Selasa, 05 Juni 2012

That's Us

"Infinity"
Taken with CANON EOS 550D | Editing with Xiuxiu Meitu Photo Editor

Aku ingin melihat bintang, katanya. Aku tersenyum saja. Wajah cekung milik Tyo tak berbanding lurus dengan semangatnya melihat bintang. Dari kelopak-mata-pandanya aku bisa melihat semangat, semangat yang tak pernah kupunya. Sayangnya ia hidup di masa yang salah. Di ruang dan waktu yang keliru.


Namaku Bram, tapi Tyo lebih suka sapaan “cupu” daripada nama asliku. Dasar, sialan kau Tyo, nama sebagus itu yang diberikan orang tuaku kau ganti begitu saja tanpa ijin. Kadang aku sering mempertanyakan pada cermin, atas dasar apa Ia menyebutku cupu? Taraf lelaki modis 172cm seperti aku, bisa-bisanya disebut cupu oleh sahabatnya sendiri. Absurd.

“Hey, sekarang akhirnya aku bisa membalasmu,” godaku, di hari ketujuh di ruang kelas satunya.

Matanya menyipit sebelah, tak terima. “Membalas? Selama ini kau hampir selalu kalah dariku, kan?” balasnya diikuti tertawaannya yang khas di nada bass.

“Tidak semua kawan, aku masih punya ini,” dengan pensil yang kupegang, aku mengetuk-ngetuk pelipis kanan milikku. “Dan, ini,” kemudian menunjukkan pensil mekanik yang tak pernah lepas dari saku seragam putih-abu-abu.

Ia mengangguk, aku tahu kau sanggup melakukan hal itu kawan, ahli bahkan, aku percaya di suatu hari nanti kau akan jadi penulis terkenal dan pasti ada namaku di barisan “Thanks to...”-nya karena aku pernah menjadi sahabatmu, katamu. Dasar, percaya dirimu tak pernah bisa hilang, lebih-lebih di saat-saat seperti ini.

Aku tertawa, kau tertawa. Kemudian hilang tertawaan itu sampai detik kelima berikutnya.

“Pasti kawan, bahkan akan kusematkan pada ‘Big thanks to...’. Jujur, Yo, kenapa kau sebegitu skeptis dengan keadaanmu sekarang. Maksudku, lihat dirimu yang sekarang, mengapa kau setidak perduli itu?”

“Itulah yang membuatmu cupu, Cupu! Kau terlalu mau dimanja oleh keadaan. Bukankah kita selalu percaya bahwa segala hal di dunia ini bernada fluktuatif. Naik turun tak menentu, lebih parah dari inflasi di negara ini.”

“Ya aku paham hal itu, Yo. Tapi, apa benar separah itu?”

“Sekarang biduk permasalahan bukan terletak di salah atau benar, tetapi mau atau tidak. Seberapa besar ketidakmauan kita dimanjakan kondisi, seberapa mau kita dikendalikan. Kalau aku, cuek. Just let it flow, dude.”

Sejenak aku terdiam dan di sela-selanya berfikir dalam. Sekali berputar diantara semangat Tyo yang tak pernah kumiliki. Di sini, di dalam dada ini aku begitu takut mengahadapi dunia. Melihat tirau abu-abu di kehidupanku. Tentang pilihan hidup: menjadi penulis atau bertolak menjadi pengetik neraca keuangan yang bekerja enam jam sehari? Aku bukan mau dimanja keadaan, tapi aku takut menghadapinya. Aku takut suatu saat aku akan jatuh dan tak bisa bangkit.

“Hoi,” tangan Tyo menepuk pundakku. “Omong-omong, aku masih ingin melihat bintang, lho.

“Dasar cupu, melihat bintang saja kau pun tidak bisa sekarang,” teriakku puas mengejeknya.

Di atas balkon rumah sakit ini terhampar jelas bintang yang senada dengan kerlip urban perkotaan. Di mana manusia menyemut bersama jadwal-jadwal yang padat yang pada akhirnya seperti terikat rantai, tidak bebas. Aku dan Tyo sepaham akan hal ini, tak mau menjadi masyarakat proto-modern yang diperbudak waktu. Kami percaya bahwa kami punya sayap yang kurang berkembang sebagai manusia, tinggal bagaimana kami menyelaraskan usaha untuk membuatnya merekah lebar-lebar.

“Kau tahu, Bram, hidup semudah ini: Dilahirkan, bersenang-senang, kemudian mati. Itu siklus.”

“Tidak sesederhana itu, kita dituntut untuk berfikir analitis bukan? Di dalam kata ‘dilahirkan’ masih banyak sub-sub lain yang menyabang, tapi aku tahu pola pikirmu tak bercabang. Dilahirkan ya dilahirkan, tak ada konversi kata lain yang pantas menduakan atau bahkan menigakannya. Ya, kan?”

Kepal tangan kanannya masih terasa berdebum ketika tinjunya mengenai pundak kiriku. “Kau memang sahabatku, Cupu! That’s me, dan aku berharap akan berganti menjadi ‘That’s us’,” lalu ia terawa lagi, masih merasa menang memanggilku dengan sebutan itu.

***

Kemarin aku tak memutuskan menghabiskan malam minggu di ruang-kelas-satumu karena tugas akhir memberatkan otak kiriku. Dan selama dua hari berikutnya adalah liburan dan aku sudah meninggalkan pesan bahwa aku tak kesana untuk menemanimu melihat bintang, karena aku harus ke perpustakaan mencari berbagai literatur penunjang tugas akhirku.

Tapi, apakah memang waktu diciptakan terlalu kejam atau bagaimana. Percakapan dua hari yang lalu adalah akhir saat ibumu menelepon sore tadi, mengatakan bahwa kau menitipkan memo kecil berisi tulisan “That’s us” kepadaku.

Aku mengerti maksudmu, tapi yang tidak aku mengerti adalah mengapa kau semudah itu menyerah pada kondisi? Bukankah kau selalu menanamkan manifesto di otakku untuk tidak mau dimanja keadaan, tetapi kau yang sekarang lemah akan hal itu. Selama ini kita tak pernah membicarakan hal sakral seperti Tuhan, tetapi harus kuakui Tuhan memang kejam. Memisahkan dua spesies langka—manusia proto-modern yang membenci keramaian—seperti kita.

Tapi yang aku mengerti dan pahami sekarang adalah  that’s us. Ini kita. Mungkin jalan satu-satunya melakukan penghormatan adalah mengucapkan terima kasih di pusaramu, Tyo. Terima kasih, kau telah menularkan semangat yang sebelumnya tak pernah hinggap di dadaku.

Dan, janji seorang lelaki tak pernah diingkari, bukan. Aku tak akan pernah lupa kepada janjiku padamu juga, kawan. Menuliskan namamu besar-besar di kolom “Big thanks to...” di bukuku kelak. Yeah, that’s us, dude!

11 komentar:

  1. You did it! Aku masuk ke dalam cerita ini bang. :')

    BalasHapus
  2. keren.aku suka ceritanya. mengalir. judul yang membuat ku penasaran ternyata telah disematkan di ceritamu. dan itu keren

    BalasHapus
  3. Kereeeen merinding....!!!always envy with someone who can really make the great story!>.<

    BalasHapus
  4. :')
    terharu. ada satu hal yang membuat saya terhenyak, bahwa "jangan mau dimanja keadaan". cerita yang keren :)

    BalasHapus
  5. :o keren banget ka.. >< *spechless* susah nyari kata2 XD
    pokonya ini-keren-banget :D

    BalasHapus
  6. Daka, typo : lalu ia terawa lagi <-- #grammarnazi

    Kata2nya lebih ringan dari biasanya, tapi pesannya nyampe, baris ke baris bikin penasaran.
    Aku seperti merasakan sebagai si Bram :3
    Eniwei udah lama kau ga update blog ini -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak typo yang sengaja gak aku benerin biar yang baca bisa koreksi #ea alibi X)

      iya, masih UKK teh, jadi weekly blog sementara ini

      Hapus
  7. nggak nyangka akhir ceritanya gitu :|
    anyway, aku suka banget poto awannya hehe

    BalasHapus
  8. Akhirnya..lama gak baca tulisanmu, fiksi yang berisi :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: