Jumat, 06 Juli 2012

Yuwana Mati Lena

FlashFiction ini diikut sertakan dalam proyek nulis bareng peduli bareng 67 Cerita untuk Indonesia

Sebelum negeri ini pernah merdeka, aku sudah memiliki ikrar di atas tanah Jawa. Mengalungkan janji di bumi pertiwi; bahwa kita akan menjadi dua peranakan Indonesia yang kelak jadi tumpuan semesta. Biyung, namanya. Ia mendapatkan nama itu karena Biyung terlahir tanpa rengkuh kokoh seorang Bapak. Tinggi tegap, kulitnya senada dengan alur petak sawah, hitam terbakar. Aku mengenalnya saat kami mulai belajar mengarak meri dan kerbau. Setiap senja berkerudung pulang, aku dan Biyung duduk bersebelahan menunggu matahari menghitam. Pernah suatu saat ia bertanya padaku, mengapa kulitmu begitu berbeda? Sejujurnya aku tidak tahu mengapa. Ibuku pernah bercerita tentang salah satu tokoh dalam babat Jawi, Hanoman. Seekor kera putih yang membawa Shinta kembali dari kerajaan Rahwana. Ibu bercerita tentang pertemuannya dengan Hanoman. Katanya, sang Hanoman yang besar dan bungkuk itu memberinya satu kantung berisi bayi laki-laki dan itulah aku. Seiring bertambahnya umurku, aku dapat mencerna satu mitos itu menjadi lebih logis. Dalam ilmu pengetahuan alam yang kupelajari di sekolah dasar, anak manusia lahir dari bertemunya dua kelamin, bukan lewat mimpi.
“Ibu mengapa aku berbeda?”
Ibu mengusap keringat dengan lengan dasternya. Tetap tersenyum walau kutahu pertanyaanku  membuat “benteng” yang ia bangun selama ini runtuh. Saat itu aku berumur lima belas. Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang berbeda dan terkutuklah mereka yang selalu membedakan satu manusia dengan yang lain, kata Ibu dengan ekspresi datar.
Aku tak pernah mempersalahkan hal itu, sejujurnya. Tetapi warga desa selalu mencibir aku dan Ibuku setiap pulang membeli kangkung. Selalu begitu. Apa yang salah dengan perawakan jangkung dan kulitku yang putih? Apa ini satu kutukan? Lalu, tahun-tahun semakin cepat berlalu. Dua hari sebelum Ibu wafat, Ibu menceritakan satu hal tentang peristiwa sebenarnya. Membuat nafasku tercekat beberapa detik.
Ibu mengatakan bahwa aku bukan anak dari dirinya dan Bapak. Satu tahun sebelum rengek tangis keluar dari bibir tipisku, Bapak tewas dihunus pucuk senapan kumpeni. Rodi masih gencar berlaku kala itu, sebut Ibu. Kumpeni selalu berlaku semena-mena ke semua warga tak terkecuali Ibu. Setiap pagi, para wanita nggarap sawah dan ketika bulan mulai melagu dengan gelap, Ibu adalah “budak” para kumpeni, katanya. Derai air mata deras keluar dari kedua bola matanya tanpa kutahu mengapa. Apa yang salah menjadi budak di rezim Belanda? Itu lumrah. Aku mengatakan, Ibu jangan menangis tidak ada yang salah dengan para kumpeni itu, takdir bangsa ini. Ia menyanggah. Katanya, takdir bangsa ini adalah dijajah kumpeni memang, tetapi bukan takdirmu mengalir darah kumpeni bejat itu di darahmu.
“Aku tak perduli lagi Ibu, tidak perduli darah kumpeni ada di sini,” kataku menunjuk nadi yang berdenyut di pergelangan tanganku. “tetapi di sini,” tanganku yang satu mengarahkan telunjuk ke dada, “tetap ada sejumput tanah basah, tanah dari bumi pertiwi kita ini Ibu, Indonesia.”
Ia terenyuh mungkin akan ucapanku, Ibu selalu diam setelah itu. berhari-hari diam, bahkan sampai jalan makanannya pun kering. Entah atau takdir (lagi) atau Ibu yang menginginkannya. Malam rabu, hujan deras, sudah kusiapkan jahe hangat untuknya. Ibu bergeming diatas pembaringan, mengahadap kiblat. Mungkin sholat, pikirku. Tapi berjam-jam tak ada tanggapan dari tubuhnya, aku panik, kupanggil Biyung. Ia pernah belajar tentang dasar-dasar pertolongan pertama pada mantri kawan Ibunya. Katanya, ibumu wafat. Jika kau berada dihunus pedang dan peluru bersarang di otakmu seketika, mungkin begitulah aku mendiskripsikan perasaanku saat Ibu tiada. Aku tidak bisa menangis, kata Ibu menangis itu lambang kelemahan, seorang lelaki tidak pernah menangis untuk alasan apapun.
“Aku berjanji, setelah pagi ini kita akan bertemu lagi di pagi yang lain,” aku mengatakannya pada Biyung sehari sebelum aku memutuskan pindah dari desa kecil tanpa nama ini.
                Biyung tidak pernah mau menjawab secara terang-terangan. Selalu mengumbar sarkasme yang begitu dalam akan rencanaku. Katanya, bukan karena kulitmu yang berbeda menjadi satu-satunya alasan kau membuang tanah kelahiranmu. Aku selalu menolaknya, aku pintar membuat alasan bahkan untuk seorang lulusan SD seperti Biyung. Dan hingga pada akhirnya, ia mengaku kalah, aku pergi dari tempat ini dengan atau tanpa persetujuannya.
                Tidak penting sekarang bagaimana aku meraih kesuksesan ini. Yang terpenting aku tidak pernah melupakan bagaimana dulu desa tanpa nama membesarkanku dan mendidik mentalku menjadi sekuat baja. Tentang Ibu yang selalu menjadi tumpahan lelahku, dan tentang Biyung. Dan seperti apakah ia hari ini? Tiga puluh satu tahun berlalu, sekarang negeri ini sudah merdeka. Aku tak bisa lagi memandang hamparan ilalang yang mengoranye seirama dengan warna senja yang biasa kupandangi bersamanya dulu. Desa kecilku itu sudah diapit jalanan aspal dengan neon merah-hijau-ungu yang kerlap-kerlipnya menyalahi bintang. Tetapi, masih bisa jelas kukenali bau rerumputan basah yang aku tanamkan dalam hati, tentang bagaimana warganya hadir bersama-sama menenun sungai. Walaupun pernah satu masa mereka menghardik karena aku berbeda, sungguh aku tak pernah menyimpan dendam di hati kepada mereka.
                Menurut salah satu wanita bungkuk yang kutemui di jalan. Katanya ia mengenal Biyung. Tetapi aku tak bisa menemuinya saat ini. Kutanyakan mengapa. Wanita itu menggeleng lemah. Kutanyakan sekali lagi, mengapa aku tak dapat menemui Biyung. Kali ini ia diam, balik menatap mataku. Wanita ini hanya menjawab dengan arah penunjuk jalan yang menuju ke sebuah gubuk di atas bukit. Biyung ada di sana, katanya.
                Tak perlu satu atau dua kecepatan cahaya untuk menjelaskan. Kutemui kawan masa kecilku itu. Sudah seperti apa sekarang dirinya, banyak gambaran-hitam-putih mengalir di otakku sebelum aku tahu seperti apa dirinya saat ini. Dan, hal itu membuatku harus mentah-mentah membuang kilasan bayang indah. Biyung yang sekarang hanyalah pria renta, duduk di dipan teras rumahnya sendiri, tanpa istri bahkan. Satu tangannya terlihat menyatu dengan mata rantai. Sesekali ia memandangku yang heran, Biyung malah tertawa dan berkata, bunuh kumpeni! Untuk sejuta alasan, kali ini aku memang lemah, katakan saja. Aku menangis memeluk kerabatku, memeluknya dalam tangis yang beku tak kuasa menatap dirinya yang kurus kering hidup menyendiri. Di belakang pelukanku ia terus berteriak-teriak, menghujat, menghina kumpeni. Bunuh kumpeni, usir dari bumi pertiwi, merdeka, katanya.
                Percuma aku membuka percakapan dengannya. Dialog yang ia lagukan tetap sama: Bunuh kumpeni, usir dari bumi pertiwi, dan merdeka. Tapi, dalam hati kecilku aku masih berharap ia mengingat ikrar kita di tanah Jawa ini. Tentang bagaimana impian kita menumpu semesta bersama-sama. Saat aku akan pergi dulu, aku pernah berjanji juga padanya. Aku akan kembali pada suatu pagi di lain hari, dan sekarang janji itu kutepati meskipun bukan dengan Biyung yang kukenal dulu. Di akhir cerita ini, aku menyesali kepergianku saat itu. mungkin jika aku tidak pergi semua ini takkan terjadi. Aku mungkin masih mengenal Biyung dan Biyung akan tetap menjadi orang yang sama.
                Dan satu yang ingin kukatakan padamu Biyung, aku tak pernah lupa akan tanah kelahiranku ini. Indonesia akan selalu dan selamanya berada di sini, di hatiku, termasuk engkau, Ibu, dan lembah ini. Yuwana mati lena: Orang baik menemukan naas karena tidak hati-hati. Seperti aku, sempat pernah meninggalkanmu dan desa ini. Dan sekarang adalah terlambat untuk menyesali.
                Batinku perih, terlalu perih untuk melanjutkan nestapa ini lagi.

14 komentar:

  1. yang pertama kali komentar kah aku? hehehe suka sama kata-katanya...

    BalasHapus
  2. mengguncang!
    tetap semangat dan terus berkarya :)

    BalasHapus
  3. Bagus de ceritanya :)Sukkaaaaaa

    Maaf nih ya...
    tapi sayang perdebatan antara Biyung dan si aku saat hendak pergi hanya diglobalkan, klo sedikit saja sarkasme buyung yg dmaksud diatas & jawaban2 sert penolakan si aku bisa sdkit djabarin mungkin akan lebih klimaks penyesalan si "aku" diahir cerita <===== inisih cuma pendapat aku yg Masiiiiih Belajar

    kira2 begitu de, tp keseluruhannya Bagus :)

    BalasHapus
  4. bacanya harus bolak-balik, tapi akhirnya ngerti, hehe :))

    BalasHapus
  5. Penggambaran tokoh di sini dan pesan yang ingin disampaikan juga jelas. Satu pertanyaanku dalam hati, aku tak mengerti atas prilaku Biyung. Di sini justru lebih ke "Ibu" dibandingkan persahabatan Biyung dan si Aku. :| Tapi, tetap aja bagus! :D

    BalasHapus
  6. Sedikit membingungkan dengan nama tokoh 'biyung' karena dalam persepsiku (orang jawa) biyung itu ibu.

    BalasHapus
  7. Pertama kali baca judulnya, "Wah apa ini, pepatah Jawa?"
    Ternyata, cerpennya mas Rizki :)
    Saya sangat suka penggambaran cerita pas tentang Ibu dan Aku. Awesome, ini seperti kronik sastra mas. Adanya unsur sejarah yang dicipta, kurasa, tokoh Ibu dan Aku serasi dalam penggambaran jiwa.

    BalasHapus
  8. keren banget. sedih ya ceritanya. aku bacanya harus bolak-balik, maklum jarang-jarang baca tulisan yang kata-katanya kayak gini. btw, emang jaman belanda ada SD ya? jaman politik etis (1900-1942) namanya bukan sekolah dasar, tapi Hollands Inlandsche School (HIS) seperti SD tapi masa pendidikannya 7 tahun bukan 6 tahun.

    BalasHapus
  9. nice post :)
    ditunggu kunjungan baliknya yaah ,

    BalasHapus
  10. bguz bgt! >< mksudx itu.. itu.. tkoh AKU ank belanda y? iya ga?

    BalasHapus
  11. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    nikmatilah hidupmu agar kamu tidak merasa bosan dalam setiap keadaan.,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    BalasHapus
  12. Sedikit membungungkan sih, tapi akhirnya ngerti juga :))

    Kunjungan perdana nih, gue follow blo lo, kalau berkenan follback.
    Salam kenal,

    BalasHapus
  13. Dunia memang penuh dengan romantika dan dinamika hidup. Ada tangis, senyum, bahagia, sengsara, duka nestapa, harapan, optimis, dan pernik lainnya dalam hidup ini. Dunia begitu indah dan nyaman bila yang ada didalamnya saling berbagi dan tolong-menolong dalam kebaikan.

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: