Selasa, 30 April 2013

Gadis dalam Cermin (16)

"Selalu ada jalan pulang,
selalu ada pusara untuk keluar,
demi setetes darah yang pernah kau korbankan,
Percayalah."

Sudah berhari-hari ia tertidur di antara kabut merah yang tiba-tiba menggeliat di atas lantainya. Lucy tak tahu apa yang membentur kepalanya ketika dunia serasa berputar-putar tadi. Lampu redup di langit-langit masih berada di sana. Meja, kursi, tempat tidur, dan lemari juga masih pada tempatnya. Jadi apa yang membuatnya pingsan? Rasanya bagaikan jet lag.
Aku di mana? Ia bertanya dalam hati.
Di mana Mady? Tanyanya lagi.
Tata ruang kamar ini persis sepeti kamarnya di Santa Mondega, tetapi mengapa seluruh pandangan matanya jadi merah gelap, lalu cahaya redup dari atas lampu juga memerah seperti mata serigala yang sedang marah di tengah malam. Cermin di depannya yang setiap hari selalu dibersihkan dengan pembersih kaca oleh Lucy tiba-tiba menjadi penuh debu dan usang. Lucy melontarkan pertanyaan yang sama kembali dalam hatinya, Aku di mana?

Taken with EOS Canon 550D with 50mm.


Beberapa langkah ke luar kamar, Lucy dihadapkan pada pemandangan mengerikan di dalam matanya yang masih memerah darah. Lorong yang ia pijak sekarang sama persis dengan Santa Mondega tetapi mengapa kabut merah di seperempat kakinya ada di seluruh lantai. Tempat apa ini sebenarnya? Kaki Lucy melangkah gontai ke kanan dan kiri mengikuti arus kabut yang terus bergerak. Tidak ada petunjuk tentang apa semua ini dan ia harus tetap mencari tahu. Ia tak mau berada selamanya di tempat yang ia sebut “Neraka” ini. Lucy sampai pada sebuah persimpangan dan di tengah-tengahnya terdapat anak tangga ke atas yang panjang. Masih sama seperti Santa Mondega, bedanya dari tadi kakinya membawa Lucy melangkah ke tempat ini, di setiap ruangan yang tertutup selalu ada teriakan menyedihkan. Kadang wanita menjerit, lalu bayi merengek kemudian suaranya seperti dibungkam, lelaki muda yang berteriak-teriak. Dan, yang terakhir di sebelah kanan ada suara perempuan menangis yang sangat halus dan kesunyian di antara suara itu dan Lucy menambah mencekam tempat ini.
Kemudian suara memanggil namanya...
Lucy... apa kau mendengarku?
Lucy bungkam. Suara wanita itu terus memanggil namanya, semakin kuat, semakin keras meskipun ia berusaha menutup kedua kupingnya.
Karena tak tahan Lucy menjawab dengan jeritan juga, “Siapa kau?”
Aku adalah Clara....”
“Aku tak percaya!”
Kau harus memercayaiku....”
“Untuk apa?”
Hanya percaya, percayalah, aku akan menyelamatkanmu.”
“Mengapa aku harus percaya?”
Karena hanya aku yang dapat menyelamatkanmu.
Lucy tak menjawab, pertanyaan itu agaknya mencekik lehernya untuk tak lagi berkata-kata. Ia tak dapat lagi memercayai siapa-siapa selain suara itu. Suara yang lain sepertinya tak banyak membantu malah makin membuat telinganya panas.
“Kemana aku harus pergi?” Lucy bertanya.
Tidak ada suara. Mereka semua bergeming setelah Lucy angkat suara.
Suara itu kembali muncul, kali ini dengan gema.
Tempat ini yang pernah disebutkan suara pantulan dari dirimu yang lain saat kau berada di perpustakaan dengan Mady kala itu. Inilah Santa Mondega dua puluh tahun lalu...
Suara lolongan serigala yang terdengar luar memotong pembicaraan suara itu sejenak.
...kau tersedot ke arus waktu yang berputar terbalik. Sekarang tak perlu penglihatan ekstra untuk melihat betapa mengerikannya tempat ini.
Dia benar, pikir Lucy.
Aku berasal dari tempat ini, waktu ini, masa ini. Ikuti suaraku Lucy. Kau akan menemukan kenyataan yang paling benar dari tempat yang kau anggap rumah selama ini.
Lusy bergeming. Tubuhnya bergetar hebat. Ruangan ini saja—yang sudah menjadi kamar pribadinya selama beberapa tahun belakangan menjadi sangat asing atau boleh dikatakan sangat mengerikan.
Suara itu berdehem sebelum melanjutkan ucapannya, “sekarang kau harus menuju ke ruang perpustakaan, persis di mana kau menemukan pantulan suaramu dan Mady bicara. Sebaiknya kau bergegas, karena sedetik saja di tempat ini terlambat, semuanya berakhir. Kau akan terjebak di sini bersamaku, dan kita... kita tidak akan pernah bisa menyelamatkan apapun, Lucy.
Lucy bangkit. Mengumpulkan sisa-sisa tekad yang ia punya, sebagian besar tekadnya sudah lenyap tidak ikut tersedot ke dimensi aneh ini.
“Baiklah, aku akan menuju ke perpustakaan.”
Lucy membuka pintu yang kini decitannya seratus kali lebih keras dari pada pintu aslinya. Kayu-kayu di bagian bawah pintu itu runcing dan jika tidak hati-hati kaki siapa saja bisa tertusuk karenanya.
Tempat ini sedikit berbeda. Kau tidak akan sendirian di sini. Ingat semua yang ada di sini hanyalah halusinasi. Mereka tidak akan bisa menyakitimu, bahkan menyuntuhmu mereka tak bisa. Kau jauh lebih kuat dari mereka Lucy. Mereka hanya sebutir kerikil di bawah telapak kakimu.”
Lucy mengangguk tanpa kata lalu secepat kilat ia bergegas turun ke perpustakaan.
Di sepanjang perjalanan memang benar yang dikatakan Clara Harrington. Tempat ini penuh dengan hantu, iblis, setan, dan roh-roh penasaran. Beberapa kali Lucy menemukan mereka dalam kondisi yang boleh dibilang sangat mengenaskan. Di depan kamar Mady saja, seorang wanita yang perutnya menonjol ke depan tergantung melayang di ambang pintu. Ia tembus pandang dengan warna biru muda yang kontras dengan lingkungan sekelilingnya yang merah darah. Lidah yang terjulur keluar—mungkin karena seikat tali menjerat lehernya—seakan lebih panjang dari yang dimiliki manusia normal, kira-kira panjangnya mencapai pangkal tenggorokannya. Menakutkan sekali. Wanita itu menjerit-jerit halus dalam ikatan yang tak bisa lepas itu. Ia terus mengatakan: Bayiku, selamatkan bayiku, tolong.
Ilusi, ilusi, ilusi, dalam hati Lucy berusaha menyugesti dirinya sendiri.
Jalur yang biasa dilewati Lucy beberapa kali diblokir oleh setan-setan dengan tanduk di pelipis dengan napas yang mengeluarkan api. Mereka menertawai Lucy saat melihat wajah mereka.
Lucy menemukan satu jalan terbuka, yaitu melewati ruang makan. Dari dalam lorong sebelum ruang makan—sebisa ruang pandang Lucy—suasana sangat berbeda dengan yang sepanjang jalan dilihat Lucy. Tetapi semuanya seakan fatamorgana saat tubuh Lucy memasuki ruang makan. Debu dan sarang laba-laba di langit-langit sangat tebal hingga membuatnya sulit untuk bernapas. Ada enam kursi di ruang makan yang letaknya berhadap-hadapan dan satu lagi berada di ujung paling barat. Semuanya terisi penuh. Orang-orang yang duduk di atas meja itu memakai seragam suster persis seperti yang dipakai suster-suster di Santa Mondega. Satu lagi dari mereka duduk di kursi paling ujung, dia agak sedikit berbeda. Ada satu kampak meneteskan darah segar dibawa di tangan kirinya. Persis seperti yang Lucy dan Mady lihat di perpustakaan tempo lalu.
Mungkinkah?
Lucy tak menggubris pandangannya dan berjalan terus. Saat mencapai jantung ruang makan. Matanya tak bisa lagi berbohong padanya, di sudut matanya ia melihat di atas meja ada sesosok tubuh, tubuh yang posturnya sangat ia kenal.
Mady! Dasar kau iblis sialan! Dalam batinnya Lucy berteriak sekencang-kencangnya lalu dengan segenap tenaga yang dimilikinya ia menarik tubuh itu jamahan suster-suster iblis itu.
Mady berhasil ditarik. Tapi sayang, ia sudah mati. Saat menariknya, iblis dengan kampak di ujung lebih cepat mengayunkan kampaknya ke arah kerongkongan Mady.
Jleb.
Yang berhasil ditarik Lucy hanyalah seonggok tubuh dan daging yang sudah hampir membusuk, perutnya sudah terbuka, usus-ususnya yang berwarna putih dengan noda merah di mana-mana sebagian sudah tak utuh. Sebagian lainnya dikerubuti binatang seperti belatung yang menggeliat. Beberapa dari mereka jatuh ke tangan Lucy dan  membuat Lucy menjerit bukan kepalang. Lucy meneriaki nama Mady terus-menerus menangisi kawannya yang sudah tak bernyawa ada di tangannya, dan ia... ia sendiri hanya bisa menangis sambil menjerit seperti ini layaknya manusia tak berguna.
Di atas meja iblis dengan kostum suster itu terbahak sejadi-jadinya, suara pekikan mereka dapat merusak sekitar lima belas pasang gendang telinga manusia. Suster yang memenggal kepala Lucy tadi memekik paling keras, ia paling puas tertawa. Setan itu mengangkat kepala Mady tepat di bagian rambut Mady yang berantakan, memperlihatkan wajah bak malaikat milik Mady yang tak berdosa. Satu matanya melotot dan satunya turun dan menggantung ke bawah. Pemandangan yang menakutkan. Mulut Mady tak kalah menakutkan, di sudut-sudut bibirnya tersayat hingga hampir ke bawah pelipis. Mungkin siapapun bisa melihat ke dalam rongga mulut Mady tanpa harus melihat dari dekat.
Lucy bangkit. Kekuatannya seperti bertambah berkali-kali lipat. Sebelum tangan kosongnya yang penuh dengan noda darah itu sempat meraih kerah baju suster yang membawa kampak itu, tubuhnya mematung. Seakan seluruh tubuhnya hanyalah setangkai semanggi yang hidup tertancap di rawa belakang Santa Mondega.
Lalu suara Clara Harrington itu muncul lagi, kali ini berbisik pada Lucy.
Ilusi Lucy, ini semua tak nyata,” seru suara itu mengingatkan.
Saat Lucy kembali fokus pada sugestinya. Suster iblis yang terbahak itu tiba-tiba membeku dalam keheningan. Wajah mereka yang terbahak menakutkan tadinya membeku dalam ketakutan yang tak jauh beda bila mata orang normal melihat mereka.
“Lalu, Mady?” sahut Lucy keras-keras.
Itu juga bukan Mady, yang kau dekap sekarang hanyalah bagian dari mereka, mereka membohongimu Lucy. Bukalah matamu, lihatlah sekali lagi siapa yang ada di dekapanmu.
Lucy menuruti perkataan Clara dan dengan tanpa aba-aba memandang lurus ke arah tubuh yang sedang didekapnya. Seketika itu juga tubuh Mady yang putih halus itu berubah menjadi sesosok tubuh lelaki dengan rambut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya yang tanpa busana itu. Kuku-kukunya panjang dan melengkung runcing berwarna merah. Mengerikan.
Lucy melepas dekapannya dengan jijik. Dengan perasaan marah yang mendidih di otaknya ia melanjutkan perjalanannya menuju perpustakaan Santa Mondega.
Bagus Lucy, kau hampir sampai di depan pintu masuk.
“Apa ini yang kau dimaksud perpustakaan dua puluh tahun lalu? Ini lebih layak disebut penjara bawah tanah.”
Memang, pada waktu itu tempat ini bukan perpustakaan tetapi tempat penyiksaan. Semacam penjara.
“Penjara? Untuk apa ada penjara di panti asuhan?”
Inilah alasan kenapa aku menyebut tempat ini neraka. Ini tempat para iblis yang berkedok panti asuhan bernama Santa Mondega. Kami anak-anak terlantar dibawa ke sini dengan lembut tetapi setelah itu satu-persatu dari kami menghilang saat purnama.
“Lalu, apa kau masih hidup Clara?”
Aku hidup atau terjebak di sini, itu bukan urusanmu. Urusanku adalah menutup gerbang setan yang ada di pusat bangunan ini, agar tidak ada lagi Clara-Clara lain yang bernasib sama denganku. Cukup aku dan teman-temanku yang memuaskan napsu haus darah para iblis di tempat ini.
“Tapi...”—sebelum ia berhasil menyelesaikan perkataannya, suara Clara mendahuluinya.
Sudahlah Lucy, tak usah memikirkanku lagi. Keluarkan dirimu sendiri dari arus waktu yang berbalik ini dan tutup gerbang masuk di jantung bangunan ini.”
“Gerbang? Tunggu Clara... gerbang apa yang harus kututup, di mana letaknya?”
Teriakan Lucy tak mendapatkan respon. Suara Clara tiba-tiba lenyap bersamaan dengan suara raungan binatang buas yang membuat telinga Lucy sakit. Seperti singa, tetapi juga mirip beruang besar. Hanya ada satu cara memastikan itu semua.
Di depan, lima langkah dari tempat Lucy berdiri ada sebuah pinta besar beraksen Eropa abad pertengahan yang sudah berkarat. Gagangnya pintunya berbentuk muka binatang yang meraum—dan dilumuri sedikit darah yang masih basah, mungkin baru saja ada yang memakainya.
Lucy melangkah maju sembari mengumpulkan keberanian yang tersisa dalam dirinya. Semakin maju tubuhnya ke arah pintu, suara raungan binatang buas semakin santer terdengar ditambah suara derat besi menyentuh kayu. Lalu suara gada yang menghantam dinding, dan banyak suara-suara dari dunia iblis yang membuat telinga Lucy seakan mati rasa.
Pintu itu dibuka Lucy pelan-pelan. Suara gesekan dengan tanah dibawahnya hampir sama dengan suara pintu di kamar Lucy yang asing. Pintu itu terbuka lebar.
Matanya nanar.
Untuk berpuluh-puluh detik matanya hanya dapat melihat gelap.
Suara-suara tadi yang bergemuruh hebat ikut hilang bersama gelap yang semakin mencekam. Tiba-tiba auman paling keras menghantam Lucy, membuatnya mundur beberapa petak.
“Dasar manusia sundal!” suara itu berasal dari dalam, tapi matanya tak menangkap dari mana suara itu berasal.

4 komentar:

  1. akhirnyaa, setelah lama menunggu gadis dalam cermin ada lanjutannya :D
    merinding merinding gimana gitu bacanyaa, ayoo buruan posting lanjutannya :D

    BalasHapus
  2. Semakin jadi seperti cerita thriller

    BalasHapus
  3. aaak berhenti baca pas jeroannya ke mana-mana... ga kuat... X_X

    BalasHapus
  4. pendeskripsiannya jelas, jadi ikut membayangkan juga & semacam mengerikan

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: