Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2015

Kutukan [BAGIAN 1]


(ada baiknya membaca sambil mendengarkan music random ini)

“Pernahkah sejenak otak kita memutar sedikit kenangan dari masa lalu, meramunya saat malam dan sunyi mendekap? Menjadikan ramuan itu sebuah tolak ukur keberhasilan kita memerbaiki kehidupan yang saat ini kita jalani. Tidak. Memang tidak. Kita tidak bisa hanya belajar dari melihat spion, ada kalanya kita perlu menabrak, pecah, bahkan remuk sampai tak bisa kembali ke keadaan semula untuk berubah.” –Samasta Astagiri.

Selasa, 30 April 2013

Senin, 11 Juni 2012

Gadis dalam Cermin (15)

Kertas  terlampir yang dibicarakan Lusy dalam suratnya adalah kertas seukuran buku tulis bergaris yang tipis, kontras dengan kertas perkamen diary Clara Harrington. Kertas itu dilipat tiga kali hingga seukuran tiga ruas jari orang dewasa. Diselotip rapi di belakang surat Lusy.

Aku tak tahu bagaimana aku menyebutnya, sebuah peta, juga bukan..., Lusy menulis pembuka di lipatan ke tiga dari lampirannya.

Kamis, 17 Mei 2012

Gadis dalam Cermin (14)


"Di dimensi ini aku berpikir,
tentang kemungkinan ataupun pilihan.
Dan tentang apapun yang menjadi pembeda,
diantara keduanya."
—Andaka Pramadya, Penulis Pemula

Rabu, 18 April 2012

Gadis dalam Cermin (13)

Kemana kau pergi saat dirimu kesepian?
Kemana kau pergi saat hatimu membiru?
Kemana kau pergi saat dirimu kesepian?
Aku akan turut serta
Saat bintang-bintang membiru
--Ryan Adams, dalam novel Lisey's Story, Stephen King

Senin, 26 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (12)

“Believe me, if I started murdering people… there'd be none of you left."

Charles Manson, Murderer from America

Sabtu, 10 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (11)

I can't stand to fly
I'm not that naive
I'm just out to find
The better part of me

I'm more than a bird, I'm more than a plane
I'm more than some pretty face beside a train
And it's not easy to be me

Superman - Five For Fighting

Senin, 05 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (10)

Blood? | Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam |
PHOTOSCAPE CREATIVE EDITING

Minggu, 04 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (09)

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Doris Day - Que Sera Sera

Sabtu, 03 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (08)

"Oleh-oleh dari Bali" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam |
PHOTOSCAPE CREATIVE EDITING

Jumat, 02 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (07)

You are my sunshine my only sunshine
You make me happy when sky are gray
You never know dear how much I love you
Please don't take my sunshine away

NN - You Are My Sunshine

Minggu, 19 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (06)

Spend all your time waiting
For that second chance,
For a break that would make it okay.

There's always some reason
To feel not good enough,
And it's hard, at the end of the day.

I need some distraction,
Oh, beautiful release.
Memories seep from my veins.

Let me be empty,
Oh, and weightless,
And maybe I'll find some peace tonight.

Sarah McLachlan - Angel

Sabtu, 18 Februari 2012

Jumat, 17 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (04)

Old friend, why are you so shy?
Ain't like you to hold back or hide from the light.

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.



Someone Like You - Adele

Minggu, 05 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (03)

Angel of Death
Monarch to the kingdom of the dead
Sadistic, surgeon of demise
Sadist of the noblest blood
Angel of Death - Slayer

Jumat, 03 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (02)

Since your mother cast her spell
Every kiss has left a bruise
You've been reading too much meaning from existence
Now your head is used and sore
And the forecast is for more
Memories falling, like falling rain
Falling rain

Every view they hold on you's
A piano, out of tune
You're an angel
You're a demon
You're just human
Now your world has turned to trash
Broken windows on the past
Take that child and teach him senseless
Damage the dream, damage the dream
I feel nothing, I feel nothing at all
I feel nothing at all

In this gloomy, haunted place
All the feelings are of shame
All the windows have been broken by the children
So the wind screams up the stairs
Slams doors and rattles chairs
I wish we weren't conceived in violence
Damage the dream, damage the dream
The magic is broken
The house is in ruins
Your memory's one-sided
The side that you're choosing feels nothing
Feels nothing at all
We feel nothing at all
James - Lullaby

Kamis, 02 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (01)

Dearest, the shadows I live with are numberless
Little white flowers will never awaken you
Not where that dark coach of sorrow has taken you
Angels have no thought of ever returning you.
Gloomy Sunday - Billie Holiday

Selasa, 24 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 10 (Selesai)

Firefly, sang pembawa keajaiban
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

“Milyaran tanah jarak kita,
tak jua tumbuh sayapku,
Satu-satunya, cara yang ada,
gelombang tuk’ ku bicara.”
Dewi Lestari – Selamat Ulang Tahun

Rabu, 18 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 9

Aku; Seperti ilalang, yang dimainkan.
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Rabu, 11 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 8

Daun Kering
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
"Diantara daun kering itu, ada aku dan Abi yang tak diperhatikan Tuhan."

Sudah lima hari pagiku sepi, sudah selama lima hari ini bau antiseptik sudah lebih terbiasa dengan hidungku yang alergi ini. Abi bolak-balik pulang pergi rumah ke rumah sakit untuk menemaniku disini. Sudah berkali-kali kubilang pada Abi untuk tidak usah terus-menerus menemaniku disini. Ia keras kepala, apalagi dengan keadaannya yang sudah tidak mau mengikuti terapi. Ia semakin cuek dengan keadaannya sendiri.

Dua hari terakhir ini terapi yang kujalani tak menampakkan hasil apa-apa. Nihil. Progresnya mendatar itu tandanya aku akan selamanya lumpuh, meskipun dokter berusaha menyembunyikan. Begitulah dokter, selalu memberikan harapan kosong, memberikan harapan sudah tak ada. Dan percaya pada keajaiban? Satu dibanding semilyar itu ada. Tapi aku percaya.

Aku sudah tak memiliki harapan. Aku tahu, Tuhan selalu membuat klise, klise semu yang palsu.

Suster Dina menyapaku untuk yang ketiga kalinya pagi ini, membawa senampan bubur panas—menu yang setiap pagi kumakan dan rasanya hambar—dan dua potong semangka dengan ukuran cukup besar. Muak aku dengan makanan sejenis ini, tak berasa apapun di lidahku.

“Sus, adakah menu lain yang lebih bervariasi di rumah sakit ini?”

Suster Dina tertawa khas, ia meletakkan nampan perak itu di atas meja di sudut. “Kamu bosan, Nak?” Ia tertawa, “Ya, semua orang pasti punay titik kebosanan Gilang.”

Ia duduk diatas kursi rotan yang berdecit itu lalu menengadah sambil menghela nafas. Lalu suster itu melepas bandana putih yang dipakainya. Rambutnya sudah tampak memutih di pangkal-pangkalnya. Wajahnya sudah cukup pantas dikatakan keriput, umurnya sekitar lima puluh tahunan. Bandananya berbeda dengan suster lain, mungkin ia suster kepala di ruangan ini.

“Suster sudah dua puluh lima tahun bekerja disini dan cukup sering merasa sangat bosan.”

Pandanganku berubah dari hamparan atas rumah fokus memandangnya tajam. Ia tampak sedih, di sudut keriputnya tampak itu. Sebuah kekecewaan.

“Tapi, suster disini menemukan keajaiban.”

“Keajaiban, Suster?”

“Ya, keajaiban.”

Aku tak mau menjawab, aku sudah cukup jelas dengan kata keajaiban. Kata yang membuatku terhenyak saat Kinan—almarhumah lebih tepatnya—menunjukkan bentuk nyata keajaiban itu padaku. Miris mungkin, tapi itulah sudah sangat paham diriku dengan definisi keajaiban.

“Ya suster aku mengerti,” jawabku tak semangat.

Ia mengangguk, “Ya, suster tahu kau paham. Tapi suster hanya mengingatkan; keajaiban ada kadang saat kita tak pernah menganggapnya ada,” sanggahnya lalu bangkit dan pergi dari kamarku.

Lima detik kemudian pintu kamarku berdecit lagi dan langkah yang khas tertanggap gendang telinganku—suara kaki menyeret dengan interval yang sama. Aku mendongak dan mengintip dari balik jendela. Abi, membawa sekotak nasi padang favoritnya.

Ia menggeser jendela dan menyuruhku masuk. Cukup sulit buatku untuk menyesuaikan dengan kursi roda, berat, tanganku sempat lecet karena belum terbiasa menyeret kursi roda. Ia meletakkan nasi itu diatas ranjang. Lama ia tertegun disana, tak mau berbalik.

“Bi, ada apa?”

Ia berbalik cepat-cepat, aku melihat air mata di sudut matanya, menetes. Diusapnya cepat, lalu menawarkan nasi itu padaku. “Tak apa, makanlah.”

Aku menggeleng. “Bi, pernah kau merasa Tuhan ini tak pernah adil?”

Beberapa detik kami mematung dalam pemikirinan yang mungkin sama. Kami saling berpandangan berusaha menemukan benang merah yang sudah tak terurai di otak kami. Pertanyaan ini terdengar seperti pernyataan mungkin.

“Makanlah, enak Lang.” Abi mengaburkan fokus masalah.

“Bi,” sambil menghela nafas. “Apa Abi pernah percaya keajaiban?”

Pertanyaanku seperti pedang bermata dua, mematikanku dan juga Abi. Kembali, kami dalam kebekuan. Entah, yang terdengar hanya detak jantung kami yang tak menentu.

“Dulu dan sekarang, entahlah.” Sama, Bi.

Abi menyembunyikan kedua tangannya di balik saku. Nafasnya tersengal tetapi masih berusaha melanjutkan, “Setelah Umimu ndak ada Abi ndak percaya lagi, Le.

“Aku juga Bi. Percaya atau tidak, Tuhan tak pernah memberikan jalan terang untuk kita. Tanpa kaki aku bukan apa-apa Bi. Untukmu, untuk dunia ini juga.”

Kami sama-sama tertunduk dalam kuasa Tuhan. Sama-sama kehilangan daya untuk tetap berusaha, lalu tertegun dalam satu kotak mimpi yang takkan tergapai tanpa tangan, tanpa usaha. Tuhan mengambil usaha kami, bukan untuk membuat kami lebih berusaha, tetapi malah mematikan langkah kami. Meruntuhkan satu-satunya anak tangga kami. Lalu menertawai kami, dalam satu titik keterpurukan yang menjadi.

Aku sudah berkali mencoba untuk mempercayai satu keajaiban, tapi apa, hasilnya kosong, hanya menangkap angin di mata pisau. Aku sama sekali tak bisa mengerti, labirin yang dipersiapkanku untuk Abi. Aku tak mengerti, dari mana aku harus bisa mempercayai bahwa Tuhan memberikan kami jalan keluar. Tuhan seperti selalu meniupkan angin kencang ke gubuk rapuh yang kami bangun penuh asa. Begitu saja.

“Lalu, bagaimana Le?

Mana kutahu Abi, membangun gubuk lagi? Itu sama saja mengulangi kesalahan yang sama. Membangun istana? Darimana batu-batanya? Dayaku sudah hilang Abi. Mintalah kepada Tuhan, mungkin ia mendengar atau mungkin ia lebih sibuk dengan dengan hal-hal lain. Entahlah.

Pergulatan batin itu tak pernah terkata, hanya menjadi simpul merah di hati, lebih baik memang tak ada yang tahu. Lebih baik hanya aku dan Tuhan.