi memutar tangannya dua kali menginstruksikan anggotanya untuk berputar mengelilingi Baron dan siaga untuk menyergapnya dari belakang.

Baron masih tertunduk dan tangannya dibawanya ke saku belakang celananya sebelum semua polisi berhasil mengelilinginya.

“Pesta dimulai kawanku,” katanya lalu tertawa gila sambil mengacungkan dua revolver ke muka polisi-polisi itu.

Baron bertindak cepat dan mengarahkan mata senjata itu tepat di mata semua polisi dan menekan pelatuknya berkali-kali. Desing senjata mulai bersahut-sahutan membuat polisi di dalam ruangan gelagapan. Satu-satu polisi disana mati tertembak di bagian mata kiri dan kanan mereka. Bergelimpangan, dan darah sudah membanjiri seisi kamar tanpa perabot disana.

“Kini tinggal kau, polisi sialan.”

Baron mengacungkan satu revolver ke arah polisi terakhir di depan pintu dan membuang satu miliknya—pelurunya habis. Polisi tersebut membeku setelah sikap sombongnya tadi menantang Baron. Sekarang, nasibnya ada di tangan pembunuh berdarah dingin di depannya.

“Baron, turunkan senjatamu,” perintahnya terbata.

“A-aa,” katanya sambil menggelengkan telunjuknya ke kiri dan kanan. “Sebelum malaikat maut menjemputmu apa kau menciantai istrimu sampai mati?”

Polisi itu berkali-kali menelan ludah sambil mencari-cari apakah ada barang yang bisa dijadikannya perlindungan. Bibirnya kelu, mukanya memutih pucat.

“Cepat jawab!” teriak Baron dengan intonasi sangat tinggi.

Takut yang dirasakan Polisi itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menuruti perintah Baron. “Istri, istriku sudah mati Baron. Tapi aku tetap mencintainya sampai mati.”

Baron mengurut jenggot keritingnya sambil mengangguk sekali. “Kalau begitu, buktikan! Masih ada dua peluru di pistol ini dan keduanya untukmu sobat.”

Dengan cepat ia menekan pelatuknya untuk yang pertama dan tertembak lurus kearah dahi polisi bertubuh gendut itu. Tergeletak seketika tubuhnya dengan darah segar yang mengalir menuruni dahi hidung dan mulutnya. Tubuhnya kejang untuk beberapa saat dan akhirnya kepalanya terkulai ke samping.

Baron bersimpuh di depan tubuh istrinya yang penuh darah. “Sayang, kini hanya kau dan aku disini, aku sudah membunuh mereka semua, tidak ada yang mengganggu cinta kita lagi.”

Ia sudah gila, berbicara dengan mayat istrinya dan menggoyang-goyangkan tubuh seakan ia masih bisa berkomunikasi dengannya. Baron mengusap darah yang masih mengucur di pelipis kanan Beth dengan tangan.
“Kau masih tetap cantik, sayangku.”

Baron menelusuri bibir Beth dengan telunjuknya, meratakan gincu merah muda yang sedikit berantakan terpoles di bibirnya. Setelah ia pikir cukup sempurna geratan lipstik di bibir istrinya Baron mengecupnya kecil dan meletakkan mayatnya ke lantai.

Ia berjalan menjauh dari tubuh istrinya dan melompati mayat-mayat lain. Langkahnya becek karena darah sudah cukup membuat setiap gerakan yang ia lakukan menimbulkan bunyi gemerincing. Cermin di sudut kamar yang sudah hilang setengahnya menjadi refleksi bayangan Baron.

Wajahnya keriput dengan bulu hidung berwarna kuning keemasan menyembul keluar. Ia menekan dan menggerakkan pipinya keatas dan kebawah, menyisakan bekas darah istrinya disana. Ia memfokuskan pandangan tepat kearah kedua iris mata birunya.

Rambutnya yang tak disisir ia rapikan sekenanya dengan tangan. Lalu menyentuh guratan keriput yang berlipat tiga di dahinya, lagi-lagi meninggalkan bekas darah yang sedikit mengering di tangannya.

Baron jongkok disana dan mencelupkan tiga-perempat telunjuknya ke genangan darah, memandanginya sebentar lalu menegakkan kuda-kudanya lagi. Ruangan yang lembab disana membuat siapa saja akan sesak napas berlama-lama disana, begitupun Baron. Ia mulai tersengal sedikit.

Tangannya ia goreskan ke depan cermin yang tak sempurna itu, ke kanan, ke kiri dan kesamping. Ia menuliskan meninggalkan empat huruf disana. “MATI” ia menulisnya dengan tangan gemetaran.

Setelah selesai menulis, Baron tersengal lagi lalu terbahak dengan keras. Ia masih mengenggam revolver dengan erat sementara tangan kirinya masih meneteskan darah. Baron berbalik menghadap mayat-mayat yang sudah tak bergerak lalu menepatkan pilihan pada jenazah istrinya yang terkulai cantik. Baron menyeret tangan kiri istrinya sampai ke depan cermin, lalu menegakkan jenazah Beth. Baron menciumnya sekali lagi dan mengarahkan revolver di tangan kirinya ke arah pelipisnya.

“Aku mencintaimu sampai mati, Beth.”

Desingan senjata bergaung di seluruh sudut ruangan. Tak bisa diredam, desingan terakhir ini begitu menyeramkan yang berbaur dengan kesunyian disana. Hanya suara tetes-tetes air yang berdentum dengan darah dibawahnya adalah nyanyian terakhir disana. Mereka semua mati dan Baron akhirnya menunjukkan cinta matinya. Hidupnya, istrinya dan mereka berakhir ditangannya sendiri. Dan hening.

Rabu, 07 Desember 2011

Tinggal Setengah

Shoes | Taken with Digicam SONY DSC-W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Dio menyentuh tangannya lembut, mengecupnya, mendekapnya dalam satu pasang mata yang menatapnya lekat. Dio tak ingin ia pergi, ia ingin tetap tinggal, bersamanya.

“Sudah hampir setengah,” katanya hampir menyerah.

Perempuannya tersenyum sambil mempererat genggamannya, “Masih ada—“ kalimatnya dibiarkan menggantung.

Dio menyimpulkan senyumnya, entah tersenyum atau meringis? Ia merasakan tangan gadisnya tetap menggenggam tangannya erat, jalan fikirannya berubah. Ia ingin pergi, bukan ingin tetap menahannya disini, ia ingin sendiri menikmati hidupnya yang hampir habis.

“Sudalah, aku ini akan menjadi sampah, sayang.”

“Bukan, bukan sampah. Kau permata.”

“Jangan menghibur. Bersikaplah realistis, pergilah,” katanya terbata-bata.

Kekasihnya tadi semakin pucat, ia menatap Dio dekat, merasakan sakit yang dipendam dalam raganya. Ia ingin mengambil setengah sakitnya bukan malah merenggut setengah jiwanya karena kepergiannya.

Dio merenggangkan genggamannya, ia seperti sudah menyerah. Hampir menyerah. Jalan fikiran mereka sudah bersimpangan, walau mereka berdua tahu mereka ingin yang terbaik untuk pasangannya masing-masing. Tapi salahkah? Salahkah bila Tuhan membuat jalan mereka begini, berpisah dalam satu scene yang meluap-luapkan air mata. Tidak Adil.

“Sayang, sudah lebih dari setengah,”

“Mentari belum mengoranye sayang, kita masih punya banyak waktu.”

“Bukan, aku yang membuat senja, aku yang mendatangkan gelap.”

“Tidak, aku percaya setelah gelap akan ada kembali mentari yang terang.”

Dio tersenyum. Pandangannya mulai nanar, ia mengernyitkan dahinya. Sakit. Ia mencoba menyembunyikannya dengan tersenyum. Lampu-lampu rumah sakit membuat matanya silau dan akhirnya cahayanya meredup, semakin redup dan gelap. Tinggal gelap.

Mereka berdua saling berpandangan sejenak, lalu saling membuangnya. Mereka rapuh. Mereka sudah hampir berada di satu sisi persimpangan yang jauh berbeda. Yang tak bisa diraih lagi, tak dapat saling melihat lagi.

Kekasihnya terpejam juga, menikmati desir-desir lembut tangan kekasihnya yang lemas. Ketika ia membuka mata, ia melihat Dio diam, entah hilang atau masih terjaga. Tapi yang masih bisa ia lihat sampai nanti adalah senyumnya. Senyumnya yang tinggal setengah.

Ditulis saat bayangmu tinggal setengah
saat hadirku hanya setengah
dan mati di akhirnya

Minggu, 20 November 2011

My Broken Path

Broken Doll | Taken with SONY DSC-W220 CuberShot | Editing by ToyCam AnalogColor

Dan lagi, bocah itu membaca. Membaca secarik kertas yang ia pegang erat tanpa tulisan, hanya sedikit guratan karena tergencet sesuatu selebihnya hanya kuning pucat karena tersimpan cukup lama. Ia membacanya lekat, padahal ia tahu, tak ada apapun. Hanyalah kertas kuning kusam yang ia simpan erat-erat di saku celananya.

Sesekali ia melihat mentari dan berkata sendiri dalam hati. Mentari, mengapa kita hidup? Dan untuk apa kita hidup? Untuk matikah? Pemikir. Ia memang seorang pemikir yang tak pernah berbicara dalam kebenaran, ia hanya menghias senyum dalam tangis dan merangkai ketegaran dalam suram harinya.

Sementara itu hatinya berbicara, kepada Tuhan, kepada sekelilingnya, walaupun ia sendiri tahu, ia termarginalkan, bahkan Tuhan pun mengasingkannya. Ia bermandikan kelabu, yang semakin menghitam. Dan akan selalu di jauhi ketika berusaha bangkit dari keterpurukan. Angin yang selama ini bergerak bebas dan harmonis pun merasa jijik bersimfoni dengannya.

Bocah itu hanya bocah lelaki kecil yang tak tahu harus melangkah kemana, ia hanya membaca tanda dan menelusurinya tanpa guru. Tanpa satu fondasi yang menuntun. Ia abstrak, ia seringkali termanipulasi oleh jiwanya sendiri yang begitu kompleks dibungkus oleh seonggok tubuh kecil yang polos. Tumpang tindih dan berbanding terbalik memang.

Tapi, ia tahu, ia masih memilikinya. Harapan yang tak kunjung datang itu bukan untuk ditunggu. Hanya harus berlari mengejar dan bangkit. Ia tahu, ia masih memiliki secark kertas itu. Memiliki makna, adanya harapan. Harapan yang belum ia tulis, yang belum ia capai. Ia percaya suatu saat kertas buram itu tak lagi kosong. Berubah dengan penuh jejal sesak harapan dan cita yang telah ia rengkuh. Dan kertas itu adalah penentu dan titik balik hidupnya. Dari kelabu menjadi benderang, dari hitam menjadi terang. Dan itu juga yang menjadi bukti, bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatu yang telah salah. Salah karena keadaan yang tak pernah bisa disalahkan. Menikmatinya, sampai titik balik datang.

Dan pada epilog, bocah itu menatap mentari lagi dan berterima-kasih. Lalu senyum datang dari wajah kecilnya, senyum yang sudah bertahun-tahun tak pernah singgah di pipi dan lesung pipitnya dan berdiri berlari mengejar mentari bersama siluet ‘Ia’ yang ternyata adalah aku. Aku yang bercerita tentang diriku. Tentang hidupku yang tak pernah sejalan dan selaras...

Sabtu, 19 November 2011

The Last One

"The Last One" | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Dia menoleh, mencium segenggam kotak kecil berbungkus kover cokelat lalu menciumnya, menghirup aromanya dalam-dalam. Ia puas, "Untuk inilah aku bertahan."

"Hanya itu? Hanya itukah harapanmu setelah bertahun-tahun?­—“ kalimatku menggantung. Dan bukan untuk aku?

Aku menunduk melihatnya dengan rasa bangga akan sesuatu yang ia dapat, sekali lagi bukan aku. Untuk hal yang lain yang sama sekali luput dari dugaanku. Meleset dan sia-siakah? Hanya ia tumpuhanku selama aku berada disini, di atas penderitaanku sendiri. Menyayat (lagi) lukaku sendiri yang masih segar.

Ia kembali menatapku setelah puas menghirup aroma khas dari sesuatu yang ia dekap. Beku, tatapannya berubah beku ketika menatapku. Mata cokelat yang dulunya selalu bergolak kini hilang menjadi mata becokelat tanpa makna. Dingin dan implisit. Tak lugas dan jelas seperti dulu ketika aku masih berjuang bersama ia.

“Bahagiakah?” tanyaku perlahan dan kata-kataku gemetar.

Ia tak menjawab, hanya mengangguk yakin. Aku balik mengangguk kepadanya. Diam. Lalu aku mendekat ke tubuhnya dan berbisik, “Kaulah wanitaku, bahagiamu, bahagiaku, hanya itu yang perlu kau tahu dariku.”

Tetap diam bahkan setelah aku mengucapkan kata-kata yang biasanya membuatnya gemetar ketika aku mengucapkannya di telinganya. Sudahlah, ia bahagia. Aku berbalik dan menatap hamparan padi yang sudah mulai menguning. Memejamkan mata dan menghirup aroma dedaunan yang selalu menenangkan.

Dan kembali kubuka mataku, berharap ini bukan kenyataan. Dan berbalik menatapnya lagi. Mataku nanar melihat siluet hitam diantara surya senja. Ia pergi?  Tanyaku dalam hati. Ia pergi dengan harapan baru, bersama hal baru dan tanpaku? Tanpaku? Dan pertanyaan terakhirku tak pernah ia jawab.

Sabtu, 12 November 2011

Bayangan

"Shadows" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape


"Berhenti," ujar bayangan pudar yang temaram di sudut senja.

Lelaki itu memandangi bayangannya heran dan menjawab, "Lalu, kemanakah?"

Bayangannya diam. Sepertinya hilang atau mungkin mati. Ia tetap diam, bisu sampai lelakinya geram. Memerah padam mukanya dan berkata lagi, "Baiklah, kita akan diam. Seperti ini sampai ada dialog lagi diantara hati kita yang tak sejalan."

Dia tetap diam.

Lelaki itu semakin marah, lalu ia meraih seperangkat alat jahit dari saku bajunya dan kemudian mulai menjahit, menjahit mulutnya sendiri sampai tidak bisa menganga lagi.

Bayangannya terbelalak, "Bodoh, lalu apa tujuanmu melakukannya."

Lelakinya membalas hanya dengan diam dan memang sudah tak bisa berkata lagi, lalu ia menujuk ke arah jantungnya, mengetuknya dua kali dan kemudian ia pergi dengan mulut penuh jahitan yang tak rapih. Rautnya meringis, mungkin menahan sakit. Mungkin...

Senin, 10 Oktober 2011

For Inggit: Lavender

Ia menatap kedepan menerawang pandang ke hamparan lavender keunguan yang sedang merekah. Ia tersenyum dengan kacamata-nya yang ikut tersenyum, angin yang memainkan helai demi helai rambut ikalnya membuat ia semakin terbawa ke angkasa. Ia merentangkan tangan sembari kedua tangannya menyentuh pucuk-pucuk lavender yang sedang bercumbu bersama deru angin. Lalu ia merenung, muram dan kosong, ini hariku, hari bahagiaku, tapi aku tetap sendiri, tanpa seorang pun menemani, inikah takdirku, Tuhan?

Lalu angin seakan berontak dengan isi hatinya, ia semakin berhembus kencang, semakin kencang lalu mereda bersamaan dengan benda halus yang menteyentuh ujung hidungnya. Ia tersentak lalu membuka matanya perlahan. Pandangannnya nanar beberapa detik dan kemudian jelas. Ia melihat seorang pemuda tersenyum padanya sambil memberikan ia sepucuk lavender yang baru mekar, ia suka lavender itu, sebuah lavender mungil spesial berwarna biru yang berbeda dengan lavender-lavender lain di padang itu.

"Untukmu," kata pemuda itu lalu tersenyum kecil.
Gadis itu membalas senyumnya dan meraih lavender spesial itu dari tangan lelakinya, "Dan kau tak perlu bersusah payah memetik ini diatas puncak kerinduan, aku hanya butuh seikat ucapan dan segumpal memori yang masih kau simpan—” kata-katanya menggantung.
“Tapi dengan tanganku yang rapuh, aku hanya bisa merengkuh sekuntum lavender cacat yang juga rapuh seperti ini,” timpalnya kepada gadis itu sambil menatapnya dalam.
Mata mereka saling bersinkronasi, ada sebuah rindu diantara mata hitam dan cokelat mereka yang saling mengadu. Mereka menyatu.
“Tapi, bukankah ini sebuah kuntum sempurna diambisi terakhirku.”
Lelakinya terdiam.
“Aku tahu, tak perlu sebuah lavender cantik nan sempurna untuk mengapresiasikannya, yang aku butuh hanya sebuah kilasan ingatan yang masih selalu kau ingat di hari ini, hari istimewa bagiku, jugakah bagimu?”
“Tentu, sendiri aku hanyalah sebuah kelopak lavender tanpa mahkota dan kau hanyalah sebuah mahkota biru mungil yang tak kunjung merekah—“ mulut lelaki itu ditutup jari telunjuk gadisnya.
“Biarkan aku yang melanjutkan.”
Lelakinya mengangguk.
“Dan bila kita bersama, kita adalah lavender indah yang sempurna dengan kelopak biru yang berbeda.”
“Seperti kasih kita, membiru diatas kerinduan di awal mula perjalanan dan berakhir di ujung penantian semu,”
“Dan kita adalah, sebuah biru lavender yang akan merekah diujung musim semi.”
Lalu mereka berdua menutup mata dan kembali ke dunia masing-masing; kenyataan yang tak semudah dalam fiksi mini yang tersutradara.

THIS IS DEDICATED TO: Inggit Puspita Riani a.k.a Inggit Inggit Semut,
Happy Birthday, semoga hadiah ini bisa menjadi hadiah terindah di hari jadimu yang ke-17

Terima kasih, sudah bisa menjadi kakak, sahabat dan teman yang baik untukku,
dan maaf aku hanya bisa memberikan ini, sebuah fiksi mini yang terlampau jauh bila dikatakan sempurna.
Sekali lagi, Sweet Seventeen, Nggit. 

Sabtu, 01 Oktober 2011

Bebintang dalam Kenangan

Taken with SONY DSC W-220 CyberShot w/ flash | Editing by Photoscape
Dikutip dari perjalanan hidup saya, Ratih dan kekasihnya.


Angin menggeser posisi bebintang di langit yang terang penuh warna kerlap-kerlip. Bebintang hanya tenang dan mengalir bersamanya. Cahaya bintang yang redup itu semakin kalah binar oleh bebintang baru yang lahir semakin banyak. Ia seorang bintang tua yang sudah semakin melagu sendu.

"Kemana aku kau bawa, duhai angin?" tanya bebintang lembut.
"Ke tempatmu berasal," jawab angin bangga.

Angin berhembus semakin dalam, menyentuh sanubari bintang-bintang yang kian redup karena berada di tempat yang salah. Bintang itu hanya menuruti tanpa ia bisa menolak karena memang angin memegang kendali akan ia, akan kartu matinya. Ia melihat ke depan, ke galaksi yang ia belum tahu namanya. Ia melihat galaksi itu begitu gelap. Hitam dan dingin. Dimana? Dimana matahari dan para bintangnya? Pikir bintang itu.

Jumat, 02 September 2011

Requiem: Saat Emosi dan Amarah Menjadi Doa


Selamat merayakan hari Jum'at, hari yang pendek menurut saya. Halo pembaca, gimana harinya? Baik? Biasa? Ayo-ayo pada kemari, saya mau men-share catatan blak-blak'an terbaru saya, saya juga bingung ini disebut cablak atau cerpen atau apa? Kalau ada yang tahu bisa komen di bawah.

Ya, karya ini tercipta saat semua emosi sudah tidak bisa dibendung di otak, saat semua harapan yang selama tercercah indah menguap tanpa ada yang bisa terwujud, saat amarah merajalela di ambang-ambang perpisahan. Semuanya tertampung dan menelurkan sebuah tulisan, karya berjudul "Requiem". Tertarik, silahkan membacanya.

Semoga menikmati dan beri kritik pedasnya di kolom komentar: