Selasa, 01 Juli 2014

Ai

"Mungkin kalau Ia punya satu saja kesempatan memilih kehidupan. Tentu tidak akan memilih kehidupan seperti yang Ia jalani kini."
BASED ON TRUE STORY

Puasa di hari ketiga ini cukup melelahkan, ujian akhir semester ini penuh dengan komputer dan mini cafe yang harus disiapkan presentasinya ke dosen. Sangat cocok dengan cuaca yang tidak menempatkan satu saja awan di atas tanah Surabaya.

Pukul empat kurang lima belas, aku terpaksa bagun dari tidur siang. Ya, tidur dihitung sebagai ibadah saat Ramadhan. Baru lima belas atau dua puluh menit neuron otakku meregang, suara gaduh memekikkan telingaku ditambah  suara desingan benda tumpul yang beradu dengan besi. Berkali-kali. Sayup-sayup di telinga dan kesadaranku yang setengah sudah pergi entah ke mana, suara-suara tidak jelas muncul timbul tenggelam. Seperti seorang tunawicara yang mengoceh tentang sulitnya hidup.

“Bangun...,” suara Uti mengembalikan kesadaranku yang ke sedang mengurus visa untuk pergi ke Swiss. “Bangun, ayo dilihat di luar ada apa!” tambahnya.

“Memangnya ada sih Uti, Eki ngantuk, capek tadi kuliah lagian kan puasa juga, males,” rengekku sembari mengembalikan posisi bantal yang turun.

“Di luar ada yang bertengkar, sepertinya, tetangga sebelah.”

“Biarin aja Uti, kan urusan mereka.”
Wistalah, nuruto Uti wae, Le.” (Sudahlah, nurut saja sama Uti.)

“Ya... ya...,” aku menjawab setengah mendengus. Tanpa disuruh panjang lebar lagi aku berlari menuju depan rumah, melihat apa yang terjadi.

Mataku yang masih belum siap menerima cahaya sore intensitas tinggi yang hangat nanar sedikit. Melihat ke asal suara itu. Suara itu berasal dari tiga rumah dari rumahku. Tidak jelas apa yang mereka perdebatkan, beberapa kata terpotong di tengah, beberapa lagi seperti berbicara sambil terisak tetapi tak jelas apa yang diucapkan. Hanya terdengar “haha”, “awawa”, “huhu”. Persis seperti ucapan tunawicara.

“Itu, si Ai (baca= A i),” sekonyong-konyong Uti sudah di belakangku, meneriakkan kalimat itu cukup keras di dekat telingaku.

“A... siapa, Uti?” jawabku perlu penegasan.

“Ai, tunawicara yang tinggal di rumah ungu itu.”

“Oh, iya,” jawabku. Aku baru ingat aku memang punya tetangga yang tunawicara dan agak terganggu kejiwaannya. Bukan, tidak pantas jika kukatakan terganggu, hanya saja terkadang suka marah-marah, ya seperti sekarang ini.

Dari rumah itu terdengar jelas suara pintu dibanting. Seorang wanita dengan rambut putih ala Marylin Monroe keluar sambil mengeluh, “Wis, mbuh, aku wis ora kuat ngurus dia.”

“Memangnya ada apa toh?” tanya Uti ke wanita itu, kalau tidak salah dia kakak dari Ai, orang-orang biasa memanggilnya Mama Chen.

“Itu Mbak, si Ai, nggak tahu tadi saya tinggal sebentar ke sebelah mau nidurin cucu saya, eh malah pagar rumah dipukul-pukul pakai gagang sapu sama teriak-teriak sampai orang-orang pada datang.”

Wis... sabar wae toh, perlu sabar yang banyak, maklum aja kan adikmu memang begitu keadaannya.”

Inggih, Mbak, kurang sabar apa lagi saya, wong semuanya sudah saya turutin. Setiap pagi itu minta bubur ayam, kan Mbake tahu sendiri bubur ayam nggak setiap hari ada yang jual. Suami saya itu sampai muter-muter nyarinya. Gitu kalau nggak diturutin bisa ngamuk, semuanya dilempar-lemparin, gimana saya nggak jengkel,” pungkas Mama Chen sambil matanya terlihat berair.

Uti tidak lagi menjawab penjelasan Mama Chen, memang sudah cukup jelas menggambarkan betapa susahnya. Uti Cuma mengusap-usap punggung Mama Chen, menyabarkan. Dari luar dasternya terlihat basah karena warnanya lebih gelap dari bagian lain di sekitarnya, mungkin karena keringat.

“Apalagi kalau sore begini, Ai itu selalu saya mandiin, wong nggak bisa mandi sendiri ditambah lagi sekarang jalannya pakai kaki tiga, gejala kencing manis sama diabetes, Mbak. Kalau suami saya pulang telat begini, saya juga yang repot, Andra—cucu saya—nggak mau tidur kalau nggak dibacain cerita, terus Ai-nya juga nggak mau kalah, dia pengen cepet-cepet dimandiin. Saya kadang juga capek Mbak, hidup ngurusin adek saya yang begitu.”

Hus, nggak apik bilang gitu, Mah, sudah takdirnya Gusti Allah. Biar Mama sekeluarga diangkat derajatnya, apalagi kan ini bulan puasa, nggak baik ngomong begitu,” jawab Uti lalu lagi-lagi menyabarkan Mama Chen.

“Astagfirullah, iya Mbak, saya khilaf tadi bilang gitu, kalau nggak saya sendiri siapa lagi yang mau ngerawat adek saya yang begitu keadaannya. Mungkin orang lain dikasih uang pun jarang ada yang mau,” keluhnya lalu pamit ke Uti dan kembali ke rumah melihat Ai yang tidak lagi berteriak-teriak.

Uti duduk di dipan panjang di depan rumah, beberapa detik tidak berbicara hanya hela demi hela nafas panjang yang muncul. “Kenapa Uti?” tanyaku.

“Nggak kenapa-kenapa, Le, cuman kasihan.”

Sekarang giliranku yang diam. Hanya menjawab pertanyaan Uti dengan anggukan-anggukan kecil dan menyusul Uti duduk di sebelahnya. Memang selama aku tinggal di sini, aku masih ingat benar, si Ai—yang sebelumnya aku tak pernah mengingat namanya—memang hanya tinggal bertiga. Dirinya, Mama Chen, dan suaminya. Dulunya, Ai pernah punya suami. Mungkin karena belitan ekonomi yang semakin mencekik dan juga tak tahan dengan keadaan Ai, suaminya minggat sekitar tahun 2002. Ai juga dulu punya anak perempuan, kalau tidak salah namanya Laili. Namun sayang, saat balita Ai sudah harus kehilangan Laili karena demam berdarah yang terlambat penangannya. Sejak saat itu intensitas marahnya semakin banyak. Memang terlalu banyak yang sudah direnggut dari hidupnya, bahkan untuk ukuran orang-orang berkebutuhan khusus seperti Ai, berlipat bebannya.

Uti menjelaskan padaku untuk terus bersyukur sama Gusti Allah karena telah diberi hidup dan keadaan yang sempurna, lengkap, tidak kurang satu apapun. Kata Uti, jangan sekali-kali memandang segalanya ke atas, karena kalau tersandung batu kerikil rasanya sakit. Sebenarnya jika kita memandang ke bawah masih sangat banyak kehidupan-kehidupan yang jauh lebih menyedihkan, teramat jauh lebih menyakitkan daripada kehidupan kita yang selalu kita eluhkan ke Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa seorang Ai yang tunawicara mengeluh? Mungkin Tuhan yang fasih akan semua bahasa bisa dengan mudah mengerti. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Tetangga-tetangga yang lain? Kita yang orang normal saja terkadang masih butuh orang lain untuk sekedar mendengarkan. Lalu, bagi Ai, apakah Tuhan terlampau kejam? Untuk mendengarkan Ia bicara saja orang lain terkadang tidak bisa. Sesungguhnya hanya Tuhan yang Maha Adil dan tidaklah pantas seorang manusia seperti diriku ini selalu mengeluh-eluhkan soal keadilan. Allah pernah bersabda, hukum yang seadil-adilnya adalah hukum Allah, tidak ada keadilan yang melebihi yang diberikan oleh-Nya. Semoga selalu ditabahkan hati Ai yang mungkin sudah terlanjur luka.

5 komentar:

  1. Semoga keluarganya Ai diberi kesabaran ya,. insyaAllah akan ada banyak keberkahan dibalik cobaan tersebut :)

    BalasHapus
  2. Aku juga tip melihat kum disabel itu, nyeri dadaku dan selalu bilang, "GBU". Tapi mereka itu hebat lho. Tetap survive di balik kekurangan mereka. =D

    Btw aku lagi ngadain giveaway nih. Ikutan yuk, =D

    http://immanuels-notes.blogspot.com/2014/07/second-give-away-berhadiah-novel-gratis.html

    BalasHapus
  3. andakaaaa! cek facebook, cek inbox di bagian others, miss you too banget banget hahahaha mau add facebook mu gak bisa jadi kirim msg aja :3
    btw makin pinter aja sih nulisnya yaampun ni anak dikasi makan apa sih sama emaknya hahahaha

    BalasHapus
  4. Kereenn, banyak nilai-nilai yang bisa di ambil dari kehidupan Ai. Kita harus senantiasa bersyukur dan selalu melihat ke bawah. Misteri dong berikutnya, tapi jangan hantu-hantuan.. :D

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: