Senin, 30 Juni 2014

Sekilas

-BASED ON TRUE STORY-

“Eki, ayo tarawih, sudah azan...,” suara itu menggantung di ruangan lima kali lima tempat aku melihat seorang bocah lelaki kecil duduk manis di sofa hijau bermotif bersama rapido hitam dan buku bergaris kosong.

“Eki...,” panggil suara itu lagi.

Tanpa satu kata terlontar dari mulutnya yang mungil bocah kecil itu berdiri sambil mendengus kesal. Ia berlari ke arah perempuan dengan mukena putih yang jalannya agak pincang dan bungkuk. Aku tak dapat melihat siapa dia, dia membelakangiku, kemudian berlalu pergi bersama bocah itu.

Aku meneruskan perjalanan keluar dari rumah itu. Berdiri sejenak memandangi temaramnya cahaya kala itu. Tembok bata tinggi membatasi rumah-rumah warga di sini dengan sebuah gudang raksasa yang sudah tak beroperasi di depannya. Beberapa orang lagi datang; dua gadis yang membawa mukena di tangan mereka, yang satu rambutnya ikal dan satunya lagi dikuncir samping; bapak-bapak dengan baju Koko warna kelabu lengkap dengan sarung dengan warna senada; dua orang nenek-nenek yang bercakap-cakap tentang acara megengan yang penuh sesak. Aku melangkah maju lagi, tepat di depan mushola yang dituju para manusia ini ada sumur setinggi satu setengah meter. Lelaki tua yang sama tuanya dengan kedua nenek yang kulihat berjalan tadi sedang azan di dalam menyelesaikan kalimat terakhirnya, “Allahuakbar, allahuakbar, la ilaha illallah,” dengan nada minor dan suara berat tetapi meliuk ala middle east.

                Bocah itu lagi, siapa namanya, ya, Eki, ia duduk di deretan paling depan tetapi di sudut. Ia tampak tidak memakai seragam selayaknya akan menunaikan ibadah. Ia hanya mengenakan celana tiga perempat krem yang warnanya sudah pucat dan kaos warna biru donker dengan gambar Saras 008. Superhero kesukaanku,  ujarku dalam batin.

                Iqomat dikumandangkan dengan lantang, semua jemaah tampak hampir serentak berdiri, tapi bocah itu tetap asik dengan rapido dan bukunya. Aku jadi penasaran, apa yang dilakukan bocah itu dengan rapido dan bukunya. Aku melangkah masuk, langkahku terasa ringan, bahkan ini lebih ringan dari pengalaman berjalan di air asin. Seperti di bulan. Saf perempuan di depanku penuh dan rapat, pandanganku terhalang oleh jemaah perempuan yang mulai sholat. Tak mau menyerah melawan kepenasarananku, aku melihat satu celah di antara dua orang gadis remaja yang safnya agak renggang, aku mencoba memanfaatkannya dan... Blus. Aku menembus mereka, ya, benar-benar berjalan menembus mereka, dan yang lebih parahnya lagi mereka tak terusik dan tak menyadari keberadaanku. Kaget sekaligus bingung bukan kepalang seorang manusia berjalan menembus manusia lain. Sempat terlintas di benakku, apa ini mimpi? Atau aku sudah mati? Cepat-cepat aku menghapus prasangka itu dan barulah pada sepersekian detik itu aku menyadari tubuhku seperti berbeda dengan mereka, tubuhku hitam-putih. Hanya ada hitam dan putih warna tubuhku. Karena terlalu penasaran dengan bocah bernama Eki tadi tak kuhiraukan keanehan-keanehan yang mulai tak masuk akal ini.

                Aku berjalan beberapa langkah ke depan sampai berada tepat di sebelah bocah berkulit sawo matang yang punya satu lesung pipit di pipi kirinya itu—aku melihatnya tersenyum saat duduk di sofa rumahnya tadi, ia tampak bangga dengan gambar pohon sederhana yang melengkung kasar dan ada dua buah apel di pohon itu yang sama sederhananya dengan pohonnya.

                Aku tersenyum. Ia menggambar sebuah rumah dari persegi dan segi tiga sama sisi yang tak sempurna, di depan rumah itu ada enam stickman yang diberi penanda identitas yang jelas—wanita; dengan rambut panjang dan pita, pria; dengan tiga helai rambut berdiri dan kumis. Di gambar itu ada satu yang berbeda, stickman dengan kumis dan peci tersenyum, tapi gambarnya tak sempurna. Sepertinya ia menggambar karakter terakhir ini dengan tangan yang terguncang-guncang entah karena apa.

                “Bagus,” komentarku yang tiba-tiba saja keluar, seakan lidahku licin seperti dipel menggunakan antiseptik beraroma cemara.

               Yang semakin membuat mataku terbelalak, ia menoleh padaku, menunjukkan tampang polos-heran-senangnya yang khas. “Hei, kenapa kau datang jam segini, ini masih pagi, Om,” bisiknya.

                Apa aku sudah gila. Pertama aku menembus manusia. Ke dua aku tidak terlihat. Ke tiga bocah ini dapat melihat dan sekaligus mendengar ucapanku, tandas batinku yang seperti sudah tak sepaham dengan akal sehatnya.

                “Kamu ngobrol sama aku?” tanyaku meyakinkan.

                “Memangnya sama siapa Om, kan Papa, Uti, Mama, Yang Kung, sama semuanya—“ tangannya menggambar lingkaran di udara sebesar tubuhnya menekankan kata ‘semuanya’ padaku, “—sedang tarawih, stt, jangan berisik om.”

                Aku tersenyum getir, akal sehatku masih berdebat dengan batinku. Hanya menjawab pertanyaan anak itu dengan mengangguk halus.

                “Om, sini deh,” sahutnya tiba-tiba sembari menggeser pantatnya lebih mendekat ke arahku yang sedang jongkok, “lihat aku baru saja menggambar rumahku sama keluargaku.”

                “Oh ya, mana coba?” jawabku dengan meniru aksen bocah ini.

                “Ya ini,” ia menyodorkan kertasnya yang lusuh dan penuh guratan, “dari kiri ya, ini Papa, Mama sama Adek, ini Aku, nah selanjutnya Uti, dan yang kanan sendiri ini, Yang Kung,” tandasnya menjelaskan dengan penuh semangat.

                Aku mengangguk-angguk tanda paham, ketika aku ingin mengomentari gambarnya, ia sudah berbicara lagi, “Tapi om, ini Yang Kungnya agak nggak bulet ya kepalanya. Sebentar ya,” ia menarik kertasnya kembali ke atas buku di depan kakinya yang menyila, kemudian ia mencoret-coret gambar stickman paling kanan yang katanya tak nggak bulet kepalanya itu, “nah... sudah.”

                Aku merengut. “Loh kok Yang Kung dicoret-coret, nanti Yang Kungnya ngambek lo...”

                “Kok gitu, Om?” tanyanya penuh rasa penasaran.

                “Iya kan, soalnya Eki nggak gambar Yang Kung di gambarnya Eki.”

                “Tapi om, tadi Yang Kungnya nggak bulet, jelek.”

                “Iya, tapi kan namanya keluarga tetep harus ada walaupun nggak bulet kepalanya, Eki.”

                “Abisnya...,” ia balik mendengus padaku. “Yang Kung kalau jadi Imam tarawih kelamaan Om, Eki jadi males deh tarawihnya.”

                Aku tersenyum pada bocah ini sebelum menjelaskan panjang lebar dengan bahasa sesederhana mungkin, “Begini, meskipun Yang Kung kalau jadi Imam lama tapi tetep aja Yang Kungnya Eki kan. Tetep keluarganya Eki kan?”

                Ia menangguk polos.

                “Nah, makanya itu Eki tetep harus gambar Yang Kung di sini, biar Yang Kungnya seneng waktu lihat gambar Eki.”

                “Gitu ya Om, tapi Yang Kung sering marahin Eki, Om,” adunya, di bagian bawah matanya berair hanya menunggu untuk jatuh.

                “Pasti Yang Kung marahin Eki ada alasannya ya kan?”

                Air matanya tumpah beberapa tetes ketika mengangguk mengiyakan pernyataanku. “Yang Kung marah soalnya Eki males sholat, males ngaji, dan nggak mau nurut.”

                “Nah itu alasan kenapa Yang Kung marah sama Eki, berarti kalau gitu yang salah siapa, hayo?”

                “Eki,” suara bocah itu menggantung saat mengucapkan suku kata terakhir pada namanya.

                “Eki jangan sedih lagi, ayo mau Om bantuin gambar Yang Kung lagi?”

                Eki menggeleng, “Nggak om, Yang Kung tetep jahat, Yang Kung mau berangkat habis ini.”

                “Yang Kung mau berangkat ke mana, itu kan—“ telunjukku menunjuk ke arah Imam yang sudah tua, aku yakin itu pasti Yang Kung yang dimaksud bocah ini “—Yang Kung jadi Imam tarawih.”

                “Iya, tetep aja Yang Kung mau berangkat, Om.”

                “Ke mana?”

                “Nggak tahu, padahal Eki sudah bilang nanti Uti sendirian kalor Yang Kung berangkat, tapi tetep aja Yang Kung mau berangkat.”

                ...

                Percakapanku terpotong begitu saja, seperti film lama yang tiba-tiba dihentikan di tengah, aku ditarik oleh entah apa ke belakang sehingga tubuhku melayang jauh menembus apapun yang menyentuh tubuhku. Lalu tersentak dan... sadar.

                “Barusan tadi? Ah hal ini lagi!” umpatku agak keras, memang aku sudah beberapa kali mengalami hal ini saat melihat teman-temanku dengan wajah penuh sesak masalah di kepalanya dan ingin bercerita. Aku bisa melihat keping-keping masalah dan apa yang akan mereka ceritakan melayang tak jauh dari atas kepalanya. Biasanya yang kulihat hanya kilasan masa lalu mereka, kejadian yang mereka ceritakan secara visual akan muncul hitam putih di mataku. Walaupun kilasan itu hanya seperti video di Instagram yang hanya berdurasi maksimal lima belas detik.

                Kepalaku semakin pusing ketika mengingat perjalanan-kilas-balik—aku mempunyai julukan tersendiri untuk momen ini—yang baru saja kualami. Siapa aku? Di mana aku tadi? Eki? Bukankah aku sangat mengenal nama itu? Tempat itu juga tidak asing.


                ...


                “Kanker Limfoma sudah menuju ke stadium akhir, pembengkakan pada paru-paru dan jantung Pak Daslim sudah mencapai batas maksimal.”

                “Apa peralatan dan teknologi di rumah sakit ini tidak ada yang bisa membantu Ayah saya, Dokter?”

                “Akan kami coba semampu yang kami bisa dengan alat pompa jantung dan alat bantu pernafasan untuk Bapak Daslim, tetapi akan membengkakkan biaya perawatan karena tidak ditanggung oleh Askes,” dokter separuh baya dengan gejala kebotakan yang mulai muncul di kepalanya menjelaskan panjang lebar.

                “Tidak ada biaya yang lebih berharga jika dibandingkan dengan nyawa Ayah saya, Dokter!” tensi pada nada suara lelaki itu meninggi. Di belakang lelaki itu, anak lelaki kecil sedikit merapat karena bentakan lelaki di depannya membuat kaki-kakinya sedikit gemetar. Mungkin lelaki itu Ayahnya.

                Apa lagi ini? Kilasan lagi? Kilasan siapa?

                Bocah yang bisa kuprediksi umurya sekitar dua belas tahun itu menoleh ke belakang. Seperti mendengar langkah kakiku yang menginjak udara dan sama sekali tak bersuara. Bocah itu seperti melihatku. Bukannya dalam setiap kilasan aku adalah penonton dalam drama bukan tokoh dalam drama itu. Bocah itu tetap memandangku, lalu ekspresi herannya mereda digandikan ekspresi lega yang mendalam.

                Ia tersenyum. Sontak aku mengenali senyum dengan lesung pipit di pipi kirinya. Eki. Ya bocah yang berbicara dan bisa melihatku dalam kilasan sebelumnya. Ia sudah lebih dewasa. Mengenakan kemeja lengan pendek yang dikancing sampai kancing paling atas dengan jeans hitam dengan banyak saku di sana sini.

                Bocah yang kira-kira duduk di kelas enam itu melangkah ke arahku, lalu berbisik sangat perlahan, “Om, kau datang lagi,” sahutnya, wajahnya terlihat dua tingkat lebih gembira.

                “Kau masih mengingatku?”

                “Bagaimana bisa lupa?”

                Untuk dua detik  berikutnya, aku hanya diam. Berusaha mencerna keadaan, tapi tak bisa. Aku bisa merasakan sesuatu yang paling kutakutkan akan terjadi di sini. Ya, aku terkadang dapat melihat seseorang menjelang mautnya. Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata bagaimana, hanya seperti ini, seperti sekarang yang kurasakan.

                “Siapa di dalam ruangan itu?” tangaku menunjuk ke arah beberapa orang berkerumun di depan pintunya sehingga tak dapat kulihat nomor ruangannya.

                Eki diam. Diam. Kemudian dan seterusnya diam.

                Kakiku melangkah maju, sama ringannya dengan tadi. Sama, saat ini pun aku bisa menembus kerumunan orang ini dan bahkan menembus pintu—kali ini bisa kulihat jelas nomor ruangannya:107. Di dalam ada seorang wanita dengan rambut yang memutih di pangkalnya terisak sambil memegangi tangan lelaki yang nafasnya tersengal berada di atas ranjang. Dari tangannya dapat kuterka, mereka sama-sama renta. Yang perempuan tak dapat kulihat wajahnya, hanya punggungnya yang sedikit bungkuk. Yang laki-laki dengan botak yang lebih parah dari dokter di luar, matanya kosong, nafasnya tersengal seperti pada keadaan bernafas dan tak bernafas. Tabung oksigen yang catnya sudah terkelupas tampak ada di sampingnya gagah bertolak belakang dengan lemah tubuhnya.

               Perasaan ini semakin kuat. Yang tak bisa kujelaskan apa, bagaimana, dan mengapa. Perasaan saat melihat seseorang dijemput ajal.

                “Tunggu...,” kataku, tapi tak seorang pun mendengar, sepertinya aku mengenali wajahnya.


                ...


Tiba-tiba aku sudah berada di ruang kerjaku lagi dengan membawa pusing yang dua kali lipat lebih hebat daripada setelah aku kembali dari kilasan yang pertama. Aku memijit keningku yang menjadi pusat pusingku sedikit. Lalu mencoba menerka apa yang baru saja terjadi.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tak terjadi apa-apa. Kemudian pada detik ke empat semuanya mulai terang. Kabut-kabut yang menghalangi intuisiku menyusun blok-blok yang berkeping-keping ini mulai hilang. Sekonyong-konyong blok-blok yang berserakan itu terbangun dengan sendirinya, menjelaskan padaku dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.

Dan dengan tanpa prediksi...


“Aku Andaka Rizki Pramadya. Umurku sekarang 27 tahun. Aku mengingat nama masa kecilku adalah Eki. Keluarga bahagia, sangat bahagia. Ramadhan menjadi momen paling kutunggu ketika kecil. Aku suka dimarahi karena nakal dan tak penurut. Aku suka bermain bola sepak di dalam rumah. Aku sempat memecahkan lampu beberapa kali dan menjatuhkan jam dinding antik di ruang depan satu kali. Aku sering kali dipaksa untuk sholat dan mengaji. Masa kecilku terasa bahagia dengan setiap malam menyaksikan wayang. Belajar tata cara sholat dan membaca tajwid yang benar. Ketika pulang sekolah, aku sangat girang jika dijemput dengan sepeda angin yang punya karat di sana sini. Masa-masa itu tak terlalu lama kurasakan, aku ingat, pada akhir kelas sekolah dasar, aku mengenal satu kosakata yang sampai sekarang selalu membuat bulu romaku berdiri. Kanker. Yang sampai pada saat Google dan Apple saling berebut pasar teknologi belum ditemukan obat yang valid. Kanker yang merebut semua kenangan manis masa kecilku, kanker juga yang merenggut satu perasaan di mana aku adalah anak paling beruntung di seluruh semesta. Kanker juga telah memisahkanku secara paksa, memisahkan dimensiku saat ini dengan Yang Kung. Yang Kung meninggal tujuh hari tepat sebelum Idul Fitri, momen Ramadhan selalu mengingatkanku pada Yang Kung. Terkadang sampai sedewasa ini, membenci kado spesial dari Tuhan untuk ini. Kadang aku ingin merasa normal. Seperti mereka yang senang tak dapat melihat kematian beberapa orang, melihat juga mendengar apa yang seharusnya tidak dilihat dan didengar orang normal. Tidak dapat melihat isi kepala orang lain, tidak bisa menebak masa lalu juga kadang kala melihat bagaimana masa depannya. Aku sesekali menyesal, apakah Tuhan pernah salah menjadikanku seorang... Indigo.”


Untuk lima belas bahkan setengah jam berikutnya kubiarkan air mata di pipiku deras mengalir turun. Aku selalu bersyukur dan tak henti bersyukur dengan cara Tuhan membawaku kembali ke masa-masa indahku walau hanya sekilas.

MALAM PERTAMA RAMADHAN, LEWAT TENGAH MALAM, MEMANDANG SATU FOTOMU DENGAN BAJU ANGKATAN KEBANGGANMU. KUSAMPAIKAN RINDU YANG MEMISAHKAN KITA LEBIH DARI ENAM TAHUN. MBAH KUNG DASLIM.  DENGAN PENUH RASA RINDU, EKI.


9 komentar:

  1. Bagus banget mas, kadang aku pun selalu merindukan masa lalu. Ya, walau sepenuhnya cuma sekedar mengingat tapi itu seringkali bikin bahagia :))
    Yang Kung pasti sudah lebih bahagia disana :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada beberapa bagian masa lalu karena terlalu indah ada harga lebih yang harus dibayar misalnya air mata. Makanya aku sering tak suka mengingat-ingat masa lalu. Iya mba pasti sudah bahagia ;))

      Hapus
  2. Ini cuma fiksi kan? Kamu nggak beneran indigo kan? :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuz, I'm actually an indigo, too. Serious.

      Hapus
    2. Tapi gue indigo itu serius, Dak. =D

      Hahaha

      Yah, kirain lu juga indigo. :P

      Hapus
  3. Kereeenn.. Tulisan lo emang khas banget, lo membunuh rindu gw akan fiksi2 lo yg dark. Gabungan realita dan fiksi di postingan ini mantep bgt, Semoga Kung Daslim tenang di sana ya, Amin. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah setahun lebih bener-bener vakum nulis, kagok juga buat nulis setelah kubaca lagi ada beberapa frasa yang kurang cocok terus kalimatnya juga terlalu panjang2 kurang jeda. Btw thanks bang..... iya dan aku berharap demikian, pasti sudah tenang di alam penantian :')

      Hapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: