Selasa, 19 Februari 2013

Batu di Depan Pot Mawarku

"Aku melihat berlian! Kamu? Pasti berbeda!"
Taken with Canon EOS 550D | 18-55mm | Aquamarine Picture Style
Beberapa hari ini rasanya langit selalu kelabu, sinar seperti malu menembus awan-awan itu. Tanganku berusaha mencapai kumpulan cumulunimbus di atas sana walau tak mampu meraihnya.
Sudah mulai senja, kulihat mengintip sedikit surya keoranyean dari ufuk-ufuk. Dan rasanya sudah lama sekali aku tertidur dan tak ingin terbangun. Ada banyak pertanyaan yang selalu muncul di benakku saat aku lelap tiba: Apa aku benar-benar tidur? Apa aku selalu bermimpi? Apakah hal yang selalu kuimpikan sama? Lalu... di manakah sesungguhnya dunia nyata itu? Di tempat biasa aku bermimpi atau di alam ini?
Ah sudah. Aku banyak bicara, membuang energi saja. Sebanyak apapun aku berbicara, takkan ada yang mau menjawab. Bahkan untuk mendengar saja pun tak ada.
“Hai, apakah kamu batu?”
“Ya aku batu. Lalu kenapa kamu menyapaku?”
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya kagum melihatmu terseok di depan pot mawarku.”
“Tunggu dulu, ‘terseok di depan pot mawarku’ benar? Lalu apa yang membuatmu mengagumiku? Aku hanya batu.”
“Mungkin hanya batu. Tapi dari dirimu aku belajar.”
“Ah, naif kau. Belajar dari seorang batu adalah pekerjaan orang yang tak pernah belajar.”
“...”
Percakapan terputus. Koneksinya berakhir. Aku sadar lagi.
Aku baru saja mengobrol. Kau tahu, dengan seonggok batu di depan pot mawarku. Tidakkah aku hebat? Atau gila? Haha, siapa peduli. Yang kembali muncul di otakku adalah aku sedang bercakap dengan batu atau dengan bagian lain dari diriku. Cukup, cukup sekali aku terlihat bodoh di depanmu yang tak pernah menjawab bahkan mendengar setiap ocehanku.
“Tunggu...”
“Apa?”
“Kenapa percakapan kita berakhir dengan tiga titik? Jawab!”
“Beraninya kau!”
“Mengapa aku harus takut? Takut adalah pekerjaan orang yang tak mau mendengarkan apa yang sebenarnya ia mau. Jadilah takut, jika sudah takut. Gagal. Gagal total lalu bunuh diri. Ya memang dasar manusia.”
“Lalu, apa kau batu tak pernah mengalami riwayat bunuh diri?”
“Hai bodoh! Dasar dungu, batu tak pernah bunuh diri, mereka tidak hidup. Hanya kau saja yang gila sudah mencoba berbicara denganku.”
“Ya terserah. Tapi terima kasih.”
“Untuk semua hal memuakkan ini?”
“Bukan.... Tetapi lebih ke terima kasih karena kau telah berada di depan pot mawarku seharian ini sehingga diriku bisa memandangimu sepuas yang aku mau.”
“Gila, sekarang kau mencintai batu?”
“Pendek sekali pikiranmu! Hanya kesendirianlah yang dapat membuatku seperti ini!”
“...”
Koneksinya melambat. Aku bangun lagi. Langit masih senja, di sudut dengarku kepak sayap burung mulai sayup lembut masuk. Tandanya aku kembali ke duniaku—atau malah ini mimpiku?
Batu itu. Aku tak pernah melihat ia bersama siapa pun. Ia dan dirinya. Bahkan dalam keadaan apa juga ia tetap menikmati berdiri sendirian di depan pot mawarku. Bodoh lagi, batu tak punya kaki, jadi ia tak pernah berdiri di depan sana. Ia hanya tergeletak bersama angin kering dan basah yang diembuskan berlawanan.
“Aku kembali. Lalu kenapa sekarang engkau yang diam, wahai batu yang agung?”
“Aku sekarang yang heran denganmu.”
“Heran? Heranmu sungguh tak berdasar.”
“Tak perlu dasar teoritis untuk mendasari hal yang kuanggap masuk ke dalam rasio-rasioku. Itulah batu, tak hidup, tak memiliki otak, jadi ia bisa sepuasnya memasukkan, menghapus apa pun yang ia inginkan. Benar?”
“Ya. Batu, kenapa kau selalu sendirian?”
“Oh jadi itu. Ya karena memang tidak ada yang sepertiku.”
“Jadi, kau hanya satu. Batu di dunia ini banyak sekali.”
“Ya memang banyak tapi mereka tak pernah saling dan mau dikenalkan satu sama lain, tidak seperti manusia.”
“Tidak seperti kami? Maksudmu?”
“Ya manusia adalah sosialis. Selalu membutuhkan orang lain dan kebanyakan manusia-manusia bodoh di luar sana mengorbankan kepentingannya demi orang lain. Tapi apa, mereka hanya menerima pengkhianatan. Bukannya balasan yang sepadan dengan apa yang telah diberikannya. Begitulah hidup sebagai manusia. Hanyalah keadilan milik Tuhan yang tak pernah ingkar.”
“Kau terlalu banyak bicara. Tapi sayangnya harus kuakui semua spekulasi itu benar. Tentang manusia, tentang hidup mereka, dan tentang diriku.”
“Kau termasuk dalam golongan manusia yang bodoh, benar? Aku hanya menebak.”
“...”
Senjanya mulai hilang. Ah sial. Aku melewatkan hamparan gagak terbang beriringan saat senja membentuk warna oranye sempurna sore ini di langit gedung ini. Hanya karena  dia-yang-sok-tahu-tentang-hidup-manusia-dan-uh-sial-harus-kuakui-itu-semua-benar.
“Aku di sini, halo....”
“Kau menganggu saja. Ada apa?”
“Kau manusia-manusia bodoh itu kan? Jawab... dengan jujur!”
“Sayangnya... iya. Aku salah satu dari mereka.”
“Kasian.”
“Terima kasih.”
“Saranku—“ ucapannya kusela. “Aku tak perlu saranmu, batu sialan!”
“Saranku... kau... harus... percaya... bahwa... sahabat terbaik... dalam... dirimu... adalah... dirimu sendiri.”
Kami hilang kontak. Roman-romannya, efek dari lexotan dan hypnoril yang tiga puluh menit lalu baru saja kutelan. Mereka mulai bereaksi menyuruh tubuhku tunduk pada keadaan di mana “kau harus bangun dan tak boleh tidur lagi untuk beberapa waktu. Aku benci mereka. Aku benci obat-obat itu. Aku benci aroma aibon yang menyatu bersama oksigen di ruangan ini. Aku benci para dokter di tempat ini yang memerlakukanku seperti bayi lima tahun yang baru saja belajar menulis alfabet. Sungguh, aku sadar. Hanya saja aku hobi berbicara dengan mereka yang sebenarnya tak hidup. Aku tak gila, setidaknya walau manusia tak pernah percaya bahwa aku tak gila, batu itu masih percaya.
Aku rindu batu itu.

6 komentar:

  1. Dakaaaa~ kamu tuh ya paling bisa! Batu aja bisa jadi inspirasi cerita yg bagus gitu.....

    BalasHapus
  2. makin sangar aja kamu :D
    btw sekolahmu udah lulus belum?

    BalasHapus
  3. Sejak baca cerpen-cerpenmu, aku duga kamu itu orangnya pendiam, suka merenung, dan mengamati yah? Kata-katanya puitis dan penuh makna.... :)

    BalasHapus
  4. inspirasi dari batu?? i'm speechless over here. your story's always good. always :D and i always admire it. always.

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: