Selasa, 13 Januari 2015

Kutukan [BAGIAN 1]


(ada baiknya membaca sambil mendengarkan music random ini)

“Pernahkah sejenak otak kita memutar sedikit kenangan dari masa lalu, meramunya saat malam dan sunyi mendekap? Menjadikan ramuan itu sebuah tolak ukur keberhasilan kita memerbaiki kehidupan yang saat ini kita jalani. Tidak. Memang tidak. Kita tidak bisa hanya belajar dari melihat spion, ada kalanya kita perlu menabrak, pecah, bahkan remuk sampai tak bisa kembali ke keadaan semula untuk berubah.” –Samasta Astagiri.
*

Aku tak pernah bisa membedakan mana yang disebut banyak orang mimpi dan mana yang kuanggap sebagai kenyataan. Tak ayal mereka hanya dipisah oleh selembar kertas tembus pandang yang pecah bila kau sentuh. Aku yakin tidak ada satu pun yang mau menjadi seperti orang gila—padahal kau yakin sepenuhnya bahwa sepenuhnya kau waras.
“ Sam,” panggil satu suara dengan nada dasar tenor jarang kudengar belakangan.
“Hai, Bil, apa kabar? Sejak kapan kakimu masih mau mendaratkan di tanah kumuh ini?”
“Ah, hiperbolamu selalu saja kumat bila didekatku,” timpalnya dengan percaya diri.
“Hanya perasaanmu saja yang berlebihan ataukah aku selalu bersikap begini ke hampir semua orang”
“Hampir?”
“Apa aku salah berucap? Iya hampir.”
“Lalu siapakah orang beruntung yang selalu kau perlakukan sedemikian baik?
“Diriku sendiri.”
Dari nafasnya bisa kubaca, dia mendengus. “Kalau itu artinya tidak ada seorang pun yang tak kau perlakukan sama dengan hiperbolamu itu.”
Senyumku mencuat dari pipi kiriku, tapi hanya ­asem-aseme lambe, kalau kata orang Jawa.
Setelah pertemuan tak terduga itu, akhirnya kuajak Billy berjalan-jalan, ke kedai kopi terdekat di pusat kota. Kotaku tak pernah sesepi ini di musim liburan. Entah kali ini hiperbolaku yang terlampau atau memang begini kenyataannya?
Pesananku datang. Satu kentang goreng premium dengan saus keju ditambah cappucino hangat. Billy tidak memesan, ia bilang ia sangat suka kopi, tetapi ia sedang diet untuk keperluan risetnya.
“Sudah hampir lima tahun ya.”
“Lima tahun, satu bulan, dua minggu, lima hari, lebih tepatnya,” katanya selalu dengan analisa yang akurat.
Kugoyangkan sedikit cup kopiku, “Jujur saja aku sangat merindukanmu, Bil, di sini tak ada yang bisa mengerti keadaanku seperti kau dulu.”
Ia tampak tak memerhatikan, matanya lurus menatap ke jalanan yang memerah karena senja, gerimis juga sudah menaungi kedai kopi kami. Tapi dari sikap tubuhnya aku tahu ada satu penyesalan yang membuncah di sana. Terlampau dalam sampai saat batu dilempar ke sana tak akan terdengar bunyinya waktu mengenai dasar. “Maaf.”
Untuk apa?
Untuk segalanya.
Aku juga, minta maaf, karena masih saja belum bisa menyembunyikan ini dari penglihatanmu.
Sudahlah, kita jadi tampak seperti dua sejoli yang sedang marahan jika terus berbicara dari sini.
Iya, kita jadi tampak tak normal saja.
Kami tersenyum.
Hujan semakin deras di luar, petir juga beberapa kali menggetarkan kaca lebar di samping kiriku. Billy bergeming di posisinya tetapi aku tahu ia sedang memikirkan sesuatu yang pelik, entah, aku tak pernah bisa masuk ke bagian memorinya sedalam yang ia simpan itu. Selalu berkabut abu.
Dan... hingga aku menyerah, “Ada apa?”
“Kau tahu, hanya pura-pura tak tahu dan tak ingin tahu.”
Pada detik ke sekekian aku baru sadar apa yang ia maksudkan. Billy langsung mencela, “Dasar pemikir yang lamban, apa kau tak pernah berlatih fokus?”
Aku memaksa untuk tertawa, mengejek. “Aku hanya berfokus pada hal-hal yang penting,” jawabku apa adanya.
Jadi menurutmu ini tak penting? Jadi menurutmu kau dan aku dipertemukan dulu saat melihat “itu” secara bersamaan, di waktu yang sama, itu hanya kebetulan? Sadarlah Samasta, ini takdir.
Iya memang tidak, aku hanya iri dengan gadis seumuranku yang lain, mereka dengan tenang bisa menjalani hidup mereka, menghabiskan waktu sore mereka entah membaca, membeli bunga, minum kopi, berbelanja, dan yang terpenting dengan segala ketenangan yang mereka miliki. Kau tak pernah paham dengan keadaanku Bil, kau lebih siap daripada aku, kau lebih kuat daripada aku, aku tidak pernah tahan dengan keadaanku, meski aku tahu, Tuhan telah mengingatkanku dengan berbagai cara yang tak pernah masuk ke logikaku.
Kau hanya tak pernah mau melihat lebih dalam ke dalam diriku Sam, aku tidak sekuat itu, kau tak pernah tahu betapa tersiksanya diriku atas takdir yang sama-sama kita miliki. Tetapi yang terus dan akan terus kucoba adalah tetap menerima dan mau menerimanya, bukan malah menghardik Tuhan seperti yang kau lakukan.
“Tapi—” ucapanku seperti meluncur begitu saja terucap.
Tapi, kau tahu bagaimana sulitnya aku menjalaninya saat pertama kali aku melihat semuanya Bil, sebelum bertemu dirimu, sebelum kau menguatkanku di saat-saat terburuk yang sudah kujalani.
“Oke, aku sangat paham dengan keadaanmu Samasta. Bahkan arti dari namamu pun memberikan makna dalam. Dipersatukan.”
Kilat mengerjap. Sedetik, dua detik. Petir. Langit hitam sepersekian detik.
“Apakah yang kau maksud adalah kita? Dipersatukan lewat satu takdir yang sama? Menjalani momen-momen yang hampir sama?”
“Takdir yang memersatukan.”
“Takdir,” sahutnya untuk menekankan kalimatnya. Yang terjadi selanjutnya adalah hening. Titik keheningan paling hening yang pernah kurasakan, hingga indera pendengaranku dalam mendengar bagaimana ribuan tetes air mendobrak-dobrak dinding dengan sangat keras.

*

Kami berpisah di persimpangan dengan tak saling bertegur sapa. Tapi itulah yang dilihat kebanyakan orang. Tapi sejauh yang bisa kujelaskan, sebenarnya sepanjang perjalanan menuju persimpangan kami tak pernah berhenti berdebat.
Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, kejadian pertama adalah ketika aku berumur 9 tahun. Saat itu cuaca cerah, aku berjalan di taman kompleks dengan kelinciku, Lukas. Saat kakiku menginjak aspal yang panas, tiba-tiba pandanganku berubah hitam putih, seperti melihat seri-seri awal film bisu Disney. Sejauh mataku melihat, yang kutangkap adalah jalanan beraspal yang sangat halus dengan di sisi-sisinya, gedung-gedung hampir lima meter bergaya gotik. Anehnya, lingkungan itu sangat sepi. Hanya sepoi angin yang mengibarkan bendera-bendera yang menggantung miring di setiap gedung. Beberapa menit kemudian yang kulihat adalah asap. Asap hitam yang mengepul tebal yang seakan menutupi jalan napasku. Kemudian kudengar teriakan wanita, jeritan anak-anak, lolongan anjing yang panjang, hingga tangisan bayi yang meremukkan hati siapa saja yang mendengarnya. Semua suara itu berbeda, tapi ada satu kesamaan dari semuanya, yaitu suara yang keluar itu seperti suara-suara yang sedang mempertahankan hidup yang sudah ditarik-tarik oleh kematian. Mereka sekarat. Aku yang pada saat itu masih sangat kecil untuk mendengarkan suara mengerikan itu lantas tak bisa melepaskan genggaman tanganku di telinga, aku menangis sejadi-jadinya. Mataku yang saat itu tertutup tak pernah bisa benar-benar tertutup, dalam hitamnya pandanganku aku masih bisa melihat wajah-wajah yang pucat, mulutnya terbuka berbentuk lingkaran sempurna—tak kulihat barisan gigi-geligi di sana. Mereka semua melayang di setiap sudut mataku, ada yang meminta tolong, hanya menangis, bahkan yang paling kuingat adalah pria tua dengan mata hitam pekat menatapku tajam tanpa berbicara. Kulihat ada luka menganga lebar dari belakang kepala hingga ke dahinya, membuat kulit kepalanya mengibar bak bendera. Darah segar masih mengucur deras di sana. Senyumnya membuncah padaku, atau lebih pantas kusebut seringai tajam nan menakutkan.
“Siapa kau?” suaraku meneriakinya.
Ia masih menyeringai dalam diam, seringainya semakin menakutkan.
“Siapa kau? Mengapa kau mengangguku?”
Diam. Diam. Diam. Lalu sedetik kemudian ia sudah berada sepuluh senti di depanku, lalu memelukku dengan tangannya yang penuh darah kering. Sangat erat. Sampai sesak. Dapat kulihat jelas luka menganga di kepalanya masih berdenyut seperti baru saja ditorehkan di sana.
Dengan suara berat dan memantul, ia menjawab, “Aku meminta bantuan.”
Kudengar teriakan lagi.

Lalu... gelap.

3 komentar:

  1. sumpah ngeri baca yang terakhir yang dikepalanya penuh darah deras

    BalasHapus
  2. Sungguh seramnya.

    Www.Milyunerblog.blogspot.com

    BalasHapus
  3. Pengen yang lebih seru ...
    Ayo kunjungi www.asianbet77.com
    Buktikan sendiri ..

    Real Play = Real Money

    - Bonus Promo Red Card pertandingan manapun .
    - Bonus Mixparlay .
    - Bonus Tangkasnet setiap hari .
    - New Produk Sabung Ayam ( minimal bet sangat ringan ) .
    - Referal 5 + 1 % ( seumur hidup ) .
    - Cash Back up to 10 % .
    - Bonus Royalty Rewards setiap bulan .

    untuk Informasi lebih jelasnya silahkan hubungi CS kami :
    - YM : op1_asianbet77@yahoo.com
    - EMAIL : asianbet77@yahoo.com
    - WHATSAPP : +63 905 213 7234
    - WECHAT : asianbet_77
    - SMS CENTER : +63 905 209 8162
    - PIN BB : 2B4BB06A / 28339A41

    Salam Admin ,
    http://asianbet77.com/

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: