Kamis, 19 Juni 2014

Aku Pulang

Ketika dua langkah kakiku melangkah maju ke ubin-ubin yang sudah tak bisa lagi kukatakan retak, jalan air pun sudah menggenang di sudut-sudut yang punya celah. Rasanya menengadah begitu berat, asbes satu dua sisi sudah terlepas dari pegangannya.
Sungguh manusia apa aku ini? Batinku retak.
Rumahku sudah lebih dari satu tahun tak pernah kusambangi, yang ada hanya memori-memori tentang 'masa jaya'-nya yang menggantung bersama dengan rangka kayu yang tak berkekuatan. Mungkin cukup baginya satu lalat hinggap, lalu hancur ke bawah hingga kepingannya selembut debu.
Selangkah lagi kakiku maju, tapi batinku menyuruhku tetap diam di tempatku semula, bahkan satu sisi diriku menyuruhku keluar dan meninggalkannya seperti yang rekaman dalam neuronku sejak terakhir kali aku mencium bau cat yang masih terasa baru.

Aku masih ingat, ketika itu tengah malam, saat Mei ingin mengganti dirinya dari empat ke lima, aku meletakkan sebingkai fiksi mini sebelum kepergianku ke ranah yang benar-benar baru. Miss Marple dan Sekelumit Kisah dari Whitby. Kala itu, mentari seperti berada sejengkal tangan, dan seraya langit biru berbinar tepat di depan. Putih abu-abu. Aku ingat betul, saat itu aku belum melepaskan titel kebanggaan, ya, Sekolah Menengah Atas. Rasanya memutar kembali memori SMA seperti mengiris lagi luka yang sudah menghitam menjadi lapisan kulit mati dengan pisau berkarat, lalu luka menganga dengan darah yang mengucur deras itu disiram dengan air lemon dan garam. Ah, kau bisa bayangkan sendiri tanpa perlu kujelaskan di sini. Sudahlah, bagi kau yang telah melalui ‘masa terindah dalam sekolah’, kau akan tahu bagaimana rasanya.
Sudah, terlalu lama berbalik melihat masa lalu tidak baik, karena sesungguhnya hal-hal indah bak tanah dan pasir hisap yang membuat kita berhenti pada satu fase hanya ada di masa lalu. Masa depan memang tak selalu indah, tetapi dialah yang membuat kita tahu bagaimana hidup melepaskan topengnya satu persatu—kulihat jelas topeng yang dulu selalu tersenyum kini merengut dengan kerut dan parut yang terasa kasar kusentuh.
“Selamat datang, aku pulang.”
Kusalamkan pada dinding dengan cat warna biru langit yang terkelupas karena panas dan hujan. Sudah lama aku ingin merawatmu lagi, menjadi seperti dulu lagi, saat mimpi terasa mudah digapai, saat kehidupan masih tersenyum melihatku merancang satu pentas drama kolosal tanpa suara dengan epik. Karena hanya dengan menulislah bisa kurasakan bagaimana rasanya hidup dan mati dalam satu waktu yang hampir bersamaan.

Hai pembaca, sudah satu tahun lebih terhitung dari aku menulis fiksi mini terakhir. Hai, rindu dengan setitik elegi dan cerita seram di rak-rakmu? Bagaimana aku tak merasa serindu ini menulis, bahkan sudah setahun ini aku benar-benar berhenti menulis, hidupku berubah seratus delapan puluh, atau bahkan berada pada titik cosinus positif. Satu tahun ini aku melepas seragam dan menjadi mahasiswa. Ya, bukan sembarang mahasiswa yang bisa pukul sepuluh bisa ngopi di tongkrongan dekat kampus. Aku merasa benar-benar jadi mahasiswa. Mahasiswa yang bukan menjelang UAS saja tidak bisa merasakan tidur. Tidur kurang dari empat jam mungkin sudah jadi langganan, bahkan akhir-akhir ini aku sudah menyukai kopi hitam yang diseruput perlahan agar kuat hingga fajar. Ya. Apakah kalian bisa tebak? Aku mahasiswa teknik, ya teknik arsitektur. Cukup berat. Dan pilihan yang berbeda dengan apa yang telah ada dalam darahku. Menulis. Kehidupanku yang sekarang adalah bersentuhan dengan debu kayu dari pensil warna, penggaris presisi dengan bidang yang sudah tak rata, dan tak jarang pula tangan ini benar-benar bisa menyesap rasanya darah, tergores silet karena harus mengerjakan maket yang njelimet. Tapi, setelah berbulan-bulan mengumpulkan kekuatan untuk dapat merawat blog ini lagi, akhirnya aku di sini, aku berdiri di tempat di mana aku bisa merasa hidup sekaligus merasa mati. Menulis lagi.

            Dan untuk yang pertama, kuucapkan.
            AKU PULANG.

Perkenalkan, maket Tugas Besar Perancangan Arsitektur 2, Twistwood Mini Cafe. Salam


1 komentar:

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: