Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

Lalu, Apakah Kiamat Semirip Ini?



Satu jam sebelum dini hari, ketika aku sedang menyikat gigi. Dengan tidak sengaja busa dari pasta gigi yang kugunakan terpeleset jatuh ke gayung. Membentuk gundukan yang mengambang di batas antara air dan udara sesak kamar mandi. Lalu pikiranku melayang terbang, entah dari mana pikiran aneh tentang kiamat itu datang.

 Apakah kiamat itu seperti ini?

Kamis, 19 Juni 2014

Aku Pulang

Ketika dua langkah kakiku melangkah maju ke ubin-ubin yang sudah tak bisa lagi kukatakan retak, jalan air pun sudah menggenang di sudut-sudut yang punya celah. Rasanya menengadah begitu berat, asbes satu dua sisi sudah terlepas dari pegangannya.
Sungguh manusia apa aku ini? Batinku retak.
Rumahku sudah lebih dari satu tahun tak pernah kusambangi, yang ada hanya memori-memori tentang 'masa jaya'-nya yang menggantung bersama dengan rangka kayu yang tak berkekuatan. Mungkin cukup baginya satu lalat hinggap, lalu hancur ke bawah hingga kepingannya selembut debu.
Selangkah lagi kakiku maju, tapi batinku menyuruhku tetap diam di tempatku semula, bahkan satu sisi diriku menyuruhku keluar dan meninggalkannya seperti yang rekaman dalam neuronku sejak terakhir kali aku mencium bau cat yang masih terasa baru.

Minggu, 05 Mei 2013

Miss Marple dan Sekelumit Kisah dari Whitby


Kemarin di Whitby seorang lagi hilang. Tercatat lima orang hilang dalam setahun terakhir. Opsir sudah melacak tapi hasilnya masih ganjil. Semua hilang tanpa jejak yang bisa dilacak. Polisi terus mencari...
--Headline Harian Whitby

Setelah menulis catatan hariannya, Rudolf pergi tidur dalam diam. Ia tinggal sendirian di sudut kota. Tepat di depan dermaga besar yang setiap pagi hingga malam selalu sibuk dengan aktivitas bongkar muat. Tiga puluh menit sejak ia menarik selimut sampai ke dadanya, Rudolf masih terjaga. Matanya memang terpejam, tetapi jantungnya masih memompa kenjang juga otaknya masih aktif meloncat-loncatkan neuron.
Lalu apakah hari ini tuanku Count akan datang? pikirnya dalam hati.
Malam yang panjang bagi Rudolf, karena hingga lewat tengah malam tubuhnya tidak sedikitpun berkompromi untuk tidur. Di dalam otaknya hanya ada tuannya yang datang bersama kabut lewat lubang pintu hingga kemudian membuatnya tidur dalam keabadian.

Sabtu, 04 Mei 2013

Lima Menit untuk Memaafkan

BERDASARKAN CERITA NYATA, TITIPAN SEORANG KAWAN.

Kau tahu di dunia ini ada hal paling indah yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Mereka dapat kau lihat, mungkin juga kau dapat rasakan. Bekas hujan di atas tanah yang menggenang, ditambah terpaan sinar matahari menjelang siang, jika kau beruntung kau dapat bercermin di atasnya.
Detik jam seperti tak berjalan di angka sembilan. Tidak ada yang dapat kulakukan hari ini, tidak sekolah karena ini adalah hari-hari pasca ujian dan menunggu kelulusan. Di ruang tamuku hanya ada beberapa tumpuk novel dan gadget yang sedari tadi klak dan klik.
Di ambang pintu aku melihat bayangan diriku sendiri di atas kaca yang memantulkan pelangi sehabis hujan. Samar kulihat di sana—di sampingku—ada sosok yang kukenal, ya dia. Dia... maafkan aku. Hujan turun lagi dan perlahan-lahan siluet samar yang sangat kukenal itu menghilang di balik gerimis.
Jujur, aku merindukanmu. Jujur, sesungguhnya aku tak pernah sekalipun menyalahkanmu atas semua ini. Kau sudah sangat baik, sampai detik ini tak ada niatan di dalam hatiku untuk sekalipun membencimu.

*

Selasa, 19 Februari 2013

Batu di Depan Pot Mawarku

"Aku melihat berlian! Kamu? Pasti berbeda!"
Taken with Canon EOS 550D | 18-55mm | Aquamarine Picture Style
Beberapa hari ini rasanya langit selalu kelabu, sinar seperti malu menembus awan-awan itu. Tanganku berusaha mencapai kumpulan cumulunimbus di atas sana walau tak mampu meraihnya.
Sudah mulai senja, kulihat mengintip sedikit surya keoranyean dari ufuk-ufuk. Dan rasanya sudah lama sekali aku tertidur dan tak ingin terbangun. Ada banyak pertanyaan yang selalu muncul di benakku saat aku lelap tiba: Apa aku benar-benar tidur? Apa aku selalu bermimpi? Apakah hal yang selalu kuimpikan sama? Lalu... di manakah sesungguhnya dunia nyata itu? Di tempat biasa aku bermimpi atau di alam ini?
Ah sudah. Aku banyak bicara, membuang energi saja. Sebanyak apapun aku berbicara, takkan ada yang mau menjawab. Bahkan untuk mendengar saja pun tak ada.
“Hai, apakah kamu batu?”
“Ya aku batu. Lalu kenapa kamu menyapaku?”
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya kagum melihatmu terseok di depan pot mawarku.”
“Tunggu dulu, ‘terseok di depan pot mawarku’ benar? Lalu apa yang membuatmu mengagumiku? Aku hanya batu.”
“Mungkin hanya batu. Tapi dari dirimu aku belajar.”
“Ah, naif kau. Belajar dari seorang batu adalah pekerjaan orang yang tak pernah belajar.”
“...”
Percakapan terputus. Koneksinya berakhir. Aku sadar lagi.
Aku baru saja mengobrol. Kau tahu, dengan seonggok batu di depan pot mawarku. Tidakkah aku hebat? Atau gila? Haha, siapa peduli. Yang kembali muncul di otakku adalah aku sedang bercakap dengan batu atau dengan bagian lain dari diriku. Cukup, cukup sekali aku terlihat bodoh di depanmu yang tak pernah menjawab bahkan mendengar setiap ocehanku.

Jumat, 06 Juli 2012

Yuwana Mati Lena

FlashFiction ini diikut sertakan dalam proyek nulis bareng peduli bareng 67 Cerita untuk Indonesia

Sebelum negeri ini pernah merdeka, aku sudah memiliki ikrar di atas tanah Jawa. Mengalungkan janji di bumi pertiwi; bahwa kita akan menjadi dua peranakan Indonesia yang kelak jadi tumpuan semesta. Biyung, namanya. Ia mendapatkan nama itu karena Biyung terlahir tanpa rengkuh kokoh seorang Bapak. Tinggi tegap, kulitnya senada dengan alur petak sawah, hitam terbakar. Aku mengenalnya saat kami mulai belajar mengarak meri dan kerbau. Setiap senja berkerudung pulang, aku dan Biyung duduk bersebelahan menunggu matahari menghitam. Pernah suatu saat ia bertanya padaku, mengapa kulitmu begitu berbeda? Sejujurnya aku tidak tahu mengapa. Ibuku pernah bercerita tentang salah satu tokoh dalam babat Jawi, Hanoman. Seekor kera putih yang membawa Shinta kembali dari kerajaan Rahwana. Ibu bercerita tentang pertemuannya dengan Hanoman. Katanya, sang Hanoman yang besar dan bungkuk itu memberinya satu kantung berisi bayi laki-laki dan itulah aku. Seiring bertambahnya umurku, aku dapat mencerna satu mitos itu menjadi lebih logis. Dalam ilmu pengetahuan alam yang kupelajari di sekolah dasar, anak manusia lahir dari bertemunya dua kelamin, bukan lewat mimpi.
“Ibu mengapa aku berbeda?”
Ibu mengusap keringat dengan lengan dasternya. Tetap tersenyum walau kutahu pertanyaanku  membuat “benteng” yang ia bangun selama ini runtuh. Saat itu aku berumur lima belas. Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang berbeda dan terkutuklah mereka yang selalu membedakan satu manusia dengan yang lain, kata Ibu dengan ekspresi datar.
Aku tak pernah mempersalahkan hal itu, sejujurnya. Tetapi warga desa selalu mencibir aku dan Ibuku setiap pulang membeli kangkung. Selalu begitu. Apa yang salah dengan perawakan jangkung dan kulitku yang putih? Apa ini satu kutukan? Lalu, tahun-tahun semakin cepat berlalu. Dua hari sebelum Ibu wafat, Ibu menceritakan satu hal tentang peristiwa sebenarnya. Membuat nafasku tercekat beberapa detik.
Ibu mengatakan bahwa aku bukan anak dari dirinya dan Bapak. Satu tahun sebelum rengek tangis keluar dari bibir tipisku, Bapak tewas dihunus pucuk senapan kumpeni. Rodi masih gencar berlaku kala itu, sebut Ibu. Kumpeni selalu berlaku semena-mena ke semua warga tak terkecuali Ibu. Setiap pagi, para wanita nggarap sawah dan ketika bulan mulai melagu dengan gelap, Ibu adalah “budak” para kumpeni, katanya. Derai air mata deras keluar dari kedua bola matanya tanpa kutahu mengapa. Apa yang salah menjadi budak di rezim Belanda? Itu lumrah. Aku mengatakan, Ibu jangan menangis tidak ada yang salah dengan para kumpeni itu, takdir bangsa ini. Ia menyanggah. Katanya, takdir bangsa ini adalah dijajah kumpeni memang, tetapi bukan takdirmu mengalir darah kumpeni bejat itu di darahmu.
“Aku tak perduli lagi Ibu, tidak perduli darah kumpeni ada di sini,” kataku menunjuk nadi yang berdenyut di pergelangan tanganku. “tetapi di sini,” tanganku yang satu mengarahkan telunjuk ke dada, “tetap ada sejumput tanah basah, tanah dari bumi pertiwi kita ini Ibu, Indonesia.”
Ia terenyuh mungkin akan ucapanku, Ibu selalu diam setelah itu. berhari-hari diam, bahkan sampai jalan makanannya pun kering. Entah atau takdir (lagi) atau Ibu yang menginginkannya. Malam rabu, hujan deras, sudah kusiapkan jahe hangat untuknya. Ibu bergeming diatas pembaringan, mengahadap kiblat. Mungkin sholat, pikirku. Tapi berjam-jam tak ada tanggapan dari tubuhnya, aku panik, kupanggil Biyung. Ia pernah belajar tentang dasar-dasar pertolongan pertama pada mantri kawan Ibunya. Katanya, ibumu wafat. Jika kau berada dihunus pedang dan peluru bersarang di otakmu seketika, mungkin begitulah aku mendiskripsikan perasaanku saat Ibu tiada. Aku tidak bisa menangis, kata Ibu menangis itu lambang kelemahan, seorang lelaki tidak pernah menangis untuk alasan apapun.
“Aku berjanji, setelah pagi ini kita akan bertemu lagi di pagi yang lain,” aku mengatakannya pada Biyung sehari sebelum aku memutuskan pindah dari desa kecil tanpa nama ini.
                Biyung tidak pernah mau menjawab secara terang-terangan. Selalu mengumbar sarkasme yang begitu dalam akan rencanaku. Katanya, bukan karena kulitmu yang berbeda menjadi satu-satunya alasan kau membuang tanah kelahiranmu. Aku selalu menolaknya, aku pintar membuat alasan bahkan untuk seorang lulusan SD seperti Biyung. Dan hingga pada akhirnya, ia mengaku kalah, aku pergi dari tempat ini dengan atau tanpa persetujuannya.
                Tidak penting sekarang bagaimana aku meraih kesuksesan ini. Yang terpenting aku tidak pernah melupakan bagaimana dulu desa tanpa nama membesarkanku dan mendidik mentalku menjadi sekuat baja. Tentang Ibu yang selalu menjadi tumpahan lelahku, dan tentang Biyung. Dan seperti apakah ia hari ini? Tiga puluh satu tahun berlalu, sekarang negeri ini sudah merdeka. Aku tak bisa lagi memandang hamparan ilalang yang mengoranye seirama dengan warna senja yang biasa kupandangi bersamanya dulu. Desa kecilku itu sudah diapit jalanan aspal dengan neon merah-hijau-ungu yang kerlap-kerlipnya menyalahi bintang. Tetapi, masih bisa jelas kukenali bau rerumputan basah yang aku tanamkan dalam hati, tentang bagaimana warganya hadir bersama-sama menenun sungai. Walaupun pernah satu masa mereka menghardik karena aku berbeda, sungguh aku tak pernah menyimpan dendam di hati kepada mereka.
                Menurut salah satu wanita bungkuk yang kutemui di jalan. Katanya ia mengenal Biyung. Tetapi aku tak bisa menemuinya saat ini. Kutanyakan mengapa. Wanita itu menggeleng lemah. Kutanyakan sekali lagi, mengapa aku tak dapat menemui Biyung. Kali ini ia diam, balik menatap mataku. Wanita ini hanya menjawab dengan arah penunjuk jalan yang menuju ke sebuah gubuk di atas bukit. Biyung ada di sana, katanya.
                Tak perlu satu atau dua kecepatan cahaya untuk menjelaskan. Kutemui kawan masa kecilku itu. Sudah seperti apa sekarang dirinya, banyak gambaran-hitam-putih mengalir di otakku sebelum aku tahu seperti apa dirinya saat ini. Dan, hal itu membuatku harus mentah-mentah membuang kilasan bayang indah. Biyung yang sekarang hanyalah pria renta, duduk di dipan teras rumahnya sendiri, tanpa istri bahkan. Satu tangannya terlihat menyatu dengan mata rantai. Sesekali ia memandangku yang heran, Biyung malah tertawa dan berkata, bunuh kumpeni! Untuk sejuta alasan, kali ini aku memang lemah, katakan saja. Aku menangis memeluk kerabatku, memeluknya dalam tangis yang beku tak kuasa menatap dirinya yang kurus kering hidup menyendiri. Di belakang pelukanku ia terus berteriak-teriak, menghujat, menghina kumpeni. Bunuh kumpeni, usir dari bumi pertiwi, merdeka, katanya.
                Percuma aku membuka percakapan dengannya. Dialog yang ia lagukan tetap sama: Bunuh kumpeni, usir dari bumi pertiwi, dan merdeka. Tapi, dalam hati kecilku aku masih berharap ia mengingat ikrar kita di tanah Jawa ini. Tentang bagaimana impian kita menumpu semesta bersama-sama. Saat aku akan pergi dulu, aku pernah berjanji juga padanya. Aku akan kembali pada suatu pagi di lain hari, dan sekarang janji itu kutepati meskipun bukan dengan Biyung yang kukenal dulu. Di akhir cerita ini, aku menyesali kepergianku saat itu. mungkin jika aku tidak pergi semua ini takkan terjadi. Aku mungkin masih mengenal Biyung dan Biyung akan tetap menjadi orang yang sama.
                Dan satu yang ingin kukatakan padamu Biyung, aku tak pernah lupa akan tanah kelahiranku ini. Indonesia akan selalu dan selamanya berada di sini, di hatiku, termasuk engkau, Ibu, dan lembah ini. Yuwana mati lena: Orang baik menemukan naas karena tidak hati-hati. Seperti aku, sempat pernah meninggalkanmu dan desa ini. Dan sekarang adalah terlambat untuk menyesali.
                Batinku perih, terlalu perih untuk melanjutkan nestapa ini lagi.

Selasa, 05 Juni 2012

That's Us

"Infinity"
Taken with CANON EOS 550D | Editing with Xiuxiu Meitu Photo Editor

Senin, 16 April 2012

Dunia Bayangan


Di dunia bayangan, segalanya akan terlihat seperti ini
Taken with EOS CANON 550D | No editing | B/W

Aku berbahagia hidup seperti ini, tunggu, apakah ini kehidupan? Sebuah kehidupan akan ditentukan sampai kita benar-benar telah menembus kematian, berhenti bernafas, berhenti melihat. Apakah ini sesungguhnya kehidupan?

Minggu, 15 April 2012

Ruang

Ini adalah satu ruang ... lalu apa yang membuatnya begitu berbeda?

Sabtu, 14 April 2012

The Apple

"Hands" | Taken with EOS CANON 550D | Photoshop Editing

Minggu, 01 April 2012

Tentang Filosofi

Sebuah cerpen "kompilasi bersambung" bersama Basith Kuncoro Adji. Baca juga bagian sebelumnya:

BAGIAN 1: Mentari Saksi Misteri!
BAGIAN 2: Setengah Malaikat
BAGIAN 3: Kenangan Ajaib?

Sabtu, 28 Januari 2012

Di Pemakaman, Senja Itu

Gothic? Isn't it?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoshop editing

Jumat, 27 Januari 2012

Siluet Merah dan Hitam

Creepy?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoshop editing

Senin, 23 Januari 2012

Mati?

Jadi, HIDUP ataukah MATI?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

Sabtu, 21 Januari 2012

Tanah Tuhan

Tanah Tuhan; disana kami ada, berdampingan dalam dua petak Tanah Tuhan
Taken With SONY DSC W220 CyberShot | No Editing

Selasa, 17 Januari 2012

Sandiwara: Muka Dua

Disitu, kita bersandiwara, beradu laga
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Sabtu, 07 Januari 2012

Rasi dan Mimpi (Untuk Bertemu Kembali)

MENGGAPAI MIMPI
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

~ INI BUKAN FIKSI, HANYA SATU POTONGAN HIDUP HARI INI ~

Merah, biru, ungu, dan indigo. Kami sama-sama melihat langit, merah, biru, ungu dan indigo. Berbeda, tapi sama. Semua berbintang, kami sama-sama menujuknya, rasi gubuk penceng. Kami sama-sama memperhatikannya.

“Lihatlah, rasi itu, dari kanan ke kiri kemudian ke bawah.”

“Ya lihatlah, itu canopus, yang putih kekuningan.”

“Benar, yang itu di ujung rasi Carina.”

Lalu muncul harapan, yang selama ini kami pendam diam-diam. Mengembang, dalam tunjuk-menujuk. Aku menujuk Bellatrix, kawanku menujuk Gacrux. Lalu kami sama-sama berpandangan, dalam kotak empat belas inci.

“Hey, pilihan kita sama.”

“Ya, sama. Bellatrix dan Gacrux sama-sama berwarna merah, kawan.”

Pilihan kami sama, memerah dan jingga. Mungkin, hampir sama. Walau berbeda rasi, kami sama.

Sudah lewat tengah malam, aku dan Ia menelusuri bintang, mengambilnya, dan menyelipkan harapan disana. Banyak sekali, terlampau banyak melebihi jumlah bintang di Bima Shakti. Tapi kini, sudah terlampau pagi, kotak kami sudah memanas dari tadi.

“Kawan, ini sudah terlalu sepi.”

“Sepi? Ya, tapi mimpi-mimpi ini? Siapa yang memegangi?”

Aku menengadah lagi, “Lihatlah, sebuah rasi, ia tampak berbeda dari kecil sampai tertinggi. Ia masih memegangi dalam satu ikatan lagi.”

“Maksudmu?”

“Tak perlu satu tangan memegangi, karena mimpi ini akan selalu mempunyai rasi.”

Kami sama-sama mengerti, tentang arah pembicaraan ini. Mungkin hanya kami yang mengerti arti “terlampau pagi”, arti mimpi-mimpi, dan rasi-rasi.

“Untuk yang terakhir kawan. Pilihlah satu dari sejuta mimpi.”

“Baiklah, untuk yang terakhir, pilihlah dengan tanpa menutup mata.”

Ya kami membuatakan mati kami masing-masing, lalu menelisik dan menengadah kembali. Untuk yang terakhir, kami memilih satu mimpi. Satu diantara sejuta mimpi-mimpi. Dan kami memilih...

“Aku memilih Procyon. Kau?” Mata kami masih terpejam.

“Aku memilih, Gomesia.” Terlampau kecil.

“Hei, coba lihat, kita memilih bintang dalam satu rasi.”

“Aku lebih memaknai, dalam satu mimpi, kawan.”

“Ya perpisahan ini mempunyai mimpi. Untuk bertemu kembali.”

Kotak empat belas inci kami sama-sama menghitam, memunculkan bunyi perpisahan, dalam alat ketik yang memanas, saat senja saat pagi, tak pernah bertemu, tapi kami sama menggapai mimpi. Untuk bertemu kembali.

untuk semua kawan saya di blog 
yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu

Jumat, 06 Januari 2012

Dinding Maya

Aku dan kamu, fokus dan miss-fokus, itulah kita, terpisah...
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
-BASED ON TRUE STORY-

“Aku suka kunang-kunang, senja dan hujan,” kata gadisku lalu merentangkan kedua tangannya memeluk angin.

Aku hanya tersenyum, ingin memeluk angin bersamanya, tapi tak bisa. Aku ingin merasakan anginnya tapi tak bisa. Hanya deburnya yang sama.

“Aku suka perjumpaan kita,” jawabku sangat lirih.

Ia meringis, lalu tertawa. Dengar? Apa ia mendengarnya? Peduli apa. Kami masih disana, di pantai dengan jiwa sastra, menikmatinya sendiri, berdua dan selamanya. Ia merenggang kami sama-sama menarik ulur. Kadang mendekat, lekat. Kadang, jauh, menjauh, lalu rindu.

Ia mengendus, perjumpaan kita. “Perjumpaan kita? Sudahlah. Lalu, apa yang kau suka?” tanyanya di lirih di sudutnya.

Lama, aku membeku di tepi lautan. Ingin menjawab, perlukah? “Aku suka pagi, langit dan gerimis.” Acak.
Dan berganti ia dan hiatusnya, menjadi lebur kasih. Hilang dalam stigma-stigmanya yang tak tersentuh kemudian meluap dan meledak diantaranya. Itulah ia, meledak-ledak dan bodoh telah mencintaiku.

“Aku suka hubungan ini?” Apa? Kau menyukainya?

Ini menjadi intermezzo mungkin, kenapa ia suka, kenapa ia mencintai hubungan ini? Tahukah kau kasih, sungguh aku tak senyaman kau, menyukai hal-hal acak, mencintai keburaman. Seperti ini, cinta kita, tenggorokanku tercekal faringku seperti stroke, aku tak akan bisa mengatakannya.

Percakapan kami benar saja terhenti, kami masih terpisah, walau dalam pantai yang sama. Dalam intensitas laut yang sama, dalam satu dekap angin. Lalu aku berusaha menyentuhnya, tak bisa.

“Dinding ini,” kataku dan mengetuknya tiga kali.

Ia menyentuhnya, mengusapnya dari kiri ke kanan, mengbuang sembul-sembul uap yang memburamkannya. Ia menatapku dari sana dengan kalem. Kami sama-sama diatas angin, mengadu nasib, menunggu takdir. Di epilog, tunggulah siapa yang akan jatuh terlebih dulu, aku kamu atau dinding ini. Dunia Maya.