Senin, 11 Juni 2012

Gadis dalam Cermin (15)

Kertas  terlampir yang dibicarakan Lusy dalam suratnya adalah kertas seukuran buku tulis bergaris yang tipis, kontras dengan kertas perkamen diary Clara Harrington. Kertas itu dilipat tiga kali hingga seukuran tiga ruas jari orang dewasa. Diselotip rapi di belakang surat Lusy.

Aku tak tahu bagaimana aku menyebutnya, sebuah peta, juga bukan..., Lusy menulis pembuka di lipatan ke tiga dari lampirannya.

Sebuah peta, juga bukan...

“Apa ini?” teriak Mady, kata-kata itu seharusnya hanya ia batin, tetapi tak sengaja keluar memekikkan keheningan malam di Santa Mondega.

Apa yang Lusy sebut sebagai surat hanyalah kumpulan coretan gambar dan tulisan dari tinta hitam, tak simetris, banyak salah di sana sini bagi Mady. Ia tidak bisa mengartikan apa pesan yang tersirat dari “peta” itu, apakah itu benar-benar peta, atau hanya lampiran surat yang memiliki arti tersembunyi? Mady terus memelototinya bermenit-menit. Tetap saja ia tidak bisa mengeksplisitkannya.

They tells lie... the truth will not come out....

Is not about the mirror, Lady on Mirror... the fuckin’ picture... not lying....

Believe me! Find the way, your way... I’m in you... I’m not lying....

And you... choose...

Friend or foe... truth or lie... together or alone... unknown... and believe or not....

Kill or be killed... it calls “Bloody Palace”

Find me... I’m your friend... find me... the maze... and beware the gargoyle....

Follow the light, the odd light... ME...

Please help me... please help me... somebody... please....

Dahi Mady mengernyit berkali-kali. Apa yang ia baca seperti potongan kalimat yang terpisah-pisah, seperti puzzle atau seperti mahjong. Beberapa kalimat tak terselesaikan, dan beberapa lainnya tebal dan bergaris bawah. Tulisan-tulisan misteri itu membicarakan tentang kebohongan dan kejujuran, cermin, lukisan. Lalu selanjutnya menerka tentang pilihan. Menceritakan tentang sebuah tempat bernama Bloody Palace. Dibunuh atau membunuh, cahaya aneh, mengikuti cahaya. Teman atau musuh. Sendirian atau bersama. Percaya atau tidak.

Lalu di akhir suratnya mengatakan, “Tolong bantu saya... tolong bantu saya... siapa saja... tolong....”
Potongan kata yang tak selesai itu terbantu sedikit dengan adanya gambar non-simetrikal yang ada di surat itu. Menyinggung tentang perpustakaan rahasia. Lalu tercetak anak panah yang terhubung dengan gambar pintu dikelilingi gambar kabut bertuliskan “TRUTH or LIES”. Mady berhenti meneliti.

Mady membatin, Perpustakaan rahasia? Tidak ada rahasia di Santa Mondega ini yang tidak terpecahkan olehku dan Lusy. Lalu tentang perpustakaan rahasia ini apa sama dengan tempat itu?
Gambar dua orang memakai jubah dan satu gundukan atau lebih etis disebut altar yang lebih tinggi dari tanah disekitarnya, lalu pintu lagi dengan tulisan “Be killed”. Dibawahnya ada keterangan yang menjelaskan sedikit banyak tentang gambar itu: Itu disebut “Bloody Palace”, temukan saya... tolong, aku adalah temanmu.
selanjutnya tidak bisa dibaca.

Tidak lagi.

Lalu gambar Gadis dalam Cermin milik Clara dengan gaya Van Gogh abal-abal. Tak karu-karuan, tapi sensor otak Mady mengerti jelas bahwa gambar itu adalah Gadis dalam Cermin. Gadis dalam Cermin, sebuah gambar yang sampai saat ini menjadi misteri di balik diary Clara, dan sekarang ditambah lenyapnya Lusy, surat dan peta ini.

Mata Mady berlari ke kiri bawah kertas itu, sebuah gambar labirin—lagi-lagi non-simetrikal—terpampang jelas di sana. Liku-liku, belok kanan, kiri, jalan buntu, lalu cahaya. Cahaya disebutkan dalam surat itu. Ikutilah cahaya, cahaya aneh, surat itu mencoba berbicara. Mady yang sejatinya adalah seorang dengan rekor mengingat yang baik dengan mudah menghapal jalan di labirin itu. Kapan harus maju ke depan, belok kiri, kanan, dan di mana letak jalan buntu.

Panah terakhir: Aku... tolong, bantu aku... siapapun....

Menggantung.

Mady tak bisa cukup jelas mengerti setelah kedelapan kali ia membacanya. Tetap begitu saja di otak Mady, deretan tulisan dan gambar yang belum bisa diolah. Sebuah petunjuk mentah yang saat ini belum berarti apapun. Apa ini layak disebut sebuah peta?

Persetan, ini sudah terlalu genting untuk terus berpikir, tindakan, tindakan, dan tindakan. Aku harus cepat bergerak atau jika tidak aku akan kehilangan semuanya, setidaknya perasaanku mengatakan seperti itu, Mady berbicara dalam hati.

Jam nampak melambat, detiknya pun berputar sangat lama. Seret nada burung hantu yang mengambang di akhir pekikannya masih menandakan bahwa malam belum rela untuk kembali ke peraduan. Lembah Ben terkenal dengan suhunya yang sangat rendah—bahkan pernah minus—di pertengahan tahun. Kabut putih seperti membawa butiran kristal es menusuk-nusuk sumsum Mady yang lelah. Mady belum tidur semalaman dan apa ia harus tidur saat ini?

Serigala melolong panjang dan sepanjang lolongan serigala itu Mady mencoba berkompromi dengan tubuhnya sendiri. Kantung-kantung matanya membesar dan berwarna lebih gelap dari kulit di sekelilingnya. Tulang punggungnya juga sudah mulai merasa nyeri seperti tertusuk karena dari tengah malam sampai subuh begini ia terduduk.

Brak... brak... brak...

Seisi ruangan kolaps. Mady mencoba memperkuat pegangannya pada ranjang Lusy. Sejak kapan aku menderita vertigo? Ia bertanya sendiri. Setelah guncangan ketiga berhenti, Mady mencoba menyelaraskan pandang ke sekeliling ruangan. Meja belajar Lusy tampak miring dengan satu kakinya hampir patah tertimpa lemari di belakangnya. Beberapa foto Lusy dan suster-suster juga lepas dari pigura pembungkusnya. Lampu neon kelap-kelip yang biasanya bergoyang ditiup angin dari jendela kamar Lusy yang selalu terbuka kini juga sudah melompat dan hancur berkeping-keping di lantai kayu.

Tidak ada yang salah dalam diriku, ini gempa, benar-benar gempa.

Gema yang keluar dari jam di ruang tengah memantul-mantul ke seluruh sudut Santa Mondega tak terkecuali kamar Lusy. Mady mendegar dentum jam tiga kali. Tampak bunyinya diseret sangat lama, kemudian lantai-lantai kayu membunyikan dirinya aneh: trektrektrek. Dinding-dinding juga memerah di kegelapan malam, mengelupas dan mengaga seperti luka bakar yang masih segar.

Dunianya berubah, suasanya lebih mencekam dari tengah malam dengan film Saw yang terputar di video player. Binatang-binatang malam mengeluarkan bunyi aneh, seperti berteriak dengan intonasi, irama, dan artikulasi yang diulang-ulang. Tak berhenti di situ perubahan dari ruangan itu, lantai-lantai mulai tidak terlihat dan kabut berona merah keluar dari dinding-dinding. Terdengar suara tawa halus yang memberdirikan bulu roma, wanita lalu pria, pria kemudian wanita, seperti itu terus.

Kini dunia berubah total. Mady di alam lain.

Berputar-putar, lantai di atas dan langit-langit di bawah.

Pandangannya mengabur, hitam-hitam-hitam, dan hilang.

Mady pingsan.

12 komentar:

  1. Tulisanmu semakin berkembang daka, great! Like it.

    BalasHapus
  2. saya menikmati dak nih postingan walaupun enggak mengikuti :D

    BalasHapus
  3. Akhirnya terkuak perlahan. Kau hebat bang! :)

    BalasHapus
  4. nice posting...salam kenal slalu yaaa...:)

    BalasHapus
  5. kunjungan gan,bagi - bagi motivasi
    Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama dipikirkan adalah kata SULIT. Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
    ditunggu kunjungan baliknya yaa :)

    BalasHapus
  6. menarik tulisannya...ditunggu yg berikutnya ya

    BalasHapus
  7. Ini nih calon penulis thriller Indonesia di masa depan...Kamu ada prospek nulis thriller...Jarang2 lho ada yang nulis thriller. Di toko buku aja, kebanyakan novel thriller itu penulisnya luar Indonesia... Mantap....

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: