Sabtu, 04 Mei 2013

Lima Menit untuk Memaafkan

BERDASARKAN CERITA NYATA, TITIPAN SEORANG KAWAN.

Kau tahu di dunia ini ada hal paling indah yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Mereka dapat kau lihat, mungkin juga kau dapat rasakan. Bekas hujan di atas tanah yang menggenang, ditambah terpaan sinar matahari menjelang siang, jika kau beruntung kau dapat bercermin di atasnya.
Detik jam seperti tak berjalan di angka sembilan. Tidak ada yang dapat kulakukan hari ini, tidak sekolah karena ini adalah hari-hari pasca ujian dan menunggu kelulusan. Di ruang tamuku hanya ada beberapa tumpuk novel dan gadget yang sedari tadi klak dan klik.
Di ambang pintu aku melihat bayangan diriku sendiri di atas kaca yang memantulkan pelangi sehabis hujan. Samar kulihat di sana—di sampingku—ada sosok yang kukenal, ya dia. Dia... maafkan aku. Hujan turun lagi dan perlahan-lahan siluet samar yang sangat kukenal itu menghilang di balik gerimis.
Jujur, aku merindukanmu. Jujur, sesungguhnya aku tak pernah sekalipun menyalahkanmu atas semua ini. Kau sudah sangat baik, sampai detik ini tak ada niatan di dalam hatiku untuk sekalipun membencimu.

*


            Aku tak ingat sejak kapan aku mulai diam-diam memikirkannya. Di sudut mataku selalu saja memberikan kesempatan untukku melihatnya walau jarak cukup jauh memisahkanku dengannya. Mungkin menurut kebanyakan orang ia tak spesial, bahkan ia tak setampan Romeo yang digambarkan Shakespears. Siapa peduli, yang terpenting ialah ia dapat masuk ke dalam hatiku, mencurinya, perlahan menjaganya walau secara tak langsung.
            Pernah satu waktu, kami ada di satu kelompok yang sama. Kuingat betul, waktu itu Fisika. Ia juga bukan salah satu yang terpintar di kelas. Tetapi satu yang kutahu, ia terlalu pintar untuk terus mengisi neuron-neuron di otakku, melompat ke sana dan kembali begitu lincahnya hingga jejal penuh dengannya di dalam otakku ini.
           “Belum pulang?” sesosok suara menyapaku dari belakang saat sekolah sudah mulai ditinggalkan penghuninya.
            Aku melihat jam tangan ramping di tangan kiriku untuk mengalihkan pandanganku dari matanya yang tajam itu. “Um... iya nih.”
            Tanpa kusangka ia mengambil duduk di sampingku, kukira ia akan pulang begitu saja setelah menanyakan hal basa-basi itu kepadaku.
            “Aku juga malas pulang, sore juga belum terlalu petang tapi hari ini entah kenapa sekolah begitu cepat sepi, bener nggak?” tanyanya sembari memainkan sapu tangan cokelat yang selalu ia bawa.
            Aku mengangguk. “Benar, mungkin karena gerimis juga belum mau berhenti membasahi tanah sekolah yang mulai becek ini.”
            Ia menengadah, “Benar juga,” katanya, “kau tahu ada satu hal menahanku begitu lama di sekolah sekarang?”
            Aku tak menjawab dengan kata-kata, hanya menggeleng dan memainkan ujung sepatuku dengan sepatuku yang lain. Dari ruang pandangku yang paling sempit aku melihat senyum simpulnya merekah, tak terlalu lebar tapi dapat membuat hatiku ini berdebar kencang.
            “Yuk,” timpalnya singkat, lalu ia menarik lembut tangan kiriku. Mungkin lebih tepat bila kusebut dengan mengenggam. Ya lelaki ini mengenggam tanganku, Tuhan, hatiku mulai berdebar tak menentu. Dalam mataku semuanya yang terlalu oranye karena senja perlahan mulai turun ke haribaan.
            Ia mengajakku ke depan kelas dan kemudian ia melepaskan genggaman tangannya. Rasanya seperti kerongkonganku ditarik hingga yang kurasakan seperti kosong dan hampa.
            “Lihat. Fokuskan pandanganmu. Lihat gerimis itu begitu seirama ketika jatuh.”
            Tanpa pikir panjang aku mengikuti saja instruksinya. Benar, gerimis yang kuperhatikan selalu turun seirama, seperti mereka tak pernah bertolak belakang padahal mereka semua tahu siklus hujan setelah ia jatuh ke tanah mereka tidak akan bisa menjadi air yang turun seirama lagi. Mereka seakan tak peduli, ya yang mereka pedulikan hanya turun saat itu juga bersama-sama.
            “Hei, mengapa kau memejamkan mata?” tanyaku heran kepada dia yang tiba-tiba memejamkan mata dan menghela nafas panjang.
            Sungguh spesial, lelaki ini tidak menjawab ia hanya meletakkan telunjuk kanannya di depan mulutnya yang mengatup juga tangan yang sebelah didekatkan di telinganya yang berlawanan. Ya aku mengerti dan aku hanya tersenyum lalu mengikuti apa yang ia lakukan. Cukup lama kami begitu, lima belas menit jika dihitung mungkin bisa lebih. Selama itu di antara kami tidak ada yang saling menatap, mata kami saling terpejam. Tidak ada yang memulai kata, kami membeku dikepung hujan yang semakin deras. Hingga...
            “Apa yang kau rasakan?” ia membuka dialog baru yang memecah keheningan.
            “Damai.”
            “Damai dan tenang, bukan?”
            “Ya, damai dan tenang.”
            Percakapan berhenti kembali.
            Membeku lagi, sampai satu saat kurasa sentuhan hangat menyentuh tanganku lembut. Rasa itu kembali datang, rasa seperti kulihat semuanya berwarna keoranyean karena senja. Debar juga hadir, entah kenapa yang kali ini aku lemas dibuatnya.
            “Sudah. Besok mungkin juga hadir lagi di sini, sudah terlalu malam, mari kuantar pulang saja.”
            Aku tak tahu harus menerima atau bahkan menolaknya. Yang kulakukan hanya mengikuti kemana genggaman tangannya membawa tanganku pergi. Satu yang kuharapkan yang tidak ia lihat kala itu; pipiku yang memerah karena tersipu.
            “Maaf, maukah kau memelukku? Bukan, bukan karena aku mesum, jika tidak kau lakukan bisa-bisa seluruh tubuhmu basah kuyup karena hujan.”
            Tak perlu berkata lagi, aku melakukan apa yang ia perintahkan. Aku juga tak mau sakit karena hujan ini. Kupeluk saja.
            Hangat. Menenangkan.

*

            Setelah saat itu kami mulai dekat, dekat sekali. Ada fakta baru yang kuketahui darinya setelah sedekat ini; ia romantis. Pernah kala itu, tiba-tiba di atas mejaku ada satu kaset bertuliskan “Everything’s you” di atasnya. Saat sampai di rumah aku menyetelnya dan yang kudengar...

I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
           
            Suaranya begitu empuk dengan ambitus di bas yang ia miliki membuatnya semakin terlihat misterius. Aku tak mungkin salah mengenali suara ini, ya pasti ini adalah suaranya diringi denting gitar selembut rumput oranye di savana yang luas. Apa yang kurasakan ini, apa aku mencintainya?
            Hari-hari berikutnya kedekatan kami semakin tampak di kelas, bahkan teman-temanku sudah mendukung seratus persen untuk bersama dia dan... meresmikannya. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan kutunggu, sikap romantisnya tak kulihat berani mengungkapkan apa yang ia rasakan padaku.
            Perlahan-lahan entah mengapa sikapku mulai dingin terhadapnya, aku merasa diriku yang biasa kutunjukkan di depannya tiba-tiba lenyap. Aku menjadi statis dan sinis terhadapnya.
            Terkadang digantungkan lebih menyakitkan daripada dicintai orang yang tak romantis tapi berani untuk mengungkapkan. Digantung seperti kau merawat sepot mawar merah dan ia tidak berduri, tetapi ketika kau ingin memetik bunganya, durinya tiba-tiba muncul dan menusuk jemarinya hingga berdarah, berdarah hebat. Ya seperti itu. Mungkin itu yang membuatku jadi seperti ini.
            Duar!
            Halilintar menyambar sangat keras memaksaku keluar dari segi-segi ingatanku bersamanya setahun yang lalu. Saat ini yang kurasakan hanya sakit, seperti ada pasak kayu besar menusuk dada layaknya dulu orang Transylvania membunuh Count Dracula hingga ia bisa mati dalam damai.
            Jujur sakit ini tak sebesar rasa bersalahku.
            Sakit ini tak ada apanya dengan keinginanku untuk minta maaf padanya, semuanya sudah terlalu dalam. Aku melihat jurang, tapi ujungnya hanya kabut hitam tak berdasar, mungkin bisa kugambarkan seperti itu. Aku tak ingin di ujung pertemuanku ini dengannya mungkin aku terus-menerus membawa perasaan bersalah di dalam hidupku. Jika Tuhan memberikanku satu kesempatan lagi, aku tak ingin mengulan kembali semuanya. Aku hanya ingin Tuhan memberikanku dengannya lima menit. Ya lima menit untuk mengucapkan maaf untuk semuanya, hanya maaf. Aku tak lagi berharap ia bisa menerimaku lagi, menerima hubungan yang dulu pernah hancur. Aku hanya ingin Tuhan memberikan ia hati yang besar dan lima menit terakhir untuk memaafkan.

4 komentar:

  1. jadi ini perasaan sesaat karena tak adalagi rasa yang sama?
    huhu
    endingnya gimana?
    nggak musuhan kan ya?
    hehe

    BalasHapus
  2. *tears*
    i kinda understand what she feels..
    bang, yours are still touching, anytime i read it.. (^^)b

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: