Minggu, 05 Mei 2013

Miss Marple dan Sekelumit Kisah dari Whitby


Kemarin di Whitby seorang lagi hilang. Tercatat lima orang hilang dalam setahun terakhir. Opsir sudah melacak tapi hasilnya masih ganjil. Semua hilang tanpa jejak yang bisa dilacak. Polisi terus mencari...
--Headline Harian Whitby

Setelah menulis catatan hariannya, Rudolf pergi tidur dalam diam. Ia tinggal sendirian di sudut kota. Tepat di depan dermaga besar yang setiap pagi hingga malam selalu sibuk dengan aktivitas bongkar muat. Tiga puluh menit sejak ia menarik selimut sampai ke dadanya, Rudolf masih terjaga. Matanya memang terpejam, tetapi jantungnya masih memompa kenjang juga otaknya masih aktif meloncat-loncatkan neuron.
Lalu apakah hari ini tuanku Count akan datang? pikirnya dalam hati.
Malam yang panjang bagi Rudolf, karena hingga lewat tengah malam tubuhnya tidak sedikitpun berkompromi untuk tidur. Di dalam otaknya hanya ada tuannya yang datang bersama kabut lewat lubang pintu hingga kemudian membuatnya tidur dalam keabadian.

Rudolf masih terjaga ketika fajar mulai menyingsing. Di luar sudah terdengar suara kereta yang dipacu terburu-buru di pagi buta. Suara peluit, suara rantai kapal yang ditarik dan bergesekan. Suara pagi di sekitar dermaga yang kusuka, kata Rudolf. Biasanya saat pagi hari seperti ini Miss Marple selalu lewat di depan rumahnya pukul delapan lewat lima belas. Miss Marple adalah tetangganya—tetangga satu-satunya yang masih bersikap ramah terhadap Rudolf. Rudolf dikenal sangat pendiam dan kurang bersosialisasi. Terlebih saat malam bulan purnama, bahkan saat pagi ia tak pernah mau keluar. Menurut Miss Marple yang baik hati itu, Rudolf hanya terjebak dalam kesendirian yang begitu lama sehingga ia tak memiliki seorang teman untuk sekedar santai minum teh di sore hari.
“Pagi R,” sapa Miss Marple seperti biasa. Wanita setengah abad lebih itu hebat sekali, ia tahu menghadapi sikap dingin Rudolf.
Rudolf hanya tersenyum kecut. Tak berkata.
Miss Marple menyunggingkan senyum di balik wajahnya yang renta dan mendekat. “Tidakkah kau lebih baik menyapu saja, lihatlah daun-daun kering tak baik untuk kesehatan paru-paru,” lanjutnya sembari mengambil sapu di sudut beranda.
Miss Marple mulai menyapu.
“Tidak usah repot-repot Ma’am, aku bisa melakukannya. Tapi tak sepagi ini saja,” jawab Rudolf.
Miss Marple heran, jarang sekali Rudolf seramah itu ke orang. Biasanya, jika ada yang mengusik beranda dan mengatur-atur pekerjaannya di pagi hari ia langsung mengeluarkan sumpah serapah dan kata-kata kotor dan mengusirnya.
“Tak apalah untuk wanita tua seperti aku ini pekerjaan biasa, terlebih kau mirip sekali dengan Arnold, anakku.”
“Arnold? Aku tak pernah mendengar pemuda bernama Arnold tinggal bersamamu.”
“Pantas saja kau tak pernah mendengar R, untuk pergi ke luar berandamu saja kau enggan.”
Rudolf mengangguk. Masih dengan ekspresi yang datar dan dingin.
“Lalu, kenapa kau merindukannya Ma’am? Temui saja dia sekarang di rumahmu dan berhentilah menyapu rumah orang seperti ini. Hidup tak serumit mengatur lalu lintas kapal dan bongkar muat di sana, benar?” tandas Rudolf kecut sambil menunjuk ke arah kapal kargo bertuliskan “Randall Co.” yang sedang menurunkan beberapa kontainer berwarna biru bergantian.
“Sayangku R. Hidup memang mudah bagimu. Tapi bagiku, kematian tak semudah menurunkan kontainer-kontainer besar dari kapal ke tengah pelabuhan. Sudah dua puluh tahun Arnold pergi meninggalkanku. Tapi selama itu pula aku masih belum paham akan relikiu kematian.”
Miss Marple diam sejenak, beberapa kali air matanya nyaris jatuh tapi berhasil ia tangkap dengan sapu tangan merah muda yang selalu ia letakkan di dalam saku baju hangatnya.
“Maafkan aku.”
“Tak apa. Kematian sudah menjadi sahabatku.”
“Lalu, setelah Arnold tiada, kau tetap tinggal sendirian Ma’am?”
“Tidak. Aku hanya berteman dengan kanker. Ia selalu mengingatkan ke mana kakiku akan melangkah di pagi hari sesaat sebelum aku ke pasar dan menemui terduduk di depan beranda, R.”
“Maafkan kebodohanku lagi, Ma’am.”
“Tak apa, sekali lagi.”
Percakapan mereka berhenti. Rudolf hanya bisa berdiri tertegun dan mematung di depan Miss Marple yang sedang mengumpulkan daun kering ke tengah beranda.
Bukankah ia adalah wanita yang sangat baik. Kenapa Tuhan tak adil terhadap hidupnya; anaknya, bahkan dirinya sendiri.
Miss Marple pamit pulang setelah menurunkan setumpuk daun kering terakhir ke dalam bak sampah di depan. Ia melambaikan tangan dan hilang di ujung belokan bersama kematian yang ia sebut sebagai sahabatnya.

*

Polisi menutup kasus hilangnya lima orang sebagai pembunuhan masal karena masalah ekonomi yang kian menjerat Inggris karena krisis moneter. Polisi menghimbau agar warga bisa melupakan tentang desas-desus penghisap darah yang mencuat.
--Headline, Harian Whitby.

Malam, tujuh belas Januari, saat purnama pertama.
Inilah saatnya. Tuanku akan datang. Membawa keabadian.
Tepat pukul dua belas. Jam kota berdentang tepat dua belas kali. Kaca-kaca di rumah Rudolf bergetar karena benturan kapal yang baru saja bersandar di dermaga. Deru ombak. Angin malam yang masuk melalui celah di atap membuat suasana kamar Rudolf lebih mencekam.
Lima orang sudah cukup membuat Tuannya hidup lebih bugar. Ia tak pernah serampangan dalam bekerja dan selalu pemilih terhadap korban-korbannya. Ia dijanjikan menjadi pengikut abadi Tuannya ketika berhasil memberikan lima orang terakhir untuk Tuannya. Dan ia berhasil.
Beberapa menit lagi pasti Tuannya datang.
Benar saja. Kamarnya berubah semakin gelap dan dingin. Semakin dingin. Lalu lewat lubang kunci sedikit demi sedikit kabut berwarna keunguan masuk ke dalam kamarnya.
Tuanku datang.
Kabut itu semakin lebar dan besar, lalu dari kabut itu muncul sebuah sosok tinggi besar dan tegap dengan jubah hitam menjuntai ke lantai. Senyumannya menyeringai. Terlihat berjajar gigi-gigi yang rata dan di ujung-ujung taringnya memanjang sampai ke bibirnya yang masih basah karena darah. Kulitnya seputih salju, pucat. Matanya yang berwarna merah bercahaya itu menatap Rudolf tajam.
“Kau berhasil anakku. Tugasmu sudah selesai. Akan kuangkat kau dari kehidupan yang membuatmu tersiksa ini.”
“Tuanku Count yang maha mengampuni, ampuni aku yang sangat lancang ini. Bolehkah setelah kau merubahku jadi pengikutmu yang abadi aku mengubah seseorang lagi untuk menemaniku?”
“Terserah, itu sudah menjadi kebijakan tentang apa yang kau pilih, sebagai kawan atau korban.”
“Baiklah.”
“Kau siap?” kata Count dengan suara beratnya.
Rudolf mengangguk.
Count mendekat—mendekati leher Rudolf yang hangat dan mengalirkan darah segar—menyeringai sebentar, lalu membuka mulut dan menancapkan kedua taringnya yang panjang tepat di leher. Menghisap berpuluh-puluh tetes darah dari sana sampai Rudolf  terduduk lesu karenanya.
“Sekarang kau sudah jadi pengikutku. Bergabung dengan keabadian dan bersahabatlah dengannya. Ia membawamu ke alam yang sangat berbeda dengan alammu sebelumnya. Pahamilah mereka. Sekarang pergilah, kau sudah jadi sepertiku. Maka bertingkahlah juga seperti diriku.”
Rudolf mengangguk, lalu ia pergi dengan cara yang sama dengan Count saat pertama kali masuk ke dalam kamarnya.
Aku akan ke sana, pikir Rudolf dalam benaknya.
Ia menemukannya tertidur pulas di ranjang yang besinya sudah banyak berkarat. Dengan memakai baju tidur hangatnya, Rudolf melihat sesosok tubuh yang sedang sekarat didekap selimut dalam dinginnya Whitby di musim gugur. Ia mendekatinya. Dan merubahnya...
Sekarang kau bebas Miss Marple. Ke mana pun kau mau. Kau tak perlu lagi merasakan sakit karena kanker yang menggerogoti tubuhmu. Pergilah bebas dan kau juga bebas dari relikiu kematian yang kau eluh-eluhkan. Kau bisa bahagia, hidup selamanya di sini, bersamaku. Walau aku bukan Arnold anakmu, biarkanlah aku jadi Arnold kedua yang setidaknya bisa menemani setiap tidurmu di saat pagi menyongsong.

5 komentar:

  1. Awalnya penasaran karena mengira cerita detektif, Miss Marple jadi ingat nama salah satu tokohnya Agatha Christie :3

    BalasHapus
  2. IMAJINASIMU LUAR BIASA!!!! SUMPAH!!!!

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: